Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Identitas Palsu


__ADS_3

Ajisaka meninggalkan sepasang suami istri yang masih berseteru itu. Dia kembali ke kamar Arsenio seperti yang telah diperintahkan tadi. Ajisaka bermaksud untuk mengambil tiga flashdisk dan selembar fotokopi kartu tanda pengenal milik Syamsir Lagawi. Ajisaka berencana akan menyelidiki temuan-temuan itu dengan menggunakan laptop miliknya.


Ajisaka sudah membalikkan badan untuk menuju kamarnya, ketika Arsenio tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. “Bos? Bagaimana keadaan Bu Bos?” tanya sepupu Dwiku tersebut serba salah.


“Semuanya kacau, Ji.” Arsenio terkekeh pelan. Sementara matanya menyiratkan kepedihan yang teramat besar.


“Maaf, Bos. Tak seharusnya kami memutar video itu,” sesal Ajisaka.


“Satu-satunya orang yang patut disalahkan adalah aku. Akulah yang dengan sengaja merekam adegan tersebut, sekaligus mengoleksi foto-foto Winona,” ucap Arsenio pelan. Dia mengambil tempat duduk di tepian ranjang. Arsenio menopang kepala dengan kedua tangan, lalu mengacak-acak rambutnya. Dia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan mengalami cobaan bertubi-tubi seperti saat ini. Terkadang, dia berpikir bahwa ini merupakan balasan dari segala sikap buruknya dulu.


Belum genap tujuh hari Anggraini pergi. Kini, dia harus menghadapi kemarahan Binar yang teramat besar karena kekonyolannya di masa lalu. Binar bahkan sampai meminta untuk dipulangkan ke Bali. “Aku tidak sanggup jika harus berjauhan dari Binar, Ji. Dialah satu-satunya alasan diriku bisa bertahan hingga detik ini,” gumamnya pelan.


“Bu Bos sedang kalut, Bos. Berikanlah dia waktu, tapi … saya jadi memiliki satu pertanyaan besar atas masalah ini,” sahut Ajisaka ragu-ragu.


“Apa?” tanya Arsenio tanpa mengubah posisinya.


“Kenapa anda harus merekam hal-hal seperti itu, Bos?” tanya Ajisaka dengan perasaan tak enak. Dia takut menyinggung perasaan majikannya.


“Dulu, aku selalu melakukan segala sesuatu tanpa berpikir. Diriku memang kerap bersikap gegabah. Padahal alasanku mengoleksi foto-foto dan videoku bersama Wini, hanyalah sebagai bentuk keisengan. Lagi pula, aku tak menyangka jika Wini masih menyimpannya sampai sekarang. Pantas saja jika Dwiki sampai marah.” Arsenio berdecak pelan sambil mengacak-acak lagi rambutnya.


“Sudahlah, Bos. Tak ada gunanya menyesal. Semua sudah terjadi,” tutur Ajisaka yang mencoba untuk bersikap bijak.


Arsenio tak berniat menanggapi. Dia hanya mendongak dan menatap penuh arti pada Ajisaka. Sesaat kemudian, mata coklat terangnya menangkap barang-barang di genggaman anak buah kepercayaannya tersebut. “Apa itu?”


“Bukti-bukti yang kami dapat tadi, Bos,” jawab Ajisaka seraya menyodorkan tiga buah flashdisk yang mana salah satunya berisi foto dan video Arsenio bersama Winona. Ajisaka juga memegang kertas fotokopi kartu identitas atas nama Syamsir Lagawi.


“Periksa saja di sini, biar aku juga bisa ikut melihat.” Arsenio kemudian bangkit dari duduk, lalu mengarahkan Ajisaka agar duduk kembali di depan laptop.


“Anda juga di sini, Bos?” Ajisaka menoleh kepada Arsenio dengan sorot penuh tanda tanya.


“Kenapa memangnya? Tidak boleh?” sahut Arsenio sewot.


“Nanti kalau Bu Bos mencari Anda, bagaimana?” Ajisaka mengernyitkan kening.

__ADS_1


“Tidak usah mengkhawatirkan itu. Jangankan mencari, dia saja melarang aku masuk ke kamarnya.” Arsenio mengembuskan napas pelan.


Entah, Ajisaka harus bersimpati ataukah tertawa. Pria tampan berkulit sawo matang itu hanya dapat mengulum bibirnya. “Jadi, malam ini Anda tidur sendiri, Bos? Kalau Anda membutuhkan teman ... saya siap,” tawarnya sambil terus menahan tawa atas ucapannya sendiri.


“Aku masih waras, Ji. Aku normal!” dengus Arsenio kesal. “Sudahlah. Jangan membicarakan hal itu. Kita kembali ke penyelidikan ini saja,” tegurnya.


Namun, nyatanya Arsenio sama sekali tak bisa fokus pada setiap kata yang dijelaskan oleh Ajisaka. Dia tak bisa menyimak dengan jelas, setiap file gambar maupun dokumen-dokumen penting yang berhasil dicuri oleh Haris. Saat itu, yang ada di pelupuk mata Arsenio hanyalah wajah cantik Binar yang terlihat kecewa dan terluka.


“Ji, kita istirahat dulu saja. Kepalaku pusing,” ucap Arsenio. “Tinggalkan saja barang-barangnya di sini.”


“Oh, baiklah, Bos. Lalu, apa yang harus saya lakukan setelah ini?” tanya Ajisaka. Sejak awal dia terlihat paling bersemangat dalam memecahkan kasus bosnya itu.


“Coba kamu datang dan selidiki kediaman Haris. Akan kukirimkan alamatnya padamu sebentar lagi,” titah Arsenio.


“Baiklah, Bos. Kirim saja ke ponsel saya,” sahut Ajisaka sebelum berpamitan dan keluar dari dalam kamar Arsenio.


Sepeninggal Ajisaka, Arsenio duduk termenung di depan laptop. Cukup lama dia menatap kosong ke arah layar komputer, hingga ekor matanya menangkap kertas fotokopi kartu identitas yang sudah kusut.


Arsenio berdecak pelan. “Ah, sudahlah!” Pria itu merasakan kepalanya yang semakin pening. Merasa tak dapat berpikir atau melakukan apapun, dia iseng mengambil pulpen dari kotak yang tak jauh dari laptop. Benak Arsenio melayang, membayangkan kemarahan Binar. Tanpa sadar, Arsenio mencoret-coret kertas tadi.


Arsenio menuliskan nama sang istri di setiap tempat yang masih kosong, hingga penuh.


Setelah puas, dia berpindah pada gambar wajah close up kartu identitas. Dia menggambar kacamata di wajah itu, lalu menambahinya dengan kumis di atas bibir. Setelah itu, Arsenio mengamati foto tersebut cukup lama. Tiba-tiba dia terhenyak. Saat itu Arsenio menyadari bahwa foto wajah yang sudah dia coret-coret tadi begitu mirip dengan seseorang.


“Ini kan wajah Haris!” serunya tak percaya.


“Kenapa foto Haris ada pada kartu identitas Syamsir Lagawi?” Arsenio bergumam pada diri sendiri. “Jangan-jangan dia ….”


Arsenio bergegas keluar dari kamar. Dia berlari menuju kamar Ajisaka di lantai bawah. Akan tetapi, sebelum sampai di tujuan, Arsenio lebih dulu berpapasan dengan Fabien yang hendak menuju ke lantai atas. “Mau ke mana?” tanya musisi muda tersebut.


“Ke kamar Aji. Kamu mau ke mana?” Arsenio balik bertanya.


“Aku mau menyampaikan pesan dari papa untuk Binar,” jawab Fabien santai sambil melewati sang kakak begitu saja.

__ADS_1


“Pesan apa?” tanya Arsenio lagi.


“Papa ingin mengajak Binar ke taman,” sahut Fabien menoleh sejenak pada Arsenio, sebelum melanjutkan kembali langkahnya.


“Kamu tahu ‘kan bahwa aku melarang Binar keluar rumah. Keadaan masih genting. Aku tidak mau dia mengalami bahaya di luar sana,” tolak Arsenio tegas.


“Astaga, Broer. Kau terlalu paranoid. Ini hanya berjalan-jalan di taman. Bukan ke mall atau ke tempat-tempat ramai. Lagi pula, taman rumah kita terhalang oleh tembok tinggi. Siapa yang berani membidik Binar di sana?” ujar Fabien tenang. “Jika terlalu khawatir, kau ikut saja ke taman. Kawal istrimu supaya kau tenang,” usul Fabien yang segera disambut senyuman lebar dari Arsenio.


“Ide yang bagus. Terima kasih, Anak nakal,” sahut Arsenio sambil mengacak-acak rambut sang adik.


“Hei! Hentikan!” Fabien berdecak kesal sambil menghindar.


“Oh, ya, Binar sekarang sedang berada di kamar paling ujung. Dia sekarang pindah ke sana sementara,” terang Arsenio.


“Kenapa memangnya?” Fabien segera berbalik sambil mengernyitkan kening.


“Tidak apa-apa. Binar hanya merasa bosan saja,” kilah Arsenio. Tanpa berlama-lama, dia meninggalkan Fabien begitu saja. Arsenio sudah tak sabar untuk menunjukkan temuan penting tadi kepada Ajisaka.


Setelah melewati lorong samping, kini sampailah Arsenio di depan sebuah ruangan. Dia mengetuk pintunya penuh semangat. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Kepala Ajisaka menyembul dari baliknya.


“Ji, kamu harus melihat ini!” Arsenio menyodorkan fotokopi kartu identitas tadi pada Ajisaka. “Lihatlah fotonya,” tunjuk suami Binar tersebut.


“Foto yang dicorat-coret ini, Bos?” Ajisaka menautkan alis tanda tak mengerti.


“Iya! Coba amati!” suruh Arsenio tak sabar.


“Wajahnya Anda gambari dengan kacamata dan kumis. Jadi mirip … Haris Maulana?” sebut Ajisaka ragu.


“Ya, kamu benar. Kartu identitas ini adalah milik Syamsir Lagawi alias Haris Maulana!” seru Arsenio.


“Jadi, maksud Anda ….”


“Haris Maulana hanyalah nama samaran. Dia menyamar! Nama aslinya adalah Syamsir Lagawi!” tegas Arsenio dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2