
“Mau ke mana, Rain?” tanya Binar saat melihat sang suami yang tengah bersiap-siap dengan jaket kulit dan celana jeans belel. Arsenio bahkan menyisir rambutnya dengan rapi. “Jangan terlalu rapi,” tegur Binar sambil mengacak-acak rambut yang sudah diolesi pomade bermerk.
“Binar, jangan nakal!” sergah Arsenio. Susah payah dia membetulkan letak helaian rambut yang kini berantakan.
“Inikah alasannya kamu menolak ajakan pergi denganku malam ini?” Binar mengangkat satu alis sambil melipat tangan di dada.
“Iya,” jawab Arsenio singkat. Dengan setengah membungkuk, dia mencium bibir sang istri yang semakin manja karena kehamilannya. “Ajisaka mengajakku bertemu dengan Dwiki. Sekarang!” Kata terakhir dia ucapkan dengan penuh penekanan.
“Kalau hanya sesama laki-laki, kenapa harus berdandan?” tanya Binar terlihat ragu.
“Memangnya tidak boleh? Harusnya kamu curiga kalau aku berdandan saat bertemu dengan perempuan,” balas Arsenio.
“Aku ikut, ya. Aku bosan di sini sendirian,” rayu Binar sambil melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
“Aku naik motor bersama Ajisaka, Binar. Kalau kamu ikut, mau duduk di sebelah mana? Roda depan?” canda Arsenio sambil terus menyisir rambutnya menggunakan jemari. “Lagi pula, kita kan sudah sepakat kalau besok jadwal jalan-jalan berdua. Sabar ya, Sayang.” Pria berdarah Belanda itu harus memperbanyak stok kesabaran saat menghadapi tingkah sang istri.
Adalah sifat yang sangat jauh berbeda dibandingkan dirinya dahulu. Arsenio di masa lalu, tak pernah mau mengalah apalagi tunduk pada siapa pun. Namun, kini dia sudah jatuh teramat dalam di hadapan Binar. Arsenio bahkan tak akan keberatan untuk bersimpuh di kaki sang istri.
“Tumben naik motor.” Binar mengangkat satu alisnya.
“Ya, ingin saja. Sudah lama aku tidak naik motor. Terakhir kali waktu kita berkeliling Bali.” Arsenio tersenyum penuh arti sebelum merengkuh pinggang ramping Binar, lalu memeluknya erat.
“Ya sudah. Kalau begitu aku akan menelepon Wisnu dan Praya saja sampai kamu pulang.” Binar mengurai pelukan suaminya sambil memasang wajah cemberut. “Sekalian aku juga menelepon Nastiti dan bu Irma. Aku kangen mereka berdua,” imbuhnya seraya meraih ponsel yang tergeletak di nakas.
“Hm. Itu jauh lebih baik.” Arsenio mengecup bibir dan kening Binar yang sudah meluruskan kaki di atas ranjang. “Sampaikan salamku pada Nastiti dan bu Irma,” ucapnya sebelum berlalu meninggalkan kamar.
Arsenio mengenal nama dua orang itu dari cerita Binar. Selama ini dia hanya berkenalan dan bertegur sapa melalui panggilan video saja.
“Kapan-kapan kita jalan-jalan ke Jogja ya, Rain!” seru Binar ketika suaminya sudah berada di ambang pintu.
“Aku akan mengajakmu ke manapun kamu mau. Itulah sebabnya aku harus menyelesaikan semua urusan terlebih dahulu,” ujar Arsenio. Setelah itu, dia menutup pintu kamar dan bergegas turun menuju halaman depan, di mana Ajisaka sudah menunggunya. Pria kepercayaannya tersebut sudah menyiapkan helm untuk sang majikan.
“Ayo berangkat,” ajak Arsenio ketika mereka berdua sudah siap di atas motor. Alat transportasi yang satu itu memang teramat praktis. Di saat kendaraan roda empat harus berjalan tersendat, motor yang dikendarainya bersama Ajisaka, dapat menaklukkan kemacetan dengan mudah. Apalagi Ajisaka begitu lihai mengarahkan motornya di sela-sela kendaraan besar.
__ADS_1
Tak berselang lama, kedua pria tadi sudah tiba di kediaman Dwiki yang juga sudah bersiap-siap menyambut kedatangan bos dan sepupunya.
“Ji!” Dwiki merentangkan tangan, lalu memeluk erat-erat sang sepupu yang tak ditemuinya selama bertahun-tahun. Sikap hangat yang jauh berbeda dengan nada bicaranya di telepon. Dia lalu beralih menyalami Arsenio. “Kita bicara di ruang tamu saja,” ajaknya.
“Rumahmu tidak jauh berubah. Masih sama seperti saat om dan tante masih ada,” ujar Ajisaka. Dia sempat mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan sebelum duduk di atas sofa.
“Aku akan merenovasinya kalau sudah mendapatkan jodoh, alias menikah,” kelakar Dwiki.
“Akan kuingat kata-katamu,” sahut Ajisaka sambil meraih sebuah kaleng softdrink dingin.
“Memangnya kamu sudah memiliki calon, Ki?” tanya Arsenio yang ikut mengambil sekaleng softdrink beserta beberapa kacang goreng yang disuguhkan di atas meja.
“Belum, Bos,” Dwiki meringis sambil menggaruk-garuk keningnya.
“Nanti saja kita membicarakan jodoh. Sekarang ada hal penting yang harus aku sampaikan.” Ajisaka mendadak berubah serius.
“Oh ya. Bagaimana temuanmu, Ji,” tanya Arsenio mencondongkan tubuh ke arah Ajisaka, dengan ekspresi yang tak kalah serius dari anak buah kepercayaannya tadi.
“Saya juga sudah menemukan bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan kedatangan preman-preman itu ke ruangan Biantara Sasmita. Ada banyak sekali rekaman yang menunjukkan kedatangan preman bayaran itu. Tidak hanya satu kali,” sambung Ajisaka.
“Lalu, apalagi?” tanya Arsenio antusias.
“Dari data yang berhasil saya ambil, terlihat jelas seseorang telah meretas software maskapai dan membuat perusahaan kacau. Polanya sama dengan peretasan perusahaan investasi milik Anda. Mereka telah mengacaukan data keuangan, sehingga membuatnya tampak merugi,” jawab Ajisaka.
“Apa tujuan mereka sebenarnya?” Dwiki berdecak pelan sambil menyandarkan punggung di sofa.
“Kalau dua perusahaan itu merugi, papaku akan dipaksa untuk menerbitkan surat pernyataan pailit, sehingga mereka bisa berdalih untuk mengambil alih dengan mudah,” jelas Arsenio.
“Untungnya aku sudah berhasil menemukan pelakunya, Bos.” Ajisaka tersenyum lebar dan terlihat bangga.
“Biar kutebak, pasti pria yang bernama Haris itu,” terka Arsenio.
“Betul sekali, Bos. Aku sudah berhasil masuk ke dalam sistem komputer pribadinya dan menemukan banyak sekali bukti-bukti penting terkait sepak terjang Haris, dalam meretas sistem maskapai dan perusahaan investasi. Kita bisa menggunakan itu untuk melawan mereka di pengadilan,” pungkas Ajisaka, lalu meneguk minuman dinginnya.
__ADS_1
“Bos.” Dwiki seperti hendak menginterupsi. Raut wajahnya menyiratkan sesuatu yang tampak aneh. Sementara dari tempatnya duduk, Ajisaka mengamati perubahan sikap sang sepupu yang dirasa janggal.
“Maaf jika saya lancang. Menurut saya, apakah tidak sebaiknya Anda mengakhiri semuanya?” saran Dwiki hati-hati.
“Apa maksudmu?” Nada bicara Ajisaka terdengar ketus, dilontarkan kepada sepupunya. Sedangkan Arsenio menanggapi dengan kalem dan tatapan tenang yang tertuju pada Dwiki.
“Tadi pagi, Winona menyuruhku untuk menjemput kedua orang tuanya di bandara. Aku sempat melihat kondisi istri pak Biantara yang cukup menyedihkan. Tubuhnya begitu kurus. Wajahnya pun tak bercahaya, seakan ada beban berat yang tengah dipikul oleh wanita itu,” terang Dwiki.
“Apapun kondisi mereka, tak ada hubungannya dengan semua yang bos Arsen putuskan. Kamu tidak berhak mencampurinya, Ki,” tegur Ajisaka.
“Tidak apa-apa, Ji. Aku tidak keberatan dengan apa yang Dwiki katakan, karena sepertinya aku juga tidak akan menuntut mereka ke pengadilan,” ujar Arsenio, membuat dua bersaudara itu terkejut.
“Benarkah itu, Bos?”
“Kenapa begitu, Bos?”
Dwiki dan Ajisaka bertanya pada saat bersamaan.
“Aku menyadari satu hal. Semua masalah pelik yang terjadi saat ini adalah akibat dari kesalahan yang telah kulakukan. Mungkin aku akan mengakui semuanya di hadapan om Bian dan tante Yohana, sambil membawa bukti-bukti itu tentunya,” jawab Arsenio.
Mereka berbincang teramat serius hingga tak menyadari jika Winona tengah mengemudikan mobilnya dan berhenti di depan rumah Dwiki.
Wanita cantik itu sempat heran melihat motor yang terparkir di halaman, bersebelahan dengan kendaraan roda dua milik Dwiki. Dia juga melihat ada dua helm yang bertengger di atas stang. “Sepertinya sedang ada tamu,” gumam Winona pelan
Wanita muda itu hendak memastikan dengan masuk ke dalam rumah. Dia sudah akan membuka pintu masuk utama yang tertutup rapat, ketika terdengar sebuah suara tak asing lagi di telinganya. “Arsen?” desis Winona demikian pelan sambil menempelkan telinga di daun pintu.
“Aku sangat menghargai dan berterima kasih sebanyak-banyaknya pada kalian berdua, yang bersedia membantu sampai sejauh ini. Aku akan membayar kalian tiga kali lipat, meskipun menurutku itu masih belum pantas untuk membalas kebaikan kalian,” ujar seseorang yang Winona yakini sebagai Arsenio.
Dengan dada bergemuruh, wanita itu segera membuka pintu rumah Dwiki lebar-lebar. Rasa terkejut, marah, dan kecewa, bercampur menjadi satu ketika mendapati pria yang berhasil mencuri hatinya itu tengah bersalaman akrab dengan Arsenio.
Tak berhenti sampai di situ, amarah Winona semakin meluap ketika Ajisaka menoleh ke arahnya. Dia dapat mengingat dengan jelas bahwa pria itu yang tadi mendatangi kantor dan mengaku sebagai suruhan Lievin.
“Dwiki ….” Kata-kata yang hendak dia utarakan pada sang sopir pribadi serasa tercekat di tenggorokan. “Kamu brengsek!” sentak Winona seraya berbalik dan berlari meninggalkan rumah yang sempat memberikan kenangan manis untuk dirinya.
__ADS_1