
Mobil mewah milik Lievin melaju pelan melewati jalanan utama ibukota. Berkali-kali Arsenio mengingatkan Ajisaka untuk tidak menambah kecepatan. “Pelan-pelan saja, Ji. Istriku sedang hamil,” tegurnya.
“Pelan ya pelan, tapi ini sudah berada di kecepatan tiga puluh kilometer per jam, Bos. Sama seperti jalannya gerobak mie ayam yang sebentar lagi akan tutup,” sahut Ajisaka sambil mengempaskan napas pelan. “Lagi pula, bukankah Bu Bos sudah meminum segala macam vitamin dan obat penguat kandungan dari dokter? Saya rasa itu cukup membuat janin kuat dan sehat,” cerocos Ajisaka.
“Sok tahu kamu, Ji,” protes Arsenio.
“Betul apa kata Ajisaka, Rain. Kalau sampai kita terlambat dan penjual mie ayamnya tutup, maka aku akan memaksamu untuk mencari rumahnya,” ancam Binar yang saat itu duduk di kursi tengah, bersebelahan dengan Arsenio.
“Ini pasti keinginan si jabang bayi,” sindir Arsenio.
“Pastilah!” sahut Binar yakin.
“Astaga.” Arsenio berdecak pelan. Telinganya sempat menangkap suara Ajisaka yang tertawa pelan. “Silakan kalau mau tertawa, Ji. Jangan ditahan. Takutnya nanti sakit perut,” gerutunya.
“Saya yakin anak pertama Anda pasti laki-laki. Kelihatan dari ngidamnya bu Bos yang sedikit menyusahkan dan semaunya sendiri. Persis seperti sifat Anda,” celoteh Ajisaka tanpa sungkan.
“Perempuan juga bisa,” timpal Binar.
“Ah sudahlah. Kalian semua sudah merusak moodku," gerutu Arsenio yang segera memalingkan wajah ke arah jendela. Tepat pada saat itu, dia memperhatikan sebuah mobil yang melaju menyejajari kendaraan yang ditumpanginya.
Awalnya, Arsenio mengira bahwa itu hanyalah sebuah kebetulan. Namun, bayangan ancaman yang pernah dilontarkan oleh Haris beberapa hari yang lalu, membuat Arsenio menjadi sedikit was-was. Dia terus memperhatikan mobil yang sepertinya sengaja memelankan kecepatan, agar dapat berada di sisi kendaraannya.
“Ji, coba kamu tambah kecepatannya,” suruh Arsenio beberapa saat kemudian.
“Baik, Bos.” Tanpa banyak bertanya, Ajisaka menuruti perintah sang majikan. Dia menginjak pedal gas, lalu menyalip beberapa kendaraan di depannya. Sementara Arsenio terus melihat keluar jendela. Dia dapat bernapas lega, ketika mobil tersebut ternyata tak berusaha menyusul.
“Kenapa, Rain?” Binar yang menangkap sikap aneh dari sang suami, segera menyentuh punggung tangan Arsenio lalu mengusapnya lembut.
“Tidak apa-apa, Sayang." Arsenio mencoba menyembunyikan kekhawatirannya dengan tersenyum. Dia lalu mencium bibir Binar dengan hangat untuk menepis segala gelisah. Arsenio tak peduli walaupun ada Ajisaka yang sesekali melirik dari kaca spion tengah.
“Fokus menyetir saja, Ji,” tegur Arsenio setelah selesai mencium bibir istrinya hingga puas.
Sementara Ajisaka tak menjawab. Dia semakin menambah kecepatan sampai tiba di depan perumahan Dwiki. Beruntung karena penjual mie ayam yang dimaksud masih buka, bahkan masih ada beberapa orang yang antri di sana.
“Syukurlah,” gumam Binar dengan wajah berseri-seri. Dia sudah hendak membuka pintu mobil dan turun dari kendaraan, ketika Arsenio menahannya.
“Tunggu,” cegah pria berdarah Belanda itu. “Ji, telepon Dwiki. Suruh dia menemui kita di depan gerobak dorong mie ayam,” titahnya.
__ADS_1
"Baik, Bos.” Ajisaka segera meraih ponsel dan menghubungi sepupunya
Tak berselang lama, Dwiki terlihat berjalan keluar dari gerbang perumahan dengan kostum favoritnya, yaitu kaus oblong dan celana cargo pendek yang disempurnakan dengan sandal jepit kesayangan. Dia sempat kebingungan mencari posisi Ajisaka, lalu tersenyum saat sepupunya itu keluar dari mobil sambil melambaikan tangan. Senyuman Dwiki semakin lebar ketika Arsenio ikut turun dari kendaraan. Ketiga pria itu akhirnya berkumpul di bawah pohon rindang, tak jauh dari pedagang mie ayam tadi.
“Ada apa ini, Bos? Kelihatannya penting sekali?” tanya Dwiki seraya melihat ke dalam mobil. Tampak Binar sedang termenung sambil membuka jendela.
“Aku melarang Binar untuk keluar,” jelas Arsenio tanpa diminta. “Jujur saja, Haris sudah mengancamku untuk mencelakai Binar, jika keinginannya tidak dituruti. Jadi, aku harus ekstra waspada. Apalagi keinginan Binar mulai aneh-aneh. Seperti sekarang, dia ingin makan mie ayam di tempat,” cerocosnya panjang lebar.
“Haris mengancam Anda, Bos? Kenapa Anda baru mengatakannya sekarang?” protes Ajisaka.
“Apakah ada hubungannya dengan data-data yang berhasil dicuri oleh Aji?” sahut Dwiki.
“Iya. Dia ingin aku mengembalikan data-data itu kepadanya,” jawab Arsenio. “Sebentar, aku harus memesan mie ayam dulu,” ujarnya seraya bergegas menghampiri si pedagang. Sementara Ajisaka dan Dwiki terus mengikuti dari belakang. Beruntung saat itu sudah tak terlihat antrian sama sekali.
“Sudah habis, Pak. Hanya sisa dua porsi saja,” ujar penjual mie ayam sebelum Arsenio membuka mulutnya.
“Tidak apa-apa, seadanya saja,” sahut pria rupawan berambut coklat itu.
“Dimakan di sini atau ....”
“Kenapa tidak dimakan di rumah saya saja, Bos? Seperti biasanya,” cetus Dwiki.
“Ini kemauan bayi,” jawab Arsenio dan Ajisaka secara bersamaan. Setelah itu mereka berdua saling pandang.
“Oh,” balas Dwiki sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sesaat kemudian, Dwiki menoleh ke arah mobil. Dilihatnya Binar dengan wajah cemberut memperhatikan dia dan sang suami dari jendela. “Kenapa bu Bos tidak turun, Bos? Apa itu keinginan bayi juga?” celetuknya.
“Sudah kubilang bahwa Haris mengancam Binar. Jadi, aku harus ekstra waspada dalam menjaganya,” jawab Arsenio. Dia ikut menoleh ke arah sang istri yang tengah menempelkan dagunya di ujung kaca jendela yang terbuka.
“Tenang saja, Bos. Ada kita bertiga di sini yang menjaga bu Bos. InsyaAllah aman,” sahut Ajisaka.
“Ya sudah. Biar kujemput,” putus Arsenio setelah berpikir cukup lama. Dia lalu membantu Binar turun dari mobil dan menggandengnya hingga ke depan meja, dengan kursi plastik yang memang sudah disediakan oleh si penjual mie ayam. Bersamaan dengan itu, pesanannya pun juga sudah siap.
“Silakan dinikmati,” ucap penjual mie ayam yang disambut senyuman manis Binar.
Namun, senyuman itu harus memudar ketika mangkok yang baru saja dia pegang, tiba-tiba pecah. Belingnya berhamburan mengenai tangan dan kakinya, bahkan satu serpihan menancap di jari telunjuk wanita yang tengah hamil muda itu. “Aduh!” pekiknya. Darah mulai menetes dari permukaan kulit yang terkoyak.
Melihat hal itu, Arsenio segera menarik paksa sang istri dan memeluknya erat sambil menuntun Binar kembali ke mobil.
__ADS_1
Sementara Ajisaka dan Dwiki sigap mencari tahu penyebab mangkok itu hancur hingga berkeping-keping. Ajisaka lah yang lebih dulu menemukan sebuah batu, berukuran sebesar bola tenis yang tergeletak di bawah kaki kursi plastik. Batu itu seperti sengaja dibungkus dengan selembar kertas putih.
“Apa yang terjadi?” seru si penjual mie ayam dengan raut terkejut serta tak percaya yang bercampur menjadi satu.
“Ada yang melempari kami dengan batu, Pak,” jawab Dwiki sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia berusaha mencari sesuatu yang mencurigakan di sekitarnya. Namun, Dwiki tak menemukan apapun. Hanya beberapa orang pedagang yang berlalu lalang. Mereka tengah bersiap untuk kembali pulang sambil mendorong gerobak masing-masing.
“Siapa? Kenapa iseng sekali? Lantas, siapa yang bertanggung jawab kalau mangkokku pecah begini,” gerutu si penjual mie ayam.
“Biar saya ganti, Pak. Sekaligus membayar dua porsi mie ayam tadi,” ujar Ajisaka. Walaupun sebenarnya satu mangkok masih utuh di atas meja plastik dan belum tersentuh sama sekali.
“Ambil saja kembaliannya,” imbuhnya seraya kembali ke mobil dengan ditemani oleh Dwiki.
Di dalam kendaraan, Arsenio terlihat panik melihat Binar yang masih dalam keadaan terkejut dan ketakutan. “Siapa tadi yang melempariku, Rain? Bagaimana kalau lemparannya mengenai perut atau kepalaku? Astaga, aku takut sekali. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak kita,” isak Binar lirih.
“Yang penting kamu baik-baik saja, ‘kan? Iya, ‘kan? Coba mana sini, biar kulihat lagi.” Arsenio menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya. Dia lalu mengamati paras cantik itu dan memeriksa setiap inci dari permukaan kulit sang istri, mulai dari wajah hingga tangan dan kaki. Padahal, sebelumnya pria tampan itu sudah memeriksanya. “Syukurlah, tak ada yang terluka. kecuali ini.” Arsenio mengangkat jari telunjuk Binar yang terus mengeluarkan darah. Dia memasukkan jari lentik itu ke dalam mulut, lalu menghisapnya.
“Rain, jangan begini,” tolak Binar dengan muka bersemu merah. Perlakuan manis itu bukanlah yang pertama kalinya yang dia dapat. Namun, Binar selalu saja tersipu. Dia berusaha menarik tangannya dari mulut sang suami. Akan tetapi, tenaga Arsenio jauh lebih besar, sehingga wanita muda itu memilih untuk pasrah.
Sesaat kemudian, pintu samping mobil dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Ajisaka. Dia langsung menyodorkan sebuah batu yang terbungkus kertas pada Arsenio. “Seseorang melemparkan ini, Bos,” lapornya.
“Saya sudah berusaha mencari pelakunya, tapi tidak ketemu, Bos,” sambung Dwiki.
Arsenio yang fokus pada Binar, segera mengalihkan perhatiannya. Dia melepaskan jemari lentik sang istri, kemudian buru-buru turun dari mobil dan meludah ke tanah. Arsenio membuang darah Binar yang sempat mengotori rongga mulutnya.
“Aku yakin ini ulah Haris,” geram Arsenio sembari mengelap mulutnya menggunakan punggung tangan. Dia lalu meraih batu tersebut dan membuka kertasnya. Sejenak, Arsenio terdiam sambil menautkan alis. “Tulisan siapa ini?” gumamnya.
“Tulisan?” Ajisaka yang penasaran segera mendekatkan wajahnya pada benda yang dipegang oleh sang majikan. Demikian pula Dwiki yang turut memperhatikan di belakang sepupunya. “Apa katanya, Bos?”
Arsenio tak segera menjawab. Dia tetap fokus memperhatikan tulisan tangan yang terbilang rapi dan indah, sebelum mulai membacanya.
'Ini hanyalah permulaan. Jangan bermain-main denganku, Arsenio. Kembalikan data-data yang sudah berhasil kau curi, atau kau akan mendapatkan musibah yang jauh lebih besar dari ini. Oh ya. Kudengar istrimu sedang hamil. Kau tentu tidak ingin kehilangan dua nyawa sekaligus, bukan?'
“Brengsek!” Arsenio meremas kertas itu, kemudian melemparnya jauh-jauh.
“Rain, aku takut. Apakah ini arti dari mimpi-mimpiku? Apa sebentar lagi aku akan mati?” Tangisan Binar semakin kencang.
“Tidak, Binar.” Arsenio bergegas masuk kembali ke dalam mobil untuk menenangkan istrinya. Pria itu memeluk erat-erat tubuh Binar, seolah tidak ingin dia lepaskan. “Tak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu, Sayang! Pegang janjiku!”
__ADS_1