
“Mbok!” Dua bocah itu berlari kencang ke arah Binar. Mereka melemparkan keranjang anyaman bambu yang berada di punggung dengan sembarangan, karena terlalu bersemangat. Wisnu dan Praya begitu bahagia melihat keberadaan Binar di sana.
“Mbok, kapan datang?”
“Aku kangen, Mbok.”
Wisnu dan Praya berseru saling bersahutan. Mereka menghambur secara bersamaan ke arah gadis itu, dan segera disambut haru oleh Binar.
“Mbok baru saja datang. Kalian apa kabar? Kalian semua sehat, ‘kan?” Binar menangkup wajah dua bocah itu secara bergantian. Dia lalu mengamati wajah mereka dengan saksama. Hal sama seperti yang dilakukan oleh kedua adiknya.
“Mbok makin cantik. Seperti orang kota,” celetuk Praya. Anak itu tak menghiraukan pertanyaan Binar.
“Astaga.” Gadis itu terbahak hingga lesung pipinya tampak jelas. “Kalian dari mana? Apa kalian tidak sekolah?” tanya Binar.
“Kami baru pulang sekolah, Mbok. Biasanya juga begini, setelah sampai di rumah kami langsung bekerja di kebun kopi milik bapa Parta,” jelas Wisnu.
“Lumayan untuk menambah uang saku, Mbok,” sambung Praya.
“Iya. Ibu sekarang bekerja serabutan. Kadang jadi buruh cuci atau tukang bersih-bersih di villa, Mbok,” lanjut Wisnu lagi.
“Villa siapa?” tanya Binar seraya menautkan alis.
“Villa punya orang-orang bule yang ada di sekitar sini. Apa mbok ingin lihat? Ayo, aku tunjukkan! Villa mereka bagus-bagus, Mbok! Aku pernah diajak masuk oleh ibu dan disuruh membantu pekerjaannya,” jawab Wisnu antusias. Dia juga menarik tangan Binar agar segera mengikutinya.
“Tunggu, tunggu! Kalian sudah makan belum?” Binar mencegah Wisnu yang bersemangat mengajaknya meninggalkan halaman belakang.
“Belum, Mbok. Kami tadi langsung ke kebun,” jawab Praya seraya meringis lucu.
Wisnu pun segera membalikkan badan ke arah Binar. “Apa kita makan dulu, baru jalan-jalan ke villa? Tapi sepertinya ibu tadi tidak memasak. Aku buatkan mie instan saja, ya." Wisnu tampak menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
Binar menggeleng dengan raut tak suka. “Kalian sering makan mie instan?” tanyanya.
“Ibu jarang memasak, Mbok,” sahut Praya setengah berbisik. Dia tak ingin jika Widya yang temperamen itu sampai mendengar apa yang dia katakan.
“Ya, ampun.” Binar mendengus kesal. “Ya, sudah kalau begitu kalian ikut Mbok. Kita makan di luar. Mbok yang traktir,” ajak Binar yang langsung disambut oleh sorak sorai kedua bocah tersebut. Mereka terlihat girang, hingga berjalan sambil melompat-lompat.
Akan tetapi, langkah penuh keceriaan itu terhenti, ketika Praya melihat sosok Arsenio yang tengah berdiri di depan pintu dapur. “Halo,” sapa Arsenio sembari melambaikan tangan. Wajah tampannya terlihat begitu ramah dan hangat.
“Mister!” seru Wisnu dan Praya secara bersamaan. Mereka sama-sama terbelalak dan tak menyangka bahwa Arsenio juga ada di sana. “Kok Mister bisa ada di sini?” Kakak beradik itu mengerubungi tubuh jangkung Arsenio.
“Ya, bisa dong. Aku yang sudah mengantar kakakmu hingga ke mari. Bukankah aku dulu sudah berjanji?” jawab Arsenio seraya tersenyum kalem.
“Rain.” Malu-malu, Binar mendekat dan berbisik ke telinga ke kekasihnya. “Aku mau mengajak mereka makan-makan enak. Kebetulan uang saku yang kubawa dari Bali dulu masih banyak tersisa. Gajiku sebagai model saat itu juga masih utuh.”
Arsenio balas mendekatkan bibirnya ke telinga Binar, lalu berbisik, “Simpan saja uangmu. Aku yang akan menraktir mereka.”
Binar menggeleng kuat-kuat. “Jangan! Kamu harus berhemat,” bisiknya lagi seraya melotot.
Sementara Wisnu dan Praya hanya bisa memandang dua orang yang saling berdebat itu secara bergantian.
“Kalian sedang berbisik-bisik apa, sih?” sela Praya.
“Kita jadi makan-makan, ‘kan?” Mata Wisnu membulat karena tak sabar.
“Jadi, dong!” balas Binar dan Arsenio bersamaan.
“Eh, tapi ….” Binar memandang Arsenio penuh arti. “Kita jalan-jalan naik apa?”
“Oh, iya.” Arsenio baru ingat jika mereka datang ke tempat itu menggunakan motor sewaan. Tidak mungkin rasanya jika harus berboncengan empat orang sekaligus. Apalagi tubuh Wisnu dan Praya sudah semakin besar. “Apa di sekitar sini ada rental mobil?” tanya Arsenio.
__ADS_1
“Oh itu gampang, Mister. Kita pinjam mobil om Rudolf saja,” cetus Wisnu.
“Siapa dia?” Binar mengernyitkan kening sambil melipat tangan di dada.
“Dia yang punya villa bagus di dekat sini, Mbok. Orangnya baik sekali. Aku sering dibayar untuk mencuci mobilnya. Om Rudolf bilang kalau aku boleh meminta tolong apa saja padanya. Kebetulan aku belum pernah meminta tolong. Jadi, bisa kumanfaatkan saat ini,” jelas Wisnu dengan gaya bicaranya yang luwes mirip politisi.
“Ya, sudah kalau begitu. Tunggu apa lagi. Antar aku ke sana, Wisnu. Binar, kamu tunggu di sini," ujar Arsenio. Dia merengkuh pundak bocah SMP yang semakin terlihat bongsor itu dan mengajaknya ke teras, di mana Arsenio memarkirkan motor. “Sekalian kutitipkan motor dan tas ini padanya. Tidak apa-apa, ‘kan?”
“Oh tidak apa-apa, Mister." Wisnu melompat ke jok belakang dengan penuh semangat, setelah Arsenio menyalakan mesinnya. Dia menjadi penunjuk arah pada pria blasteran Belanda itu hingga tiba di depan sebuah rumah megah bergaya etnis. Bangunannya terbuat dari bata ekspos dan dilengkapi dengan pilar-pilar kayu yang menempel di dinding. Semuanya makin menambah kesan mewah sekaligus artistik.
“Biar kubuka gerbangnya, Mister.” Wisnu melompat turun dan membuka lebar-lebar gerbang kayu mengkilap yang cukup tinggi. Di dalam sana, ada jalan setapak yang membelah rerumputan hijau menyambut merek saat itu. Arsenio ikut turun dan menuntun motornya, mengikuti liku jalan setapak berlapis batu, hingga tiba di teras yang tampak lebar.
“Om Rudolf biasanya sering mengundang anak-anak desa untuk bermain di tempat ini tiap sore. Dia juga selalu meminjamkan buku-bukunya untuk dibaca oleh anak-anak,” jelas Wisnu seraya mengarahkan telunjuk ke arah rak-rak berjajar yang tertempel di pagar bata yang mengelilingi teras. Rak-rak itu penuh dengan buku-buku anak.
“Hm.” Arsenio mengangguk-angguk sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Namun, pandangannya terhenti pada pintu masuk ke dalam rumah, yang tiba-tiba saja bergerak dan terbuka.
“Hei, siapa di situ?” tanya sesosok pria yang baru saja keluar dari sana.
“Om Rudolf, aku mau menagih janji!” seru Wisnu sambil tersenyum lebar, membuat Arsenio menoleh dan memandang keheranan padanya.
“Kamu kah itu, Wisnu?” Pria bernama Rudolf itu berjalan mendekat. “Siapa dia?”
Tatap mata Arsenio beralih pada Rudolf. Diamatinya lekat-lekat pria yang memiliki tinggi sama dengannya. Berdasarkan perkiraan Arsenio, pria itu berusia sekitar akhir tiga puluh atau awal empat puluhan. Matanya berwarna biru cerah dengan senyuman yang menawan. “Hallo, ich bin Arsenio (Halo, namaku Arsenio).” kekasih Binar itu mengulurkan tangan.
Rudolf terkejut dan terbelalak. Tak disangka, pria tampan yang berdiri di hadapannya itu bisa berbicara dalam bahasa Jerman. “Kommst du auch aus deutschland (Apakah kamu juga berasal dari Jerman)?” sahutnya seraya balas menjabat tangan Arsenio.
“Tidak, hanya saja aku lama tinggal di Jerman. Aku dulu sempat kuliah dan bekerja di sana” jawab Arsenio, masih menggunakan bahasa Jerman.
“Aah, lalu apa hubunganmu dengan Wisnu?” Rudolf mengarhkan telunjuknya ke arah Arsenio dan Wisnu secara bergantian.
__ADS_1
“Er ist mein Schwager (Dia adik iparku),” jawab Arsenio sambil tersenyum.