Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Semalam Di Istana Rainier


__ADS_3

Arsenio memasuki apartemen dengan raut yang tak seceria biasanya. Dia melepas blazer hitam, lalu melemparkannya begitu saja ke atas sofa.


Binar yang tengah asyik menonton acara pembelajaran bahasa Jerman di televisi dan sepertinya tak menyadari kehadiran sang suami, terlonjak kaget ketika tiba-tiba Arsenio mengempaskan dirinya di samping Binar.


“Rain, ada apa?” Binar menangkap sorot tak biasa dari mata coklat terang itu. Wajah tampan Arsenio tampak lesu dan kusut.


Sang suami tak segera menjawab. Dia malah mencondongkan badan lalu terdiam dengan mata menerawang. Arsenio menopang dagu dengan siku yang bertumpu pada lutut.


“Rain?” Binar sampai harus memanggilnya dua kali.


Arsenio tergagap, lalu segera menoleh pada sang istri yang terlihat khawatir. “Sayang,” dia tersenyum sambil memperhatikan wajah teduh Binar. Wajah cantik yang selalu bisa meluruhkan segala rasa gelisahnya.


Diciuminya bibir ranum Binar, lembut dan dalam. Sensasinya tak pernah berubah, sama seperti pertama kali dia menciumnya, tepat dua tahun lalu di depan air terjun.


Tak puas hanya dengan mencium, Arsenio melucuti pakaian Binar dan mulai melakukan kegiatan favoritnya di sofa ruang televisi sampai beberapa waktu berlalu. Arsenio terengah sesaat setelah mencapai puncak kenikmatan, lalu ambruk di atas tubuh istrinya.


“Tumben, Rain. Biasanya kamu harus membersihkan diri dulu sebelum … sebelum … um,” Binar terbata, kemudian mengulum bibir. Satu lagi tingkah menggemaskan yang selalu berhasil melumpuhkan logika seorang Arsenio.


“Aku ingin begini dulu sebentar, Sayang,” Arsenio mendekap tubuh polos Binar yang berada di bawah tubuhnya. Dia menetralkan debaran jantung yang menggila sebelum menceritakan bebannya pada sang istri.


“Kamu kenapa, Rain? Apakah ada masalah di kantor?” tanya Binar hati-hati.


Arsenio menjawab dengan gelengan pelan sambil menyembunyikan wajah di lekukan leher Binar.


“Lalu, kenapa?” Binar semakin penasaran.


“Mandi dulu, yuk,” Arsenio seakan tak berniat untuk menjawab. Dia malah menarik tangan Binar, lalu menggendongnya ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, pasangan suami istri itu keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuh sudah segar berbalut handuk.


Arsenio mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil sambil berkaca di depan cermin wastafel. Sementara Binar menyalakan hair dryer sembari menyugar rambut indahnya.


Ekor mata wanita muda itu berhenti pada sosok sang suami yang terlihat begitu menawan melalui pantulan cermin. Sayang, wajah tampannya terlihat begitu murung. “Rain, please. Ada apa? Jangan membuatku cemas,” keluh Binar dengan tatap mata yang tak lepas dari bayangan sang suami.

__ADS_1


Arsenio terkekeh pelan sebelum menjawab. “Kamu ingin berita bagus dulu, atau berita buruk dulu?” tawarnya.


“Berita bagus saja,” jawab Binar cepat-cepat.


Arsenio kembali tertawa, lalu meletakkan handuk kecilnya di atas kepala. “Berita bagusnya adalah … aku mendapat promosi. Tuan Normand memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan properti. Dia menunjukku untuk memimpin perusahaan itu,” terangnya.


Binar langsung terbelalak. Mulutnya juga terbuka lebar. Dia lalu menghadapkan tubuhnya pada Arsenio. “Benarkah itu, Rain?” serunya tak percaya.


“Iya, Sayang,” Arsenio tersenyum lebar. “Tuan Normand memercayakan jabatan CEO padaku,” ujarnya.


“Selamat ya, Rain. Aku sungguh-sungguh bangga padamu,” mata indah wanita muda itu berkaca-kaca. Segera saja dia memeluk Arsenio erat-erat.


“Lalu, kabar buruknya apa?” tanya Binar setelah dia ingat bahwa sang suami belum menyebutkan tentang berita buruk.


“Um,” Arsenio mengeratkan pelukan dengan sorot mata yang berubah sendu. “Papa sakit, Sayang. Dia dirawat di rumah sakit di Amsterdam,” jawab pria rupawan itu pada akhirnya.


“Sakit?” Binar mengurai pelukannya. “Kalau begitu, ayo kita jenguk papa, Rain. Apa kamu tidak bisa mengambil cuti beberapa hari sampai akhir pekan?” saran Binar.


“Baguslah kalau begitu. Ajukan saja cutimu dan kita berangkat ke Amsterdam,” ujar Binar antusias.


“Binar … .” Arsenio sengaja menggantungkan kalimatnya.


“Hm?” Binar menatap sang suami denga raut polos.


“Kamu harus siap seandainya papa mengusir kita,” lanjut Arsenio beberapa saat kemudian.


“Itu tidak masalah, Rain. Kalau seandainya kita tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan, kita masih bisa melihat dari jauh,” bujuk Binar.


Arsenio pun tampak berpikir dalam-dalam, sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. “Baiklah, besok aku akan mengajukan cuti. Lusa kita berangkat,” putusnya.


Sesuai rencana, setelah mendapatkan izin cuti selama tiga hari, Arsenio dan Binar berangkat ke Amsterdam dengan menggunakan kereta api. Mereka berangkat dari stasiun utama kota Berlin menuju stasiun Amsterdam. Perjalanan tersebut memakan waktu selama enam jam.


Sesampainya di ibukota Belanda, tempat kelahiran Arsenio tersebut, Arsenio tak segera mendatangi rumah sakit tempat sang ayah dirawat. Dirinya lebih dulu menuju kediaman keluarga Rainier di kawasan perumahan mewah di pusat kota.

__ADS_1


Lagi-lagi Binar dibuat terpana oleh kemewahan bangunan empat lantai tersebut. Rumah keluarga Rainier di Jakarta yang sempat disinggahi oleh Binar dulu, seakan tampak kecil jika dibandingkan kediaman megah di depannya saat ini.


“Ayo,” Arsenio membantu istrinya turun dari taksi, lalu menggandengnya masuk ke dalam bangunan utama. Di sana, beberapa orang pelayan berseragam, sigap menyambut kedatangan putra sulung Lievin Rainier.


“Welkom, Jonge Meester (Selamat datang, Tuan Muda),” sambut salah seorang pelayan yang tampak berusia paling tua.


“Terima kasih, Betje. Apa kabarmu?” Arsenio menjabat wanita paruh baya di depannya sambil tersenyum ramah. “Binar, kenalkan. Namanya Betje. Dia sudah puluhan tahun bekerja di keluarga kami. Dulu, Betje lah yang merawatku saat masih kecil,” jelasnya seraya menoleh pada sang istri.


Binar ikut tersenyum dan mengangguk. Dia tak banyak bicara, sebab dirinya sama sekali tak bisa berbicara bahasa Belanda. Namun, Binar juga sempat menjabat tangan wanita asli Belanda itu.


“Apakah anda hendak beristirahat di kamar, Jonge Meester?” tawar Betje yang seakan paham bahwa tuan mudanya lelah dan membutuhkan istirahat. Kebetulan, waktu sudah beranjak malam.


“Tentu, Betje. Sepertinya itu ide yang bagus. Besok pagi-pagi, kami baru akan mengunjungi papa di rumah sakit,” terang Arsenio tanpa diminta.


“Jonge Meester Fabien dan Grote dame (nyonya besar) sudah berada di rumah sakit sejak seminggu yang lalu. Hanya sesekali mereka pulang ke rumah,” jelas Betje seraya mengarahkan suami istri itu ke kamar Arsenio yang terletak di lantai teratas.


Binar tak banyak bicara. Dia lebih banyak mengagumi interior rumah dan bagian dalam kamar Arsenio yang tertata apik dan rapi.


“Ini adalah kamar yang ditempati oleh tuan Arsenio sejak kecil, Nyonya Muda. Posisinya masih tetap seperti ini. Tak berubah sama sekali,” jelas Betje dalam bahasa Belanda, sehingga Arsenio harus menerjemahkannya untuk Binar.


"Oh," mata wanita muda itu berbinar saat mendengarkan penjelasan Arsenio. Sementara Betje sudah bersiap untuk keluar dari kamar.


“Selamat beristirahat, Tuan dan Nyonya,” Betje berpamitan sambil setengah membungkuk.


“Bedankt (terima kasih), Betje,” balas Arsenio seraya menutup pintu kamar. Perhatiannya kemudian teralihkan pada Binar yang tampak takjub mengamati setiap sudut kamarnya.


“Bagaimana? Apa kamu suka di sini?” Arsenio melingkarkan tangan di pinggang Binar dan memeluk istrinya dari belakang.


“Rasanya aku tidak percaya,” celetuk Binar, membuat Arsenio mengernyitkan dahi.


“Tidak percaya apa?” tanya pria rupawan itu.


“Tidak percaya kalau aku bisa masuk ke kamar masa kecilmu dan tidur di kediaman keluargamu,” jawab Binar dengan suara bergetar.

__ADS_1


__ADS_2