
Perbincangan antara Arsenio dan Chand berakhir, ketika jam digital yang berada di atas meja sebelah tempat tidur sang pemilik kamar telah menunjukkan angka dua belas. Sementara besok keduanya harus bangun pagi untuk menghadiri acara pernikahan Prajna, adik Chand. Arsenio pun memutuskan untuk berpamitan dari kamar sahabatnya tersebut. Dia langsung menuju kamarnya. Namun, langkah pria itu terhenti sejenak saat melihat Indah yang tengah asyik merokok sambil duduk di sebuah kursi kayu khas Jepara.
Arsenio tak berniat untuk menyapa, apalagi sampai berbincang dengan wanita dengan pakaian seronok tersebut. Dia memilih melanjutkan langkah menuju kamar tanpa sepengetahuan Indah. Akan tetapi, lagi-lagi Arsenio harus kembali tertegun saat mendengar Indah mengatakan sesuatu. "Dasar bodoh! Kerja begitu saja tidak becus!" maki wanita itu. Arsenio yang merasa penasaran, kemudian mengintip dari balik dinding penyekat ruangan.
Tampak Indah yang tengah berkirim pesan dengan seseorang. Namun, Arsenio tak tahu dengan siapa, karena sekali lagi dia mendengar sahabat sekaligus asisten pribadi Winona tersebut kembali mengumpat kesal. Tak ingin ambil pusing, Arsenio memilih untuk segera ke kamarnya saja. Dia harus segera beristirahat untuk kegiatan esok yang pasti akan sangat melelahkan.
................
Keesokan harinya. Semua anggota keluarga sudah tampil rapi dengan busana formal mereka. Ini adalah moment yang sangat luar biasa bagi seorang Kalini, ibunda Chand. Walaupun ada keharuan yang sangat besar karena akan melepas sang putri untuk dibawa oleh suaminya, tapi Kalini merasa sangat bahagia. Dengan begitu, tanggung jawab yang dia emban selama ini sudah berhasil dipenuhi. Sebagai seorang single parent, tak mudah bagi Kalini membesarkan dua anak seorang diri.
Pelaminan yang begitu indah dengan hiasan bunga hasil karya dari Taman Renata. Sebuah kenangan yang menggelikan bagi Chand, ketika tiba-tiba dia kembali teringat pada sosok Nirmala. Gadis muda yang begitu lugu, tetapi sangat menarik.
Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah-wajah yang hadir di sana. Arsenio pun tampak menikmati pesta, meskipun Winona terus saja mengikutinya. Wanita cantik tersebut seakan ingin menunjukkan pada semua orang, bahwa Arsenio adalah miliknya.
Lain halnya dengan Indah yang lebih memilih untuk menikmati pesta seorang diri. Senyuman wanita itu baru terpancar dengan sempurna, saat dia melihat sosok cantik bertubuh montok yang baru datang. Indah pun segera berjalan menghampiri wanita tersebut. "Aku pikir Chand tidak mengundang Mbak Ghea untuk datang kemari," sambutnya dengan senyuman sinis.
"Memang bukan Chand yang mengundangku, tapi mama Kalini," jawab Ghea dengan penuh percaya diri. Dia membalas senyuman sinis Indah dengan hal yang sama. Ghea lalu melirik Indah yang berdiri di sebelahnya. "Arsenio kelihatan sangat tampan. Iya, kan?" ujarnya nakal.
"Selalu tampan dan menggoda, tapi sayangnya dia sekarang hilang ingatan," jawab Indah tanpa menoleh kepada Ghea. Dia terus memperhatikan Arsenio yang tengah berbincang bersama beberapa tamu undangan.
"Apa? Hilang ingatan?" Ghea tampak terkejut dengan ucapan Indah. Sepertinya dia belum mengetahui kondisi Arsenio yang sebenarnya. "Apa dia benar-benar seperti itu? Aku melihatnya saat konferensi pers bersama Winona. Menurutku tidak ada yang aneh ... ah ... jadi begitu rupanya," ucap Ghea kemudian.
__ADS_1
"Apanya yang begitu? Setahuku Chand yang merancang semua skenario ini. Dia begitu pandai membuat Arsenio seakan tengah baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak. Suamimu sangat luar biasa, Mbak," ujar Indah kembali tersenyum.
"Sebentar lagi kami akan menjadi mantan suami istri. Catat itu baik-baik," balas Ghea seraya berlalu meninggalkan Indah yang hanya membalasnya dengan sebuah cibiran.
Sementara Ghea melenggang dengan santai ke pelaminan. Dia memasang senyuman manis saat bersalaman dan memberikan selamat kepada kedua mempelai. Begitu juga saat dirinya berpelukan dengan Kalini.
"Mama pikir kamu tidak akan datang," ucap Kalini setelah mereka saling melepaskan pelukan.
"Mana mungkin aku mengabaikan undangan dari Mama," sahut Ghea sambil melirik Chand yang berdiri di dekat Kalini. Pria itu segera memalingkan wajah, seakan tak sudi untuk bertatap muka dengan wanita yang telah dinikahinya selama hampir dua tahun.
"Hai, Chand," sapa Ghea dengan senyumannya yang menggoda.
"Hai," balas Chand datar tanpa menatap ke arah wanita yang akan segera dia ceraikan.
Ghea yang tengah berdiri di hadapan Chand segera membalikan badan. Dia mengangguk seraya kembali ke dekat kedua mempelai. Ghea lalu berdiri di antara pengantin pria dan wanita. Sambil memasang mimik terbaik, wanita tiga puluh tahun itu berfoto bersama pengantin dan keluarganya. Sesuatu yang membuat Chand merasa muak. Namun, tentu saja dia harus menahan diri.
Seusai berfoto bersama di pelaminan, Ghea kemudian mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan pesta. Matanya jeli mencari sosok tampan yang dulu selalu bisa memuaskan segala hasratnya yang tak terlampiaskan bersama Chand. Setelah beberapa saat mencari, Ghea pun akhirnya dapat menemukan pria itu.
Arsenio tengah berdiri sendiri di sudut ruangan. Dia tampak sibuk dengan ponselnya. Arsenio mencoba untuk menghubungi Praya. Pria itu bermaksud hendak meminta agar Praya mengirimkan kembali foro Binar dengan kualitas gambar yang jauh lebih bagus. Akan tetapi, sayangnya semua panggilan dari Arsenio tak dapat tersambung. Dia lalu mencoba untuk mengirimkan pesan. Namun, pesan yang dikirimkannya melalui sebuah aplikasi khusus pun hanya menunjukkan tanda centang satu. Sepertinya nomor ponsel Praya sedang dalam keadaan tidak aktif.
Tak putus asa, Arsenio menghubungi nomor milik Wisnu. Setali tiga uang. Nomor adik pertama Binar itu pun sama saja tak bisa dihubungi. Arsenio mengeluh pelan. Dia lalu melangkah keluar dari aula pesta. Entah akan ke mana pria itu. Satu yang pasti, dirinya tak menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti.
__ADS_1
Rupanya, Arsenio mencari tempat yang jauh lebih sepi untuk kembali mencoba menghubungi kedua adik tiri Binar. Namun, setelah berkali-kali tetap tak membuahkan hasil. Dia pun bersandar pada dinding seraya menatap langit. Setelah itu, pandangannya beralih pada beberapa pohon yang tumbuh di halaman belakang gedung serba guna tempat berlangsungnya pesta. "Binar, kamu di mana?" gumamnya dengan dalam.
Bayangan paras cantik nan polos gadis berusia dua puluh tahun tersebut terlukis dengan jelas dalam ingatannya. Kebersamaan yang terasa amat singkat, tapi meninggalkan kesan mendalam dan sulit untuk dia lupakan begitu saja.
Sesaat kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Arsenio. Dengan segera dia memeriksanya, berharap itu balasan dari Wisnu atau Praya. Namun, ternyata itu adalah pesan dari Winona yang menanyakan keberadaannya. Arsenio pun bermaksud untuk kembali ke dalam. Akan tetapi, langkahnya harus terhenti, karena Ghea telah lebih dulu menghadang. Wanita cantik berkulit putih mulus itu tampak sangat menggoda dengan bahasa tubuh dan mimik wajah yang akan membuat pria manapun kehilangan konsentrasi.
"Hai, Arsen. Apa kabar?" sapanya.
"Baik," jawab Arsenio. "Permisi." Pria itu bermaksud untuk melanjutkan langkah. Namun, dengan segera Ghea mencegahnya.
"Tunggu, Arsen," cegah wanita cantik itu. "Kenapa kamu harus merasa canggung bahkan sampai menghindariku segala?"
"Aku tidak menghindarimu. Aku hanya sedang sibuk," kilah Arsenio.
"Kapan kamu bisa meluangkan waktu? Aku ingin bertemu secara pribadi, kita berdua, seperti dulu," goda wanita cantik berambut panjang itu. Ghea kembali mendekat, meskipun masih memberi sedikit jarak antara dirinya dengan Arsenio. "Katakan padaku di hotel mana kamu menginap," pintanya.
"Aku menginap di kediaman Chand," jawab Arsenio dengan pasti, membuat Ghea seketika menunjukkan raut tak suka.
"Kalau begitu, kamu saja yang datang ke hotel tempatku menginap. Aku sendirian di sana, jadi kita bisa leluasa untuk melakukan apapun ...."
"Apapun apa maksudmu? Kenapa kamu harus menggodaku? Sebaiknya perbaiki hubunganmu dengan Chand," saran Arsenio seraya bermaksud untuk berlalu dari hadapan Ghea.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu bisa menolak ajakanku, Arsen? Apakah karena keadaanmu yang sedang hilang ingatan, maka kamu lupa dengan semua kebersamaan kita? Baiklah kalau begitu. Biar kuingatkan betapa hangatnya dulu kedekatan antara kamu dan aku," ucap Ghea dengan penuh godaan seraya mendekat dan merapatkan tubuhnya terhadap Arsenio.