
Binar segera berdiri untuk menyambut jabat tangan pria bernama Normand Heinze tadi. "Perkenalkan, dia istriku, Herr," ucap Arsenio.
"Ah, ihr seid ein perfektes Paar (kalian pasangan yang serasi), yang satu cantik dan satunya lagi sangat tampan," sanjung Normand dalam bahasa Jerman.
"Danke schön (terima kasih), Herr. Anda juga terlihat sangat keren," balas Arsenio.
"Tolong jangan panggil aku 'tuan'. Cukup Normand saja," pintanya seraya duduk pada kursi yang telah tersedia, dan menghadap kepada Binar serta Arsenio.
"Rasanya sungguh tidak sopan. Biarlah kupanggi Herr saja," ujar Arsenio. Binar sendiri hanya berdiam diri, karena dia sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua pria itu. Keinginannya untuk mempelajari bahasa Jerman semakin besar.
"Jadi, bagaimana? Rudolf mengatakan bahwa kalian sedang membutuhkan pekerjaan. Apakah itu benar?" tanya Normand mulai berbasa-basi.
"Ya. Itu benar sekali, Herr," sahut Arsenio. Dia pun mulai menceritakan tentang perjalanan hidup, serta pengalaman kerja dari semenjak dirinya kuliah hingga saat ini. "Istriku juga bersikeras untuk mencari kerja di sini. Namun, ada satu kendala. Dia belum fasih berbahasa Jerman," jelasnya. "Namun, istriku adalah orang yang cepat belajar. Aku yakin dalam waktu dekat dia pasti sudah bisa menguasai bahasa Jerman."
"Hm, istrimu akan kesulitan dalam mencari pekerjaan jika tidak bisa berbahasa Jerman. Saranku, biarkan dia kursus bahasa lebih dulu. Di sekitar sini ada banyak lembaga kursus atau kampus-kampus kecil. Biaya per semesternya juga bisa dikatakan cukup murah," jawab Normand menjelaskan.
"Kurasa itu ide yang bagus," sahut Arsenio seraya tersenyum lebar, kemudian menoleh kepada Binar. Dia menatap penuh arti. Akan tetapi, Binar hanya mengernyit tak mengerti.
"Dia menyuruhmu untuk kursus bahasa Jerman, supaya kamu mudah mendapatkan pekerjaan di sini," terang Arsenio sembari menggenggam erat jemari sang istri.
__ADS_1
"Oh begitu, ta-tapi ... kita belum mempunyai pemasukan, Rain. Kursus tentunya mahal dan menghabiskan banyak uang," ujar Binar ragu.
"Jangan khawatirkan masalah biaya, Sayang. Aku ...." Belum sempat Arsenio menyelesaikan kalimatnya, Normand sudah memotong pembicaraan pria itu dengan sang istri.
"Istrimu juga bisa menuntut ilmu sambil bekerja. Kebetulan, aku baru saja bekerja sama dengan seorang teman untuk membuka cabang dari restoran mewah yang awalnya hanya buka di kota Paris. Akan tetapi, sekarang dia mencoba untuk melebarkan sayapnya di Berlin,'" saran Normand, meskipun dia tak memahami apa yang tadi Arsenio dan Binar perbincangkan.
"Kami akan melakukan soft opening restoran pada bulan depan. Selama rentang waktu itu, istrimu bisa ikut magang sambil mempelajari bahasa Jerman. Berhubung ini adalah restoran mewah, maka akan ada pelatihan khusus bagi para calon pegawainya. Untuk sementara, dia bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dia bisa bicara bahasa Inggris, kan?" tanyanya kemudian.
"Ya. Dia fasih sekali dalam berbahasa Inggris, Herr," sahut Arsenio dengan antusias.
"Itu bagus sekali. Kalau begitu, istrimu bisa mulai magang besok," balas Normand. Selesai berkata demikian, pria paruh baya itu merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya. Ternyata dia mengambil sebuah kartu nama dan menyodorkannya kepada Binar. "Itu alamat tempatmu magang besok. Kalau kau lolos pelatihan selama satu bulan, maka kau akan diterima menjadi pegawai tetap. Namun, jika kau gagal, kau bisa mencoba lagi pada pelatihan yang akan diadakan tiga bulan dari sekarang," terang pria itu dalam bahasa Inggris.
"Good. Satu masalah telah terpecahkan. Sekarang, mari kita beralih padamu Arsenio. Sesuai dengan resume yang kau kirimkan via email kemarin, kubaca bahwa kau adalah lulusan Institut Teknik di Berlin. Kau juga telah menghasilkan banyak karya rancangan gedung. Aku menyukai semua rancanganmu. Kau adalah arsitek yang sangat berbakat," tutur Normand. Tak henti-hentinya dia memuji pria berdarah Belanda tersebut.
"Apalagi di usia semuda ini, kau sudah pernah menjabat sebagai CEO salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia," lanjut Normand antusias. "Itu merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Bekerja keras di masa muda, maka kau tinggal menikmati hasilnya di usia tua."
"Terima kasih atas sanjungan Anda, Herr. Namun, yang terpenting bagiku adalah mendapatkan penghasilan tetap agar bisa mengajukan izin tinggal di negara ini," tutur Arsenio.
"Itu adalah hal yang sangat mudah. Sesuai pengalaman yang kau miliki, aku mengundangmu untuk bergabung dalam perusahaan arsitektur milikku. Perusahaanku sudah bertahan puluhan tahun lamanya. Klienku juga tidak tebatas hanya di jerman saja, melainkan dari berbagai negara Eropa,” tutur Normand.
__ADS_1
“Aku benar-benar berterima kasih atas kesempatan yang sudah Anda berikan, Herr. Aku tak akan menyia-nyiakan peluang ini dan berusaha sebaik mungkin,” ucap Arsenio. Tak terkira betapa bahagia dan leganya perasaan pria berdarah Belanda tersebut. Dia menjabat tangan Normand begitu erat. “Aku tak akan mengecewakan Anda,” imbuh Arsenio.
“Bagus. Itu yang kuharapkan," balas Normand. "Ini adalah alamat kantorku.” Pria itu menyodorkan kartu nama kepada Arsenio yang segera dibaca oleh pria rupawan itu.
“Ternyata letaknya tak terlalu jauh dari apartemen milik adikku. Aku bahkan bisa berangkat hanya dengan berjalan kaki,” ujarnya.
“Sungguh? Ini sangat kebetulan. Kalau begitu, persiapkan diri kalian sebaik mungkin Arsenio dan Binar. Sampai jumpa besok pagi,” ucap Normand dalam bahasa Inggris. Setelah merasa bahwa tak ada lagi yang harus dibahas, pria itu pun kemudian berpamitan. Dia tidak ingin terlambat datang ke kantor.
Sementara pasangan suami istri itu pun ikut meninggalkan tempat tadi. Sesuai perkataan Arsenio tadi jika sudah selesai pertemuan singkat dengan Normand, dia mengajak Binar untuk pergi ke toko tas yang letaknya tak jauh dari area café. Awalnya Binar menolak. Namun Arsenio terus memaksa.
“Jangan boros, Rain. Kita belum juga memulai bekerja,” tegur Binar.
“Tenang saja, Sayang. Masih ada sisa banyak di dalam tabunganku,” sahut Arsenio terlihat tenang.
"Bukan begitu, Rain. Kita datang kemari bukan untuk berlibur sambil berbelanja. Kita datang ke Jerman untuk memulai hidup baru, menjemput masa depan yang jauh lebih baik," ucap Binar membuat Arsenio yang tengah berjalan di sebelahnya seketika tertegun dan menoleh.
"Astaga, kamu serius sekali," sahutnya menanggapi.
"Memang sudah saatnya untuk lebih serius dalam menghadapi hidup ini," sahut Binar. Wanita muda itu seketika menghentikan langkah, ketika Arsenio menahan lajunya di depan sebuah toko khusus yang menjual tas.
__ADS_1
"Haruskah Rain? Barang-barang yang dijual di sama pasti snagat mahal. Lihat saja keadaan tokonya. Terlihat sangat ...." Binar tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Arsenio segera menuntun tangannya, dan menarik dia agar ikut masuk ke dalam toko.