
Binar tak banyak bicara. Dia hanya mengangguk, lalu kembali mengikuti Arsenio yang menuntunnya melanjutkan langkah menuju sebuah apotik. Setelah tiba di sana, Arsenio menyodorkan kertas resep dari dokter yang Binar berikan padanya. Tanpa banyak basa-basi, mereka pun kembali.
Petugas apotik juga tak mengatakan banyak hal selain aturan dalam meminumnya. Sementara Arsenio tidak banyak bertanya, karena dia mengira bahwa itu merupakan suplemen tubuh biasa.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di hotel tempat keduanya beserta tim kerja Arsenio menginap. Arsenio bergegas membersihkan diri, sebelum mengempaskan tubuh ke atas kasur. Begitu juga dengan Binar. Wanita itu tengah berkutat dengan urusan kamar mandi.
Namun, perasaan Binar kian tak tenang. Saat dirinya sebelum mandi tadi, dia kembali merasakan flek itu keluar lagi dan sepertinya bukan hanya berupa gumpalan kecil, tapi juga jauh lebih encer. Karena itu, setelah selesai membersihkan tubuh, dia segera meminum obat yang sudah dibeli beberapa saat yang lalu.
"Seingatku kita ada janji malam ini," goda Arsenio dengan tangan yang mulai menjalar ke mana-mana, hingga akhirnya berhenti pada area pusat. Namun, Arsenio merasakan ada sesuatu yang lain di sana. "Apa kamu tiba-tiba datang bulan?" tanyanya dengan raut sedikit kecewa.
Binar tersenyum lembut. "Maaf ya, ini di luar perkiraan," jawabnya.
"Aduh gagal," keluh Arsenio. Dia lalu merebahkan tubuhnya dengan kepala yang beralaskan pangkuan Binar. Tatap mata pria tampan tersebut menerawang pada langit-langit kamar. Untuk beberapa saat, mereka saling terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Kapan kita kembali ke Berlin?" tanya Binar setelah kebisuan menggelayuti keduanya. Dia membelai lembut rambut cokelat Arsenio.
"Besok. Semua urusan pekerjaan di sini sudah selesai," jawab Arsenio. Dia lalu mengalihkan perhatiannya kepada Binar yang duduk sambil bersandar pada kepala tempat tidur. "Apa kamu lelah menemaniku?" tanyanya tiba-tiba.
Binar yang awalnya menerawang memandang dinding kamar, kemudian mengalihkan perhatian pada sang suami. "Kenapa memangnya?" Dia balik bertanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," sahut Arsenio. "Aku harus merangkak lagi dari awal. Jika semuanya sesuai dengan yang kurencanakan, maka dua atau tiga tahun lagi aku sudah bisa mulai merintis bisnis kecil-kecilan. Semoga tabunganku cukup. Setelah itu, baru kita memulai program kehamilan untukmu. Jika bisa, aku ingin anak pertama kita laki-laki." Arsenio tersenyum seraya menyentuh dagu Binar dengan gemas.
"Memangnya bisa diatur seperti itu?" tanya Binar polos.
"Dunia kedokteran sudah semakin modern. Apalagi kita tinggal di negara maju. Setahuku ada trik-trik yang bisa dilakukan untuk menentukan jenis kelamin bayi, ya meskipun aku tidak tahu seberapa persen akuratnya. Aku belum pernah punya anak." Arsenio tertawa pelan. Sesaat kemudian, pria itu kembali terlihat serius.
"Jika berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu, kita bisa mengikuti program kehamilan dengan baik. Segala sesuatu yang direncanakan dengan matang, maka risiko kegagalannya pun akan dapat diminimalisir. Aku harap semuanya sesuai rencana," ucap Arsenio lagi menjelaskan.
Namun, setelah mendengar semua yang Arsenio katakan, perasaan Binar justru semakin tak karuan. "Iya, Rain. Aku akan mendukung apapun rencana yang sudah kamu susun," ucapnya. "Apakah aku boleh tidur sekarang?" Binar tersenyum dengan sorot mata memohon.
"Baiklah. Ini yang tidak sesuai dengan rencana," sahut Arsenio seraya bangkit dan duduk sambil menghadap kepada sang istri. "Ingat, besok jangan sampai bangun kesiangan. Kita akan pulang ke Berlin sekitar pukul sepuluh pagi," pesannya. Setelah memberikan ciuman selamat malam, dia pun membiarkan Binar untuk segera beristirahat.
Arsenio juga sebenarnya merasa begitu lelah. Tak sampai beberapa menit setelah Binar merebahkan tubuhnya, pria itu ikut berbaring dan langsung terlelap dalam waktu yang singkat.
Namun, tidak dengan Binar. Wanita muda itu justru semakin resah, karena flek yang keluar ternyata semakin banyak. Bingung dan kian gelisah. Binar telah begitu ceroboh dan membuat keputusan yang salah dengan tak berkata jujur dari awal. Kini, dia telah menempatkan diri dalam masalah yang diciptakan olehnya.
"Astaga, bagaimana ini?" Lirih, Binar bergumam sendiri di dalam kamar mandi. Seharusnya kemarin dia tak memaksakan untuk ikut ke Frankfurt. Namun, semua sudah terlanjur. Dia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan keresahan yang begitu terlihat jelas.
"Apa kamu ada masalah, Sayang?" tanya Arsenio yang merasa heran saat melihat sikap aneh Binar. Pria itu pun mendekat. "Aku merasa kamu bersikap aneh sejak kemarin. Apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku?" tanyanya bernada penuh selidik.
__ADS_1
"Rain, aku ...." Ragu, Binar menahan ucapannya. "Aku akan menyiapkan makan siang untuk kita," ucap Binar seraya bermaksud untuk berlalu dari hadapan Arsenio. Namun, baru beberapa langkah saja, dia merasakan perut bagian bawahnya yang begitu sakit. Rasanya seperti sebuah baju basah yang diperas dengan begitu kencang. Binar tertegun beberapa saat. Dia berusaha menahan sakit dengan cara membungkukkan badan. Kedua tangannya meremas perut kuat-kuat. “Aduh, sakit sekali,” rintihnya pelan.
Arsenio yang masih berdiri di tempatnya, segera menoleh saat melihat Binar yang tampak kesakitan. “Apa yang terjadi, Sayang? Kamu kenapa?” tanyanya panik.
"Perutku sakit sekali, Rain." Binar menoleh sambil terus memegangi perut bagian bawah, dengan rasa sakit yang kian menjadi. Binar sampai menitikkan air mata karenanya. Apa yang dia alami saat ini, berkali-kali lipat jauh lebih sakit dari rasa mulas saat menjelang datang bulan.
Arsenio yang panik, langsung saja mengendong tubuh mungil sang istri, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Saat itu, dia hanya dapat terpaku menyaksikan Binar yang berbaring dalam posisi meringkuk sambil berjuang menahan sakit yang luar biasa. Arsenio begitu panik, sampai tak tahu harus berbuat apa. "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya seraya mendekat.
Keringat dingin mulai bermunculan di kening Binar yang tengah menahan sakit. "Astaga, apa yang harus kulakukan?" Arsenio kebingungan. Dia lalu mengusap-usap punggung Binar dengan lembut. "Bernapaslah dengan teratur," sarannya.
"Sakit sekali, Rain." Binar meringis kuat. Arsenio pun tak berpikir panjang lagi. Dia segera mengambil kunci mobil milik Fabien, lalu kembali ke kamar dan mendapati Binar yang masih kesakitan. Pria itu langsung membopong tubuh sang istri, dan membawanya ke area parkir. Dia membaringkan wanita muda tersebut di atas kursi bagian belakang.
Arsenio kemudian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Setibanya di rumah sakit, para petugas medis bertindak cepat. Mereka membaringkan tubuh Binar yang terlihat lemas di atas brankar, kemudian segera membawanya masuk ke ruang tindakan.
“Sie dürfen nicht eintreten (anda tidak boleh masuk),” cegah salah seorang perawat. “Tunggulah di luar, Tuan.”
“Katakan, apa istriku baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?” tanya Arsenio cemas. Dia seakan telah kehilangan akal sehat saat melihat darah yang merembes di gaun istrinya tadi.
“Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, Tuan. Tenanglah,” perawat itu berusaha menenangkan Arsenio, kemudian menutup pintu ruang pemeriksaan
__ADS_1
Arsenio pun berdiri di luar dengan gelisah. Dia terus berjalan mondar-mandir tak karuan. Belum pernah dilihatnya Binar hingga kesakitan seperti tadi. Berbagai pikiran buruk pun berusaha untuk dia tepis, terlebih ketika dokter datang menghampirinya.
"Tuan, istri Anda telah keguguran," ucap sang dokter.