
Binar menurunkan pakaian-pakaian mahal Arsenio dari gantungan sambil menangis sesenggukan. Betapa keadaan seseorang bisa berubah hanya dalam waktu yang begitu singkat. Dulu, kekasihnya yang tampan itu seakan dapat menggenggam dunia. Namun, kini, Arsenio seolah benar-benar terpuruk ke lubang terdalam hingga menyentuh kerak bumi.
Binar sendiri tak masalah jika dirinya harus hidup susah. Selama ini pun dirinya sudah terbiasa berada dalam situasi yang bahkan jauh lebih mengerikan. Beberapa waktu yang lalu, dia masih menghadapi kerasnya hidup seorang diri. Berbeda kini ketika dirinya sudah mengenal seorang Arsenio. Binar merasa ada seseorang yang akan selalu menjadi pelindung bagi dirinya.
Akan tetapi, entah dengan Arsenio. Apakah pria itu sanggup bertahan dalam keterpurukannya atau tidak.
“Kenapa menangis lagi?” tanya Arsenio yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Binar.
“Kamu tidak terbiasa hidup susah, Rain,” jawab Binar sambil terus terisak.
“Tidak terbiasa, karena aku belum pernah mengalaminya. Kalau sudah dijalani, lama-lama pasti juga akan terbiasa,” sahut Arsenio dengan enteng. Dia lalu mendekat kemudian melingkarkan tangan di pinggang Binar. Sedangkan gadis itu masih berdiri membelakanginya.
“Bagaimana kalau kamu tidak kuat dan menyerah? Kamu masih bisa kembali ke keluargamu, Rain. Sedangkan aku ….” Binar tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Dada gadis itu semakin terasa sesak.
“Kamu meragukanku, Binar?” Nada bicara Arsenio terdengar penuh kekecewaan. Dia melepaskan tangannya, lalu bergerak mundur. “Aku memang brengsek, tapi aku bukan pengecut yang suka bermain dengan kata-kata. Aku sudah membuat pilihan, yaitu bersamamu. Pantang bagiku untuk meralat segala ucapan yang telah terlontar. Seorang pengusaha akan selalu berpikir matang, sebelum dirinya memutuskan sesuatu, Binar. Aku selalu berpegang teguh dengan segala keputusan yang sudah kuambil seburuk apapun itu. Aku bukan laki-laki lemah. Ingat itu,” desis Arsenio tegas.
Binar menunduk dalam-dalam. Tangisnya tak lagi bersuara, tapi air mata semakin deras mengalir. Arsenio menjadi iba melihatnya. Pelan-pelan dia mengulurkan tangan dan menyentuh pundak gadis itu. Arsenio memutar tubuh ramping tersebut hingga menghadap kepadanya. “Lihat aku.” Pria itu meraih dagu Binar, hingga wajah cantiknya terangkat. “Setelah mengumpulkan uang, aku akan membawamu pergi dan kita menikah. Aku tidak main-main dengan kata pernikahan yang kujanjikan padamu, Binar,” tutur Arsenio pelan.
“Satu hal yang paling menyakitiku adalah ketika kamu meragukan dan tidak percaya padaku, Sayang. Rasanya jauh lebih sakit jika dibandingkan ketika aku diusir dari rumah dengan seluruh harta yang sudah tersita,” sambungnya.
“Maafkan aku, Rain,” ucap Binar lirih penuh sesal. “Aku sudah bersikap egois padamu.” Binar kembali menunduk setelah Arsenio melepaskan tangan dari dagunya. “Aku sangat takut, karena untuk saat ini hanya kamu yang kumiliki.”
“Aku bisa gila jika jauh dari kamu, Binar. Aku benar-benar membutuhkanmu. Tolong jangan ragukan aku lagi.” Arsenio mendekatkan wajah berniat hendak mencium sang kekasih. Akan tetapi, suara panggilan yang berasal dari interkom telah membuat dia harus menghentikan kegiatan favoritnya. “Sebentar,” ujar Arsenio seraya mendengus kesal.
__ADS_1
Sementara Binar memilih untuk tetap berdiam diri di dalam walk in closet sambil menyelesaikan tugasnya. Sudah bertumpuk baju yang dia lipat rapi dan menyisakan beberapa saja sesuai yang dipesankan oleh Arsenio. Sekarang fokusnya berpindah pada jam-jam tangan yang berkilau, yang hanya dengan mengamatinya saja telah berhasil membuat Binar menjadi pusing. Dia sama sekali tak memiliki bayangan, jam tangan yang seperti apa yang akan dirinya pilih untuk Arsenio.
Dalam kebingungannya itu, masuklah dua orang pria. Salah satunya adalah sang kekasih. Di samping Arsenio, berdiri seorang pria lain berpakaian necis dengan kepala plontos. “Sayang, dia yang akan membantu untuk menjualkan barang-barangku,” ujarnya memperkenalkan sang teman.
“Hai, kamu pasti Binar. Namaku Arya.” Pria itu tersenyum hangat seraya mengulurkan tangan. Binar membalas jabat tangan tersebut tak kalah hangat. Senyum manis pun tak lupa dia berikan kepada Arya.
“Saya sudah memisahkan baju-baju yang akan dijual.” Binar mengarahkan tangannya pada tumpukan baju-baju mahal pada sofa kecil yang terletak di sudut ruangan. “Namun, aku kesulitan memilih jam tangannya, Rain. Semua terlihat sama mahalnya,” keluh gadis itu dengan polos.
“Coba saya bantu,” ucap Arya sembari terkekeh.
“Sekalian pilihkan juga sepatu-sepatuku,” seru Arsenio. Dia lalu meraih koper beroda yang juga terlihat mewah, kemudian memasukkan baju-baju yang telah dipisahkan Binar. Arsenio juga beralih pada sebuah lemari kaca yang menyimpan koleksi kaus-kaus dan pakaian kasual lain. Beberapa buah kaus, celana jeans serta celana bahan, telah Arsenio pilih dan ikut menemani beberapa kemeja yang telah lebih dulu masuk ke dalam koper.
“Mana sepatu yang akan kamu pakai, Sen?” tanya Arya yang telah beralih ke rak sepatu.
“Kelengkapan jam tangannya bagaimana?” tanya Arya lagi.
“Semua kotak dan sertifikat masih tersedia lengkap,” jelas Arsenio.
“Bagus.” Arya tersenyum sumringah, kemudian meraih ponselnya. Dia lalu menghubungi seseorang dan berbincang untuk beberapa saat. Setelah itu, Arya membantu Arsenio untuk memasukkan beberapa jam tangan mewah tersebut ke dalam kotak aslinya masing-masing.
Sementara Binar hanya bergeming sambil memperhatikan dua orang pria tersebut. Dia tak pernah mengira untuk mengurusi barang-barang seperti itu saja sedemikian ribetnya.
Sekitar setengah jam kemudian, interkom Arsenio kembali berbunyi. Pria tampan itu buru-buru keluar dari walk in closet dan kembali bersama beberapa orang pria serta wanita. “Anak buahmu sudah datang!” serunya pada Arya.
__ADS_1
Binar semakin terbengong-bengong dengan semua yang mereka lakukan. Kurang dari satu jam, walk in closet tersebut sudah bersih, hanya meninggalkan satu buah koper yang sudah berisi barang-barang pilihan Arsenio.
“Apa bisa diangkut sekarang, Pak?” tanya salah seorang wanita pegawai Arya.
“Iya. Angkut saja semua,” jawab Arsenio sembari mendekat pada Binar dan merengkuh pinggangnya. Wajah tampan pria itu tampak begitu datar, seakan tanpa beban sama sekali. Meskipun tanpa kata, Binar tahu bahwa Arsenio tengah memendam gejolak di dadanya. Apalagi ketika dia melewati ranjang mewah yang telah dilapisi bed cover bermotif hitam putih, Arsenio berhenti begitu saja dan memandang tempat itu sejenak.
“Ini adalah tempat kita pertama kali ….” gumam Arsenio. Dia seolah tak ingin melanjutkan kata-katanya.
“Rain,” desah Binar iba. Gadis itu lalu mengusap punggung Arsenio pelan, untuk memberinya sedikit kekuatan. “Akan kau apakan semua perabot-perabot ini?”
“Akan kujual semua beserta griya tawangnya. Kita akan pindah ke tempat yang lebih sederhana. Namun, sebelum itu, kurasa kita harus meminta izin pada Chand untuk tinggal di tempat Prajna. Sementara saja,” tutur Arsenio.
Sambil menunggu Arya dan anak buahnya mengemas barang-barang, Arsenio mengajak Binar duduk di sofa ruang tamu. Di sana, dia kembali menelepon seseorang. Sayup-sayup, Binar mendengar bahwa seseorang yang ditelepon tersebut adalah seorang agen properti.
Arsenio mengakhiri panggilannya bersamaan dengan Arya yang telah selesai. Beberapa orang itu membawa kardus-kardus yang penuh dengan isi dari walk in closet. Mereka bergantian masuk ke dalam lift yang berukuran lebih kecil dari lift umum.
Kini giliran Arsenio dan Binar yang keluar paling akhir.
“Apa kamu yakin dengan semua ini, Rain?” Binar kembali menanyakan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.
Akan tetapi, Arsenio sama sekali tak merasa risih. Pria itu malah tersenyum, lalu mengecup kening Binar.
“Sangat yakin,” jawabnya tegas, kemudian memencet tombol di samping pintu lift. Tujuan mereka saat itu adalah apartemen Prajna.
__ADS_1
Range Rover putih menjadi satu-satunya sisa kemewahan hidup Arsenio yang masih tersisa, setelah dia melelang apartemen mewah beserta segala isinya. Entah apa yang terjadi dalam hidup Arsenio kini. Dunianya berputar seratus delapan puluh derajat. Namun, segala yang hilang tergantikan dengan keberadaan Binar.