Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Reuni Keluarga


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu sejak insiden yang terjadi pada Binar. Pagi itu, wanita yang tengah hamil muda tersebut seperti telah lupa akan kejadian mengerikan yang sudah menimpa dirinya. Binar begitu sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyambut kedatangan ayah dan ibu mertuanya.


Walaupun jumlah asisten rumah tangga di sana sudah lebih dari cukup, untuk menangani segala hal yang berkaitan dengan urusan  penyambutan pemilik rumah Rainier, tetapi Binar tak ingin tinggal diam. Dia tetap membantu dan mengerjakan apapun yang bisa dia lakukan. Hal tersebut sebagai wujud rasa syukur dan bahagia karena kedua orang tua Arsenio telah merestui hubungannya bersama putra sulung mereka.


Arsenio sendiri tampak sibuk di halaman depan rumah. Dia tengah memberikan arahan pada beberapa orang satpam di sana,  bersama Ajisaka dan juga Dwiki. Dia mewanti-wanti semua orang untuk lebih memperketat keamanan dan melarang siapa pun masuk tanpa seizin dirinya. Apalagi terhadap orang asing yang jarang bahkan tak pernah bertandang ke kediaman Rainier.


Keputusan itu harus Arsenio ambil, karena berdasarkan laporan Dwiki bahwa saat ini Haris sudah tak terlihat di manapun, baik di rumah dan kantor. Entah rencana apa yang tengah disusun oleh asisten kepercayaan Biantara Sasmita tersebut.


"Kuserahkan keamanan rumah ini pada kalian selama aku pergi ke bandara untuk menjemput mama dan papa," pesan Arsenio, ketika melihat sang istri sudah berpakaian rapi dan siap mendampinginya menuju airport.


"Siap, Bos. Serahkan semuanya pada kami," sahut Dwiki dengan yakin.


"Baiklah. Kutinggal dulu." Arsenio mengangguk, lalu membantu Binar masuk ke dalam mobil. Saat itu, Arsenio hanya berangkat berdua dengan sang istri. Dia sengaja pergi tanpa membawa sopir pribadi. Arsenio ingin agar acara penyambutan kedua orang tuanya menjadi sesuatu yang lebih privat.


Kendaraan yang dikemudikan oleh Arsenio, melaju dengan kecepatan sedang. Mobil mewah itu menembus lalu lintas ibu kota yang cukup padat. Namun, untungnya karena Binar masih terlihat senang dan bersemangat.


****************


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga belas jam lebih dari Belanda menuju ibukota Indonesia, akhirnya Lievin dan Anggraini tiba di kota kelahiran ibunda Arsen tersebut.


Senyum lebar penuh kebahagiaan terlukis indah dari wajah sepasang suami istri tadi, ketika melihat Arsenio dan Binar lah yang menjemput kedatangan mereka di Bandara. Pelukan hangat penuh haru, menghiasi pertemuan itu. Ada banyak perbincangan hangat di antara mereka, sehingga perjalanan dari bandara menuju kediaman Rainier pun menjadi tidak terasa membosankan, meski harus melewati kemacetan khas ibukota.


“Para pelayan di rumah sudah menyiapkan berbagai menu istimewa untuk menyambut mama dan papa,” ujar Arsenio yang saat itu bertindak sebagai sopir.


Di sebelah Arsenio, Lievin duduk dengan tenang. Pria paruh baya tersebut tengah asyik menikmati pemandangan lalu lintas Indonesia, yang tentu saja sangat jauh berbeda dengan Belanda. “Astaga, sampai kapan jalanan di negara ini akan terus dijajah kemacetan parah macam begini,” keluhnya.


“Kupikir Papa merindukan suasana seperti ini,” gurau Arsenio menanggapi dengan santai.


“Kepalaku pusing, Arsen,” keluh Lievin sekali lagi sambil menggeleng pelan. Sementara Arsenio dan yang lainnya hanya tertawa.


“Saat tiba di rumah nanti, kita langsung makan siang, Sayang. Setelah itu segeralah tidur. Ingat kata dokter, kamu tidak boleh banyak pikiran dan terlalu Lelah,” ucap Angraini yang duduk di jok belakang bersama Binar.

__ADS_1


“Iya, iya. Aku memang sudah tua, tapi belum pikun,” sahut Lievin seraya berdecak pelan.


Sedangkan Anggraini Kembali tertawa renyah. “Lihatlah papamu, Arsen. Semenjak sakit dan menjalani perawatan cukup lama di rumah sakit, dia menjadi jauh lebih mudah tersinggung. Terkadang Mama harus banyak mengolah kata-kata agar tidak menyinggung perasaannya yang sangat sensitif,” tutur Wanita paruh baya itu dengan nada setengah menyindir secara halus.


“Jangan terlalu banyak bicara, Sayang. Kau tahu jika kata-katamu barusan membuatku sakit hati,” balas Lievin yang justru membuat Arsenio dan Binar sama-sama tertawa.


Sungguh merupakan sebuah kehangatan yang telah lama dirindukan oleh Arsenio dan juga Binar. Walaupun momen indah itu baru dapat mereka nikmati setelah menjalani lika-liku yang begitu menguras energi dan juga pikiran, tapi peribahasa yang mengatakan bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya memang benar terjadi.


Setelah beberapa saat melawan kemacetan dan segala hiruk-pikuk aroma ibukota, akhirnya mobil milik Keluarga Rainier pun tiba dan telah memasuki halaman luas kediaman mewah mereka. Pak Mono segera datang menghadap. Dia membukakan pintu untuk Lievin terlebih dulu, barulah membuka pintu untuk Anggraini.


Sementara Arsenio membukakan pintu bagi Binar dan membantunya turun. Dia memperlakukan sang istri dengan begitu hati-hati. Terlebih karena perut Binar sudah mulai tampak sedikit lebih besar dari keadaan normalnya, meski belum terlalu jelas jika hanya dilihat sekilas.


Di teras, tampak juga Ajisaka yang sudah berdiri gagah bersama Dwiki. Kedua sepupu yang merupakan anak buah kepercayaan dan andalan Arsenio tersebut tersenyum bahagia, saat ikut menyambut kedatangan Lievin bersama Anggraini yang baru kembali lagi ke Indonesia setelah sekian lama. “Selamat datang kembali, Bapak beserta Ibu Rainier,” sambut Ajisaka. Dia dan Dwiki setengah membungkuk sebagai sikap hormat.


“Siapa mereka berdua, Arsen?” tanya Lievin setelah membalas penyambutan tadi dengan sebuah anggukan.


“Hey, sepertinya kita pernah bertemu.” Anggraini memperhatikan Dwiki dengan lekat, sambil sesekali menautkan alis. Dia seperti hendak memastikan.


“Iya, Bu. Saya yang waktu itu memberitahu Anda tentang kepergian bos Arsen ke Jerman,” balas Dwiki dengan senyuman ramahnya.


“Namanya Dwiki Aryasatya, Ma. Sementara yang satu lagi adalah sepupunya, Ajisaka Anggara. Mereka berdua merupakan orang-orang yang selalu dapat kuandalkan. Keduanya juga yang telah membantuku dalam menyelesaikan permasalahan dengan om Biantara,” jelas Arsenio bangga. Dia berdiri di antara Dwiki dan Ajisaka sambil merengkuh pundak mereka berdua.


“Anda terlalu berlebihan, Bos. Cukuplah Bos saja yang tahu seberapa kerennya kami berdua, karena kami tidak suka pamer. Iya kan, Ji?” Dwiki melirik sepupunya yang jauh lebih pendiam jika dibandingkan dengan dirinya.


Ajisaka tertawa pelan. “ Maklum, Bos. Pria patah hati,” celetuknya pelan, tapi berhasil membuat Arsenio tertawa renyah.


“Kalian adalah hiburan bagiku,” balas Arsenio seraya menepuk lengan kedua anak buahnya tadi. “Sebaiknya kita lanjutkan perbincangan di dalam sambil makan siang,” ajaknya pada semua.


Mereka pun masuk dan duduk sebentar di ruang tamu sebelum menuju ke ruang makan. Kebersamaan itu diawali dengan obrolan-obrolan ringan terlebih dulu. Lievin yang belum mengenal Ajisaka dan Dwiki, sempat bertanya beberapa hal pada kedua anak muda itu.


“Orang tua saya telah tiada. Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas saat saya masih duduk di sekolah dasar. Setelah itu, saya diasuh oleh adik dari mama dan hingga saat ini sudah menjadi seperti ibu kandung,” tutur Ajisaka, saat Lievn menanyakan tentang asal-usulnya.

__ADS_1


Lievin tampak manggut-manggut setelah mendengar penuturan dari Ajisaka. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Dwiki. “Kalau kamu bagaimana, Dwiki?” tanyanya kemudian.


“Saya juga yatim piatu. Mama meninggal karena sakit, ketika saya duduk di bangku SMP. Beberapa tahun kemudian, papa terkena gagal ginjal dan harus menjalani perawatan. Untunglah karena saat itu saya dipertemukan dengan bos Arsen. Dia banyak membantu, bahkan hingga saat ini. Anda memiliki putra yang luar biasa, Pak.” Dwiki tersenyum penuh arti sambil menoleh kepada Arsenio yang balas tersenyum padanya.


“Intinya kami berdua merasa senang karena bisa bekerja dan berguna bagi putra Anda.” Dwiki tersenyum lebar. Namun, tak berselang lama perhatiannya teralihkan pada ponsel yang terasa bergetar. Dwiki pun segera memeriksanya. Terdapat sebuah pesan masuk dari Winona. Dia baru membalas pesan yang dikirmkan Dwiki pagi tadi.


Dwiki pun terdiam sejenak. Dia lalu beranjak dari duduknya, kemudian pamit keluar sebentar. Dia tak tahan jika hanya berkirim pesan dengan wanita cantik itu. Dwiki memutuskan untuk menghubunginya secara langsung.


"Kamu di mana sekarang?" tanya Dwiki, ketika panggilannya telah tersambung.


"Aku sedang di jalan. Kami baru pulang dari rumah sakit. Tadi pagi mama mengeluhkan dadanya yang sakit. Namun, karena papa hari ini ada urusan penting, sehingga akulah yang harus mengantar mama periksa," sahut Winona. Sikapnya sudah kembali seperti dulu.


Dwiki tak harus bekerja terlalu keras, untuk dapat meraih kembali simpatik dari putri tunggal Biantara Sasmita tersebut. Mungkin memang begitulah karakter Winona. Karena itulah wanita cantik tersebut bisa memaafkan Arsenio hingga berkali-kali, bahkan setelah mengetahui perselingkuhan sang kekasih dengan Indah dan juga Ghea.


"Bagaimana kabar mamamu sekarang?" tanya Dwiki menunjukkan perhatiannya.


"Akhir bulan ini mama akan kembali ke Singapura. Karena itulah aku dan papa bekerja keras untuk menyelesaikan segala urusan dengan Arsen dan perusahaannya," terang Winona.


"Semoga semuanya cepat selesai. Pak Lievin dan bu Anggraini sudah berada di Indonesia. Kuharap kamu selalu berhati-hati dan menjaga diri dengan baik."


"Memangnya ada apa, Ki?" tanya Winona terdengar penasaran.


"Aku tidak yakin, tapi semalam ada sesuatu yang di luar dugaan." Dwiki pun menceritakan insiden yang terjadi kepada Binar, sewaktu dia sedang berada di warung mie ayam semalam.


"Apa menurutmu itu merupakan ulah Haris?"


"Entahlah, Win. Haris memang sudah melayangkan ancaman secara langsung kepada bosku, andai dia tak mengembalikan data-data yang telah bos Arsen ambil dari komputer pribadinya."


"Aku tidak tahu jika akan jadi seperti ini," sesal Winona.


"Sudahlah. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Kuharap Haris tidak berani mengusikmu, karena kita masih belum mengetahui siapa dan apa motif pria itu yang sebenarnya. Kami akan terus mencari tahu tentang dia, serta hubungannya dengan Bayu. Selama Haris tidak melakukan yang aneh-aneh, maka aku masih bisa tenang. Kecuali jika dia berani berbuat macam-macam terhadapmu, maka ...." Dwiki menggantungkan kata-katanya, membuat Winona merasa penasaran.

__ADS_1


"Maka apa?" tanya Winona.


"Maka aku tak akan segan untuk menghajarnya," jawab Dwiki yang terdengar begitu meyakinkan.


__ADS_2