Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Peliknya Hidup


__ADS_3

“Brengsek! Berani-beraninya kamu menjadikan istriku sebagai alat untuk mengancamku!” sentak Arsenio dengan suara tertahan.


“Karena itu, tolong bekerja samalah, pak. Serahkan data-datanya kembali pada saya.” Suara Haris di seberang sana mulai melunak.


“Rupanya kamu belum mengetahui siapa aku, Haris,” desis Arsenio penuh penekanan.


“Anda juga belum mengetahui siapa saya,” balas Haris dengan suara yang semakin terdengar pelan tapi menyiratkan sebuah ancaman besar.


“Tenang saja, Haris Maulana. Cepat atau lambat aku akan mendapatkan seluruh informasi tentangmu.” Selesai berkata demikian, Arsenio langsung mengakhiri panggilan itu.


Cukup lama Arsenio terdiam. Dia duduk termangu di atas balkon. Dua tangannya bertumpu pada pagar pembatas yang terbuat dari besi dan dihiasi tanaman rambat dengan bunga yang berwarna-warni. Arsenio sedang memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk esok hari.


Pada akhirnya, pria bermata coklat terang itu memilih untuk kembali ke dalam kamar, setelah tadi memutuskan keluar. Dia berbaring di samping Binar untuk melepaskan penat serta kantuk yang mulai melanda. Sebelum tenggelam di alam mimpi, ditatapnya paras cantik sang istri yang terlihat begitu damai dalam tidurnya.


Arsenio mengelus pipi berkulit halus itu dengan lembut. “Jangan khawatir, Sayang. Kamu akan aman selama bersamaku,” ucapnya lirih sebelum benar-benar terpejam.


Rasanya baru sekejap Arsenio tertidur. Akan tetapi, tiba-tiba saja alarm sudah berbunyi cukup nyaring. Sambil menyipitkan mata, tangan pria rupawan itu meraba permukaan nakas hingga menemukan alarm digital yang mengganggunya, kemudian mematikan hingga suara berisik itu tak terdengar lagi.


Arsenio sempat mengucek mata sebelum menoleh ke samping. Namun, betapa terkejutnya dia ketika menemukan Binar tak ada di sana. Arsenio segera bangkit dan turun dari ranjang. “Binar?” panggilnya. Dia bergegas mencari sang istri ke setiap sudut kamar.


Karena tak berhasil menemukan sang istri di sana, Arsenio segera memakai T-shirtnya. Pria itu keluar dari kamar dengan terburu-buru. Dia menuruni undakan anak tangga dengan tergesa-gesa. Arsenio juga sempat melirik jam dinding besar di ruang keluarga, yang saat itu baru menunjukkan pukul lima pagi.


Arsenio langsung menuju dapur. Dia berharap akan menemukan sang istri di sana. Akan tetapi, di tempat seluas itu hanya ada para asisten rumah tangga yang sibuk menyiapkan sarapan pagi. “Ke mana Binar?” gumamnya pelan.


Tak putus asa, Arsenio memperluas pencariannya ke area taman belakang. Namun, apa yang dia lakukan hanya berakhir sia-sia. Dengan perasaan berkecamuk, pria itu berjalan ke bagian depan bangunan, lalu berhenti di garasi. “Pak Mono,” panggilnya pada sang sopir pribadi yang tengah sibuk mengelap mobil.


“Ya, Pak?” sahut pria kurus itu. Pak Mono langsung menghentikan pekerjaannya. Dia lalu mendekat kepada Arsenio.


“Apa Bapak melihat Binar?” tanyanya setengah khawatir.

__ADS_1


“Oh, saya tadi sempat melihat bu Binar berjalan-jalan pagi keluar bersama Darto,” jawab pak Mono sopan.


“Keluar?” Kedua bola mata milik Arsenio terbelalak. “Keluar gerbang?”


“Iya, Pak,” jawab Mono. Dia ikut was-was melihat sikap sang majikan yang gusar.


“Astaga.” Tanpa membuang waktu, Arsenio langsung berlari mengejar. Dia menyusuri jalanan kompleks perumahan elite yang masih sepi.


“Binar!” Arsenio mulai hilang akal, ketika tak dapat menemukan sang istri walaupun sudah berjalan cukup jauh. Akhirnya, dia tiba di taman yang terletak di tengah-tengah kawasan perumahan. “Binar!” Pria rupawan itu bernapas lega, ketika melihat sang istri sedang duduk di atas ayunan sambil mengobrol santai bersama Darto, satpam rumahnya. Dia berlari menghampiri dengan wajah memerah.


“Astaga! Bisa-bisanya kamu keluar diam-diam, Binar!” Arsenio tak tahan untuk tidak menegur sang istri yang memasang raut wajah tak mengerti.


“Aku tidak diam-diam, Rain. Tadi aku sudah membangunkanmu, karena tiba-tiba aku ingin sekali berjalan-jalan pagi. Namun, kamu sangat susah dibangunkan,” sahut Binar. “Mumpung aku tidak merasa mual, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri, tapi pak Darto mencegah dan menawarkan untuk menemaniku,” jelasnya.


“Ya, ampun. Kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku.” Arsenio menepuk kening berkali-kali. Tampak bulir-bulir keringat menetes di pelipisnya.


“Ya sudah. Kita kembali pulang sekarang!” Dengan wajah bersungut-sungut, Arsenio menarik tangan Binar, lalu menuntunnya.


Sepanjang perjalanan pulang, pria jangkung berbadan tegap itu tak banyak bicara. Dia terus menggenggam jemari sang istri.


Masih terngiang di telinganya akan ancaman Haris terhadap Binar. Tak terasa, mereka kini sudah tiba di dalam rumah. Arsenio langsung membawa istrinya kembali masuk ke kamar. Binar sendiri tak berani membantah. Baginya, saat itu wajah sang suami tampak menakutkan.


“Jam berapa kamu keluar kamar?” tanya Arsenio yang masih terlihat kesal.


“Aku terbangun pukul tiga, Rain. Aku tidak bisa tidur lagi, sehingga jam empat aku memutuskan untuk turun. Di pos satpam depan aku bertemu pak Darto dan dia menemaniku berjalan-jalan pagi,” terang Binar sambil menunduk. Sesekali dia mendongak menatap ekspresi Arsenio yang terlihat aneh.


“Jangan pernah keluar ke manapun tanpa seizinku, Binar. Walaupun itu hanya ke depan gerbang sekalipun!” tegas Arsenio dengan raut yang teramat serius.


“Iya, aku tahu,” sahut Binar lirih.

__ADS_1


“Mulai sekarang, kamu hanya boleh keluar jika bersamaku,” lanjut Arsenio.


Sedangkan Binar membalasnya dengan sorot mata protes.


“Kenapa?” Wajah cantik itu merengut dan tampak begitu menggemaskan di mata Arsenio.


Kakak kandung Fabien tersebut mengempaskan napas perlahan, lalu mendudukkan Binar hati-hati di tepi ranjang.


“Dengar, Sayang. Aku sedang menghadapi permasalahan yang cukup pelik dan berbahaya,” tuturnya hati-hati.


“Karena itulah, aku harus selalu memastikan bahwa kamu aman, terlebih kamu membawa satu nyawa lagi di perutmu,” sambung Arsenio. Lembut dirinya mengusap perut Binar yang masih rata.


“Masalah berbahaya apa, Rain?” Binar ikut merasa was-was mendengar penjelasan suaminya.


“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Yang pasti, kamu akan tetap aman selama berada di rumah ini.” Arsenio memandang sendu pada Binar seraya membelai pipinya.


“Sebentar lagi, aku akan keluar bersama Ajisaka,” ujar Arsenio lagi.


“Aku mengerti. Aku akan tetap berada di kamar sampai kamu datang,” Binar menangkup wajah tampan sang suami, lalu mengecup bibirnya lembut.


................


Seperti yang telah direncanakan semalam, hari ini Arsenio mendatangi kantor pusat dari perusahaan maskapai milik Lievin bersama Ajisaka. Seorang resepsionis menghampiri mereka, saat kedua pria tadi baru saja memasuki gedung perkantoran megah tersebut. “Apa kabar, Pak Arsenio? Anda hendak bertemu dengan siapa?” tanyanya sopan, ketika pria berkulit putih itu hendak memasuki lift.


“Aku akan menemui siapa pun yang aku mau. Kantor ini milik papaku.” Sorot mata tajam Arsenio tujukan pada pegawai wanita itu.


“Tentu saja, Pak. Akan tetapi, seperti yang telah diinstruksikan oleh Bu Winona, saya hanya ….” Kalimat resepsionis tadi seketika terhenti, ketika Arsenio mengangkat tangan kanannya.


“Seperti yang kukatakan tadi bahwa ini adalah kantor milik papaku,” potong Arsenio dengan tegas. “Ayo, Ji,” ajaknya kemudian. Arsenio mengangguk pada Ajisaka. Mereka berjalan memasuki lift dan menekan tombol menuju lantai teratas. Semua gerak-gerik kedua pria itu, tak lepas dari tatapan penuh tanda tanya resepsionis muda tadi. Si wanita terlihat begitu penasaran, bahkan hingga Arsenio dan Ajisaka telah menghilang di balik pintu lift.

__ADS_1


__ADS_2