Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
One Step Closer


__ADS_3

Winona segera merapikan penampilan yang sedikit acak-acakan, akibat tangan jahil sang kekasih. Begitu juga dengan Dwiki. Pria tampan itu mengangguk sopan, ketika tatapan Biantara beralih padanya. “Selamat siang, Pak,” sapa ajudan kepercayaan Arsenio tersebut. Entah apa yang akan Dwiki hadapi saat ini. Terlebih, karena sorot mata Biantara terasa seperti hendak menguliti dirinya.


“Selamat siang,” balas Biantara Sasmita, sang pemilik gedung megah tempat mereka berada saat ini. “Kamu Dwiki, kan?” tanyanya memastikan.


“Iya, Pak,” sahut Dwiki seraya mengangguk yakin.


“Sedang apa di sini, dengan penampilan ….”


“Dwiki mengantarku kemari, Pa,” sela Winona. Tangannya menggenggam erat jemari pria dengan celana cargo pendek di dekatnya. “Aku baru kembali dari Kediaman Om Lievin untuk menemui Arsenio. Dia mempunyai berita penting tentang Haris,” jelas Winona pelan-pelan.


Sementara Biantara tak segera menjawab. Pria paruh baya tersebut tampak sedang mencerna hubungan antara penjelasan Winona, dengan adegan yang baru saja dia lihat. Suami Yohana tersebut kemudian memilih duduk. Sedangkan Dwiki dan Winona masih dalam posisi berdiri. “Kenapa kalian tidak ikut duduk?” Sebelah alis milik Biantara terangkat.


Tanpa harus ditanya dua kali, Winona segera mengajak Dwiki duduk. Dia tak memedulikan raut keberatan dari sang kekasih. Winona bahkan mengarahkan Dwiki agar menempati kursi yang sama dengannya.


“Memangnya, berita penting apa yang diberikan Arsen padamu, Win?” tanya Biantara setelah melihat Winona duduk dengan nyaman di sebelah Dwiki, yang Biantara kenal sebagai mantan sopir pribadi putrinya.


“Ini tentang penyebab menghilangnya Haris, Pa,” jawab Winona tanpa melepas genggaman tangannya dari Dwiki. Sesuatu yang juga menjadi perhatian Biantara. Namun, pria paruh baya tersebut tak segera menegur sikap putrinya tersebut.


“Haris? Sudah berapa lama dia tidak terlihat? Papa mencoba menghubungi nomornya, tapi selalu saja berada di luar jangkauan,” ujar Biantara. Dia terlihat begitu berwibawa dengan cara duduknya.


“Haris sudah tewas, Pak,” ucap Dwiki membuat Biantara segera mengubah sikap duduknya.


“Tewas bagaimana maksudmu?” tanya sahabat dekat Lievin tersebut. Dia belum mengerti sepenuhnya dengan maksud ucapan Dwiki. Kekasih Winona tersebut, akhirnya menjelaskan pelan-pelan sesuai dengan yang diceritakan oleh Ajisaka. “Bagaimana bisa? Siapa kira-kira pelakunya?” Biantara tampak berpikir setelah mendengar penuturan dari Dwiki.


“Itulah mengapa Arsen meminta bantuan Papa. Berhubung Haris adalah karyawan di perusahaan ini, maka Papa bisa menjembatani agar pihak yang berwajib datang dan menyelidiki kasus kematiannya. Siapa tahu hal itu bisa membawa kita pada pelaku pembunuhan Tante Anggraini,” sahut Winona memperjelas.


“Ya. Papa bisa menangkap ke mana arah yang dimaksud oleh Arsenio.” Biantara manggut-manggut. Namun, perhatiannya kembali tertuju pada tangan Winona yang terus bertaut dengan tangan Dwiki. “Bukankah kamu sudah berhenti bekerja untuk Wini? Bagaimana tiba-tiba ….”


“Kami berpacaran,” sela Dwiki dengan yakin. Dia melawan tatapan aneh yang dilayangkan oleh Biantara. “Ya, Pak. Saya mengencani putri Anda.” Dwiki kembali menegaskan. Sementara Biantara lagi-lagi memperlihatkan ekspresi yang tak biasa.


“Aku mencintai Dwiki, Pa.” Winona ikut menimpali. “Aku ingin melanjutkan hidup. Melupakan semua yang telah terjadi di masa lalu. Mengawali dengan hal baru,” ucap Winona. “Dwiki adalah pria pilihanku. Semoga Papa dan mama bisa menyetujui hubungan kami.”


Biantara tak segera menjawab. Pria paruh baya tersebut tampak sedang memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, ayahanda Winona itu pun beranjak dari duduknya. “Hal ini harus kamu bicarakan di hadapan mamamu juga,” ucap Biantara. “Selain itu, Papa harap kamu masih tetap menjaga profesionalisme kerja,” pesannya. Sebuah sindiran halus yang ditujukan untuk menegur apa yang dilakukan Winona dan Dwiki tadi.


“Maafkan kami,” sahut Dwiki. Dia mengerti sepenuhnya ke mana arah perkataan Biantara.


Seusai berkata demikian, ayahanda Winona tersebut memutuskan untuk berpamitan. Dia harus segera pulang, berhubung saat itu dirinya hanya kebetulan lewat. Biantara juga berjanji akan segera mengusut kasus kematian Haris.


…..


Binar memutuskan untuk kembali tidur di kamar Arsenio. Hal itu disambut baik oleh pria berdarah Belanda tersebut. Arsenio juga merasa bersyukur, karena masalahnya dengan sang istri tidak menjadi berlarut-larut. Dia yakin bahwa Binar akan berpikir semakin dewasa, dalam menyikapi setiap masalah yang menghampirinya.


“Selamat pagi, Sayang,” sapa Arsenio. Kedua tangannya menelusup ke sela-sela tangan Binar, kemudian melingkar nyaman di perut sang istri yang sudah mulai menonjol. “Perutmu semakin besar,” bisiknya seraya mengecup pundak wanita yang teramat dia cintai.


“Tak lama lagi akan jauh lebih besar dari ini, Rain. Aku melihat hal seperti itu saat ibu mengandung Wisnu dan Praya," ucap Binar. Dia menyandarkan kepalanya di dekat pundak Arsenio. Wanita muda itu menoleh ke sebelah kanan, di mana terdapat wajah sang suami.

__ADS_1


Dengan segera, Arsenio menundukkan kepala. Dia meraih wajah sang istri yang berpostur lebih mungil dari dirinya. Sebuah ciuman mesra pun berlangsung untuk beberapa saat. Namun, dengan terpaksa Arsenio harus mengakhiri adegan manis itu, karena suara ponselnya yang berdering. “Nanti kita lanjutkan,” bisik pria tampan berambut cokelat tersebut. Dia melepaskan dekapannya, kemudian berjalan ke dekat meja dekat tempat tidur.


Arsenio meraih telepon genggamnya. Sebuah panggilan masuk dari Dwiki. Tumben sekali karena sang ajudan kepercayaannya tersebut menghubungi dia sepagi itu. Arsenio segera menjawab panggilan tersebut. “Iya, Ki. Ada apa?” tanya Arsenio tanpa berbasa-basi terlebih dulu.


“Apa saya mengganggu, bos?” tanya Dwiki terdengar tak enak.


“Tidak apa-apa. Aku sudah bangun sejak tadi” jawab Arsenio. “Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Arsenio lagi.


“Iya, bos. Rencananya, hari ini saya akan menemani Pak Biantara ke kediaman Haris Maulana. Kami sudah menyusun skenarionya semalam.” Dwiki menjelaskan.


“Oh, ya?” Arsenio mengalihkan pandangannya sesaat kepada Binar. Wanita itu baru keluar dari kamar mandi. “Apa kamu sudah menegaskan kepada Om Bian, agar tidak membawa namaku dan juga Ajisaka?”


“Tenang saja, bos. Saya pastikan itu tidak akan terjadi,” sahut Dwiki yakin. “Baiklah. Saya hanya ingin memberitahukan itu. Saya harus bersiap-siap dulu.” Seusai berkata demikian, Dwiki menutup sambungan teleponnya.


Sementara Arsenio duduk termenung di tepian tempat tidur. Kali ini, dia akan memfokuskan bidikannya kepada Bayu, sang asisten ayah tercinta.


“Sayang,” panggil Arsenio saat Binar hendak masuk kembali ke kamar mandi. “Kita jalan-jalan, yuk,” ajaknya tiba-tiba, membuat Binar segera menghentikan langkah.


“Jalan-jalan?” ulang wanita muda itu dengan mata membulat.


“Iya.” Arsenio terkekeh melihat ekspresi sang istri. “Rasanya, sudah lama kita tidak bersenang-senang. Kamu mau, ‘kan?” tawar pria tampan itu.


“Iya. Mau!” seru Binar penuh semangat. Dia pun buru-buru membersihkan diri dan berpakaian.


Setelah pasangan suami istri tadi selesai bersiap-siap, mereka menyempatkan diri untuk sarapan bersama sang ayah di ruang makan. Binar juga mengajak Lievin untuk ikut jalan-jalan bersama mereka. Akan tetapi, pria paruh baya itu menolak dengan segera. Lievin kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Tak jarang, Fabien ikut menemani sang ayah.


Arsenio dan Binar akhirnya keluar berdua saja. Pagi itu, dia memakai mobil yang baru saja dirinya beli untuk mengganti mobil nahas yang menjadi saksi bisu kematian sang ibu yang tragis. Entah mereka singkirkan ke mana kendaraan itu. Satu yang pasti, Lievin tak ingin lagi mobil tersebut ada di dalam garasi rumahnya.


“Memangnya kita mau ke mana, Rain?” tanya Binar ketika mobil yang dikendarai Arsenio telah melaju, meninggalkan kompleks perumahan elit tempat tinggal mereka.


“Kita akan berjalan-jalan ke mall, lalu memanjakan diri di spa,” jawab Arsenio dengan pandangan yang terus fokus ke jalanan di depannya.


“Spa? Kamu mau ke spa juga?” Binar menautkan alisnya tak percaya, lalu tertawa renyah.


“Kenapa memangnya? Apa ada aturan baku yang mengatakan bahwa laki-laki dilarang ke spa?” balas Arsenio sambil mencubit ujung hidung Binar.


“Ya, aku tidak tahu karena aku belum pernah ke spa,” sahut Binar yang membuat Arsenio seketika terdiam.


“Sayang.” Tangan Arsenio segera menggenggam jemari istrinya. “Maaf kalau aku belum sempat memanjakanmu, dengan kemewahan yang seharusnya kamu dapatkan. Namun, aku berjanji. Setelah semua masalah terselesaikan. Aku akan memberikan apapun yang seharusnya sejak dulu kuberikan padamu.”


“Jangan berlebihan, Rain. Seperti ini saja rasanya sudah lebih dari cukup untukku,” balas Binar seraya tersenyum lembut.


“Tidak ada yang berlebihan untuk kamu, Sayang." Arsenio tersenyum kalem, lalu mengecup sekilas pipi Binar. Dia kembali fokus pada kemudi. Beberapa saat kemudian, Arsenio membelokkan mobil baru itu ke sebuah kawasan perumahan.


“Mau ke mana kita, Rain?” tanya Binar keheranan.

__ADS_1


“Kita mampir sebentar ke rumah temanku. Boleh, ‘kan?” jawab Arsenio. Wajah cerianya tadi mendadak berubah serius.


“Oh, ya. Boleh dong,” sahut Binar sambil mengusap-usap perutnya.


Arsenio kemudian menghentikan mobil di depan sebuah rumah dua lantai. Dia lalu membantu Binar untuk turun dan menuntunnya hingga masuk ke halaman rumah tersebut. “Ingat ya, Binar. Kamu harus terus berada di belakangku,” pesan Arsenio tiba-tiba, sesaat setelah dirinya mengetuk pintu rumah itu.


“Memangnya kenapa?” tanya Binar lagi.


“Nanti saja kujelaskan. Oke?” jawab Arsenio.


“Baiklah.” Binar mengangguk, lalu bersembunyi di balik tubuh tegap sang suami. Bersamaan dengan itu, pintu rumah yang tadi diketuk pun terbuka.


Seorang pria yang tidak lebih tinggi dari Arsenio keluar dari sana sambil memamerkan senyuman ramah. “Pak Arsenio? Tumben Anda datang ke sini? Saya baru saja mau berangkat ke kantor,” ujar pria yang tak lain adalah Bayu.


“Tidak perlu terburu-buru. Aku ingin mengobrol sebentar denganmu. Apa kami boleh masuk?” tanya Arsenio. Dia menarik pelan tangan sang istri agar berdiri di sampingnya.


“Halo, apa kabar?” Binar yang sudah berdiri tepat di hadapan Bayu, tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan, membuat Bayu terpaku di tempatnya.


“Oh, Bu Binar,” balas Bayu setelah berhasil menguasai diri. Dia segera membalas jabatan Binar. “Kabar saya baik, Bu. Silakan masuk.” Asisten pribadi Lievin tersebut langsung membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Tampak jelas ekspresi gelisah dan tak nyaman dari Bayu. Namun, Arsenio pura-pura tak menyadari dan tetap bersikap seolah tak melihat apapun.


“Silakan duduk.” Bayu mengarahkan tangannya lurus ke arah sofa. “Anda berdua ingin minum apa?” tanyanya.


“Tidak usah repot-repot. Kami sudah minum tadi,” jawab Arsenio kalem. “Kalau camilan ada tidak? Kebetulan mulutku pahit sekali. Aku tidak sempat merokok sejak tadi,” ujar Arsenio.


“Oh. Tunggu sebentar, Pak. Kalau camilan, biar saya belikan di warung.” Bayu bergegas ke bagian dalam rumah sambil memanggil nama asisten rumah tangganya. Tak berselang lama, dia kembali ke ruang tamu. “Ternyata pembantu saya sedang ke pasar. Biar saya belikan sebentar, Pak," ucap pria itu.


Bayu terlihat semakin gugup, saat hendak membuka pintu depan. Berkali-kali dia menoleh pada Arsenio dan Binar sebelum menuju warung yang terletak tak jauh dari rumahnya.


Sementara Arsenio terus memperhatikan pria itu, hingga sosoknya tak terlihat. Dia lalu berdiri dari duduk, kemudian mengamati setiap sudut rumah dengan seksama.


“Kamu sedang apa, Rain?” tanya Binar setengah berbisik.


“Aman. Tidak ada kamera pengawas di ruangan ini,” ujar Arsenio seolah tak memedulikan pertanyaan Binar.


“Rain?” Binar semakin tak mengerti, ketika suaminya iseng masuk ke bagian dalam rumah Bayu. “Rain! Nanti ketahuan temanmu!” seru Binar tertahan seraya mengikuti gerak Arsenio. Namun, belum sempat dia melangkah lebih jauh, Arsenio sudah lebih dulu keluar dan kembali duduk dengan santai di tempatnya.


Binar yang mulai kesal, ikut mengempaskan tubuh ke sofa. “Kamu kenapa, sih? Kita mau mencari apa di sini?”


“Sayang, aku ingin mau minta tolong sesuatu.” Lagi-lagi, Arsenio tak memedulikan pertanyaan Binar.


“Minta tolong apa?”


“Beraktinglah,” jawab Arsenio sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2