
Binar tertegun untuk beberapa saat. Dia lalu mengambil kertas yang dilipat dengan rapi itu. Entah berapa lama kertas tersebut ada di dalam buku yang sedang dia baca.
Hati-hati, gadis cantik yang kini telah memiliki status baru itu membuka lembaran kertas tadi. Tampaklah tulisan tangan mendiang sang ayah di sana. "Bapak ...." desah Binar dengan suara yang teramat lirih. Binar pun mulai membaca dengan raut serius
Binar putriku,
Saat kamu membaca surat ini, entah bapak masih ada di dunia atau tidak. Namun, itu sama sekali tak penting, Nak.
Binar, apa kamu tahu kenapa bapak memilih untuk menikah lagi? Jangan berpikir bahwa bapak melupakan mendiang ibumu. Tidak sama sekali. Bapak hanya ingin agar saat ini sudah tak bisa menjagamu lagi, maka akan ada seseorang yang bisa kamu ajak bicara serta berbagi. Setidaknya ada tempat yang akan membuatmu merasa rindu untuk kembali, meskipun bukan sebuah istana megah dan mewah.
Bapak memutuskan untuk menikahi Widya. Dia wanita baik dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam dirinya. Dia juga terlihat sangat menyayangimu, ketika kalian baru pertama bertemu. Karena itulah bapak tak merasa ragu sama sekali.
Binar, putriku. Hiduplah dengan tetap memegang tinggi prinsip dan keyakinanmu. Jangan biarkan angin sekencang apapun, sampai membuatmu terbang terlalu jauh dari tujuan. Mungkin bapak hanya dapat melihat dari kejauhan, saat di mana nanti kamu menggenggam dunia. Itu bukan hal yang mudah, tapi yakinlah akan selalu ada jalan untuk seseorang yang mau berusaha.
Hiduplah dengan rukun, Nak. Bapak menitipkanmu kepada Widya. Jaga pula kedua adikmu yang masih sangat kecil. Maaf jika bapak belum bisa membahagiakan kalian bertiga. Bapak hanya mempunyai doa dan harapan yang besar. Suatu saat nanti, kamu, Wisnu, dan juga Praya pasti akan tersenyum penuh kebanggaan saat dapat berdiri di kaki sendiri.
Salam sayang,
Bapak.
Deraian air mata sudah membasahi pipi Binar. Istri dari Arsenio tersebut kembali melipat kertas tadi. Binar lalu meletakkan buku itu di sebelahnya. Untuk beberapa saat, dia hanya ingin menumpahkan air mata.
Terkadang Binar bertanya kepada Tuhan. Kenapa hidup seakan tak adil kepadanya? Namun, tak ada jawaban yang dia dapatkan selain caci-maki serta sikap ketus Widya. Lalu, mengapa di dalam surat itu sang ayah justru mengatakan hal yang sebaliknya? Apakah Widya bersikap manis hanya pada awal saja?
"Bapak telah keliru. Aku justru sangat menderita setelah bapak pergi meninggalkan kami. Bapak salah karena telah menitipkanku kepada Widya. Dia tidak pernah menyayangi apalagi menganggapku sebagai anaknya." Binar berbicara sendiri di sela isak tangisnya.
__ADS_1
Akan tetapi, tak ada gunanya dia mengeluhkan hal itu lagi. Semua telah berakhir. Penderitaannya bersama sang ibu tiri sudah dia tinggalkan jauh. Kini, Binar hanya akan menyongsong masa depan yang jauh lebih baik dengan Arsenio, meskipun itu pasti akan terasa sulit.
Beberapa saat kemudian, Binar tersadar dari renungannya, ketika ada seseorang yang mengetuk pintu. Ragu dan was-was, wanita muda itu menatap ke arah pintu. Bayangan kejadian mengerikan beberapa waktu silam kembali hadir. Dia juga teringat akan pesan Arsenio yang melarangnya untuk membuka pintu sebelum dia kembali.
"Wisnu! Praya!" suara seorang wanita yang tiada lain adalah Widya, terdengar begitu nyaring dari luar. "Buka pintunya!"
Keraguan sirna seketika dalam hati Binar. Dia menyeka air mata, kemudian beranjak dari duduknya. Binar lalu memutar kunci dan membuka pintu. Tampaklah wajah lelah Widya yang terkejut. Tanpa banyak bicara, wanita paruh baya tersebut menerobos masuk begitu saja. Dia seakan tak menganggap Binar di rumahnya.
Widya kemudian masuk ke kamar Wisnu dan Praya. Namun, dia tak menemukan kedua anak itu di dalam sana. Akhirnya, wanita paruh baya tersebut keluar dan bergegas menuju kamarnya. Namun, ibu tiri Binar tadi tiba-tiba tertegun saat melihat Binar menyodorkan segelas air putih untuknya.
"Kami akan kembali ke Jakarta besok. Setelah itu, aku dan Rain akan pergi ke Jerman. Entah kapan kita bisa bertemu lagi," ucap Binar tulus. "Minumlah. Ibu pasti lelah. Tenang saja, aku tidak memasukkan racun ke dalam air putih ini."
Widya hanya mematung untuk beberapa saat. Dia menatap Binar dengan lekat. Sejurus kemudian, Widya menerima gelas tadi dan meneguknya.
"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Binar.
"Tentang Ibu dan juga bapak," jawab Binar. Dia mempersilakan Widya untuk duduk. Tanpa diduga, wanita yang kerap berkata kasar itu bersedia memenuhi permintaan Binar. Wanita muda itu pun ikut duduk di sebelahnya, berhubung di sana hanya ada satu bangku panjang yang terbuat dari rotan.
"Aku baru saja membaca sebuah surat dari mendiang bapak. Entah sudah berapa lama kertas itu tersimpan dalam buku yang padahal ada di dalam kamarku, tapi belum sempat aku buka," terang Binar seraya meraih buku dari atas meja. Dia lalu menyodorkan sepucuk surat dengan tulisan tangan sang ayah.
Widya tampak membaca surat itu. Tampak setitik air mata yang jatuh di sudut bibirnya. "Kenapa kamu menulis ini, Mas?" Widya bergumam pelan sembari menunduk.
"Kenapa semua yang bapak ceritakan tentang Ibu sangat berlainan? Bapak mengatakan bahwa Ibu adalah seseorang yang sangat baik. Akan tetapi, kenyataannya Ibu ...."
"Kenapa kamu kembali, Binar?" Bukannya menanggapi ucapan Binar, Widya justru malah bertanya demikian.
__ADS_1
"Aku kembali untuk Wisnu dan Praya. Aku merindukan dan terus mengingat mereka selama tak ada di sini," jawab Binar lirih.
"Wisnu dan Praya baik-baik saja. Aku ibu mereka. Aku tak mungkin memakan mereka meskipun tak memiliki beras sama sekali," sahut Widya sedikit ketus. Entah apa yang dia sembunyikan dari Binar saat itu, karena wanita paruh baya tersebut seakan tengah melawan sebuah gejolak dalam dadanya.
"Aku tahu itu. Aku yakin bahwa Ibu sebenarnya masih memiliki hati dan ...."
"Apa maksudmu?" Nada bicara Widya tiba-tiba meninggi. Wanita itu berdiri dari duduknya sambil terus melayangkan tatapan tajam kepada Binar yang balas memandang dengan sorot aneh.
"Kamu menganggapku tak punya hati? Jika memang begitu adanya, maka sudah dari dulu aku membuangmu ke jalanan! Namun, lihatlah, aku membesarkan dan merawat hingga kamu tumbuh setinggi ini!" protes Widya dengan tegas.
"Ya, tapi aku dibesarkan dalam sebuah tekanan yang sangat besar. Ibu seakan ingin mengulitiku setiap hari. Padahal aku tak pernah tahu apa yang menjadi penyebabnya." Kali ini, Binar tak tinggal diam. Dia tak mau bersikap pasrah lagi seperti dulu.
"Kamu merasa tertekan, Binar?" tanya Widya dengan nada bicaranya yang terdengar aneh. "Kamu pikir selama ini aku merasa bebas dan bahagia? Tidak! Aku jauh lebih tertekan darimu!" tegas Widya dengan emosi yang siap meledak. Namun, wanita paruh baya itu teramat lelah setelah melakukan pekerjaannya. Dia harus menghemat tenaga untuk tugas lain yang sudah menanti.
Widya memilih untuk kembali duduk. Dia juga mulai terisak. "Berapa usiamu saat Cokro menderita sakit keras, hingga tak bisa melakukan apapun selain berbaring?" tanya Widya yang seakan bukan ditujukan kepada Binar, karena wanita itu tak memandang ke arah putri sambungnya sama sekali.
Binar tidak menjawab. Dia tak dapat menebak ke mana arah pembicaraan Widya, sehingga Binar hanya akan memilih diam dan menyimak.
"Cokro sakit parah untuk waktu yang lama. Kamu menyaksikannya sendiri, betapa aku telah bekerja banting tulang untuk menghidupi kalian semua. Aku mengabaikan segala hal, bahkan rasa lelah serta kesehatanku. Padahal, entah apa yang akan terjadi seandainya aku ikut sakit lalu mati." Widya mengempaskan napas kasar. Dia meraup rambut dan wajahnya.
"Kenapa Ibu berkata demikian?" tanya Binar ragu.
"Kamu bertanya 'kenapa'?" Sorot mata yang tajam kembali Widya layangkan kepada putri sambungnya yang merasa penasaran. "Kamu masih saja bertanya 'kenapa'. Saat itu, aku begitu kalut. Semua usaha sudah kulakukan untuk bisa mendapatkan uang agar dapat membawa ayahmu berobat. Namun, lihatlah apa yang terjadi. Semua tak berjalan seperti yang kuharapkan bahkan setelah aku menggadaikan rumah!" Suara Widya kembali meninggi. Namun, tak berselang lama dia tampak mengatur napasnya.
"Jangan terkejut, Binar," ucap Widya beberapa saat kemudian. "Kamu dengan bangga mengatakan bahwa Cokro pergi tanpa meninggalkan utang yang akan menjadi bebanku. Salah! Itu sungguh keliru! Kamu tidak tahu apa-apa."
__ADS_1
"Aku tidak tahu karena Ibu tak pernah bercerita," protes Binar.
"Aku tidak bercerita, karena ayahmu selalu mengatakan agar tidak memberikan beban sedikit pun pada ketiga anaknya. Aku menanggung semua itu sendirian!"