
Arsenio tersenyum samar, lalu melemparkan pandangan ke jendela ruang kerja yang biasanya dipakai oleh sang ayah untuk segala aktivitas bisnis. Tatapan pria itu menerawang jauh, menembus kaca bening lurus tertuju ke taman belakang.
“Ada apa, Rain?” Suara lembut Binar seketika menyadarkan Arsenio bahwa sang istri masih ada di sampingnya.
“Sayang." Arsenio menoleh pada wanita muda itu. "Mari duduk sini,” ajak sulung dari dua bersaudara itu seraya menepuk paha, sebagai isyarat agar sang istri bersedia untuk duduk di atas pangkuannya.
Binar pun menurut. Dia segera saja menempatkan dirinya di atas pangkuan sang suami, sambil melingkarkan kedua tangan di leher Arsenio. “Kenapa?” tanya Binar ketika dirasanya raut wajah dan sikap pria itu mendadak berubah. “Apa ada masalah?” Binar tampak khawatir. Akan tetapi, pria berdarah Belanda itu tak segera menjawab. Dia malah memeluk Binar erat-erat sambil membenamkan wajahnya di dada sang istri.
“Rain, jangan membuatku penasaran,” desak Binar setelah beberapa saat berlalu.
Arsenio kemudian mengangkat wajahnya sambil menatap paras cantik itu lekat-lekat. “Sayang, bagaimana ini?” Suaranya terdengar begitu lirih.
“Bagaimana apanya?” Binar balik bertanya sambil menautkan alisnya.
“Kamu masih ingat bukan bahwa aku memiliki perusahaan investasi yang sudah diambil alih oleh papaku?” tutur Arsenio.
“Iya. Memangnya kenapa?” Binar mengangguk sambil kembali menautkan alis karena rasa penasaran yang besar.
“Keuntungan bersih dari perusahaan itu, seluruhnya digunakan untuk membiayai yayasan serta beasiswa Rainier yang dikelola oleh mama,” jelas pria tampan bermata coklat terang tersebut.
“Lalu?” Binar semakin penasaran.
“Lalu … kemarin Haris mengantarkan berkas-berkas padaku. Dia menunjukkan bukti bahwa perusahaan itu telah dibobol oleh seseorang. Seluruh dana nasabah menghilang,” jelas Arsenio sebelum mengempaskan napas pelan.
“Hilang?” Suara Binar terdengar bergetar. “Kenapa bisa hilang?” Wanita muda itu menggeleng tak mengerti.
“Tidak hanya maskapai papa yang disabotase, Sayang. Perusahaan investasi itu juga. Padahal yayasan, beasiswa, beserta universitas, semuanya bergantung dari sana,” ujar Arsenio pelan seakan tak bertenaga.
“Siapa yang tega melakukan itu, Rain?” Binar mere•mas dada. Terbayang olehnya Wisnu dan Praya yang selama ini bersekolah menggunakan dana beasiswa itu juga.
“Jangan terlalu memikirkan biaya Wisnu dan Praya, meskipun mereka tak lagi mendapatkan beasiswa, Sayang. Selama ini, setiap bulan kita rutin mengirimkan uang untuk mereka. Aku yakin jumlah tersebut cukup untuk biaya sekolah dan makan sehari-hari,” tutur Arsenio yang seolah sudah dapat menebak jalan pikiran sang istri. “Pikiranku saat ini terfokus pada para penerima beasiswa lain, yang benar-benar berasal dari keluarga tidak mampu,” sambung pria tampan itu. Dia lalu menunduk sambil memijat pangkal hidungnya.
“Siapa yang tega berbuat seperti ini?” Binar kembali mengulangi pertanyaannya. Setetes air mata mengalir di pipi mulus wanita muda nan cantik tersebut. Perasaannya yang halus semakin terluka, saat melihat raut sang suami yang tampak murung dan penuh beban.
“Nanti sore aku akan membahasnya dengan Bayu. Semoga ada titik terang untuk semua masalah ini,” sahut Arsenio sambil mengeratkan pelukannya pada Binar.
__ADS_1
“Aku takut jika kamu bermasalah, kamu akan dituntut oleh banyak orang dan dimasukkan ke penjara." Binar menangkup wajah tampan sang suami dengan lembut.
Namun, Arsenio malah terkekeh. “Jauh sekali pemikiranmu, Sayang. Jangan khawatir. Aku tidak akan dipenjara. Pertama, perusahaan itu sudah bukan atas namaku, melainkan papa. Kedua, aku tidak akan membiarkan Winona lolos dari semua ini, karena selama aku pindah ke Jerman, dia yang memegang kendali. Papa menunjuknya sebagai CEO."
“Bagaimana kalau papa yang Lievin yang dipenjara, Rain?” Perasaan Binar semakin tak karuan.
“Tenang, Sayang. Papa juga tidak akan mungkin dipenjara. Selama kami masih bisa mengganti keseluruhan dana nasabah, kurasa tak akan ada masalah. Namun, tidak semudah itu. Aku harus mencari tahu terlebih dahulu, siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini,” jawab Arsenio menjelaskan.
“Apapun yang terjadi, aku akan tetap di sampingmu, Rain.” Binar membenamkan wajahnya di leher sang suami dan terdiam sejenak. “Apalagi ….” Dengan sengaja dia menggantungkan kalimat, sehingga membuat Arsenio penasaran.
“Apa?” Arsenio mengurai pelukan, sambil mendorong lembut tubuh Binar agar dia dapat melihat dengan jelas wajah menggemaskan istrinya.
“Seperti yang kamu tahu, bahwa aku kadang suka lupa meminum pil kontrasepsi seperti beberapa minggu yang lalu. Jadi ….” Binar menggigit bibir bawahnya dengan sorot mata was-was.
“Jadi?” Arsenio semakin tak sabar. “Ayolah, Sayang. Jangan mengerjaiku,” pintanya.
“Aku terlambat haid bulan ini, Rain. Akan tetapi, aku belum sempat mengetesnya,” jawab Binar ragu.
“Apa mungkin ….” Arsenio membelalakkan matanya lebar-lebar.
“Mana mungkin aku bosan,” sahut Arsenio seraya tertawa lebar. “Entah kenapa, setiap kali melihatmu aku selalu merasa ingin ….” Belum sempat Arsenio melanjutkan kata-katanya, pintu ruang kerja tiba-tiba diketuk oleh seseorang.
Tak berselang lama, pintu itu sedikit terbuka. Kepala Mono, sang sopir pribadi menyembul dari sana. “Pak, maaf mengganggu. Ada yang mencari Anda di depan,” lapornya sopan.
“Siapa?” tanya Arsenio sembari menurunkan Binar dari pangkuan, lalu berjalan ke arah Mono berada. Dia pun membuka pintu ruang kerja itu lebar-lebar.
“Pak Bayu, Pak,” jawab Mono.
“Oh. Suruh masuk saja. Aku tunggu di sini,” titah Arsenio.
“Baik, Pak.” Sopir keluarga yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun lamanya itu bergegas meninggalkan sang majikan. Dia kembali beberapa saat kemudian bersama seorang pria yang tak lain adalah Bayu.
“Selamat siang, Pak. Maaf saya memajukan janji bertemu, tanpa mengonfirmasinya dengan Anda terlebih dulu.” Sikap Bayu tak kalah sopan dari Mono.
“Tidak apa-apa. Silakan duduk.” Arsenio mengarahkan Bayu ke arah sofa mewah yang terletak di depan meja kerja. Tampak Binar juga duduk di sana, tepat di ujung sofa sambil iseng membuka majalah bisnis. Wanita muda itu masih belum menyadari kedatangan Bayu, sampai Arsenio memanggilnya lembut.
__ADS_1
“Kenalkan, dia asisten pribadi papa,” terang Arsenio ketika Binar mengangkat wajahnya.
“Oh. Halo.” Binar segera berdiri dan mengulurkan tangan.
“Senang bertemu dengan Anda, Bu Binar. Ibu Anggraini juga sering sekali menceritakan tentang diri Anda,” ucap Bayu.
“Oh, ya? Bercerita tentang apa?” tanya Binar antusias.
“Tentang banyak hal. Namun, lebih seringnya bu Anggraini memuji-muji Anda,” jawab Bayu. Senyuman hangat dan ramah, tak jua pudar dari wajah tampan khas Indonesia tersebut.
“Wah.” Binar sepertinya hendak menanggapi. Akan tetapi, dengan segera dia urungkan ketika Arsenio berdehem cukup keras.
“Nanti saja mengobrolnya, Sayang. Aku harus membahas sesuatu yang penting dengan Bayu,” potong Arsenio. Tak lupa dia memasang senyuman mematikan pada Binar agar istrinya itu tak tersinggung.
“Oh, baiklah. Kalian lanjutkan dulu. Aku mau beristirahat di kamar,” ujar Binar sambil melenggang keluar ruangan.
“Sampai nanti malam, Sayang. Aku akan mengajakmu jalan-jalan.” Arsenio setengah berseru saat istrinya itu sudah tiba di ambang pintu.
“Jalan-jalan? Ke mana?” Binar langsung membalikkan badannya kembali menghadap ke arah sang suami.
“Kita membeli alat pengetes kehamilan, sekalian berjalan-jalan ke warung mie ayam di depan kompleks perumahan tempat tinggal Dwiki,” jawab Arsenio penuh semangat.
“Ide yang bagus!” seru Binar sebelum menutup rapat pintu ruang kerja dengan wajah ceria. Dia tampak begitu bahagia. Hal itu berbanding terbalik dengan mimik sedihnya beberapa saat yang lalu. Sementara Arsenio hanya terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan sang istri. Hormon kehamilan mungkin berpengaruh pada perubahan suasana hati secara mendadak, begitu pikir pria rupawan tersebut.
Kini, tinggallah dua orang pria berusia sebaya itu. Mereka duduk berhadapan sambil memasang wajah serius dan tegang. “Ada perkembangan apa?” tanya Arsenio tanpa basa-basi.
“Terkait dengan cerita Bapak kemarin, tentang Haris yang mengirimkan berkas-berkas mencurigakan itu pada Anda. Ditambah informasi yang Anda dapatkan bahwa Haris bertemu dengan bu Winona di perusahaan investasi milik pak Lievin, maka semakin memperkuat perkiraan saya bahwa Haris lah yang berada di balik kekacauan ini,” tutur Bayu hati-hati.
“Ya. Bagiku, hal itu sangatlah mencurigakan. Haris tidak memiliki koneksi apapun dengan perusahaan investasi tempat Wini bekerja. Dia hanyalah seorang asisten pribadi Biantara Sasmita. Sama seperti hubunganmu dengan papa. Akan tetapi, dia dengan seenaknya muncul di sana.” Arsenio mengatakan hal tersebut dengan emosi yang tergambar jelas di wajah tampannya.
“Patut digarisbawahi, Pak. Haris juga merupakan seorang hacker andal. Tidak menutup kemungkinan bahwa dialah yang berada di balik kekacauan ini,” sahut Bayu penuh percaya diri.
“Apakah maksudmu ada kemungkinan bahwa dia yang membobol dana nasabahku?” tanya Arsenio lagi untuk menyakinkan.
“Semua kemungkinan itu ada, Pak. Kita hanya perlu mencari bukti. Lalu, saat kita dapat menemukannya, maka dapat dipastikan bahwa hal itu adalah sebagai awal kejatuhan seorang Biantara Sasmita,” tegas Bayu menggebu-gebu.
__ADS_1