Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Di Bawah Bintang


__ADS_3

Arsenio berjalan tergesa-gesa memasuki lift, untuk menuju lantai kamar di mana apartemen Prajna berada. Baru beberapa jam berpisah, rasanya dia sudah begitu rindu pada gadisnya yang cantik. Dengan penuh semangat, pria itu mengetuk pintu apartemen. Tak berapa lama, pintu itu terbuka lebar. Sesosok gadis cantik, berdiri dengan raut ceria untuk menyambutnya.


“Sudah pulang, Rain? Bagaimana semua urusan kamu?” tanya Binar dengan nada suara yang terdengar begitu lembut di telinga Arsenio.


“Sudah beres semuanya. Tinggal meminta restu pada orang tuaku,” jawab Arsenio sambil tersenyum menggoda. Dia menutup pintunya, lalu merengkuh tubuh ramping Binar dan menciuminya bertubi-tubi.


“Rain, aku harus menyelesaikan pekerjaanku,” tolak Binar seraya menjauhkan wajahnya dari Arsenio.


“Astaga, belum selesai juga? Sini, kubantu.” Pria rupawan itu menawarkan diri untuk membantu tanpa diminta. Dia memasuki kamar yang ditempati Binar, dan mendekat ke meja kecil yang terletak di depan jendela. Di atas meja itu, berserakan kertas-kertas yang tak terhitung banyaknya, beserta sebuah laptop milik Anggraini yang dipinjamkan kepada Binar.


“Bagian mana yang belum?” tanya Arsenio. Rautnya terlihat amat serius saat itu, menambah kadar ketampanan seorang Arsenio menjadi berkali-kali lipat.


“Hanya tinggal dua poin ini,” telunjuk lentik Binar menempel ke layar laptop.


“Oke.” Arsenio meraih kursi kecil yang berada di dekatnya, lalu duduk di samping Binar. Jemarinya lincah mengetikkan sesuatu. Beberapa kali dia menoleh pada Binar untuk bertanya, kemudian kembali serius menatap layar.


Gadis lugu itu hanya mampu terpana dengan sosok pria di sebelahnya. Bagi Binar, waktunya seakan membeku saat itu, ketika dirinya dengan leluasa dapat memperhatikan sekaligus mengagumi wajah Arsenio yang begitu tampan. Mulai dari rambutnya yang tersisir rapi ke belakang, iris mata coklat terang dengan sorot tegas mengarah pada layar laptop, hidung mancung yang terpahat sempurna serta bibir tipis kemerahan yang selama beberapa hari terakhir ini sibuk menjelajahi setiap lekuk bagian tubuhnya. Pantas saja jika banyak gadis yang tergila-gila padanya.


Binar terus memperhatikan mahkluk rupawan di sebelahnya sambil menopang dagu dengan kedua tangan. Sampai-sampai dia tak sadar kalau Arsenio telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya.


“Done!” seru pria itu antusias. “Sekarang aku lapar sekali. Apa kita makan di luar saja?” tawarnya.


“Oh, iya. Tentu!” Binar sempat tergagap. Namun dia segera dapat menguasai diri. “Makan di mana?” tanya gadis itu dengan polosnya, membuat Arsenio tak tahan untuk tidak melu•mat bibir ranum tersebut.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian dia tiba-tiba berhenti. Arsenio tampak berpikir sejenak, kemudian menggeleng. “Bagaimana kalau kita memesan makanan dan dimakan di atap gedung saja?” cetusnya lagi.


“Di atap gedung?” Binar mengernyitkan kening tanda tak mengerti.


“Kurasa, kalau aku mengajakmu makan di luar, aku akan membuatmu berada dalam bahaya,” papar Arsenio.


“Kenapa bisa begitu?” Binar semakin tak mengerti.


“Seperti yang kamu tahu, Wini menjelek-jelekkan aku di akun media sosialnya. Semua pengikutnya pasti telah menonton acara siaran langsung yang dia lakukan. Mereka pasti berasumsi bahwa aku telah berselingkuh dengan wanita lain. Bayangkan jika ada di antara pengikut Wini yang melihat kita berduaan di tempat umum. Mereka pasti akan berpikir macam-macam padamu dan ikut memusuhi dirimu,” jawab Arsenio panjang lebar.


“Ya, ampun. Jauh sekali pemikiranmu, Rain." Binar terbahak, memamerkan giginya yang putih dan tertata rapi serta lesung pipit yang tampak begitu menawan.

__ADS_1


“Memang sejauh itu jika menyangkut dirimu. Kamu harus selalu aman dan nyaman,” tegas Arsenio dengan sorot mata sendu yang lurus terarah kepada Binar.


Gadis itu terharu atas perlakuan Arsenio terhadap dirinya. Dia dapat melihat dengan jelas kesungguhan di mata cinta pertamanya itu. Binar pun mengangguk. Dia memilih untuk menurut semua yang dimau oleh Arsenio.


“Jadi, kita akan memesan apa?” tanya Binar dengan nada manja.


“Apapun yang ingin kamu makan malam ini,” jawab Arsenio.


“Um.” Binar mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu saat Arsenio menyodorkan layanan aplikasi pesan antar. Pada akhirnya dia memilih beberapa menu.


“Memangnya siapa yang makan kalau kamu memesan sebanyak itu?” Arsenio tertawa geli.


“Kan ada kamu,” balas Binar yang juga ikut tertawa.


“Oke, baiklah.” Arsenio menyentuh tombol pesan pada semua yang telah dipilih oleh kekasihnya.


“Kita nonton tv saja, yuk sambil menunggu pesanan datang,” ajak Binar. Dia menarik pergelangan tangan Arsenio, kemudian membawa pria itu ke ruang televisi.


“Asalkan jangan menonton saluran gosip atau infotainment,” ujar Arsenio pelan. “Aku tak mau kamu mendengar berita buruk tentangku di sana,” sambungnya.


Berbeda dengan Binar yang tenggelam dalam alur cerita film, benak Arsenio malah melayang membayangkan pertemuan dengan kedua orang tuanya nanti ketika mereka tiba di Indonesia. Tanpa sadar, Arsenio semakin mengeratkan pelukannya pada Binar.


Entah apa yang terjadi esok hari. Dia hanya berharap agar semuanya berjalan baik untuk dirinya maupun sang kekasih. Namun, seandainya semua tak berjalan dengan lancar, Arsenio memutuskan akan tetap mempertahankan gadis itu.


“Sayang.” Arsenio tertarik untuk menggoda gadisnya yang terlihat serius menonton film. Dia menjalarkan ciuman ke telinga dan leher jenjang Binar.


Akan tetapi, kenakalannya itu terpaksa harus berhenti, ketika terdengar ketukan di pintu. “Makanan sudah datang,” ucap Arsenio sembari berdiri, lalu membuka pintu.


Seorang kurir menyerahkan satu kantong plastik besar berisi beberapa kotak makanan. Arsenio menerimanya dan menyodorkan sejumlah uang pada si kurir.


“Ambil saja kembaliannya,” ujar Arsenio sambil menutup pintu.


Dia berbalik pada Binar, lalu berdiri tepat di depan gadis itu. “Ayo, ke atap!” ajak Arsenio. Tubuhnya bergerak mengikuti arah kepala Binar yang berusaha fokus pada televisi.


“Nanti saja menontonnya. Aku sudah lapar.” Tanpa permisi, Arsenio merebut remote dari tangan Binar dan mematikan televisinya.

__ADS_1


“Rain!” protes Binar merengut melihat sikap Arsenio yang seenaknya. Pria itu malah terbahak melihat ekspresi gadis cantik tersebut yang begitu menggemaskan.


“Kita makan di atap, atau kamu yang kumakan sekarang,” ancam Arsenio seraya menaikkan satu alisnya.


“Ya, ampun,” desah Binar. Mau tak mau dia mengikuti kemauan pria itu. Arsenio mengambil peralatan makan yang dibutuhkan beserta beberapa botol air mineral. Dia lalu memasukkannya ke dalam keranjang yang tadi sempat dirinya ambil dari dalam kabinet yang menempel di dinding dapur. Setelah itu dia beralih pada pintu kecil di sisi dapur yang berisi perkakas, lalu mengambil satu matras tipis yang tergulung rapi.


Melihat hal itu, Binar merasa sangat tidak nyaman. Perasaan marah dan cemburu kembali datang menghampiri. “Kalian dulu pasti akrab sekali,” celetuk gadis itu lirih.


“Kamu cemburu dengan seseorang yang sudah bersuami, Binar?” Arsenio mengulum bibir demi menahan tawa.


“Dulu kak Ghea juga bersuami waktu ....” Binar memalingkan muka dan memilih untuk tidak melanjutkan kata-katanya. "Banyak sekali wanita dalam hidupmu."


Arsenio mengempaskan napas pelan. Dia memilih untuk tidak menanggapi dan hanya memaksakan tawa. Mereka pun saling berdiam diri saat berjalan berdampingan memasuki lift dan berhenti di lantai teratas. Setelah itu, keduanya melanjutkan menaiki tangga ke atap.


Sejenak, Binar melupakan segala kecemburuannya. Perhatian gadis itu tertuju pada langit malam yang bertabur bintang. Angin berhembus pelan menerpa rambut panjangnya, membuat Binar merasa tenang.


“Kamu suka?” bisik Arsenio lirih sambil memeluk kekasihnya dari belakang. Binar menjawabnya dengan satu anggukan.


Setelah beberapa saat menikmati pemandangan dari atap, Arsenio melepas pelukannya. Dia menghamparkan matras, lalu mulai menata peralatan makan dan meletakkan botol-botol berisi air mineral serta kotak-kotak berisi makanan dengan dibantu oleh Binar.


“Duduk sini.” Arsenio menepuk-nepuk permukaan matras di sisinya. Tanpa banyak bicara, Binar menurut dan duduk di samping pria tampan itu.


“Apa kamu masih marah padaku, Sayang?” tanya Arsenio lembut sembari membuka kotak makanan dan menyerahkannya pada Binar.


Gadis itu tak menjawab. Dia malah memainkan potongan ayam di atas nasi pesanannya.


“Maafkan aku, ya. Kuakui dulu aku memang sempat tersesat. Namun, bukan berarti bahwa aku akan mengulangi kebodohanku lagi. Yang berada di masa lalu, tetaplah berada di masa lalu. Berikan aku kesempatan untuk menunjukkan kepadamu bahwa aku telah berubah,” tutur Arsenio bersungguh-sungguh.


“Tidak ada lagi yang menarik perhatianku selain hanya Binar seorang,” rayu pria itu saat Binar mencuri pandang ke arahnya.


Arsenio dapat bernapas lega ketika pipi Binar merona merah. Tandanya kecemburuan dan amarah sang kekasih telah sirna. “Jangan membayangkanku di masa lalu, karena kamu akan terluka. Pikirkan saja kebersamaan kita mulai detik ini, sampai selamanya,” ucap Arsenio.


“Rain.” Mata Binar berkaca-kaca mendengarkan perkataan sang kekasih. Dia sampai tak bisa berkata-kata dan hanya bisa mencium pipi Arsenio. Satu sentuhan kecil yang lagi-lagi membuat Arsenio begitu bahagia. Malam itu terasa begitu sempurna baginya, sampai sebuah pesan masuk ke ponsel. Arsenio membukanya lalu tertegun, ketika Anggraini lah pengirim pesan tersebut.


‘Datanglah ke rumah besok. Mama dan papa menunggumu’.

__ADS_1


Begitulah isi pesan singkat tersebut yang cukup membuat Arsenio kehilangan konsentrasi.


__ADS_2