
“Siapa bilang aku marah! Aku tidak marah. Aku hanya kesal saja,” jawab Arsenio seenaknya.
“Itu sama saja, Rain,” desah Binar yang mulai putus asa. "Baiklah. Mulai sekarang aku tak akan banyak curiga lagi padamu," ujar Binar.
“Minggir dulu, Binar. Aku mau lewat,” suruh Arsenio dengan wajah yang sama sekali tak bersahabat.
“Aku tidak mau minggir kalau kamu masih kesal!” tolak Binar. Dia bertahan dengan sikapnya di hadapan Arsenio.
“Ya, sudah. Kita begini saja semalaman.” Arsenio meneguk air mineral hingga tersisa separuh di botol, lalu mengenggamnya di tangan kanan. Setelah itu dia berdiri tegak sambil melipat tangan di dada.
“Katakan, bagaimana caranya supaya kamu berhenti kesal padaku?" Mata indah Binar mulai berkaca-kaca sembari menatap lekat ke wajah tampan sang suami.
“Pikir saja sendiri,” sahut Arsenio dengan nada bicara yang terdengar amat ketus.
Binar sempat terdiam dan berpikir. Tak berselang lama, dia tersenyum lebar. Dengan gerakan yang luwes, Binar menurunkan tubuh, lalu bersimpuh di hadapan Arsenio.
“Mau apa kamu, Binar? Jangan terlalu banyak bergerak. Ingat, perutmu baru saja dibersihkan,” cegah Arsenio seraya menarik lengan ramping istrinya agar kembali berdiri. “Aku bukan raja, kamu tak perlu berlutut hanya untuk meminta maaf seperti ini,” tegasnya.
“Siapa bilang aku mau minta maaf?” Mata indah Binar mengerling nakal, membuat Arsenio kebingungan. Belum habis rasa heran pria itu, sang istri sudah lebih dulu menyentuh area vital Arsenio. Jemari lentik sang istri menari-nari di sekitar resleting celana jeansnya. “Binar,” napas Arsenio seakan tercekat di tenggorokan, kala gerak tangan sang istri menjadi semakin liar dan nakal.
Tanpa Arsenio sadari, resletingnya sudah dalam kondisi terbuka. Entah kapan Binar melakukan hal itu. “Binar, kamu masih sakit,” suaranya kian lirih tertahan oleh napas yang kian menderu.
Wanita muda itu mendongak dan menatap suaminya sayu. “Aku ingin selalu menyenangkanmu, meskipun dalam kondisiku yang tidak memungkinkan,” jawabnya lirih dan setengah mende•sah. Tanpa ragu, Binar melepaskan pengait celana jeans Arsenio, lalu menurunkannya hingga ke betis. Tak lupa, pakaian dalam berbahan elastis itu juga Binar singkirkan supaya tidak mengganggu acaranya yang akan dimulai beberapa saat lagi.
“Binar, stop.” Suara Arsenio seakan semakin tak bertenaga. Seluruh energi dan kekuatan pria itu seolah sudah diserap habis oleh tatap mata penuh rayu dan godaan tersebut.
__ADS_1
Namun, tentu saja Binar tak akan berhenti. Dia malah membasahi bibir, lalu menyentuhkannya ke ujung senjata Arsenio yang sudah tegah berdiri sejak sang istri menggodanya menggunakan jemari.
“Aku tak akan berhenti sampai kamu menyudahi marahmu ini,” ucap Binar dengan suara lembut mendayu, menggelitik indra pendengaran Arsenio.
“Astaga, aku bisa gila.” Pria rupawan itu menjatuhkan botol mineralnya tadi, lalu mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Sementara Binar hanya tertawa pelan dan mulai melakukan tugasnya. Dia tak akan sanggup membiarkan suaminya ‘berpuasa’.
Binar akan memuaskan Arsenio dengan cara lain. Seperti detik itu, ketika telapak tangan Binar yang halus mengusap benda pusaka milik sang suami dan membelainya lembut. Mulutnya yang mungil juga ikut bekerja memuaskan serta menerbangkan sang suami hingga ke awang-awang.
“Binar, please.” Arsenio menengadah. Mata coklat terangnya terpejam rapat-rapat. Sesekali dia meringis kecil menerima perlakuan nakal sang istri. Akan tetapi, kelihaian Binar semakin membuatnya terlena. Rasa marah, sedih, cemburu serta kecewa, luruh dan hancur tak bersisa. Segala emosi negatif itu menguap begitu saja bagaikan kabut pagi yang tersapu oleh matahari.
Arsenio bahkan mulai lupa alasan apa yang membuatnya marah. Dia semakin hilang kendali ketika Binar berhasil membawanya ke puncak kenikmatan dunia. Dire•masnya rambut indah sang istri erat-erat saat sesuatu meledak dari dalam dirinya, membuat Binar hampir saja tersedak, lalu batuk.
“Ya, ampun. Sayangku.” Arsenio cepat-cepat membuka T-shirt putihnya, lalu dipakai untuk membersihkan mulut sang istri. Dia tak peduli lagi jika saat itu dirinya benar-benar berada dalam keadaan polos. Dia juga meraih botol air mineral, kemudian meminumkannya pada Binar.
“Kamu yang nakal,” balas Arsenio gemas. Ditangkupnya paras cantik Binar, lalu diciumnya bibir yang telah bekerja keras itu dengan lembut. “Bukannya istirahat, malah menyanyi,” kelakarnya sesaat setelah melepaskan ciuman yang disambut dengan gelak tawa Binar.
“Maafkan aku ya, Rain,” ucap Binar lagi sambil membantu memakaikan celana pada suaminya.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Binar. Lupakan saja,” sahut Arsenio dengan segera.
“Aku berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun lagi darimu,” ujar Binar kemudian.
“Kamu juga harus berjanji supaya tidak akan pernah meragukanku lagi, Sayang. Sudah tidak mungkin bagiku untuk berpindah ke lain hati,” tegas Arsenio. “Aku tidak bisa melihat ke arah yang lain selain Nyonya Nirmala Binar Candramaya.” pria rupawan itu menutup kalimatnya dengan pelukan hangat.
__ADS_1
Aroma keringat yang khas dari tubuh Arsenio begitu memanjakan penciuman Binar. Diusapnya punggung sang suami yang basah oleh peluh sambil tertawa geli. “Pakai dulu celanamu,” suruh Binar.
Belum sempat Arsenio menaikkan celana, pintu dapur sudah dibuka lebar-lebar oleh seseorang yang tak lain adalah Fabien.
“Aah!” Fabien berteriak kencang, begitu pula dengan Arsenio. Sedangkan Binar yang masih dalam posisi bersimpuh, buru-buru menyembunyikan wajah yang sudah merah padam saking malunya.
“Apa yang kau lakukan!” seru Arsenio dan Fabien secara bersamaan.
“Kenapa kau tidak mengetuk pintu lebih dulu!” omel Arsenio.
“Ini apartemenku! Apa kamu lupa! Jadi, terserah aku!” ujar Fabien tak mau kalah. “Lagi pula, siapa yang mengira kalau kalian akan berbuat mesum di dapur. Dapur adalah tempat memasak dan semua kegiatan yang berkaitan dengan makan-memakan, bukan kegiatan yang lain!” protesnya.
“Kami juga baru saja selesai dengan kegiatan makan-memakan,” sahut Arsenio seenaknya sembari menutup resleting dan memasang pengait celananya dengan benar. “Ayo, Sayang.” Dia lalu beralih pada Binar yang terus menyembunyikan wajah cantiknya, lalu membantu sang istri untuk berdiri.
Arsenio mengajak Binar untuk berlalu dari dapur dan berjalan melewati Fabien dengan santai, seakan tak pernah ada kejadian apapun sebelumnya. Namun, baru beberapa langkah dari sang adik, Arsenio kembali berbalik seraya menautkan alis. “Bukankah kemarin kau mengatakan bahwa masih ada di Brussels? Kenapa sekarang sudah ada di sini?” tanyanya heran. Sedangkan Binar memilih untuk bersembunyi di balik tubuh tegap sang suami. Dia masih belum sanggup untuk berhadapan dengan adik iparnya.
“Salah satu personil inti jatuh sakit. Jadi, kami terpaksa menunda separuh jadwal konser sampai rekanku pulih,” jawab Fabien dengan cemberut. Dia masih belum bisa menghilangkan rasa kesal, akibat matanya telah ternoda oleh pemandangan vulgar dan tak senonoh tadi.
“Oh." Hanya itu tanggapan dari Arsenio sebelum membalikkan badan. Pria jangkung tersebut juga sempat menggendong tubuh ramping Binar, kemudian membopongnya hingga ke dalam kamar.
“Ck!” Fabien semakin kesal memperhatikan ulah sang kakak. Mendinginkan kepala yang mendidih dengan meminum air dingin adalah cara yang jitu menurut Fabien saat itu. Segera dibukanya pintu kulkas, bersamaan dengan berderingnya ponsel milik Fabien yang sejak tadi sudah berada di dalam genggaman.
“Halo.” Fabien segera menerima panggilan sesaat setelah mengetahui bahwa sang ayah lah yang meneleponnya.
“Apa kau masih menjalani tur dan konser, Nak?” tanya Lievin.
__ADS_1
“Ya, aku baru saja selesai. Memangnya kenapa, Pa?” Fabien balik bertanya sambil meneguk air. Dia sedikit heran, sebab tak biasanya sang ayah menanyakan perihal kegiatan bermusiknya.
“Baguslah. Aku tadinya berniat untuk menginap di apartemenmu besok lusa. Tiba-tiba saja aku ingin refreshing sejenak dan menenangkan diri bersamamu,” jawab Lievin yang sontak membuat Fabien terkejut, sampai-sampai dia hampir menyemburkan air yang sudah memenuhi mulut serta tenggorokannya.