
"Besok?" Binar melepas pelukannya. Dia menatap Arsenio dengan sorot penuh keheranan.
"Kamu membahas masalah pernikahan seperti sedang memesan makanan secara online, Sen. Sekarang memesan dan harus datang saat itu juga." Chand menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Arsenio.
"Secara agama saja dulu, asalkan sah," ucap Arsenio dengan yakin.
"Ya, tapi kenapa mendadak sekali?" lagi-lagi Chand menggeleng tak mengerti.
"Makin cepat menikah maka akan semakin baik," jawab Arsenio dengan sorot mata mengarah kepada wajah cantik Binar. "Aku tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Aku merasa bahwa akan datang masalah besar yang menerpa. Di saat seperti itu, aku tak ingin semua masalahku menjauhkan diriku dari Binar, sehingga aku harus lebih dulu mengikatnya. Selain itu, aku hanya ingin lebih leluasa dalam melindungi Binar dari apa dan siapa pun."
"Rain." Binar begitu terharu mendengarkan penjelasan Arsenio. Sementara Chand semakin merasa tak nyaman karenanya. Bagaimanapun juga, dia masih memiliki perasaan yang istimewa terhadap Binar. Mendengar Arsenio yang akan menikahi gadis itu, membuatnya merasa patah hati sedemikian dalam.
"Memangnya Nirmala bersedia untuk menikah secepat itu, mengingat usianya yang masih sangat muda," pikir Chand dengan suaranya yang lirih dan terdengar ragu.
Sedangkan Binar tak menjawab. Dia lalu menunduk untuk beberapa saat. Setelah itu, gadis cantik tersebut mendongak dan mengarahkan pandangan kepada Arsenio. Pria itu ternyata juga tengah menatapnya dengan lekat. "Aku bersedia ... menikah denganmu," jawab gadis itu malu-malu.
Begitu banyak beban yang menggelayut di pundak Binar. Akan tetapi, semuanya seakan sirna ketika dia menerima pinangan Arsenio. Anggap saja dia gila, tapi suara hatinya yang paling dalam terus menerus meneriakkan nama pria itu seorang.
"Aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia ini," ujar Arsenio seraya kembali memeluk tubuh indah Binar erat-erat. Cukup lama dia mereka melakukan hal itu, hingga membuat Chand harus mundur perlahan.
Terlalu perih rasanya jika terus menyaksikan adegan mesra, antara gadis yang dia cintai dengan pria lain. Untuk kedua kalinya, Chand dikalahkan oleh seorang Arsenio dalam urusan wanita.
"Kalau begitu, aku pulang dulu," pamit pria berdarah Jawa-India itu seraya membalikkan badan. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah, Chand segera berhenti dan kembali menghadap kepada Arsenio dan Binar. "Oh, ya, apa om Biantara tidak menghubungimu atas peristiwa tadi?" tanyanya.
"Tidak. Belum, tapi aku berencana untuk mendatangi rumahnya besok," jawab Arsenio enteng.
"Ya, sudah. Namun, menurutku pikirkanlah semuanya dengan baik-baik. Jangan tergesa-gesa. Apalagi ini juga menyangkut Nirmala," saran Chand tak putus asa.
"Ya, aku tahu itu," sahut Arsenio tanpa melepaskan pandangannya dari Binar.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu." Chand merasa semakin canggung di sana. Dia sama sekali tak ingin melihat kemesraan Arsenio dan Binar lebih dari itu, sehingga dirinya segera membalikkan badan dan berlalu ke dalam lift.
Sepeninggal Chand, Binar segera mundur beberapa langkah dari Arsenio. Jantungnya kembali berdebar kencang saat menyadari bahwa mereka kini kembali hanya berdua saja. "A-akan kubuatkan teh. Di mana cangkirnya?" tanya Binar terbata.
Akan tetapi, sebelum gadis cantik itu beranjak, Arsenio sudah lebih dulu memegangi pergelangan tangannya. "Temani aku," pinta Arsenio lirih.
__ADS_1
"Temani ke mana?" Binar susah payah menelan ludah ketika Arsenio menatapnya penuh damba.
"Bantu aku melepas penat. Beri aku kekuatan untuk menghadapi besok," pinta Arsenio lagi dengan sorot memelas.
"Bagaimana caranya?" Jantung Binar berdebar semakin kencang saat Arsenio berjalan mendekat, lalu menempelkan bibirnya dengan mesra. Arsenio melu•matnya tanpa jeda, lalu mengangkat tubuh ramping Binar dan membawanya ke dalam kamar. Bibirnya tak berhenti mencumbu. Tangannya tak berhenti menjalar di seluruh permukaan tubuh sang kekasih.
Sampai keduanya benar-benar polos, lalu mengulang kembali percintaan tadi siang. Binar sendiri bersikap pasrah dan membiarkan Arsenio melakukan apapun yang dia kehendaki atas tubuhnya. Pria tampan bermata coklat terang itu sudah memiliki Binar seutuhnya. Jiwa dan raga.
Entah sudah berapa lama waktu terlewati. Yang jelas kini Binar merasa begitu lelah. Dia terlelap begitu saja, berbantalkan lengan kekar Arsenio. Sementara Arsenio sendiri tampak sangat puas, lalu tertidur sambil memeluk gadis yang dia cintai.
Lepas dari semua peliknya permasalahan yang dia hadapi, Arsenio merasakan kedamaian saat berbaring di samping Binar. Hingga pagi menjelang, Binar terbangun lebih dulu. Dilihatnya jam digital di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. Gadis itu buru-buru turun dari ranjang dan mencari pakaiannya.
Akan tetapi, entah di mana baju yang dia pakai semalam. Malas mencari, Binar akhirnya mengenakan kemeja Arsenio yang tergeletak di dekat kakinya.
Ukuran kemeja itu terlalu besar saat dirinya kenakan. Namun, dia tak peduli. Asalkan ada sehelai kain yang menutupi tubuh polosnya yang kini sudah dipenuhi bercak merah keunguan.
Pelan-pelan gadis itu turun dari ranjang. Diliriknya Arsenio yang masih pulas tertidur. Binar pun tersenyum lembut. "Rain," desahnya. Kembali dia menaiki ranjang dan mengulurkan tangan pada wajah tampan Arsenio. Binar mengusap pipi kekasihnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Sungguh, takdir benar-benar tak dapat diduga. Pertemuan tak sengaja dengan sesosok pria penuh luka pada malam itu, telah menuntun Binar hingga sampai di tempatnya berada sekarang. Dia pun tak menyangka bahwa seorang Binar telah melangkah sejauh ini bersama Arsenio. Gadis itu lalu mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup kening si pria sebelum beranjak turun dari ranjang.
Binar menemukan beberapa kotak makanan cepat saji. Dia sempat membaca aturan penyajian yang terdapat di bungkus makanan bagian belakang. Gadis itu mengernyit tatkala membaca bahwa makanan yang dia pegang itu cukup dihangatkan dalam microwave dan bisa langsung disantap. Binar tak tahu cara mengoperasikan microwave karena tak pernah mempunyai benda itu di rumahnya. Sementara di lemari pendingin hanya ada jenis makanan tersebut dan buah-buahan.
"Bagaimana ini?" Gadis itu mengeluh pelan. Buah-buahan jelas tak cukup untuk mengenyangkan perutnya yang terbiasa makan nasi untuk sarapan.
"Aku bisa memesankan makan untuk kita," ujar Arsenio tiba-tiba. Pria rupawan itu ternyata telah berdiri di belakang Binar sambil bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana bahan yang dia pakai ke kantor kemarin.
"Kukira kamu pergi lagi," desah Arsenio seraya merengkuh pinggang ramping Binar, "tak tahunya malah berkeliaran di dapur sambil memakai kemejaku," lanjutnya sambil terkekeh pelan. Arsenio juga menjalarkan ciumannya di leher jenjang gadis itu. Sedangkan tangannya sudah bergerak menelusup ke balik kemeja.
"Rain, sudah. Aku lapar," tolak Binar sembari membalikkan badan menjadi menghadap kepada Arsenio.
"Kita memesan makanan dari luar saja, supaya kamu tidak lelah." Suara Arsenio terdengar berbisik, membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Binar meremang.
"Terserah kamu." Binar menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya.
"Baiklah." Arsenio tertawa, kemudian meraih ponsel di saku celana. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, lalu meletakkan kembali di atas meja dapur.
__ADS_1
Binar sempat melirik nama Fabien dalam daftar panggilan tak terjawab yang tak dihiraukan oleh Arsenio. "Kamu tidak ingin menelepon dia?" tanyanya.
"Biarlah. Dia pasti cuma ingin menginterogasiku perihal Wini," jawab Arsenio sembari mengeratkan pelukannya pada Binar.
"Kamu tidak takut?" tanya Binar pelan sambil menyandarkan kepala di dada Arsenio. Rasanya begitu aman dan nyaman. Apalagi aroma tubuh Arsenio menguar dan menggoda indra penciumannya.
"Apa yang harus kutakutkan selama ada Binar di sisiku," jawab pria itu.
"Kamu akan dimusuhi oleh semua orang," sahut Binar.
"Asal bukan kamu yang memusuhiku," sahut Arsenio lagi.
"Lalu, mama papamu? Mereka juga pasti akan marah dan bukan tidak mungkin balik memusuhimu." Binar terdengar khawatir.
Arsenio pun terdiam. Pasti akan sangat menyedihkan, jika hubungan dengan orang tua yang begitu dia sayang dan hormati harus retak. Namun, pada akhirnya dia kembali tersenyum. "Ada kamu, Binar. Kamu yang akan menemaniku untuk memperbaiki ikatan bersama mama dan papa. Kamu mau, 'kan?" tawarnya.
"Tentu saja." Binar mendongak dan tertawa lebar. Tawa yang terlihat begitu menawan di mata Arsenio. Tak bisa rasanya jika dia tidak menghujani wajah cantik Binar dengan ciuman.
Hingga adegan manis itu harus terhenti ketika terdengar suara di interkom. Seorang sekuriti memanggil namanya demikian nyaring. Arsenio pun bergegas mendekat ke arah interkom yang terpasang di sisi lift pribadi. "Pesanan anda sudah datang, pak," lapor sekuriti itu.
"Oke. Aku akan segera turun," jawab Arsenio.
"Bajumu?" seru Binar. Dia khawatir jika Arsenio akan turun ke lobi dengan bertelanjang dada.
"Lepas dulu kemejaku," Arsenio menatap Binar sambil tersenyum menggoda. Nakal, tangannya menarik kemeja yang dipakai Binar dan membuka kancingnya satu per satu.
"Hei, jangan. Aku tidak memakai apa-apa. Bajuku tidak ketemu di manapun. Sementara koper dan barang-barangku masih tertinggal di apartemen Prajna," tolak Binar seraya menepis tangan Arsenio.
"Itu risikomu karena telah mengenakan kemejaku tanpa izin." Arsenio berbisik lirih sambil mengecup bibir Binar. Kecupan yang berubah menjadi ciuman panas, sampai-sampai Binar tak sadar jika seluruh kancing kemeja yang dia kenakan telah terbuka.
"Rain!" seru Binar. Dia mundur beberapa langkah sambil mengeratkan kemeja, lalu berlari masuk ke dalam kamar. Arsenio terbahak melihatnya. Senang sekali rasanya dia bisa berhasil menggoda Binar.
Tak ingin membuat sekuriti menunggu terlalu lama, Arsenio memutuskan untuk mengambil satu T-shirtnya dari lemari dan bergegas turun ke lobi. Di sana seorang sekuriti yang sudah dia kenal, telah berdiri menunggunya sembari membawa dua bungkus plastik berisi makanan pesanan.
"Terima kasih," ucap Arsenio. Dia hendak berbalik masuk ke dalam lift pribadi, ketika terdengar suara wanita memanggilnya.
__ADS_1
"Arsen! Kita harus bicara!" seru seseorang yang tak lain adalah Ghea.