
“Maksudnya? Apa Winona sedang berada di rumah Dwiki?” terka Binar ragu-ragu.
“Bisa jadi," pikir Arsenio seraya mengetuk-ngetukkan jemari pada kemudi, sebelum memutuskan untuk memundurkan mobil. Dia lalu memarkirkan kendaraan di halaman sebuah masjid yang terletak tak jauh dari rumah Dwiki. Di sana biasa dijadikan tempat parkir sementara bagi para warga setempat atau pendatang. Di halaman masjid tadi pun ada beberapa kendaraan lain, sehingga dapat menyamarkan mobil milik Lievin. Lagi pula, kondisi saat itu sudah malam, jadi rasanya aman dan tak mungkin diketahui oleh Winona.
“Ayo, Sayang. Bawa mie ayammu,” ajak Arsenio sembari membantu istrinya turun. Dia mengajak Binar untuk mengendap-endap ke bagian samping rumah Dwiki, karena kebetulan pria lajang dua puluh tujuh tahun tersebut mendapat rumah paling ujung.
Arsenio kemudian membuka teralis yang ternyata tidak digembok. Pelan-pelan, dia mencoba untuk membuka pintu samping. Seakan dipermudah, ternyata pintu itu juga tidak terkunci.
“Rain, jangan! Nanti kalau kamu ketahuan bagaimana? Kita seperti pencuri saja.” Suara Binar tertahan. Satu tangannya menarik T-shirt sang suami, hingga sempat menahan gerak pria itu.
Arsenio pun menoleh. “Jangan khawatir. Rumah Dwiki adalah tempat bermainku dulu. Ini sudah seperti rumah sendiri," ujar Arsenio tenang. Dia menuntun Binar melewati dapur yang tidak terlalu luas. Dari dapur itu juga terdapat satu pintu lagi yang mengarah langsung ke ruang makan. Dengan hati-hati, Arsenio menyembulkan kepala dan memeriksa keadaan sekitar. Akhirnya dia bisa
mengembuskan napas lega, sebab ruang makan tersebut dalam keadaan kosong.
Arsenio kemudian menggerakkan tangan kepada Binar yang masih berdiri di dekat pintu samping tadi.
Dia memberi isyarat agar wanita muda itu untuk segera ikut masuk ke dalam. Binar pun menurut. Dengan langkah yang sangat hati-hati, dirinya berjalan mendekat lalu mengekor sang suami. Saat itu, tingkah mereka berdua tampak sangat menggelikan.
Tanpa suara sedikit pun, Arsenio kemudian meletakkan kantong plastik berisi mie ayam, yang tadi dipegang oleh Binar ke atas meja makan yang berukuran tidak terlalu besar dengan empat kursi. Dia kembali melihat sekeliling, dan mencari celah agar mereka bisa masuk ke ruangan lain. Akan tetapi, fokusnya cukup terganggu. Sayup-sayup
terdengar suara tawa renyah Winona dan Dwiki yang tengah saling melemparkan candaan. Mereka pun kedengarannya sangat akrab.
"Aduh, aku ingin ke kamar mandi dulu," ucap Winona sembari meringis kecil.
"Ayo kuantar, tapi sampai pintu saja ya," canda Dwiki seraya beranjak dari duduknya, yang segera diikuti oleh Winona.
“Celaka! Kamar mandinya ada di dekat sini?” Arsenio panik ketika mendengar percakapan tadi. Kamar mandi di rumah itu hanya ada satu, yaitu di dekat dapur. Tentu saja, Winona akan melewati ruang makan sebelum bisa ke sana.
__ADS_1
Dengan segera, Arsenio meraih kantong kresek berisi mie ayam yang tadi dia letakkan di atas meja makan, kemudian menyembunyikan Binar di sela-sela lemari es dengan dinding. Tempat kosong itu cukup untuk ditempati satu orang dewasa. Beruntungnya karena postur Binar cukup mungil, sehingga tak sulit untuk bersembunyi di sana. Sementara, Arsenio sendiri langsung masuk ke bawah meja makan.
Entah tempat itu dapat membantu menyembunyikan tubuh tegapnya atau tidak, tetapi Arsenio tak memiliki pilihan lain untuk mencari tempat bersembunyi. Sebisa mungkin pria itu membuat dirinya tak terlihat, karena kebetulan bagian bawah meja cukup terhalang oleh kursi. Pria tampan tersebut langsung diam dan tak membuat gerakan atau suara sedikit pun, ketika dirinya melihat Dwiki dan Winona yang telah memasuki ruang makan tersebut.
“Aku seperti mencium bau makanan di sini,” pikir Winona. Mantan tunangan Arsenio tersebut lalu menoleh kepada Dwiki yang. "Seperti ada aroma mie ayam." Wanita muda berambut panjang itu tampak menautkan alisnya.
“Oh bisa jadi. Banyak penjual makanan di sekitar sini,” sahut Dwiki. "Ah, ataukah itu sebagai kode? Bagaimana jika setelah ini kubelikan mie ayam untukmu?" tawarnya.
"Bukan ide buruk, tapi saat ini aku tidak tahan ingin segera buang air kecil." Suara Winona kemudian menghilang. Sepertinya dia sudah memasuki kamar mandi. Suasana pun menjadi hening untuk beberapa saat. Selagi Winona berada di dalam sana, Dwiki menungguinya di depan pintu dengan tenang. Ajudan kepercayaan Arsenio tersebut bahkan sempat melihat ke arah pintu samping. Dia pun memeriksanya.
"Kamu sedang apa?" tanya Winona yang baru keluar dari kamar mandi sederhana milik Dwiki.
"Tidak ada. Aku hanya memeriksa pintu. Ternyata lupa dikunci. Aku tadi sempat keluar lewat sini untuk membuang sampah," ujar Dwiki seraya mengunci gembok dan pintu samping. "Beginilah kalau hidup sendiri. Segala hal harus diurus sendirian pula," keluhnya. Setelah selesai mengunci pintu tadi, Dwiki pun kembali ke hadapan Winona. "Maaf ya, kamar mandinya berantakan dan tidak sebagus di rumahmu."
“Kamar mandinya cukup bersih. Ini jauh lebih baik daripada harus buang air kecil di toilet umum. Untuk ukuran kamar mandi seorang bujangan, rasanya tidak terlalu buruk," ujar Winona seraya tersenyum lebar.
“Sama-sama," balas Dwiki. "Jadi, apakah Nona akan menyetir sendiri untuk kembali ke rumah, atau perlu
kuantar lagi?” tawar Dwiki seraya memainkan sepasang alisnya dengan konyol. Lagi-lagi, sikap ajudan kepercayaan Arsenio tersebut membuat Winona tertawa riang.
“Kamu membuat pipiku terasa pegal karena terus-menerus tertawa," protes Winona. Sesaat kemudian, wanita muda tersebut menghentikan tawanya. "Aku pulang sendiri saja, Ki. Lagi pula, kamu kan sudah mengajukan cuti. Aku tidak akan membuatmu tetap bekerja di hari libur," sahut Winona dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tenang dan santai. Tak ada kesan kaku sama sekali.
“Iya juga. Akan tetapi, motorku ada di rumahmu,” balas Dwiki seraya meringis kecil sambil
menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
“Astaga. Itu artinya kamu tetap harus datang ke rumahku besok.” Winona kembali tertawa renyah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku masih bisa naik kendaraan umum. Lagi pula, jarak dari sini ke tempat penginapan milik tanteku tidak terlalu jauh," ujar Dwiki. "Lalu, bagaimana dengan mie ayamnya? Apa masih mau?" tawar pria itu mengingatkan kembali tentang rencana mereka tadi.
"Aku rasa mungkin besok lagi saja. Aku akan mampir kemari dengan membawa perut kosong." Winona kemudian berjalan keluar dari dapur dengan ditemani Dwiki. "Setelah mengenalmu, aku jadi banyak makan. Kalau tiba-tiba berat badanku naik bagaimana? Kamu mau tanggung jawab?" Winona menyenggol lengan Dwiki yang berada di sebelahnya.
"Tenang saja. Nanti aku tusuk biar kempes lagi," gurau Dwiki yang segera berbalas sebuah pukulan pelan di lengannya. Keakraban yang terjadi begitu cepat di antara mereka berdua.
Sementara Arsenio yang masih bersembunyi di bawah meja, seketika merasa heran atas sikap mantan tunangannya tadi. Hal itu menjadi sesuatu yang terasa begitu aneh baginya. Dulu, ketika dia masih berstatus kekasih Winona, wanita muda itu selalu bersikap serius dan jarang sekali bercanda. Obrolan mereka pun lebih sering membahas hal-hal yang penting dan teramat membosankan. Winona hanya akan terlihat ceria saat berada di depan kamera dan sosial media. Selebihnya, dia adalah pribadi yang kaku dan tidak menyenangkan sama sekali.
Lalu, kenapa di depan Dwiki mantan tunangannya tersebut bisa berubah dengan sedemikian cepat. Apa yang Dwiki lakukan terhadap Winona, sehingga wanita muda itu terlihat sangat berbeda. Arsenio pun hanya menggeleng pelan. Dia bisa sedikit bernapas lega, ketika dua orang tadi telah berlalu dari ruang makan dan kembali ke ruang tamu. Arsenio pun bergegas keluar dari tempat persembunyiannya. Dia juga segera menghampiri Binar yang terlihat sudah tidak nyaman, karena harus berdiri dengan berlama-lama di dekat lemari es.
"Apa yang kita lakukan barusan?" bisik Binar dengan sorot mata penuh dengan tanda protes terhadap sang suami.
"Ini namanya menyelinap," balas Arsenio tenang. Dia yang hendak tertawa lepas, segera tersadar dan mengulum bibirnya. Arsenio pun kemudian beranjak ke dekat lawang pintu. Dari balik dinding, Arsenio kembali mengintip ke arah ruang tamu. Dari sana, pria berdarah Belanda tersebut melihat Winona yang tengah bersiap-siap. Sepertinya sang mantan tunangan akan segera pulang.
Perhatian Arsenio kemudian beralih kepada Dwiki. Ajudan kepercayaannya tersebut menatap kepada putri Biantara Sasmita yang tengah mengenakan blazer dengan sorot aneh. Sebagai seorang pria yang kerap bersikap nakal kepada banyak wanita, Arsenio dapat memahami dengan jelas makna dari tatapan tadi. Namun, terlalu dini jika dirinya harus mengambil kesimpulan secepat itu. Lagi pula, Dwiki tahu seperti apa sosok Winona yang asli. Apakah mungkin jika pria itu akan jatuh hati pada wanita berhati kejam seperti mantan kekasih sekaligus tunangannya tersebut.
“Kuharap kamu hanya mengambil cuti dua hari saja, tidak lebih," ucap Winona yang telah selesai merapikan diri. Dia juga sudah menenteng tas. Winona berdiri di hadapan Dwiki yang sedari tadi memandang ke arahnya. "Lusa, biar aku yang membayari ongkos taksimu,” ujar Winona lagi.
"Kenapa harus merasa risau? Bukankah kamu adalah wanita yang mandiri? Pergi ke mana-mana juga selalu menyetir sendiri dan tidak butuh orang lain," sahut Dwiki seraya mengernyitkan kening.
"Itu dulu sebelum aku punya seorang sopir pribadi. Sejujurnya, terkadang aku memakai sopir papa jika akan pergi ke luar kota," ujar Winona diiringi tawa, "tapi, untuk harus memiliki sopir sendiri yang mengantarku ke manapun ... ya baru kali ini. Lama-kelamaan, aku jadi merasa nyaman karena tinggal duduk manis di jok belakang tanpa harus sibuk mengurusi rem dan gas."
"Kembali lagi pada kodratnya. Wanita memang makhluk yang harus dimanjakan," balas Dwiki yang langsung berbalas sebuah pelototan tajam dari Winona. Namun, Dwiki tak peduli. Dia masih sempat tertawa, sampai terdengar suara seorang wanita yang telah berdiri di depan pintu.
“Permisi. Selamat malam!”
Seketika, keduanya menoleh ke arah pintu. "Anika?" sebut Winona sambil menautkan alisnya.
__ADS_1