
Winona melangkah cepat menuju area parkir. Kali ini dia kembali menjadi wanita yang mandiri, meskipun memiliki seorang sopir pribadi ternyata rasanya jauh lebih nyaman. Ya, apalagi jika sopir itu setampan dan sangat menyenangkan seperti Dwiki. Satu hal yang Winona sesalkan ialah, kenapa dirinya harus lebih dulu mengenal Arsenio ketimbang pria asli Indonesia tersebut.
Wanita muda itu pun mengeluh pelan. Dengan kedua tangan yang masih berada di atas kemudi, dia melajukan kendaraan mewah kesayangannya untuk kembali ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus Winona selesaikan, berkaitan dengan pemulihan perusahaan penerbangan Rainier Airlines.
Setelah beberapa saat berada di perjalanan, akhirnya wanita cantik berambut panjang itu pun tiba di depan gedung perusahaan yang dia tuju. Winona pun segera memarkirkan kendaraan, kemudian berjalan masuk. Pada hari itu, dia tampil dengan gaya rambut baru. Tatanan mahkota kebanggaannya yang biasa dia buat bergelombang, kali ini wanita itu biarkan lurus begitu saja. Winona pun tampil dengan make up flawless. Jika bisa, mungkin dia akan mengenakan sandal bulu yang selalu dipakainya saat berada di dalam kamar.
Dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, putri tunggal Biantara Sasmita tersebut berjalan menuju lift. Dia hanya mengangguk kecil, saat berpapasan dengan beberapa karyawan yang menyapa ramah terhadapnya.
Setibanya di depan lift khusus, Winona segera menekan tombol lantai teratas yang menjadi ruangan miliknya. Wanita muda itu pun segera masuk. Akan tetapi, sebelum pintu lift benar-benar tertutup, seseorang telah menahannya. Winona seketika membelalakkan mata, kemudian segera membuang muka. Dia bergeser ke sisi kanan, saat seseorang yang tak lain adalah Dwiki masuk dan berdiri di sebelahnya.
"Ini bukan lift umum," tegur Winona ketus tanpa memperlihatkan paras cantiknya di depan Dwiki.
"Lift sebelah penuh. Aku ikut di sini saja. Lagi pula, kamu hanya sendiri," sahut Dwiki dengan santai. Dia memasukkan kedua tangan pada saku celana. Tentu saja kali ini dia tak memakai celana cargo pendek seperti biasanya.
"Aku sudah terbiasa sendiri," balas Winona masih dengan nada bicara yang terdengar sangat ketus.
"Teruskan saja sampai kamu merasa bosan. Setelah itu, jangan lupa hubungi aku." Dwiki tersenyum kalem. Dia terlihat sangat tenang, seakan tak pernah ada masalah apapun di antara mereka berdua. Pria tampan tersebut bahkan terdengar bersiul sambil sesekali melirik ke arah Winona yang memasang raut tak bersahabat.
"Sayangnya aku sudah menghapus nomor ponselmu, karena aku tidak ingin lagi berurusan dengan pria-pria penipu seperti kamu dan bosmu itu. Kalian berdua sama saja!" Winona menggerutu pelan.
"Bosku jauh lebih beruntung. Setidaknya, kamu masih selalu memaafkan dia meskipun telah banyak berbuat salah. Sementara aku ...." Dwiki menghela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan.
__ADS_1
"Itu urusanmu sendiri!" cibir Winona. Dia lalu berjalan keluar dari lift saat pintunya telah terbuka. Tanpa dirinya duga, ternyata Dwiki mengikuti. Pria itu terlihat seperti seorang pengawal pribadi Winona. "Aku tidak tahu kenapa kamu dibiarkan masuk begitu saja," gerutu wanita muda itu lagi sambil terus melangkah.
"Itulah keahlianku," sahut Dwiki masih dengan bahasa tubuh serta tutur katanya yang santai. "Aku ingin kita bicara serius, karena aku akan memberikan penjelasan padamu secara terperinci."
"Maaf. Aku sibuk dan sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan penjelasan apapun darimu!" tegas Winona. Dengan segera dia membuka pintu ruangannya. Wanita dengan setelan blazer elegant itu sudah hendak masuk. Akan tetapi, ucapan manis Dwiki telah membuat dirinya tertegun lalu menoleh.
"Kamu terlihat jauh lebih muda dengan rambut seperti ini. Hubungi aku kapanpun. Aku yakin jika kamu belum benar-benar menghapus nomor ponselku." Dwiki tersenyum kalem setelah berkata demikian. Dia lalu setengah membungkuk di hadapan Winona, sebelum membalikkan badan. Pria itu berjalan dengan gagah tapi terlihat santai, sambil memasukkan kedua tangan dalam saku celana. Tak lupa, Dwiki mengangguk serta tersenyum ramah kepada setiap karyawan yang berpapasan dengannya.
Pria dengan rambut yang sudah mulai gondrong itu kemudian menghentikan langkah di depan lift. Sambil menunggu pintunya terbuka, Dwiki tiba-tiba menoleh kepada Winona yang segera memalingkan muka, karena ketahuan sedang memperhatikan pria tadi. Winona bahkan masuk ke dalam ruangannya dengan terburu-buru karena malu.
Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Dwiki. Dia lalu masuk ke dalam lift, bersamaan dengan ponselnya yang terasa bergetar. Sebuah panggilan dari Arsenio. Semenjak kejadian pada malam tempo hari, pria berdarah Belanda itu belum lagi menghubunginya. Dwiki pun tak mengirim pesan atau menelepon. Saat itu, perasaan sepupu dari Ajisaka tersebut sedang benar-benar kacau.
"Hai, Ki. Bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Arsenio berbasa-basi.
"Baik, bos. Ada yang bisa kubantu?" tanya Dwiki yang terdengar sedikit formal.
"Aku dan Ajisaka berencana untuk ke rumahmu malam ini," jawab Arsenio. "Kamu tidak ada rencana keluar kan?"
"Kebetulan tidak, bos. Saya jadi pengangguran kali ini," jawab Dwiki sambil berjalan keluar dari lift. Dia melanjutkan langkah menuju pintu keluar. Tak lupa, Dwiki mengangguk sopan sambil melayangkan senyuman menawan kepada petugas resepsionis, yang tadi mempersilakannya masuk dengan alasan sebagai suruhan dari Biantara Sasmita.
"Ya sudah. Nanti aku dan Aji ke sana," ucap Arsenio lagi sebelum mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Sementara Dwiki sudah berada di dekat motor yang dia parkir di tempat khusus. Pria itu langsung saja mengenakan helm, kemudian duduk di atas jok kendaraan roda dua kesayangannya. Sebelum meninggalkan area parkir, Dwiki terdiam sejenak lalu mengarahkan pandangan ke lantai teratas gedung. Sesaat kemudian, dia pun memundurkan motornya, lalu menjalankan kendaraan roda dua tadi keluar dari sana.
Menjelang malam, seperti yang sudah diberitahukan tadi bahwa Arsenio dan Ajisaka datang berkunjung ke kediaman Dwiki. Mereka bahkan membawa beberapa tusuk sate seafood sebagai camilan. Saat itu, Dwiki sendiri sedang asyik bermain play station.
"Ayo, kalian berbaikan dulu," suruh Arsenio kepada dua sepupu yang merupakan orang-orang kebanggaannya. "Bagaimanapun juga, Dwiki adalah orang kepercayaanku. Dia mata-mata yang bisa diandalkan. Sementara kamu, Ji. Kamu juga selalu menjadi andalanku. Jadi, aku ingin kalian berdua bisa kompak lagi seperti dulu," ucap pria itu lagi sebelum meneguk minumannya. Sementara Dwiki dan Ajisaka terdiam mendengarkan.
"Aku sudah menyelesaikan masalah dengan om Bian. Seperti yang kamu sarankan, Ki. Aku juga meminta maaf kepada Winona. Entah dia menerimanya atau tidak, tapi yang pasti aku punya niat tulus." Arsenio kembali berbicara. Kata-katanya tentu saja ditujukan langsung kepada Dwiki.
"Baguslah, Bos. Saya senang. Semoga saja Wini berhati lapang untuk bisa memaafkan Anda sepenuhnya," sahut Dwiki.
"Ya. Kuharap kamu dan Aji juga bisa saling memaafkan. Kalian merupakan sepupu yang luar biasa." Arsenio menoleh kepada Ajisaka yang dari tadi hanya terdiam.
"Kami sudah biasa berkelahi sejak dulu, Bos. Sampai-sampai, ibu angkat kami harus ceramah panjang lebar untuk menasihati. Namun, itulah kami," sahut Dwiki seraya melirik Ajisaka yang tengah menoleh ke arahnya.
"Saya pernah bilang 'kan, Bos. Jika saya bertemu dengan Dwiki, maka kami pasti adu jotos. Apalagi sudah lama kami tidak mengasah tinju ...."
"Ah, aku baru ingat," sela Arsenio memotong ucapan Ajisaka. "Tadi siang saat aku dan Binar akan keluar, Haris datang dan menghadang mobilku. Dia marah besar dan seakan mengancam. Apakah menurut kalian dia melakukan kejahatan seorang diri atau ...." Arsenio menggantungkan kalimatnya.
"Sehebat apa sampai dia berani bermain-main dengan dua taipan kenamaan Indonesia?" pikir Dwiki. "Saya rasa, dibutuhkan nyali yang sangat besar untuk bisa menggoyahkan perusahaan pak Lievin dan juga pak Biantara," ujar pria itu lagi terdengar ragu.
"Apa yang Dwiki katakan memang masuk akal, Bos," timpal Ajisaka. "Apa selama ini ayah Anda dan Biantara Sasmita punya saingan bisnis?" tanyanya, membuat Arsenio tampak berpikir dengan keras untuk mengingat hal itu.
__ADS_1