
Arsenio tampak sedikit murung, ketika dia menyerahkan kunci beserta seluruh surat-surat dan segala kelengkapan mobil mewah kesayangannya kepada Rian. “Semoga pemilik yang baru, jauh lebih menyayangi mobil ini daripada aku,” ucapnya lirih. "Ia adalah harta sekaligus teman setiaku selama ini."
“Serahkan semuanya padaku. Akan kucarikan pembeli yang terlihat potensial,” balas Rian seraya menepuk lengan Arsenio pelan. Sedikit banyak dia ikut merasa simpati atas apa yang dialami oleh temannya itu.
“Baiklah, aku pergi dulu. Ah, hampir lupa. Tolong buka bagasinya,” titah Arsenio. Rian pun buru-buru memencet remote mobil. Tak berselang lama, pintu bagasi pun terbuka perlahan.
Arsenio buru-buru meraih satu ransel besar yang berisi perlengkapannya dan juga Binar untuk menginap selama beberapa hari di Bali. “Kami pergi dulu." Tangan kiri Arsenio menggenggam jemari Binar, sedangkan tangan kanannya menyalami Rian.
“Oke. Berhati-hatilah, Brother. Jangan lupa cek rekeningmu. Sudah berhasil kutransfer beberapa menit yang lalu,” pesan Rian.
Arsenio mengangguk. Senyuman hangat tersungging dari bibirnya. Pria itu kemudian membalikkan badan tanpa sedetik pun melepaskan genggamannya dari Binar. Mereka berjalan menuju halte tak terpakai yang berada di depan dealer mewah milik Rian tersebut.
“Rain, kamu boleh menangis. Siapa tahu sesak di dadamu bisa sedikit berkurang,” ucap Binar lembut ketika memperhatikan raut sedih kekasihnya.
Arsenio yang saat itu serius memesan taksi online, langsung mendongak dan menatap Binar dengan sorot tertegun. “Memangnya kelihatan jelas kalau aku sedang bersedih?” tanyanya seraya memaksakan senyum.
“Sangat,” jawab Binar memandang sendu pada kekasihnya. “Katakan, apa yang harus kulakukan untuk mengobati sedihmu, Rain?”
“Cukup dengan berjanji bahwa kamu tidak akan meninggalkan aku,” jawab Arsenio tegas sambil membelai pipi mulus Binar.
“Kalau itu sudah pasti. Aku cuma punya kamu, Rain.” Binar menyandarkan kepalanya di bahu lebar Arsenio. “Jadi, kita ke mana setelah ini?” tanya gadis itu.
__ADS_1
“Seperti yang kukatakan tadi, kita akan pergi ke Bali.” Arsenio berucap lirih. Terbayang olehnya mobil Range Rover kesayangan yang harus berpindah tangan pada pemilik baru. Namun, dia sama sekali tidak menyesali keputusannya. Bagi Arsenio, ada harga yang harus dibayar untuk setiap pilihan yang sudah dirinya ambil dalam hidup ini.
Tak berapa lama, taksi online pesanannya tiba. Dua sejoli itu segera memasuki kendaraan. Tanpa mereka sadari, di seberang jalan, seorang pria sedang mengamati mereka dari dalam mobil SUV merah. Dia ikut melajukan kendaraan saat taksi online yang Arsenio tumpangi, bergerak dan tiba di terminal bus antar kota. Sosok misterius itu terus mengawasi saat Arsenio dan Binar turun dari taksi online, lalu memasuki terminal.
Arsenio sendiri tampak begitu yakin ketika akan bepergian ke Bali dengan menggunakan bus. Dengan penuh percaya diri, dia mendatangi loket dan memesan dua tiket kelas eksekutif.
“Memangnya kamu pernah naik bus?” tanya Binar keheranan.
“Ini yang pertama kali,” jawab Arsenio antusias.
“Kamu yakin naik bus? Kita akan lama di perjalanan,” jelas Binar mengingatkan.
“Ya, sudah. Yang penting aku sudah mengingatkanmu.” Binar terkikik geli.
“Aku tidak akan lelah dan bosan, karena ada nona Binar di sebelahku,” rayu Arsenio sembari mengecup punggung tangan Binar.
Awalnya, Binar tampak begitu ragu ketika menaiki bus. Arsenio adalah seorang yang terbiasa hidup mewah dan mungkin akan merasa tidak nyaman selama perjalanan. Akan tetapi, apa yang dia pikirkan sama sekali tak terjadi.
Arsenio terlihat sangat menikmati perjalanannya saat itu. Berkali-kali dia melongok ke jendela, melihat pemandangan di luar. Persis seperti anak kecil yang antusias terhadap segala hal yang dia lihat. Hingga beberapa jam berlalu, Arsenio masih penuh semangat. Bahkan ketika bus yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah makan.
Arsenio memilih berbagai macam lauk yang disediakan secara prasmanan, hingga piringnya penuh. “Rain, jangan banyak-banyak. Sayang, kalau tidak habis. Jangan membuang-buang makanan,” tegur Binar. Nyatanya, pria itu menghabiskan makanannya hingga tak tersisa. Arsenio terlalu kenyang, sampai-sampai dia harus melonggarkan gesper dan membuka kancing celana jeansnya, membuat Binar tak berhenti tertawa.
__ADS_1
Namun, hal itu bukanlah puncak perjalanan mereka kali ini. Setelah beristirahat sejenak di rumah makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Bus pun berhenti untuk antri masuk ke pelabuhan Ketapang. Saat itu, Arsenio tengah tertidur pulas setelah kekenyangan. Dia terbangun ketika kendaraan besar tadi kembali berjalan dengan tersendat. “Kenapa ini? Apakah macet?” tanyanya dengan suara parau.
“Tidak, Rain. Tenang saja. Kita sudah memasuki kawasan pelabuhan. Sebentar lagi, kita akan menaiki feri,” jelas Binar.
“Naik kapal feri, ya? Oke. Pasti seru!” Sahut Arsenio penuh semangat. Kantuknya seketika hilang saat bus mulai parkir di lambung kapal feri. Setelah memastikan barang-barang bawaannya aman terkunci di bagasi yang terletak di atas tempat duduk, Arsenio mengajak Binar turun dari sana.
Dia bermaksud untuk berjalan-jalan di atas dek kapal bersama sang kekasih. Sebelumnya, Arsenio telah menyiapkan ponsel mahal yang merupakan satu-satunya benda mewah yang masih dia miliki hingga saat ini untuk berswafoto. Kebetulan, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tak terasa, mereka telah melakukan perjalanan hampir dua puluh jam lamanya. Akan tetapi, semua rasa lelah itu seakan terbayar, ketika Arsenio dan Binar takjub melihat laut lepas. Apalagi cuaca saat itu tidak terlalu panas.
Kenangan terakhir ketika dirinya melarikan diri dari Bali, mengalir deras dalam ingatan Binar. Terlebih saat dia membayangkan wajah-wajah manis Wisnu dan Praya yang sebentar lagi akan segera ditemuinya. Gadis itu mencengkeram erat tali tas selempang, berusaha menahan agar air mata tak lolos dari kelopaknya.
Akan tetapi, fokusnya seketika buyar saat melihat muka Arsenio yang memerah seraya memegang pundak Binar. “Rain, kamu kenapa?” tanyanya khawatir. Namun, Arsenio tak menjawab. Dia terus menutupi mulutnya dengan muka yang semakin memerah.
“Rain?” panggil Binar lagi. Saat itulah, Arsenio maju mendekati pagar pembatas dan memuntahkan seluruh isi perutnya di sana. Beruntung mereka berada di dek paling bawah, sehingga apa yang dikeluarkan oleh Arsenio langsung jatuh ke laut lepas.
“Astaga!” Binar memijit tengkuk sang kekasih. Dia juga buru-buru mengambil minyak kayu putih dari dalam tas dan mengoleskannya ke hidung, leher belakang serta perut Arsenio.
“Aku pusing sekali, Binar. Perutku rasanya seperti diaduk,” keluh Arsenio saat Binar menuntunnya ke bangku panjang yang berada di dekat mereka. Pria rupawan itu berniat untuk merebahkan kepalanya di pangkuan Binar. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, rasa mual kembali mendera. Arsenio segera bangkit dan berlari ke pinggiran kapal.
Pria malang itu memuntahkan isi perutnya lagi dan lagi. Sampai tak ada apapun yang keluar dari mulutnya, selain cairan bening. “Ya, ampun, Sayangku. Kamu mabuk laut.” Binar terus memijit tengkuk Arsenio. Iba bercampur geli, dia rasakan saat itu. Rasa hati ingin tertawa, tetapi takut dosa.
“Nanti kalau kita pulang ke Jakarta, ingatkan aku untuk memesan tiket pesawat saja. Aku tidak sanggup kalau harus naik kapal lagi, Binar,” ujar Arsenio dengan tubuh lemas.
__ADS_1