Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Tato Naga


__ADS_3

"Hey, Arsen. Apa yang kamu lakukan, Nak?" cegah Lievin dan Anggraini secara bersamaan. "Tunggulah sampai dokter datang kemari, jangan gegabah," ucap pria asal Belanda itu dengan gaya bicaranya yang masih kental menggunakan logat negara kincir angin.


"Aku kesulitan bergerak gara-gara alat ini, Pa," keluh Arsenio jengkel.


"Sayang, jangan konyol!" sergah Anggraini dengan tegas. Dia menepiskan tangan putra sulungnya agar tak lagi memegangi lengan yang terpasang alat infus.


"Akan kupanggilkan perawat kalau begitu," ucap Lievin seraya beranjak dari duduknya. Dia lalu menekan tombol khusus untuk memanggil petugas medis agar datang ke ruangan tersebut.


Tak berselang lama, seorang wanita berseragam khusus masuk. Dia memasang wajah ramah kepada Lievin dan juga Anggraini. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya sopan.


"Putra kami berulah. Dia hendak melepas alat infusnya," tunjuk Lievin pada Arsenio yang terlihat tenang saja di atas tempat tidur, membuat sang perawat tadi hanya tersenyum. Dia lalu memeriksa kondisi Arsenio.


"Saya ingin pulang, Sus," ucap Arsenio menatap perawat yang sepertinya berusia sama dengan Winona.


Wanita berseragam putih itu pun kembali memamerkan senyuman dan agak tersipu, karena tatapan Arsenio tampak sangat berbeda terhadap dia. Harus diakui bahwa pasiennya kali ini memang sangat tampan. "Kebetulan dokter yang menangani Anda ada di sini. Saya akan memberikan laporan terlebih dulu padanya."


"Bisakah Suster melapor dengan secepatnya?" tanya Arsenio lagi dengan tatapan yang kemudian diiringi sebuah senyuman kecil tapi cukup menggoda.


"Oh, akan saya usahakan," jawab perawat tadi yang sesekali tertunduk malu. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Nanti saya akan kembali lagi," ucapnya berpamitan. Setelah itu, wanita berwajah khas asli Indonesia tersebut berlalu dari hadapan mereka bertiga.


"Apa yang terjadi, Arsen?" tanya Anggraini. Sejak tadi, wanita paruh baya tersebut memperhatikan bahasa tubuh putranya dengan lekat. Sebagai seorang ibu, Anggraini dapat melihat ada sesuatu yang berbeda dengan pria berusia dua puluh tujuh tahun itu.


"Tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya merasa tidak nyaman dengan alat-alat ini. Aku juga baik-baik saja. Jadi, sebaiknya kita segera pulang. Makin lama aku berada di sini, maka semakin banyak waktuku yang akan terbuang percuma," jelas Arsenio dengan gaya bicaranya yang jauh lebih bersemangat, jika dibandingkan dirinya yang masih mengalami amnesia.


Belum sempat Anggraini atau Lievin menanggapi ucapan putra mereka, perawat tadi kembali lagi. Kali ini, dia datang bersama Winona dan seorang dokter.


"Bagaimana, Pak Arsenio?" tanya dokter yang terlihat sudah senior itu. Dia berdiri di sebelah ranjang di mana Arsenio berada.


"Saya baik-baik saja, Dokter," jawab pria bermata cokelat terang tersebut dengan tenang.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dok?" tanya Lievin.


"Hasilnya bagus. Tidak ada masalah yang berarti. Rasa sakitnya diakibatkan dari trauma kecil karena lukanya dulu. Namun, itu bukanlah sesuatu yang terlalu serius," terang sang dokter.

__ADS_1


"Jadi, itu artinya saya sudah bisa pulang sekarang. Saya rasa tidak diperlukan lagi pemeriksaan lanjutan jika hasilnya bagus," ujar Arsenio enteng, membuat sang dokter tertawa pelan. "Bukankah begitu, Dok?" tanya Arsenio menatap dokter yang sudah selesai memeriksa keadaannya.


"Baiklah jika memang Anda ingin segera pulang, tapi ingat untuk kembali chek up tiga hari setelah ini. Itu wajib Anda lakukan untuk memastikan apakah ada perubahan atau tidak dari hasil pemeriksaan terakhir," pesan sang dokter. "Suster, silakan lepas alat infusnya," ucap pria yang berusia lebih tua dari Lievin tersebut kepada perawat tadi.


Sang perawat mengangguk. Dia segera melakukan tugasnya dengan telaten, melepas segala alat yang terpasang pada bagian tubuh Arsenio. Setelah selesai, dia lalu merapikan semuanya.


"ingat ya, Pak. Check up setelah tiga hari," pesan dokter itu lagi kembali mengingatkan.


"Jangan khawatir, Dok. Saya yang akan mengingatkan Arsen tentang hal ini," ucap Winona yang ikut bersuara. Rasa bahagia karena pesta pertunangan yang akan segera diselenggarakan, membuat wanita cantik itu tak henti-henti memamerkan senyuman manisnya.


"Ya. Itulah tugasmu, Wini," balas Anggraini yang diiringi sebuah senyuman lembut.


Namun, tidak dengan Arsenio. Pria tampan tersebut hanya terdiam seraya mengempaskan napas dalam-dalam. Dia tak banyak bicara, bahkan hingga mereka sudah berada di dalam perjalanan pulang. Arsenio tampak memikirkan sesuatu. Akan tetapi, tidak dia utarakan semua ganjalan yang kembali mengusiknya itu.


"Tunggu, Arsen!" cegah Winona saat melihat calon tunangannya tersebut hendak beranjak ke dalam kamar. Saat itu, Arsenio tidak pulang ke apartemennya.


"Ada apa?" tanya pria berambut cokelat tadi seraya menghentikan langkah kemudian menoleh.


Winona tersenyum manis. Dia berjalan mendekat dan berdiri di hadapan pria tampan pujaan hatinya. Namun, Winona tak seperti Indah atau Ghea yang gemar menggoda Arsenio dengan bahasa tubuh dan sentuhan-sentuhan nakal. Winona jauh lebih tenang dan juga serius. Dia bahkan terkesan kaku dalam hal seperti itu. "Tentang yang kamu katakan kemarin, apakah itu sungguh-sungguh? Apa kamu memang akan berusaha untuk berubah menjadi jauh lebih baik?" Ada harapan yang besar dalam sorot mata wanita cantik tersebut.


"Sebentar saja. Aku harus membuat janji dengan Chand agar dia bisa mengosongkan jadwal untuk kita," desak Winona sambil memegangi lengan Arsenio. "Sejujurnya aku sudah tidak sabar. Aku juga telah menghubungi seorang teman untuk pemesanan cincin pertunangan, sesaat setelah menerima telepon darimu kemarin," ucap wanita itu lagi dengan antusias.


Arsenio tak menanggapi. Pria tampan tersebut hanya tersenyum simpul seraya mengempaskan napas pelan. "Kita bicara lagi nanti," ucapnya kemudian, seraya melepaskan tangan Winona yang masih memegangi lengan dengan pergelangan yang ditempeli plester. "Aku ke kamar dulu," pamit Arsenio. Dia berlalu begitu saja dari hadapan Winona yang terpaku karena merasa aneh atas sikap kekasihnya.


Sementara itu di tempat lain, pada sebuah apartemen yang tidak terlalu mewah. Indah duduk tenang dengan kedua kaki jenjang terulur lurus dan saling berilang ke atas meja. Wanita yang merupakan sahabat sekaligus asisten pribadi Winona tersebut, tengah asyik mengisap rokok sambil menonton televisi. Dia juga tampak berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. "Apa kamu yakin? Kapan mereka membahas hal itu?" tanya wanita berpakaian minim tadi sambil mengepulkan asap tipis dari mulutnya.


"Saya mendengarnya sendiri, Non." Terdengar jawaban dari seberang sana.


"Begitu rupanya. Baiklah. Terima kasih atas informasi ini. Upahmu akan kuberikan nanti saat aku mampir," jawab Indah seraya tersenyum puas.


"Non Indah harus cepat kalau mau kemari, karena tuan muda sudah mulai menempati apartemennya lagi. Ini saja kebetulan karena dia baru pulang dari rumah sakit," ucap wanita di ujung telepon.


"Oh, masa? Baiklah," sahut Indah. Dia mengakhiri sambungan teleponnya begitu saja, kemudian mematikan rokok yang masih sisa setengah lagi di dalam asbak. Indah lalu berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian, meskipun sebenarnya sama saja karena pakaian yang dia kenakan saat itu masih tetap memperlihatkan lekuk serta beberapa bagian tubuhnya yang menonjol. Namun, itulah ciri khas seorang Indah.

__ADS_1


Wanita berkulit eksotis tadi kemudian merapikan diri di depan cermin. Setelah merasa cukup, barulah dia keluar dari apartemen dan menuju tempat parkir. Dengan mengendarai kendaraan pribadinya, Indah pergi meninggalkan gedung bertingkat tersebut. Tak berselang lama, wanita cantik berambut lurus tadi telah tiba di depan kediaman Rainier yang megah. Mobil sedan putih miliknya lalu memasuki halaman rumah itu. Indah pun segera turun dan berjalan masuk.


Kebetulan, saat itu Lievin dan Anggraini sedang tidak ada di sana. Mereka ada acara di luar. Itulah yang biasa pasangan suami-istri tersebut lakukan selagi berada di Indonesia. Ada banyak agenda yang tak hanya berkaitan dengan bisnis, tapi juga beberapa kegiatan sosial.


"Kenapa sepi sekali?" tanya Indah pada seorang pelayan yang menyambut kedatangannya.


"Tuan dan nyonya besar sedang keluar," jawab pelayan yang masih berusia muda itu.


"Lalu, di mana Arsenio?" tanya Indah lagi.


"Tuan muda ada di kamarnya," jawab di pelayan dengan agak berbisik.


"Apa Wini ada di sini juga?" Indah kembali bertanya, karena melihat sikap si pelayan.


"Non Wini tadi di sini, tapi tuan muda mengatakan bahwa dia ingin beristirahat. Itu artinya diusir secara halus," tutur si pelayan yang diiringi tawa bernada mengejek.


"Hey, pintar," sahut Indah seraya menempelkan ujung telunjuknya pada kening si pelayan nakal itu. "Ini, buat kamu. Kalau ada berita penting lagi, segera hubungi aku. Sekarang aku harus menemui si tampan itu dulu. Beri tanda jika om dan tante sudah kembali," pesannya seraya berlalu begitu saja.


Dengan langkah gemulai, Indah menuju le kamar Arsenio. Dia sudah tahu di mana letaknya, karena dulu mereka kerap bermain di sana. Sebelum mengetuk pintu, Indah terlebih dulu merapikan pakaian minimnya, hingga sebagian dada yang sudah menyembul ke luar tampak semakin jelas. Barulah Indah mengetuk pintu kamar tadi.


Tanpa menunggu terlalu lama, pintu kamar pun terbuka. Tampaklah Arsenio yang saat itu dalam keadaan bertelanjang dada, sehingga memperlihatkan sebuah tato hitam putih bergambar seekor naga di dada sebelah kanannya.


"Astaga, sudah lama sekali aku tidak melihat tato ini," ucap Indah dengan kerlingan nakalnya.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Arsenio dingin. Dia tidak menanggapi ucapan Indah sama sekali.


"Ayolah, Arsen. Biasanya juga kamu langsung mengajakku masuk. Dulu kita sering bermain di dalam sana," goda Indah lagi dengan senyuman dan bahasa tubuh yang terlihat makin sensual.


"Itu dulu," balas Arsenio enteng.


"Apa bedanya dulu ataupun sekarang?" Indah semakin mendekat ke hadapan Arsenio. "Bukankah kamu pernah mengatakan, bahwa dirimu sangat menyukai ukuran dadaku jika dibandingkan dengan Winona?" Ucapan Indah terdengar semakin menantang. Sementara Arsenio hanya terdiam menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat.


"Apa kamu tidak merindukanku, Arsenio? Aku. Kau tahu bahwa hanya aku yang bisa memberimu kepuasan berkali-kali, karena bahkan Ghea pun tidak seperti itu."

__ADS_1


"Oh, ya? Bagaimana kamu bisa tahu hal itu? Aku bahkan tidak bisa mengingatnya," Arsenio masih terlihat tenang saat menanggapi ucapan Indah.


"Ah, sudahlah." Indah tertawa renyah seraya mengibaskan tangan. "Aku dengar kamu dan Winona akan segera melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat. Bukankah itu hanya sebuah topeng dalam hubungan kalian? Kamu sendiri yang mengatakan bahwa meskipun kalian telah terikat dalam sebuah pernikahan, tapi dirimu akan tetap mencari wanita lain yang bisa memberikan kepuasan. Kita berdua tahu seperti apa Winona. Dia begitu dingin dan tidak sesuai denganmu. Pada akhirnya kamu akan kembali pada wanita sepertiku, Arsen," ucap Indah seraya menatap mata Arsenio yang penuh pesona.


__ADS_2