
“Siapa dia?” Arsenio mengangkat satu alis sembari mengamati pria yang memiliki tinggi badan hampir sama dengannya.
“Aku tidak tahu! Tidak kenal,” sahut Binar dengan segera. Dia lalu bersembunyi di balik tubuh tegap sang suami.
Akan tetapi, pria asing tadi pun ikut berbicara. “I’m Lucas Wilder,” ucapnya seraya mengulurkan tangan kepada Arsenio. “Is she your wife?” tanyanya kemudian.
“Yes, is there a problem?” Arsenio malah balik bertanya.
“Oh, tidak ada. Aku rasa istrimu tersesat kemari. Seperti yang kau tahu, ini bar khusus untuk kelas eksekutif,” jawab Lucas.
“Hm, jadi begitu. Maafkan ketidaktahuan istriku. Dia baru pertama kali menaiki pesawat tujuan internasional,” jelas Arsenio seraya membalas jabat tangan Lucas yang sudah terulur sejak tadi.
“Tidak masalah. Selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatu,” balas Lucas mengedipkan sebelah matanya sambil melirik ke arah Binar. Dia lalu kembali masuk ke dalam bar.
Tentu saja hal sekecil itu tak lepas dari pengamatan seorang Arsenio. Dengan segera, dia berbalik pada Binar sambil memandang istrinya lekat-lekat. “Jadi begini caramu membalasku?”
“Membalas apa? Aku tidak mengerti maksudmu,” elak Binar. Dia memilih untuk tidak memedulikan perkataan sang suami. Binar berjalan kembali ke tempat duduknya.
“Aku bisa melihat bagaimana cara dia menatapmu. Apa-apaan itu? Pria tadi melihatmu dengan sorot mata menggoda, Binar,” ujar Arsenio mengempaskan diri di kursi, sesaat setelah Binar duduk dengan nyaman. Raut wajahnya yang tadi terlihat tenang, kini berubah kesal. Arsenio yang tak pernah merasa terganggu saat melihat pria lain, kini mulai merasa terusik. Seperti inikah rasanya cemburu? Perasaan yang tak pernah dia alami pada wanita mana pun selain terhadap Binar. Sebelum wanita cantik itu menjadi kekasihnya pun, Arsenio sudah merasakan cemburu. Apalagi sekarang status Binar sudah menjadi istri walaupun belum disahkan secara hukum negara.
“Itu bukan urusanku, Rain. Apa aku harus melarangnya untuk melihat ke arahku? Dia hanya memandang, tidak menyentuh apalagi sampai melakukan yang ... ah sudahlah. Satu hal yang terpenting adalah, aku tidak genit pada setiap pria yang kutemui,” balas Binar setengah menyindir.
__ADS_1
“Astaga." Arsenio mengacak-acak rambut coklatnya yang tadi masih tersisir rapi. Dia merasa begitu konyol.
“Sudah jangan ganggu lagi, aku mau tidur,” Binar memiringkan badannya sehingga menghadap ke arah jendela.
“Wow, kamu menantangku, ya?” Arsenio mendekatkan wajahnya pada sang istri, lalu berbisik tepat di telinga Binar. Begitu juga dengan tangan yang bergerak aktif di sekitar dada wanita cantik itu.
“Rain, hentikan! Orang-orang akan melihat kita,” tolak Binar sembari berusaha menepiskan tangan nakal Arsenio dari dadanya.
“Sudah kukatakan bahwa tak akan ada yang peduli di sini.” Arsenio sudah tak tahan lagi. Dia lalu berdiri dan menarik paksa tubuh ramping Binar.
“Rain!” seru Binar dengan suara tertahan. Matanya juga melotot sebagai tanda protes terhadap suami yang suka berbuat semaunya tersebut. Namun, Arsenio tak peduli. Dia malah tertawa renyah sambil terus menarik tangan Binar.
Pada akhirnya, wanita muda itu hanya bisa mengalah. Dia tak akan sanggup melawan kekuatan sang suami. Lagi pula, makin dirinya menolak, maka hanya keributan tak berfaedah yang akan terdengar penumpang lain. Binar pun mengikuti ke mana pria itu membawanya.
***
Setelah dua kali transit dan tiga puluh jam lebih perjalanan melelahkan, pesawat yang ditumpangi pasangan pengantin baru itu tiba di bandara Otto Lilienthal, Berlin. Tak ada sambutan hangat dan meriah seperti yang penumpang lain dapatkan. Ya, lagi pula siapa yang akan melakukan hal itu terhadap Arsenio dan juga Binar, berhubung Fabien pun tengah sibuk dengan persiapan konser tur Eropa yang akan segera dilangsungkan.
Haru, bangga, sekaligus tak percaya. Itulah perasaan yang Binar alami saat pertama kali menginjakkan kaki di negara tersebut. Jerman, tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa dia akan pergi ke sana. "Inikah Jerman?" tanya wanita muda itu setengah bergumam, ketika mereka telah keluar dari dalam bandara.
"Ya, Sayangku. Inilah Jerman. Di sini pula kita akan mengawali semuanya. Hidup dan masa depan antara kamu dan aku." Arsenio tersenyum hangat. Dia mengarahkan tatapan ke depan, kemudian mendongak ke arah langit yang menaungi kota Berlin. "Berlin, aku kembali," bisik Arsenio sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Pria tampan itu pernah menghabiskan beberapa lama di kota Berlin, sebelum dirinya memutuskan untuk menetap di Indonesia. Pilihan Arsenio memang tidaklah keliru. Indonesia telah memberinya kisah cinta dengan sejuta cerita.
"Ayo. Kita jangan buang-buang waktu di sini," ajak si pemilik rambut cokelat itu seraya meraih jemari sang istri yang masih terpaku tak percaya.
Binar yang tadi masih diam dengan ekspresinya yang dirasa begitu menggemaskan bagi Arsenio, segera tersadar. Dia menoleh, kemudian tersenyum lembut. "Kita akan ke mana?" tanyanya.
"Aku sudah menghubungi Fabien. Untuk sementara kita akan menumpang di apartemen miliknya sampai mendapatkan tempat tinggal yang cocok," jelas Arsenio setelah mereka berada di dalam taksi.
"Apa keberadaan kita tidak akan mengganggu adikmu?" tanya Binar khawatir dengan keputusan Arsenio tadi.
"Tidak usah cemas, Sayang. Fabien tak lama lagi akan menggelar konser tur keliling Eropa. Kegiatan tersebut akan berlangsung cukup lama. Aku rasa, seharusnya dia berterima kasih karena tidak perlu membayar jasa orang untuk sekadar menjaga dan membersihkan apartemennya," ujar Arsenio. Sesekali, dia mengarahkan pandangan ke luar jendela.
Binar pun mengikuti apa yang sang suami lakukan. Dia melihat ke luar jendela, pada suasana jalan di ibukota Jerman tersebut. "Jalanan di sini indah ya," ucap Binar seraya berdecak penuh kekaguman. Rasa takjubnya semakin bertambah, saat wanita muda itu melihat bangunan-bangunan pencakar langit dengan arsitektur khas Eropa.
"Beginilah suasana jalanan di negara-negara Eropa, Sayang. Suatu saat nanti, andai kondisi keuangan kita sudah membaik ... aku berjanji akan membawamu keliling Eropa. Pilih saja negara mana yang ingin kau kunjungi terlebih dulu," ucap Arsen membuat Binar segera mengalihkan perhatian padanya. Wanita muda itu balas menatap Arsenio dengan penuh haru.
"Itu semua akan menjadi motivasi bagiku untuk berjuang lebih keras lagi. Ada banyak hal yang ingin kupersembahkan untukmu." Arsenio tersenyum kalem, kemudian membelai pipi sang istri dengan mesra.
"Kita akan berjuang bersama, Rain. Kamu dan aku. Kita berdua," balas Binar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ah, tidak. Mulai sekarang, aku tak ingin lagi melihatmu menangis. Kamu harus selalu tersenyum. Du bist die schönste Liebe in meinem Leben ( Kaulah cinta terindah dalam hidupku). Aku mencintaimu." Bertepatan dengan itu, taksi yang mereka tumpangi pun berhenti di depan sebuah gedung yang berderet rapi. Mereka semua tampak tinggi dan gagah, meskipun hanya terdiri dari beberapa lantai.
__ADS_1
Taksi tadi berhenti tepat di dekat trotoar, yang dihiasi pohon cukup rindang. Sementara di sepanjang jalan berderet rapi ke belakang, mobil sedan yang sengaja diparkir. Arsenio menunjuk gedung berwarna oranye. "Itu adalah apartemen yang dihuni Fabien," ucapnya bersamaan dengan sang adik yang datang menyambut mereka.