Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Dua Wanita


__ADS_3

“Kita pergi sekarang, ‘kan?” tanya Binar meyakinkan ajakan Arsenio tadi.


“Oke, tapi sebelum itu ….” Arsenio berdiri dengan tatapan yang tak lepas dari wajah cantik Binar. Tangan kanannya bergerak merengkuh tengkuk sang istri, lalu mencium bibir beraroma cherry itu dengan lembut dan penuh perasaan. Setelah puas, Arsenio melepaskannya sambil terkekeh pelan. Dia mengusap bibir ranum yang basah tersebut dengan ibu jarinya.


“Hilang deh lipstikku,” celetuk Binar dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.


“Ayo. Akan sangat berbahaya jika kita semakin lama berada di sini.” Arsenio segera meraih tangan Binar dan menariknya lembut. Sambil terus menggenggam jemari lentik itu, dia mengajak sang istri menuruni tangga menuju halaman depan. Mereka melewati Ajisaka yang duduk-duduk santai di teras sambil memangku laptop. “Aku kencan dulu ya, Ji. Tolong jaga rumahku,” ujar Arsenio tanpa menghentikan langkahnya.


Ajisaka yang awalnya serius menatap layar, langsung menoleh pada sang majikan. “Hati-hati di jalan, Bos,” ucapnya seraya mengangkat satu tangan.


Arsenio sempat mengangguk sebelum membukakan pintu mobil untuk Binar. Dia menunggu sampai istrinya duduk dengan nyaman. "Ji, jangan lupa hubungi sepupumu. Aku harap kalian segera berbaikan," ujar Arsenio sebelum masuk ke dalam kendaraan, kemudian melajukannya dengan pelan.


Akan tetapi, baru saja mobil milik Lievin itu keluar meninggalkan area perumahan, ketika tiba-tiba sebuah mobil sedan kecil bercat hitam melintang dan menghadang kendaraan Arsenio begitu saja. Spontan, dia menginjak rem hingga tubuhnya dan Binar terdorong ke depan.


“Brengsek!” gerutu Arsenio. “Sayang, kamu tidak apa-apa, ‘kan?” Dia melepas sabuk pengaman dan langsung memeriksa keadaan Binar.


“Sepertinya perutku kram, Rain.” Binar meringis kecil, berusaha menahan rasa nyeri yang mulai muncul.


“Astaga. Kita ke dokter dulu saja, ya,” ajak Arsenio. Wajahnya benar-benar terlihat resah saat itu.


“Tidak apa-apa, Rain. Mungkin ini hanya kram biasa. Aku ….” Binar tak melanjutkan kata-katanya, ketika melihat sesosok pria berjalan memutari kendaraan, lalu berdiri di samping pintu pengemudi. Sosok itu membungkuk, menyejajarkan wajahnya pada kaca jendela Arsenio.


Pria bermata coklat terang itu terbelalak menyadari kehadiran seseorang yang tak lain adalah Haris, asisten pribadi Biantara. Arsenio segera membuka pintu mobil dan sengaja menabrakkannya pada tubuh Haris, hingga pria itu terhuyung mundur beberapa langkah.


“Kamu gila, ya? Apa maksudmu menghadang kendaraanku, hah!” Arsenio mencengkeram krah kemeja pria berkacamata itu dan mendorongnya kuat-kuat. Beruntung jalan khusus yang menghubungkan area perumahan elite dengan jalan raya itu dalam keadaan sepi.


“Anda sudah membuat kesalahan besar, Pak Arsenio!” Bukannya takut, Haris malah bergerak maju dan seakan menantang Arsenio yang masih diliputi emosi. “Anda sudah melanggar wilayah pribadi saya!” ucapnya lagi dengan nada menggertak.


“Apa maksudmu! Meracau tidak jelas!” geram Arsenio seraya mengepalkan tangan. Dia sudah siap menyarangkan tinjunya andai saja pria di depannya ini maju selangkah lagi.


“Anda sudah meretas komputer dan mencuri data-data penting saya,” tuding Haris dengan telunjuk yang terarah tepat ke wajah Arsenio.


“Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, untuk melindungi perusahaan papaku dari orang-orang jahat sepertimu!” balas Arsenio tak mau kalah. “Aku bisa memenjarakanmu saat ini juga, semudah menjentikkan jari. Akan tetapi, sayangnya aku sudah membuat perjanjian dengan om Bian.”

__ADS_1


“Tak kusangka bahwa pak Biantara bisa tunduk dengan begitu mudahnya di hadapan pria brengsek sepertimu.”


Kata-kata Haris terdengar pedas di telinga Arsenio. Namun, dia tak ingin terpancing lagi. Arsenio teringat pada Binar yang pasti sedang ketakutan di dalam mobil. “Om Bian adalah bosmu. Turuti apa yang dia katakan. Berhentilah memata-matai dan mengacaukan perusahaan ayahku!” balas Arsenio penuh penekanan.


“Kamu salah! Kekuatan dan kekuasaanku jauh lebih besar dari sekadar Biantara Sasmita. Kamu telah bermain-main dengan orang yang salah, Arsenio Rainier. Camkan itu!” sentak Haris sebelum berlalu begitu saja dari hadapan Arsenio. Pria itu memasuki mobil yang berada dalam posisi melintang, lalu memutar kemudi dengan kasar dan melaju kencang meninggalkan asap putih.


Bersamaan dengan itu, sebuah kendaraan yang berada di belakang mobil Arsenio membunyikan klakson. Dengan segera Arsenio kembali masuk ke dalam dan menjalankan mobilnya. “Bagaimana nyeri perutmu? Aku akan menghubungi dokter Dipta untuk membuat janji,” ujarnya dengan raut was-was.


“Sudah tidak apa-apa, Rain. Kramnya sudah hilang,” sahut Binar menenangkan suaminya.


“Ya, tapi kita harus tetap memeriksakan keadaanmu,” paksa Arsenio. Pengalaman pahit kehamilan pertama Binar yang berakhir keguguran, membuat pria itu menjadi jauh lebih berhati-hati dan over protektif terhadap sang istri.


“Baiklah.” Binar menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia merasakan jemarinya yang gemetaran saat mengingat kejadian mengejutkan beberapa saat yang lalu. “Memangnya siapa orang itu, Rain?” tanyanya kemudian.


“Aku juga tidak yakin dengan siapa orang itu sebenarnya. Entah dari mana om Bian mengenal pria seperti dia. Nanti aku akan menanyakannya pada Bayu, sekaligus menyuruh Ajisaka untuk menyelidikinya,” jawab Arsenio sambil mendengus kesal.


“Semoga semuanya baik-baik saja, Rain. Sudah berhari-hari aku mengalami mimpi buruk. Entah ini karena pengaruh kehamilan atau bukan,” ungkap Binar resah.


“Aku yakin itu karena pengaruh kehamilanmu, Sayang.” Arsenio terus berusaha menenangkan sang istri. Binar sendiri tak menanggapi lagi kalimat suaminya. Dia terus terdiam sampai mobil yang mereka kendarai tiba di parkiran klinik tempat praktik dokter kandungan langganannya.


Setelah memastikan bahwa Binar duduk dengan nyaman di kursi tunggu, Arsenio langsung mendaftar pada perawat dokter Dipta yang tengah berjaga.


Binar memperhatikan sang suami dari tempatnya duduk dengan tatapan kagum. Arsenio tampak begitu gagah saat dilihat dari belakang. Punggung yang lebar dan tegap, serta gayanya yang selalu terlihat gagah, tak pernah gagal membuat Binar terpesona bahkan setelah sekian lama kebersamaan mereka.


Sayang, Binar harus mengakhiri kegiatan mengagumi suami sendiri ketika dia merasakan hasrat ingin buang air kecil. Wanita muda itu kemudian berdiri dan menghampiri Arsenio. “Aku ke toilet dulu,” pamitnya.


“Apa perlu kuantar? Kamu bisa menunggu sebentar,” tawar Arsenio.


“Tidak usah,” tolak Binar yang tidak akan sanggup menunggu lebih lama lagi. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju bagian belakang bangunan, lalu masuk ke sebuah pintu yang memasang plakat berupa simbol toilet wanita.


Binar memilih salah satu dari lima bilik yang terbuka dan menutupnya dengan terburu-buru. Cukup lama dia berada di dalam sana sampai terdengar seseorang menutup pintu toilet cukup kencang. Binar menggeleng pelan, lalu tak ambil pusing karena sibuk membersihkan diri dan menekan tombol flush.


Dia merasa lega dan tak ingin menghabiskan waktu lebih lama di dalam tempat itu. Saat keluar dari biliknya, dia hanya melihat satu bilik yang tertutup. Itu artinya, hanya ada dia dan seseorang di dalam ruangan toilet wanita tadi.

__ADS_1


Binar pun meraih gagang pintu menuju keluar dan berniat untuk menariknya. Akan tetapi, pintu itu macet dan tak mau membuka. Tak putus asa, Binar mencobanya lagi dan lagi, meskipun berakhir gagal. “Aduh, bagaimana ini?” gumamnya resah.


“Kenapa?” tanya seseorang dari arah belakang. Bulu kuduk Binar sempat meremang saat dia merasa familiar dengan suara merdu itu. Dia berbalik dan tertegun melihat Winona berdiri tak jauh darinya dengan ekspresi sama terkejut.


“Anu, pintunya macet, tidak bisa dibuka,” jawab Binar dengan gugup. Berkali-kali dia menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga.


“Oh, pasti karena aku menutupnya terlalu kencang,” sahut Winona dengan raut datar dan nada bicara yang dingin. Wanita yang selalu terlihat cantik dan anggun itu berusaha membuka pintu toilet. Sama seperti Binar, dia mengeluarkan banyak tenaga untuk menarik gagang pintunya. Namun, selalu berakhir gagal.


Winona mulai panik saat beberapa menit berlalu dan dia belum berhasil membuat pintunya terbuka. “Sepertinya terkunci otomatis. Aduh,” tiba-tiba wajah cantik berkulit putih bersih itu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


“Kakak tidak apa-apa?” Spontan Binar menghampiri dan memegangi lengan Winona.


“Tidak!” Merasakan sentuhan tangan Binar, Winona segera menepisnya dengan menggerakkan tubuh. “Aku sudah biasa kesakitan seperti ini setiap kali haid,” terangnya tanpa diminta.


“Oh. Kalau begitu biar aku saja yang mencoba membuka pintunya.” Kali ini giliran Binar yang maju dan berusaha menarik pegangan pintu. Namun, masih juga tak berhasil. Dia lalu menendang daun pintu sekencang-kencangnya menggunakan kaki kanan.


“Hei, jangan begitu! Kamu ‘kan sedang hamil!” cegah Winona seraya menarik mundur tubuh Binar. “Telepon saja suamimu. Suruh dia untuk mencari bantuan,” sarannya.


“Ah, benar juga.” Binar tersenyum kaku, lalu merogoh ponsel yang dia simpan di dalam tas kesayangannya. Namun, belum sempat dia menghubungi sang suami, Arsenio sudah lebih dulu mengetuk pintu toilet dari luar.


“Binar, apa kamu di dalam? Kenapa lama sekali,” seru Arsenio.


Mendengar suara sang mantan tunangan yang tengah memanggil nama istrinya, tubuh Winona seketika menegang. Dia mundur perlahan, menjauh dari Binar dengan perasaan tak karuan.


“Kami terkunci di dalam sini, Rain. Cepat panggil seseorang,” suruh Binar setengah berteriak.


“Oke, tunggu sebentar,” sahut Arsenio. Tak berselang lama, terdengar langkah kaki dan suara dua orang pria yang tengah berbincang. Binar dapat mendengar dengan jelas bahwa salah satu suara itu adalah milik suaminya.


Beberapa saat kemudian, Binar memperhatikan gagang pintu yang memutar. Pada akhirnya, pintu itu pun terbuka perlahan. Arsenio sudah menunggu di baliknya dengan raut khawatir. Akan tetapi, raut itu berubah saat dia melihat bahwa tak hanya Binar yang berada di dalam ruangan toilet. “Winona?” gumamnya pelan.


Namun, Winona tak menjawab. Dia berlalu begitu saja dari hadapan sepasang suami istri tersebut. Winona berjalan cepat keluar dari toilet.


"Kenapa kak Winona ada di sini? Apa dia ada masalah?" pikir Binar penasaran.

__ADS_1


"Masalah menstruasi," jawab Arsenio.


__ADS_2