
Mobil mewah Anggraini berhenti tepat di seberang villa mewah milik Rudolf. Ibunda Arsenio tersebut menurunkan kaca jendela mobil dan diam-diam mengamati bangunan yang tampak indah dan artistik dengan gerbangnya yang terbuka lebar. Tampak puluhan anak yang tengah asyik bermain di halaman luas villa itu.
"Apa perlu saya putar kendaraannya, Nyonya?" tanya sopir pribadi Anggraini, setelah menunggu beberapa saat, tapi sang majikan tak melakukan apapun.
"Tidak usah, Pak Sufyan. Aku akan jalan kaki saja. Lagi pula, kendaraan sepertinya tidak bisa masuk, karena banyak anak-anak di sana," jawab Anggraini seraya membetulkan letak kaca mata hitamnya.
"Kalau begitu biar saya bantu menyeberang, Nyonya," tawar sang sopir lagi.
"Tidak usah. Pak Sufyan tunggu saja di sini. Nanti kutelepon kalau butuh," sahut Anggraini seraya membuka pintu mobil dan keluar dari kendaraan.
Tidak sulit menyeberang di jalan yang sepertinya bukan jalan utama, meskipun ukurannya cukup lebar. Dalam waktu singkat, wanita anggun itu sudah berdiri di depan pagar dan mengawasi anak kecil yang asyik berlarian.
Ragu-ragu dia hendak menapakkan kaki di halaman berumput yang terpangkas rapi, sampai sebuah suara lembut menyapanya. "Selamat sore. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang yang tak lain adalah Rudolf sang pemilik villa.
Anggraini segera menoleh ke belakang dan menatap pria jangkung yang berdiri sambil membawa beberapa kantong plastik. Di samping Rudolf, berdiri dua bocah yang memiliki wajah hampir mirip. Hanya saja yang satu jauh lebih besar dan tinggi dari yang lain. Kedua bocah itu juga sama membawa kantong plastik.
"Selamat sore," Annggraini balas menyapa. "Herr (Tuan) Rudolf?" tunjuknya.
"Jangan panggil saya tuan. Cukup Rudolf saja," ucapnya. "Wisnu, Praya, tolong panggilkan mbok Ketut untuk membawakan barang-barang ini," suruh Rudolf pada kedua bocah yang berdiri di kanan kirinya.
"Siap, Om!" anak-anak yang tak lain adalah Wisnu dan Praya tersebut segera berlari masuk ke bangunan villa. Tak berselang lama, seorang wanita bersama beberapa orang pemuda keluar menggantikan dua adik Binar dan datang menghampiri Rudolf.
Orang-orang itu mengangguk hormat pada Rudolf, lalu mengambil kantong-kantong plastik yang ada di tangannya.
"Anda sedang sibuk rupanya," ucap Anggraini tersenyum kaku sambil terus memperhatikan Rudolf.
"Ah, tidak. Saya baru saja dari mini market untuk membelikan anak-anak camilan," jawab Rudolf ramah. "Mari. Silakan masuk," ajak pria itu kemudian mengarahkan Anggraini untuk menuju ke bagian dalam villa melalui halaman samping.
"Silakan duduk," ujar Rudolf setelah mereka tiba di ruang tamu.
"Sepertinya Anda sedang ada acara. Saya takut mengganggu." Anggraini mulai salah tingkah, karena suasana di ruang tamu tak kalah ramai dengan keadaan di luar.
__ADS_1
"Oh, tenang saja. Memang begini kondisi villa saya tiap sore. Saya membiarkan anak-anak desa untuk bermain sepuasnya di sini," tutur Rudolf. "Mereka hiburan bagi saya yang kesepian." Pria asal Jerman itu tersenyum samar, lalu menunduk untuk beberapa saat.
"Oh, jadi begitu." Anggraini merasa sedikit lega setelah mendengar penjelasan Rudolf.
"Jadi, bagaimana? Anda tahu nama saya, tapi saya tidak mengenal Anda. Apakah saya mulai terkenal?" kelakar Rudolf sambil tertawa kecil.
"Astaga, maafkan ketidaksopanan saya. Perkenalkan, saya Anggraini Hardiman istri dari Lievin Rainier." Wanita yang masih tetap cantik di usianya yang separuh abad itu mengulurkan tangannya
"Rainier?" ulang Rudolf sembari balas menjabat tangan Anggraini. "Saya pernah mendengar nama itu," gumamnya pelan.
"Mungkin Anda mendengarnya saat prosesi pemberkatan pernikahan antara Arsenio Wilhelm Rainier dengan Binar," tebak Anggraini.
"Anda?" Rudolf terbelalak dan sedikit terkejut mendengarnya. "Anda adalah ibu dari Arsenio?"
"Betul sekali." Mata Anggraini berkaca-kaca saat Rudolf mengucapkan nama putra yang teramat dia sayangi tersebut. "Apakah Anda mengetahui di mana dia berada?" hati-hati Anggraini bertanya.
"Terakhir saya bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Saat itu dia berpamitan hendak pergi ke Jerman," jawab Rudolf apa adanya.
"Jerman?" Nada bicara Anggraini seketika bergetar.
"Apakah Arsen ... menyebutkan kota mana yang akan dia tuju?" tanya Anggraini lagi.
"Tidak. Dia tidak pernah mengungkapkan di mana tepatnya kota yang akan dirinya tinggali." Rudolf menggeleng pelan dengan raut penuh sesal.
"Oh. Jadi begitu." Anggraini memaksakan senyum. Tubuh yang awalnya duduk tegak, kini seakan kehilangan kekuatan, sehingga dia menyandarkan punggungnya di sofa sambil menghela napas pelan.
"Dia sudah pergi dari Bali, kalau itu maksud pertanyaan Anda," ujar Rudolf dengan sorot mata yang tak lepas dari Anggraini. "Anda tidak akan menemukannya di sini."
Anggraini langsung menegakkan tubuhnya kembali, lalu menatap Rudolf penuh arti. "A-apa Anda menyimpan nomor telepon putra saya? Se-sebab beberapa hari terakhir ini saya mencoba menghubunginya, tapi tak dapat tersambung," jelas wanita itu terbata.
"Saya juga," sahut Rudolf. "Beberapa kali saya meneleponnya. Akan tetapi, sepertinya, nomor Arsenio sudah tidak aktif lagi."
__ADS_1
"Ya. Bisa jadi begitu atau memang dia sudah pergi dari negara ini," pikir Anggraini tersenyum kelu. Sejuta sesal mulai merasuk ke dalam hati sanubari. Seharusnya waktu itu dia tak menuruti ucapan Lievin. Kini, sesal dan perih yang teramat sangat Anggraini rasakan, ketika sang suami memaksa dirinya untuk memblokir nomor kontak darah dagingnya sendiri.
"Saya tidak hendak menggurui atau apapun, Nyonya Rainier. Akan tetapi, kadangkala kita harus menurunkan ego demi anak-anak. Seringkali apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut mereka. Kadang kita ingin mereka bahagia, malah ternyata apa yang kita inginkan, membuat mereka terluka," tutur Rudolf dengan bijak.
"Sa-saya ...." Anggraini menunduk dalam-dalam dan mulai terisak.
"Cobalah untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, Nyonya Rainier. Hanya itu saran saya," ujar Rodolf lagi sembari memperhatikan wanita di hadapannya yang menangis sesenggukan hingga bahunya terguncang.
"Arsenio adalah pia yang sangat baik dan juga tampan. Saya percaya bahwa dia bisa menemukan kebahagiaannya sendiri," imbuh Rudolf dengan pandangan menerawang kepada anak-anak yang tengah asyik bermain. "Saya kehilangan istri dan kedua putri saya beberapa tahun lalu," beber Rudolf lirih.
"Astaga, apa yang terjadi?" Anggraini tampak terkejut seraya meletakkan tangan di dada.
"Kecelakaan pesawat." Rudolf tersenyum getir. "Bukanlah kematian yang saya sesali, melainkan kurangnya waktu yang saya punya untuk menghujani mereka semua dengan cinta. Semua akan terasa sangat berharga, ketika kita sudah kehilangan."
Rudolf yang duduk berhadapan dengan Anggraini, menatap wanita itu lekat-lekat. "Saya tidak ingin Anda menyesal seperti saya yang berpisah begitu saja, tanpa sempat mengatakan bahwa saya sangat menyayangi mereka," tuturnya pilu.
"Sa-saya." Anggraini tak mampu berkata-kata. Apa yang Rudolf katakan memang benar adanya.
"Berilah sedikit kepercayaan kepada anak Anda untuk menentukan hidupnya. Dia adalah pria yang sangat hebat," sanjung Rudolf.
"Apakah masih belum terlambat untuk meminta maaf padanya sekarang?" Ragu-ragu Anggraini bertanya.
"Tidak pernah ada kata terlambat untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang, Nyonya," sahut Rudolf sembari tersenyum lembut. Mereka berdua sempat terdiam untuk beberapa saat lamanya.
"Sepertinya saya tahu apa yang akan saya lakukan." Anggraini tiba-tiba berdiri dan mengajak Rudolf bersalaman. Setelah itu, dia berpamitan dan mengucapkan terima kasih.
Dia tergesa-gesa keluar dari villa sambil mencoba menghubungi Fabien. Dalam hitungan nada sambung yang kesekian kali, barulah putra bungsunya itu menerima panggilan tersebut. "Ada apa, Ma?" tanya Fabien dari seberang sana.
"Hei, Fabien. Apakah kakakmu ada di sana?" tanya Anggraini tanpa basa-basi sambil membuka pintu mobil.
"Kakak? Maksud mama Arsen?" Fabien malah balik bertanya.
__ADS_1
"Iya, siapa lagi kakakmu kalau bukan dia? Memangnya kamu punya kakak yang lain lagi," dengus Anggraini kesal seraya mengempaskan tubuhnya ke jok belakang mobil yang nyaman.
"Arsen tak ada di sini, Ma," jawab Fabien pada akhirnya, membuat Anggraini semakin tenggelam dalam kecewa dan penyesalan.