
“Lepaskan tanganku, Fabien!” sentak Binar. Semakin susah rasanya dia menahan emosi. “Aku memang bukan berasal dari kaum berada dan kaya raya seperti kalian. Namun, setidaknya aku masih memiliki harga diri dan kejujuran. Mendiang ayahku pernah mengatakan, lebih baik mati kelaparan daripada perut kenyang dari hasil mencuri. Itu sudah cukup bagiku sebagai peringatan untuk tidak bersikap culas ataupun penuh kepura-puraan,” tegas Binar. Terdengar isakan pelan di sela-sela ucapannya tadi
“Aku mengenal banyak orang, Binar. Dari segala kalangan dan latar belakang. Kebanyakan dari mereka hanya manis di depan, tapi menusuk dari belakang,” balas Fabien masih dengan nada bicaranya yang sinis.
“Aku tidak tahu orang-orang seperti apa yang kamu kenal. Entah teman macam apa yang kamu punya, Fabien. Sepertinya kamu salah memilih pergaulan. Sekarang kuminta sekali lagi, lepaskan tanganku!” ulang Binar dengan nada bicara yang jauh lebih tegas dari sebelumnya.
“Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?” Fabien semakin merasa tertantang dengan gadis yang berdiri di depannya itu. Dia sengaja mencengkeram semakin erat. “Sebentar lagi, Chand akan datang. Aku sengaja mengundangnya kemari untuk menyaksikanmu dipermalukan olehku.”
Akan tetapi, Binar sendiri tak mau menyerah. Dia berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan dari Fabien, sampai terdengar suara berat pria memanggil namanya. “Ada apa ini? Sedang apa kalian?” tanya seseorang yang tak lain adalah Chand.
Binar segera menoleh sambil berurai air mata. “Kak Chand,” panggilnya lirih.
“Mal? Kamu kenapa?” tampak raut khawatir dari wajah tampan Chand.
“Kau apakan Nirmala, Fabien!” Duda menawan itu menarik satu jari Fabien ke belakang hingga meringis kesakitan. Jari adalah aset yang paling berharga bagi sorang gitaris seperti dirinya. Mau tak mau, Fabien pun melepaskan cengkeramannya dari tangan Binar.
“Seharusnya kau berterima kasih padaku, Chand! Aku menyelamatkanmu dari penipu ini,” sungut Fabien yang seketika membuat Chand terbelalak.
“Penipu siapa yang kamu maksud? Nirmala kah?” Chand terlihat tak terima atas tuduhan adik dari Arsenio tersebut.
“Siapa lagi jika bukan dia? Kalian berdua telah tertipu oleh wajah polosnya.” Fabien tertawa mengejek. Tatapannya sinis terarah kepada Binar. Gadis itu sendiri memilih untuk diam dan tak menanggapi tuduhan tak beralasan Fabien. Satu-satunya yang dia inginkan hanyalah segera pergi dari sana.
“Jaga mulutmu, Fabien!” bentak Chand. “Atas dasar apa kamu menuduh Nirmala sebagai penipu!” telunjuk Chand mengarah tepat ke wajah pria dua puluh lima tahun itu.
__ADS_1
“Ayolah. Terlalu banyak kebetulan di sini, Chand. Sadarlah. Binar adalah gadis yang dicari oleh Arsenio sementara dia juga entah bagaimana berada di dekatmu. Dia bahkan mengubah namanya menjadi Nirmala,” ujar Fabien tak mau kalah.
Hal itu membuat Chand terkejut setengah mati. “Ka-kau tahu bahwa dia Binar?” Spontan, pria rupawan itu menarik kerah jaket jeans Fabien dan mencengkeramnya kuat.
“Surprise.” Fabien tersenyum lebar.
Chand menatap tajam kepada adik sahabatnya itu. “Siapa lagi yang mengetahui hal ini selain dirimu? Kuharap om dan tante tidak termasuk ke dalamnya." Duda tiga puluh tahun tampak gusar. Namun, sebisa mungkin dia tetap terlihat tenang.
“Untuk saat ini hanya aku yang tahu. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan jika aku juga mengatakan pada mama dan papa kalau dia mulai berani berulah,” jawab Fabien santai sambil mendelik kepada Binar.
“Berulah apa maksudmu!” geram Chand menahan amarah. “Dengar ya, sudah cukup Nirmala menderita. Tidak perlu lagi kau tambah lagi. Dia bisa sampai ke Jakarta karena aku yang memaksanya," tegas pria itu lagi. "Awalnya aku bertemu Nirmala di Jogja. Saat itu aku membutuhkan seorang model sehingga diriku pun mengajaknya kemari. Sejak awal, dia tidak mau menginjakkan kakinya di sini karena tak ingin bertemu dengan Arsenio. Akulah yang meyakinkannya!” kalimat terakhir Chand terdengar cukup nyaring, sampai beberapa orang yang berada di dekatnya menoleh dan menatap pria blasteran India itu dengan heran.
“Kalau tahu akan begini jadinya, sejak awal aku tidak akan mengizinkan saat tante Anggraini mengajaknya tinggal di kediaman Rainier,” sesal Chand. “Kau dan kakakmu … kalian berdua sama-sama beracun,” desisnya seraya melepaskan cengkeraman dari kerah jaket Fabien.
Binar sendiri lebih banyak terdiam dan sesekali terisak. Dia pasrah mengikuti langkah Chand yang membawanya ke tempat parkir. “Bagaimana bisa kamu berada di tempat ini bersama dia, Mal?” tanya Chand kemudian.
“Fabien tiba-tiba mengajakku kemari setelah mengantarkan om dan tante ke bandara, Kak,” jawab Binar sambil terus menunduk.
Chand menghentikan langkahnya dan menoleh pada Binar. “Om dan tante pulang ke Belanda?” tanya pria itu lagi.
Binar mengangguk, lalu mengusap air mata.
“Berarti di sana hanya ada kamu bersama Fabien dan Arsenio?” Chand mendekat dan memegang kedua bahu Binar.
__ADS_1
“I-iya, Kak,” jawab Binar. Suara gadis itu terdengar lirih, “tapi, aku akan mengundurkan diri secepatnya. Aku juga tidak mau terlalu lama berada di rumah itu,” ucap Binar kemudian. Nada bicara gadis itu terdengar begitu pilu.
“Akan kubantu kamu berkemas,” putus Chand tanpa meminta persetujuan Binar. Dia menuntun gadis cantik itu ke arah mobil yang dia parkir agak jauh dari tempat dirinya dari Binar berada. Mereka berdua berjalan melintasi deretan kendaraan yang berjajar rapi. Akan tetapi, langkah Binar segera terhenti saat dilihatnya sesosok pria yang amat dia kenal di dalam salah satu kendaraan yang terparkir di sana. Mata Binar terbelalak dengan napas yang tersengal kala menangkap sosok tampan bermata coklat terang yang tengah berduaan dengan seseorang.
“Ghea?” Chand ternyata juga memandang ke arah yang sama.
Merasa diperhatikan, Arsenio yang berinsting tajam segera menoleh dan mendapati Binar menatapnya dengan tatapan terluka. “Binar!” pria tampan itu segera keluar dari kendaraan dan berusaha mengejar gadis yang sudah lebih dulu berlari menghindar.
“Binar, tunggu! Kamu salah paham!” seru Arsenio setelah berhasil menyusul Binar dan meraih tangan kanannya. Dia hendak memberikan penjelasan kepada gadis itu, tapi pukulan Chand sudah lebih dulu mendarat di wajahnya.
Arsenio terhuyung dan menabrak tubuh Ghea yang ternyata sudah berada di belakangnya. “Chand! Keterlaluan kamu!” pekik janda cantik itu. Akan tetapi, Chand tak peduli. Dia fokus menjauhkan Binar dari kedua orang itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Arsenio pun tak putus asa. Dia menghalangi mobil yang tengah melaju itu. Arsenio merentangkan tangan dan berdiri di depan mobil Chand, sehingga mau tak mau dia menginjak remnya. Setelah Arsenio bergerak ke samping dan berniat mendekat ke jendela mobil di sisi Chand, duda rupawan itu cepat-cepat menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya kencang meninggalkan Arsenio.
Setelah berhasil menjauh dari area parkir, Chand memelankan laju kendaraan. Perhatiannya kini tertuju pada Binar yang menutupi wajah menggunakan telapak tangan. “Mal? Kamu tidak apa-apa?” tanya Chand khawatir.
“Bawa saja aku pergi jauh dari sini, Kak,” pinta Binar memelas.
“Tentu, Mal. Tentu,” sahut Chand. “Kita ambil dulu barang-barangmu. Setelah itu, kita langsung ke apartemen Prajna."
Binar tak menjawab maupun mengangguk. Dia hanya terdiam sampai mobil Chand terparkir di halaman depan rumah keluarga Rainier. Baru saja beberapa langkah keluar dari mobil Chand, sebuah cahaya terang yang berasal dari lampu depan mobil Arsenio menyorot tubuh ramping Binar. Mata gadis itu menyipit dengan satu tangan terangkat untuk menghalau cahaya menyilaukan agar tak menusuk penglihatannya.
“Binar, tunggu! Aku bisa menjelaskan semuanya,” seru Arsenio sembari menghampiri gadis cantik itu.
__ADS_1
Namun, tentu saja Chand tak akan membiarkan pria tersebut untuk mendekat. Chand lebih dulu mencekal lengan Arsenio dan menahannya. "Jika kamu memang benar-benar mencintainya, maka lepaskan dia. Biarkan Binar bahagia dengan hidupnya sendiri,” tegas Chand.