Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Akhir Dari Segalanya


__ADS_3

“Kita mau ke mana, Ki?” tanya Winona sambil terus mengemudi atas petunjuk dari Dwiki.


“Ikuti saja arahan dariku,” sahut pria dengan gaya rambut baru tersebut.


Winona tak banyak bertanya lagi. Dia menjalankan mobilnya hingga memasuki kawasan sebuah perumahan rakyat. Dwiki kemudian mengarahkan Winona untuk menuju ke sebuah klinik yang berada tak jauh dari gerbang masuk komplek itu.


Setelah Winona memarkirkan kendaraannya di depan klinik tersebut, Dwiki bergegas turun. Tak lupa, dia membantu membuka pintu untuk sang kekasih.


“Aku tunggu di sini saja, Ki,” ucap Winona. Namun, Dwiki tidak menjawab. Dia memasang raut protes kepada kekasihnya tersebut. Sikap Dwiki lagi-lagi membuat Winona tertawa geli. “Tenang saja. Tidak akan ada seorang pun yang berani menculik pacarnya Dwiki Aryasatya,” gurau wanita berambut panjang tersebut.


“Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu,” ucap Dwiki. Pada akhirnya dia setuju. Namun, baru saja dirinya berbalik, Dwiki kembali menoleh. “Kalau ada apa-apa, langsung teriak saja,” pesannya.


“Siap, Bos!” sahut Winona memasang sikap hormat.


“Gadis pintar,” ujar Dwiki sambil mengedipkan sebelah matanya. Dia melanjutkan niat memasuki klinik tadi.


Di dalam sana, Dwiki melihat Arsenio bersama seorang anggota polisi. Kekasih Winona tersebut segera menghampiri sang majikan. “Bos!”panggil Dwiki dengan tidak terlalu nyaring. Dia begitu lega saat melihat Arsenio baik-baik saja. Pria tampan itu bahkan berjalan gagah ke arahnya sambil tersenyum.


“Lenganku sedikit lecet, Ki. Namun, aku baik-baik saja,” ujar Arsenio tanpa ditanya.


“Bagaimana ceritanya Anda bisa terluka seperti ini?” Dwiki terlihat sudah tak sabar untuk mendengarkan penuturan dari Arsenio.


“Nanti saja, Ki. Aku akan menjelaskan semuanya di kantor polisi,” jawab Arsenio seraya menoleh pada polisi yang tadi mengantarkannya ke klinik. “Biar teman saya yang mengendarai mobilnya, Pak,” ucap pria tampan berambut cokelat itu seraya mengarahkan tangan kepada Dwiki.


“Eh, bagaimana ini? Saya datang kemari bersama Non Wini,” sela Dwiki sebelum polisi tadi sempat menjawab.


“Oh, ya? Kalian mau ke mana?” tanya Arsenio.


“Setelah mengantarkan Pak Biantara membuat laporan ke kantor polisi, saya mengantarkan beliau pulang. Lalu, Non Wini mengajak saya jalan-jalan,” jelas Dwiki seraya mengarahkan telunjuknya ke rambut baru. “Saya baru potong rambut, Bos.” Dwiki memainkan sepasang alisnya.


“Astaga. Aku sampai tidak memperhatikan,” ujar Arsenio seraya tertawa pelan.


“Jadi, bagaimana, Pak? Kita bisa ke kantor polisi sekarang, ‘kan? Saya membutuhkan keterangan dan kesaksian Anda,” tanya polisi tadi. Dia sudah merasa tidak nyaman karena waktunya banyak yang terbuang.


“Baik, Pak. Izinkan saya berbicara sebentar dengan teman saya,” sahut Arsenio mengangguk pelan.


“Baiklah. Saya tunggu di luar,” balas polisi tadi.


“Iya, Pak. Kami juga akan keluar sekarang.” Arsenio kembali mengangguk sopan. Dia lalu mengajak Dwiki ke arah mobil Biantara yang terparkir tak jauh dari kendaraan miliknya. Di sana, terlihat Winona yang berdiri menunggu mereka keluar. Rautnya tiba-tiba berubah cemas, saat melihat lengan Arsenio yang dibebat perban.


“Sen! Apa yang terjadi?” Wanita cantik itu segera menghampiri mantan tunangan yang berjalan mendekat.


“Semua telah selesai. Bayu sudah berhasil diamankan. Sekarang, aku membutuhkan bantuan Dwiki untuk mengantar ke kantor polisi. Seperti yang kamu lihat, lengan kananku terluka,” ujar Arsenio sambil memperlihatkan lengannya yang dibalut perban.


“Ya ampun. Apakah lukamu parah?” tanya Winona lagi.

__ADS_1


“Tidak juga, ini hanya luka ringan. Tak ada yang serius. Akan tetapi ….” Arsenio seakan ragu melanjutkan kalimatnya. “Jangan katakan apapun pada Binar. Biar aku sendiri nanti yang menjelaskan.”


“Memangnya Bu Bos ada di mana, Bos?” Dwiki ikut menimpali.


“Itulah.” Arsenio memandang Dwiki dan Winona secara bergantian. “Aku tadi menyuruh Ajisaka untuk membawanya ke spa. Sekarang, kondisiku sedang begini. Jadi, aku tidak bisa menjemputnya. Jadi ….” Mata coklat terang Arsenio berpindah pada Winona, lalu tersenyum penuh arti.“Tolong jemput istriku ya, Win. Bawa dia pulang ke rumah,” pinta Arsenio seenaknya, sambil menepuk pelan pundak Winona.


“Astaga. Kamu pikir aku sopir? Seenaknya saja menyuruhku,” gerutu Winona.


“Tolonglah, Win. Kasihan Binar. Dia sedang hamil,” bujuk Arsenio tak putus asa.


“Ajisaka di mana?” tanya Winona ketus.


“Dia sedang mendampingi orang-orang suruhanku, untuk memproses anak buah Bayu yang ditangkap dan dibawa ke kantor polisi,” jawab Arsenio dengan sorot memohon.


“Ya, sudah. Aku jemput dia sekarang. Kirimkan padaku alamat spanya,” ucap Winona pada akhirnya.


“Oke. Siapa tahu kamu jadi tertarik untuk bergabung dengan Binar juga,” gurau Arsenio sembari merogoh ponsel dari saku celana sebelah kiri. Dia lalu mengirimkan pesan pada Winona.


Selesai membaca pesan dari Arsenio dan memastikan bahwa dia mengetahui alamat tersebut, Winona pun beralih kepada Dwiki. “Aku pergi dulu, Tampan,” pamitnya sembari mencubit pipi Dwiki dengan gemas. Tanpa banyak bicara lagi, wanita cantik itu segera masuk ke mobil, lalu memutar kemudi meninggalkan dua pria yang terus berdiri sampai kendaraannya tak terlihat dari pandangan.


“Astaga.” Arsenio tertawa pelan.


“Begitulah, Bos,” balas Dwiki seraya mengacak-acak rambutnya.


Sebelum kedua pria itu sempat melanjutkan perbincangan, terdengar suara polisi tadi menyela mereka. “Bagaimana, Bapak-bapak? Apakah kita bisa berangkat sekarang?” tanyanya, membuat Arsenio segera berbalik dan melangkah cepat menuju mobilnya.


Pihak kepolisian sendiri telah berjanji untuk mengungkap tuntas kasus tersebut. Mereka akan mencari fakta-fakta baru yang berhasil dikorek dari Bayu.


Setelah menjalani serangkaian proses pemeriksaan sampai menyusun berita acara, Arsenio akhirnya dapat bernapas lega. Dwiki pun tetap setia mendampingi majikannya tersebut hingga semuanya selesai. Arsenio pun akhirnya diperbolehkan pulang.


“Ke mana kita setelah ini, Bos?” tanya Dwiki yang bertindak sebagai sopir.


“Pulang. Kita akan menunggu kedatangan Binar di rumah,” jawab Arsenio sambil menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil.


“Bagaimana dengan Bu Bos? Apakah tidak apa-apa karena dia tanpa pendampingan siapa pun?” tanya Dwiki terdengar ragu.


“Ki, Bayu itu ibaratnya seperti kepala. Kita potong kepalanya, maka bagian tubuh lainnya tidak akan bisa bergerak. Aku yakin, setelah ini semua akan baik-baik saja,” ujar Arsenio yakin.


“Saya hanya bisa mengaminkan, Bos,” balas Dwiki tersenyum kecil.


“Aku bersumpah bahwa kematian mamaku tidak akan sia-sia, Ki. Setelah ini, aku akan fokus pada perusahaan investasi yang sudah dikembalikan. Aku juga akan membesarkan yayasan yang sudah mamaku rintis,” terang Arsenio dengan pandangan menerawang ke depan.


“Bu Anggraini pasti akan bangga pada Anda, Bos,” sanjung Dwiki sebelum kembali fokus pada kemudi.


“Semoga,” balas Arsenio. Tersungging senyuman dari bibir tipis pria tampan tersebut. Setelah itu, tak ada lagi percakapan sampai mereka tiba di Kediaman Rainier.

__ADS_1


Dwiki menghentikan kendaraan milik sang bos di dekat undakan anak tangga menuju teras. Arsenio bergegas turun dari mobil, ketika ponselnya kembali berbunyi. Awalnya, dia mengira bahwa Binar lah yang menghubungi. Namun, ternyata perkiraan Arsenio keliru. Nama Normand muncul di layar.


“Hallo, Herr,” sapa Arsenio antusias. Dia memutuskan untuk duduk di teras sambil melanjutkan percakapan bersama pria yang begitu dirinya hormati.


“Aku berharap waktunya tepat. Besok, perwakilanku akan tiba di Indonesia. Apakah sekiranya tidak merepotkan jika aku menerima tawaranmu dulu? Kau dulu pernah mengatakan bahwa perwakilanku bisa tinggal sementara di tempatmu,” tanya Normand ragu.


“Sama sekali tidak merepotkan, Herr. Anda katakan saja jadwal kedatangan mereka. Aku akan menjemputnya,” jawab Arsenio dengan yakin.


“Benarkah? Terima kasih, Arsenio. Aku sangat menghargai kebaikanmu,” balas Normand tulus. “Aku yakin kau akan mampu membawa perusahaan yang baru kurintis di Indonesia,” imbuhnya.


“Ehm, mengenai itu, Herr ….” Arsenio menjeda kata-katanya sejenak untuk merangkai kalimat yang pas.


“Apakah ada masalah?” Normand seakan dapat merasakan kerisauan Arsenio.


“Entah apa aku sanggup atau tidak, tetapi ayahku sudah mengembalikan perusahaan milikku. Aku juga harus menjalankan perusahaan konstruksi ….”


“Aku yakin kau bisa, Arsenio. Kau yang paling mengerti seluk-beluk bisnis di Indonesia,” potong Normand. “Ayolah. Jangan mengecewakanku,” pintanya setengah memaksa.


Hal itu membuat Arsenio tertawa. “Baiklah, nanti kita bicarakan lagi setelah perwakilan anda datang kemari,” putusnya.


Sementara Winona yang sudah berada di spa sejak beberapa saat yang lalu, akhirnya dapat tersenyum setelah melihat kemunculan Binar bersama Anika.


Berbeda dengan Binar yang tampak berseri, Anika justru terlihat pucat dan gelisah. Bagaimana tidak, seharusnya hari itu dia berada di balik meja kerja. “Bu Wini?” sapa kekasih Ajisaka tersebut.


“Kamu tidak ke kantor, Nik?” tanya Winona dengan raut dan nada bicara yang tampak berbeda.


“Um … hari ini saya izin. Semalam Ajisaka menghubungi saya dan meminta untuk menemani Bu Binar ke spa,” jawab Anika menjelaskan.


“Lalu, siapa yang menghandle pekerjaanmu?” tanya Winona lagi, membuat Anika terlihat semakin tak nyaman.


Menyadari perubahan sikap Anika yang berbeda, Binar pun mencoba untuk menengahi. “Kak Wini kalau menyangkut masalah pekerjaan terlihat serius sekali, ya?”


“Tentu saja, Binar. Anika punya tanggung jawab di kantor,” sahut Winona terlihat kurang suka.


“Anika menemaniku sejak tadi. Rain yang memintanya. Aku rasa, ini bagian dari rencana suamiku,” jelas Binar mencoba menjelaskan. Sementara Winona hanya mengembuskan napas pelan.


“Maafkan saya, Bu,” ucap Anika pelan. “Saya berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi.”


“Sudahlah, Nik. Aku rasa Kak Wini juga pasti mengerti,” ujar Binar lembut.


“Ck!” Winona berdecak pelan. “Kamu tidak cocok jadi bos,” ujarnya kepada Binar.


Bukannya tersinggung, Binar justru tertawa renyah. Dia memperhatikan langkah anggun Winona yang menuju ke pintu sopir. Istri Arsenio itu pun mengajak Anika untuk segera masuk ke mobil.


“Kenapa Kakak yang menjemput kemari? Kupikir Rain yang ….”

__ADS_1


“Arsen dan Dwiki sedang membuat laporan di kepolisian. Jadi, suamimu memintaku untuk menjemput kemari,” sela Winona sambil terus mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang, menuju pulang.


__ADS_2