Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Flower Bloom in Berlin


__ADS_3

“Zus,” sambut Fabien seraya merentangkan tangan. Dia juga tersenyum lebar, karena merasa bahagia atas kedatangan sang kakak. Dipeluknya erat-erat tubuh atletis Arsenio, sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya. “Selamat datang,” ucap pemuda itu. Dia melirik ke arah Binar untuk sesaat, kemudian melepaskan pelukan.


“Apa kabar, Binar?” Fabien mengulurkan tangannya pada istri sang kakak.


Sedangkan Binar menyambut dengan ragu.


“Baik,” balas wanita muda itu dengan bahasa tubuh yang kaku. Terakhir kali pertemuannya dengan Fabien tidaklah terlalu baik. Dia bahkan masih mengingat dengan jelas, tuduhan sang adik ipar yang dialamatkan kepada dirinya dulu. ‘Penipu.’ Kata itu sesekali terngiang di telinga. Akan tetapi, sebisa mungkin Binar berusaha melupakannya.


“Ayo, masuk. Kalian pasti sangat lelah,” ajak Fabien ramah. Dia bahkan membantu membawakan satu dari dua tas ransel besar milik Arsenio. Diam-diam, Fabien memperhatikan sang kakak yang tak memperbolehkan istrinya membawa barang berat satu pun, kecuali tas selempang yang melintang di dada.


Binar bukannya tak mengetahui bahwa adik iparnya itu terus memperhatikan sejak tadi. Namun, dia bersikap seolah tak peduli. Apalagi saat mereka memasuki lift, Fabien semakin intens mengamati istri kakaknya tersebut. Pemuda itu bahkan mengambil posisi tepat di sebelah wanita muda tadi.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Fabien lagi. Dia kembali menanyakan hal yang sama kepada Binar.


“Seperti yang kamu lihat. Aku sangat bahagia,” jawab Binar berusaha untuk terlihat ramah.


“Syukurlah jika kamu bahagia, meskipun kenyataannya kakakku sudah tak memiliki apa-apa?” celetuk Fabien, membuat Arsenio segera menoleh.


"Den Mund halten! (Tutup mulutmu!)" sergah Arsenio. Pria bermata cokelat terang itu memukul lengan sang adik sebagai tanda protes. Walaupun mereka terhalang tubuh Binar yang berada di tengah, tapi tak membuat Arsenio merasa kesulitan untuk melakukan hal tersebut.


"Hey! Kamu akan menginap di tempatku, Arsen. Tidak tahu diri!" balas Fabien tak acuh.


"Aku kakakmu. Sudah sepatutnya kamu bersikap baik dan hormat padaku," balas Arsenio tak mau kalah.


"Kamu kakak yang buruk," cibir Fabien.


"Kamu adik yang jorok," balas Arsenio.

__ADS_1


Sementara Binar hanya berdiri terpaku di tengah-tengah. Dia layaknya seperti sebuah net, di antara dua pemain yang saling melempar smash-smash keras. Satu hal yang Binar inginkan saat itu ialah agar pintu lift segera terbuka. Beruntungnya, karena harapan Binar langsung terwujud. Saat lift itu terbuka, tanpa banyak bicara dia segera keluar sambil mencibir. "Kalian pria-pria bermulut wanita. Berisik."


Seketika, Arsenio serta Fabien yang tengah berdebat pun menjadi sama-sama terdiam dan saling pandang. Kakak beradik itu mengempaskan napas pendek, sebelum akhirnya keluar dari dalam lift. Fabien berjalan dengan cepat, bahkan sampai mendahului Binar. Sedangkan pasangan suami istri tadi mengikuti, hingga mereka tiba di depan ruang apartemen milik musisi muda tersebut.


Begitu masuk ke sana, Binar seketika dibuat terkejut dengan kondisi ruangan yang begitu berantakan. Benar apa yang dulu Anggraini katakan tentang seberapa joroknya Fabien. Wanita muda itu tak percaya, bahwa orang setampan adik ipanya tersebut bisa hidup nyaman dalam suasana seperti itu.


"Tidak perlu berkomentar. Satu yang pasti, aku sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk hal-hal seperti ini," ujarnya saat melhat ekspresi Binar. Fabien seakan sudah dapat menebak hanya dengan melihat raut wajah kakak iparnya.


"Hidupnya lebih berantakan dariku, Sayang," bisik Arsenio dengan suara yang cukup keras.


"Aku bisa mendengarmu, Arsen!" protes Fabien. Dia sudah membuka pintu salah satu ruangan di sana, kemudian mempersilakan kakak serta kakak iparnya untuk melihat kamar yang akan mereka tempati. Baru saja Binar dan Arsenio meletakkan tas yang mereka bawa, Fabien terdengar bicara dengan seseorang di telepon. Akan tetapi, Arsenio tak berniat untuk menanggapi. Pria itu sibuk meletakkan barang-barang bawaannya.


"Ya, ma. Arsen dan Binar baru tiba di sini," sepenggal kata-kata yang terdengar jelas di telinga Arsenio serta Binar, berhubung pintu kamar mereka belum ditutup. Fabien pun terdengar kembali berbicara kepada seseorang yang tak lain adalah Anggraini.


"Apa tante Anggraini tahu bahwa kita kemari?" tanya Binar pelan.


Sedangkan Binar yang tengah merapikan pakaian mereka dari dalam tas, terdiam sejenak. Dia dapat melihat dan juga merasakan dengan nyata, meskipun Arsenio selalu menutupi semua gejolak dalam hatinya. Sebagai seorang anak, seorang kakak yang sangat mencintai keluarga, dia tahu seperti apa rasanya harus berpisah dan berjauhan dengan orang-orang terkasih.


"Di mana Arsen?" tanya Fabien yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu. Binar sempat terkejut, karena saat itu dia sedang terhanyut dalam lamunannya. Namun, dengan segera wanita muda tersebut menunjuk ke arah kamar mandi. "Arsen sedang di kamar mandi, ma," ucap Fabien lagi seraya kembali menghilang dari pandangan Binar yang hanya dapat mengempaskan napas pelan.


Siang berganti sore yang indah di kota Berlin. Saat itu sudah memasuki musim semi. Cuaca pun terasa lebih hangat di sana. Sedangkan Binar masih terlihat keheranan, saat memandang keluar jendela apartemen tempat dia berada saat ini.


"Kamu sedang apa?" Pertanyaan Arsenio seketika membuyarkan lamunan Binar.


"Aku tidak tahu jika di Jerman ada bunga sakura," jawab wanita muda itu terdengar ragu.


"Ya, memang ada. Namun, itu hanya di kota Berlin," sahut Arsenio yang ikut berdiri di sebelah sang istri.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Binar tak mengerti. Dia menoleh kepada pria tampan yang saat itu tengah memandang ke luar jendela.


"Setelah tembok Berlin runtuh, penanaman pohon bunga sakura dilakukan sebagai hadiah atas bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur. Biasanya pada bulan-bulan setelah memasuki musim semi seperti ini, ada banyak sekali festival yang diadakan. Kamu pasti akan menyukainya. Nanti kita bisa pergi bersama-sama." Arsenio balas menatap Binar, kemudian tersenyum.


“Rain.” Binar mendekat dan merebahkan kepala di dada bidang Arsenio. Dia juga memeluk suaminya erat-erat. “Aku takut,” ucapnya lirih.


“Apa?” Arsenio mengernyit seraya membelai lembut rambut istrinya.


“Aku takut kamu bosan dengan keadaan yang seperti ini,” jawab Binar ragu. “Kamu sudah terbiasa hidup mewah,” imbuhnya.


“Kata siapa aku terbiasa hidup mewah?” elak Arsenio. “Dulu semasa kuliah di sini, aku hidup seperti mahasiswa pada umumnya. Aku bekerja paruh waktu, aku juga menjadi freelance, menjual rancangan gedung yang kubuat pada perusahaan-perusahaan properti kecil. Papa tak pernah memanjakanku secara berlebihan. Dia bahkan kerap tidak memberikanku uang saku bulanan dengan sengaja, agar aku bisa berusaha mencari uang sendiri. Sementara Fabien, dia sering mengamen di subway untuk menambah uang jajan,” jelasnya panjang lebar.


“Benarkah itu?” Binar mendongak sambil menatap tak percaya pada Arsenio.


“Lagi pula, sesulit apapun hidup kita nanti, tak akan menjadi masalah bagiku selama aku bisa menjalaninya denganmu.” Arsenio menunduk dan menatap wajah cantik Binar lekat-lekat. Sedikit lagi, bibirnya akan mendarat di bibir indah Binar, yang sekarang menjadi spot favorit seorang Arsenio. Akan tetapi, suara Fabien telah membuat pria dua puluh tujuh tahun itu harus mengurungkan niatnya.


“Zus, mama ingin bicara dengan kalian. Apa kau bersedia?” tanya Fabien sambil menyodorkan ponsel miliknya.


.


.


.


So sweet, gak? So sweet, kan? Ayo, komen dan like nya yg banyak 😆


Sekalian mampir dulu di karya keren yg satu ini, yaa ❤️

__ADS_1



__ADS_2