Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Hamil Muda


__ADS_3

Saking lelapnya Binar tertidur, wanita muda itu sampai-sampai tak sadar ketika Arsenio membopong dan memindahkannya ke dalam kamar. Pelan dan hati-hati, pria itu membaringkan tubuh ramping yang masih dalam keadaan polos di atas ranjang, lalu menyelimutinya hingga ke dada. Setelah itu, Arsenio turut berbaring di sisi sang istri. Dia masih menatap lekat dengan sorot tak percaya bahwa Binar bisa berubah menjadi sosok yang sangat agresif. Sikapnya tadi sangatlah liar, tetapi Arsenio sangat menyukainya.


“Kamu belajar dari mana, Sayang? Bolehkah aku curiga?” Arsenio mengulum senyum, lalu mengecup pipi Binar yang sama sekali tak merespons. “Ya, ampun.” Pria bermata coklat terang itu tertawa geli sebelum turut memejamkan mata sambil melingkarkan tangan pada perut sang istri.


Sementara jarum jam terus bergerak pelan menuju pukul enam pagi. Arsenio terbangun lebih dulu, ketika ponselnya berdering cukup nyaring. Sambil memicingkan mata, dia membaca nama Normand tertera di layar.


Dengan terburu-buru, pria itu bangkit dan menjawab panggilan telepon tadi. “Hallo, Herr,” sapanya dengan suara yang masih serak.


“Hei, Arsenio. Maafkan aku menghubungimu pagi-pagi begini. Agatha memberitahukan kepadaku, tentang betapa pesatnya perkembangan tahap perencanaan dari divisi kalian. Oleh karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih sekaligus memberitahukan padamu bahwa kau harus bersiap untuk pergi ke Frankfurt secepatnya,” jelas Normand.


“Ke Frankfurt?” ulang Arsenio seraya melirik pada Binar yang masih tertidur nyenyak. Tak biasanya wanita muda itu bangun lebih siang dari dirinya.


“Ya. Lebih cepat kalian menyurvei lokasi secara langsung, maka itu akan jauh lebih baik. Bagaimanapun juga, kalian harus menyesuaikan rancangan dengan kondisi di lapangan,” jawab Normand.


“Kapankah itu, Herr?” tanya Arsenio lagi.


“Ehm. Sepertinya dalam dua atau tiga hari ke depan. Bersiaplah,” sahut pria paruh baya itu.


“Bisakah jika kita pergi di akhir pekan, Herr? Aku ingin mengajak istriku untuk ikut serta. Aku tak tega meninggalkannya sendirian beberapa hari di sini,” pinta Arsenio sesopan mungkin.


“Akan kuperiksa dulu jadwalku. Semoga saja akhir pekanku kosong,” sahut Normand.


“Baiklah. Aku sungguh berterima kasih atas pengertianmu, Herr,” balas Arsenio dengan senyuman terkembang.


Selesai mengakhiri panggilan, pria itu kembali menoleh pada Binar yang masih memejamkan matanya rapat-rapat. “Hei, Sayang! Mau sampai kapan kamu tertidur? Ini sudah siang. Apa kamu mau membolos?”


Iseng, Arsenio menggelitiki telapak kaki Binar. Tak ada respons, dia beralih pada pinggang dan leher. Istrinya itu sama sekali tak bergerak. “Binar, kamu tidak sedang pingsan, ‘kan?”


Merasa khawatir, Arsenio mendekatkan wajah dan merasakan hembusan udara yang keluar dari lubang pernapasan Binar. Barulah setelah itu dia dapat bernapas lega. “Sayang, ayolah. Nanti kamu terlambat.” Tak mau putus asa, kini tangan Arsenio bergerilya di dada sang istri, sampai Binar terbangun.


“Selamat pagi, Rain,” sapa Binar sambil mengucek mata.


“Kamu tidur seperti orang pingsan,” celetuk Arsenio seraya tergelak.

__ADS_1


“Ya, Tuhan! Jam berapa ini?” Binar yang panik, segera turun dari ranjang. Dia semakin panik saat waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat. “Aduh, bagaimana ini? Aku akan terlambat. Hari ini adalah materi table service. Aku harus berangkat lebih awal, Rain!” serunya sambil setengah berlari memasuki kamar mandi. Dalam beberapa menit saja, dia sudah keluar dari sana dengan keadaan tubuh yang masih basah.


“Astaga. Jangan terlalu terburu-buru, Sayang. Nanti kamu terpeleset,” tegur Arsenio yang masih memakai celana tidurnya. Dia bangkit dan menghampiri Binar. Arsenio membantu mengelap tubuh sang istri yang masih basah. Pria itu juga mengeringkan rambut panjang Binar menggunakan hair dryer. Sementara Binar sendiri sibuk berpakaian.


“Hari ini aku memakai seragam putih hitam. Untung saja aku membawa setelan dari Indonesia. Setelan waktu masih bekerja di toko suvenir dulu,” ujar Binar. Dia tak lagi risih ketika harus berganti pakaian di depan Arsneio yang memandangnya dengan tak berkedip.


“Kamu makin seksi, Sayang,” sanjung Arsenio. Satu tangannya terulur menyentuh pinggul bulat dan penuh itu.


“Rain,” Binar menoleh dan memperhatikan sang suami yang masih memasang muka bantal. “Tidak apa-apa ‘kan kalau aku pergi lebih dulu? Ada makanan beku di kulkas yang bisa kamu hangatkan untuk sarapan.”


“Jangan khawatirkan aku, Sayang. Aku sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendirian,” ucap Arsenio tersenyum lembut sebelum mencium bibir Binar. “Kamu sudah bisa menghafal jalannya, ‘kan?” tanyanya setelah melepaskan tautan.


“Jangan khawatirkan aku, Sayang. Aku sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendirian,” balas Binar dengan kalimat yang sama persis. Mereka berdua pun tertawa.


“Sampai jumpa nanti sore.” Wanita muda yang terlihat semakin cantik itu melambaikan tangan, sesaat setelah membuka pintu apartemen.


“Sampai jumpa nanti sore, Sayang,” balas Arsenio membuat gerakan cium jauh, lalu ikut melambaikan tangan.


Sesaat setelah pintu apartemen Fabien tertutup, giliran Arsenio yang sibuk membersihkan diri. Setelah rapi, dia bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan, sekaligus bekal makan siang yang akan dirinya berikan kepada Binar.


“Apa kabar, Arsenio?” sapa Lucas ramah.


“Hai.” Arsenio tak membalas sapaan itu, melainkan langsung menjabat tangan Lucas seraya menyodorkan paper bag berwarna putih.


“Apa ini?” tanya Lucas keheranan.


“Bekal makan siang untuk istriku. Bolehkah aku meminta tolong padamu untuk memberikan padanya?” pinta Arsenio.


“Oh, tentu. Dengan senang hati,” sahut Lucas sambil tersenyum ramah. Mata birunya tak lepas dari sosok gagah Arsenio yang berbalik dan berjalan cepat hingga tak terlihat dari pandangan. Setelah itu, barulah Lucas mengalihkan pandangan pada paper bag yang sudah berada di tangannya.


“Hm. Romantis juga dia,” gumam pria yang berprofesi sebagai kepala chef itu sembari membuka pintu masuk. Dia bermaksud menyimpan kotak bekal titipan tadi di ruang kerjanya, yang menjadi satu dengan area dapur. Lucas berencana akan menyerahkan itu kepada Binar pada saat jam istirahat siang. Namun, rencana itu tak terlaksana ketika dia mendapati suara riuh dari arah lantai basement yang digunakan sebagai pusat pelatihan. Basement tersebut terletak tepat di bawah lantai kantornya.


Merasa penasaran, Lucas bergegas menuruni tangga menuju tempat pelatihan. Di sana, semua orang tengah mengerubungi sesuatu. Dia juga melihat Marilyn sibuk menghubungi seseorang. “Apa yang terjadi?” Lucas bergegas menyibak kerumunan.

__ADS_1


Betapa terkejutnya dia ketika melihat Binar tak sadarkan diri dengan kepala yang berada di pangkuan Shelby. “Binar!” Lucas terbelalak seraya memeriksa nadi wanita muda yang tampak pucat itu.


“Kami sudah hampir memulai materi, lalu tiba-tiba dia terjatuh. Beruntung nona Shelby menangkap badannya terlebih dulu,” terang salah seorang mentor.


“Aku sudah menelepon ambulans. Mereka akan datang beberapa menit lagi,” sahut Marilyn.


“Sebaiknya kita pindahkan dia,” saran Lucas. Dengan penuh kehati-hatian, pria asal Perancis tersebut mengangkat tubuh Binar yang lemah dan membopong hingga ke lobi dengan dibantu oleh Shelby dan beberapa orang lainnya.


Tak berselang lama, sirine ambulans nyaring terdengar. Kendaraan itu berhenti tepat di depan gedung restoran. Tampaklah


dua orang petugas medis yang cekatan menurunkan brankar serta memeriksa kondisi Binar dengan seksama. “Apakah nona ini memiliki pasangan atau seseorang yang akan bertanggung jawab saat kami membawa dia ke rumah sakit?” tanya salah seorang petugas medis.


Lucas tak segera menjawab. Dia malah saling pandang dengan Shelby dan beberapa rekan yang lain. “Aku tak memiliki nomor telepon suaminya,” gumam Lucas.


“Aku juga,” sahut Shelby.


“Kalau begitu, kuharap ada satu orang yang mendampingi nona ini sampai suaminya bisa dihubungi,” ucap sang petugas medis lagi.


“Kalau begitu, biar aku saja yang akan menemaninya.” Tanpa berpikir panjang, Lucas berdiri untuk menawarkan diri. "Kalian silakan lanjutkan kegiatan untuk hari ini. Binar akan segera ditangani dengan baik setelah ini," ucap pria itu lagi dengan senyuman khasnya. Dia mempersilakan mereka yang ada di sana untuk membubarkan diri.


“Baiklah, kalau begitu.” Dua orang petugas tadi segera mengangkat tubuh Binar yang masih belum sadarkan diri ke atas brankar, lalu membawanya masuk ke dalam ambulans dengan diikuti oleh Lucas.


“Apakah kondisinya tidak baik?” Pria rupawan bermata biru itu memberanikan diri untuk bertanya.


“Tidak juga. Untuk orang dalam kondisi normal, tekanan darah di bawah normal mungkin suatu kondisi kesehatan yang ringan. Akan tetapi, berbeda jika hal itu terjadi pada wanita yang tengah hamil muda, seperti nona ini,” jawab si petugas medis yang membuat Lucas kembali terkejut.


.


.


.


Surpriise.. Se surprise karya keren yg satu ini 😍

__ADS_1



__ADS_2