Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Di Ujung Perselisihan


__ADS_3

“Jangan bermimpi kamu, Arsenio! Berdamai katamu?” Suara Yohana terdengar lemah, menyanggah ucapan Arsenio. Akan tetapi, dia tetap memaksakan diri membela kehormatan keluarganya.


“Saya rasa om Bian tidak memiliki pilihan. Di dalam sini, terdapat bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa om Bian sudah dengan sengaja menyabotase dua perusahaan milik papa. Saya juga telah mendapatkan bukti bahwa om Bian bekerja sama dengan beberapa orang dari jasa keamanan ilegal, untuk membuat kerusakan di rumah papa saya,” papar Arsenio sambil menunjukkan laptop yang dia bawa.


“Tidak mungkin! Aku tidak percaya sedikit pun!” sela Winona yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu ruang tamu.


“Izinkan aku masuk, maka aku akan membuktikan semuanya dengan jelas,” balas Arsenio dengan santai.


“Apakah Ajisaka pelakunya? Apa dia yang membobol data-data rahasia perusahaan?” terka Winona. Wajahnya memerah karena menahan emosi.


“Rasanya tidak pas jika kamu menggunakan kata ‘membobol’. Ajisaka adalah anak buahku, dan aku yang menyuruhnya untuk menyelidiki kejanggalan di perusahaan milik papaku sendiri,” terang Arsenio sambil memamerkan senyumannya yang menawan.


“Kau!” Biantara yang sedari tadi mencengkeram erat pegangan kursi roda, kini melangkah maju. Pria paruh baya itu bermaksud untuk menampar Arsenio. Akan tetapi, Winona lebih dulu mencegahnya.


“Tidak ada salahnya kita melihat dia mempermalukan diri sendiri, Pa. Bawa saja dia ke ruang kerja,” saran Winona sambil tersenyum sinis.


Biantara terdiam sejenak. Dia tampak sedang mempertimbangkan saran dari Winona. Pada akhirnya, dia mengangguk lalu menggerakkan tangan sebagai isyarat agar Arsenio mengikuti ke dalam.


Arsenio yang sudah hafal letak ruang kerja, segera menyetujuinya. Dia berjalan gagah di belakang Biantara. Ayahanda Winona tersebut, masih setia mendorong sang istri yang tak berdaya di atas kursi roda. Sedangkan Winona melangkah di samping sang ayah. Gerak tubuhnya selalu terlihat anggun dan memesona, padahal saat itu dirinya masih belum merapikan diri. Wajahnya masih polos, belum tersentuh make up.


Sesampainya di depan ruang kerja, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu lebar-lebar untuk Biantara dan Yohana. Mereka memasuki ruangan, diikuti oleh Winona. Arsenio masuk paling terakhir, sekaligus memposisikan diri tepat di depan meja kerja.


“Mana bukti-bukti yang kamu bilang tadi! Cepat tunjukkan!” sentak Biantara.


“Baik, Om.” Sikap Arsenio yang penuh hormat, membuat Yohana keheranan. Dia terus memperhatikan pria jangkung itu saat menyiapkan laptop di atas meja, lalu menyambungkannya pada layar proyektor yang sudah tersedia.


“Sebagai bukti awal, saya tunjukkan rekaman video yang berisi keakraban Anda dengan para pelaku pengrusakan di rumah papa.” Arsenio lihai menggerakkan mouse dan menggeser gambar demi gambar yang membuat Biantara terbelalak tak percaya.


“Kurang ajar kamu Arsenio! Bagaimana caranya kamu mencuri rekaman gambar CCTV kantorku!” Saking emosinya, Biantara sampai terengah-engah mengucapkan kalimatnya.


“Cara apapun akan saya lakukan demi melindungi papa dan mengembalikan apa yang menjadi hak miliknya, Om. Seperti halnya Wini yang akan melakukan apapun demi om dan tante,” sahut Arsenio pelan.

__ADS_1


“Bagaimanapun brengseknya saya, tetap saja tidak bisa mengubah status yang menyatakan bahwa saya adalah seorang anak. Adalah hal yang wajar jika anak sangat menyayangi kedua orang tuanya. Terlepas dari mereka memiliki pandangan dan pilihan yang berbeda. Hal itu sama sekali tak mengurangi rasa hormat dan sayang saya pada mereka,” lanjut Arsenio lagi.


“Pintar bicara kau, Sen,” cibir Winona seraya melipat kedua tangannya di dada.


“Lihatlah apa yang kutemukan, Win,” tunjuk Arsenio yang seolah tak memedulikan sikap ketus sang mantan tunangan. Setelah selesai menunjukkan seluruh rekaman CCTV, dia beralih pada satu flashdisk.


“File ini kuambil dari komputer pribadi milik Haris Maulana. Dengan terang-terangan dia mengacaukan data keuangan dua perusahaan. Pria itu bahkan berhasil membobol dana nasabah dan melenyapkannya entah ke mana,” jelas suami dari Binar itu panjang lebar.


“Kurang ajar,” geram Biantara. Kedua tangannya terkepal dan seakan siap dia layangkan ke arah Arsenio.


“Anda akan terkejut dengan apa yang saya temukan di dokumen-dokumen berikutnya,” ucap Arsenio lagi. Pria itu kembali tak memedulikan Biantara yang diliputi amarah luar biasa.


“Ajisaka berhasil meretas email pribadi Haris. Di sini, terlihat jelas bahwa dia tidak hanya mengirimkan data-data perusahaan papa saja ke alamat email tak dikenal. Akan tetapi, dia juga mengirimkan data-data perusahaan Anda,” terang Arsenio.


“Haris adalah asisten pribadiku dan dia hanya setia padaku!” sanggah Biantara.


“Ada baiknya Anda bersikap waspada pada pria itu, Om,” saran Arsenio mengingatkan.


“Katakan saja apa yang kau inginkan, Sen,” sambung Yohana. Kali ini nada bicaranya sedikit melunak.


“Seperti yang saya katakan sebelumnya, Om. Saya ingin berdamai,” tutur Arsenio.


“Cih, terlambat!” sahut Winona teramat ketus.


“Pikirkan sekali lagi, Win. Dalam situasi ini, hanya ada dua jalan keluar untuk masalah kita. Pertama, aku bisa menuntut keluarga Biantara Sasmita atas tindakan sabotase yang menyebabkan kerugian pada maskapai Rainier dan perusahaan investasi milikku. Aku juga bisa memperkarakan pengrusakan yang terjadi di kediaman papa atas perintah om Bian. Selain itu, aku dapat menuntutmu dalam hal penyalahgunaan jabatan yang berakibat pada kerugian perusahaan,” papar Arsenio panjang lebar, membuat mereka semua diam tak berkutik.


“Saya yakin, bahwa Anda pasti bisa menyewa pengacara terbaik yang akan membantu. Namun, reputasi anda sebagai pengusaha akan hancur. Nama besar Anda juga akan tercoreng dan tentunya kita semua paham bahwa bagi seorang pengusaha, kepercayaan publik adalah yang utama,” lanjut Arsenio.


“Kamu memang bajingan, Sen!” suara Biantara menggelegar, menggema di setiap sudut ruang kerjanya yang luas.


“Dulu saya memang seorang bajingan, Om. Akan tetapi, tidak untuk sekarang. Semua bukti sudah berada di tangan saya dan sewaktu-waktu bisa saya lemparkan kepada pihak yang berwajib. Selanjutnya, semua masalah ini akan kita selesaikan dengan melalui jalur hukum,” tegas Arsenio penuh percaya diri.

__ADS_1


“Lalu apa penawaranmu?” sentak Biantara beberapa saat kemudian. Dia tak mempunyai pilihan lagi selain mengikuti jalan permainan Arsenio.


“Saya akan menyimpan bukti-bukti kuat ini dan menutup kasusnya sekarang juga, asalkan Anda bersedia mengembalikan kondisi dua perusahaan papa seperti semula. Anda juga harus menyerahkan semuanya kepada saya,” ucap Arsenio.


“Mimpi saja kamu!” Biantara sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Dia berjalan memutari sang istri yang terduduk tak berdaya di atas kursi roda, lalu mendekat pada Arsenio. Dengan sekuat tenaga, Biantara memukul Arsenio dengan tangan kanannya. Pukulan itu telak mengenai pelipis dari wajah rupawan itu.


Namun, Arsenio terlalu tangguh. Baginya, pukulan itu tak seberapa menyakitkan. Dia bahkan bergeming di tempatnya dan tak terhuyung sama sekali. “Pikirkan penawaran saya baik-baik, Om. Kembalikan semuanya pada papa, maka saya akan menutup kasus ini. Anggap saja semua ini tak pernah terjadi. Nama baik Anda juga akan tetap terjaga,” ujarnya.


“Bagaimana jika aku menolak!” tantang Biantara.


“Seperti yang sudah saya katakan tadi. Dengan terpaksa, saya akan mengungkapkan kecurangan dan memperkarakan seluruh kejahatan Anda melalui jalur hukum. Namun, percayalah bahwa sebenarnya saya sungguh-sungguh tak menginginkan semua ini terjadi.” Arsenio menatap sendu ke arah Biantara dan Yohana. Iris mata coklat terangnya kemudian berhenti pada sosok Winona yang seakan telah kehabisan kata-kata.


Sesaat kemudian, tanpa ada yang menduga sama sekali. Tepat di hadapan Biantara dan juga Yohana, terjadilah sesuatu yang sama sekali tak pernah terbayangkan oleh seorang Winona. Arsenio tiba-tiba berlutut di hadapan wanita muda itu dan kedua orang tuanya.


Dengan raut wajah yang tak dapat diartikan, pria rupawan itu memandang bergantian pada Winona, Biantara, dan juga Yohana.


“Apa yang kamu lakukan, Sen! Kamu gila, ya?” Winona menggeleng tak mengerti.


“Seharusnya sudah sejak dulu aku berlutut meminta maaf pada kalian," ucap Arsenio menanggapi perkataan Winona. "Maafkan saya, om, tante. Maafkan aku, Wini. Baru sekarang aku menyadari, betapa sifatku yang tak terpuji, telah menyakiti dan menghancurkan kehidupan kalian,” sesal Arsenio.


“Lihatlah diri Anda, Tante. Dulu Anda selalu terlihat begitu ceria dan segar. Namun, sekarang … ” Arsenio menjeda kalimatnya, lalu menggeleng lemah. Dia terenyuh melihat Yohana yang berubah menjadi kurus kering.


“Om, saya tidak pernah melihat sosok pria sebijaksana Anda. Tidak juga pada diri papa saya yang seringkali bertindak di luar kendali. Sayalah yang mengubah Anda menjadi seperti sekarang. Terutama Wini ….” Arsenio kembali menghentikan kalimatnya untuk sejenak.


“Dwiki mengatakan padaku, bahwa selama ini aku tidak pernah bisa melihat sisi sebenarnya dari seorang Winona yang manis, ceria, dan senang sekali tertawa. Nyatanya, akulah yang menghancurkan kebahagiaanmu dengan pengkhianatanku, Win. Berulang kali aku menyakiti, tapi kamu selalu memaafkan dan menerimaku kembali.”


Seutas senyuman samar, tersungging dari bibir tipis Arsenio.


“Cintamu dulu begitu luar biasa padaku, Wini. Sayangnya, aku tak pernah bisa melihat hal itu. Dari awal, aku memanglah bukan laki-laki yang tepat untukmu,” sambung Arsenio.


“Kuharap, kamu bisa menemukan seseorang yang bisa menghargai dan mencintaimu sepenuh hati, karena kamu memang pantas mendapatkan itu semua. Saat ini, kehidupanku pun telah banyak berubah. Tak lama lagi, aku akan menjadi ayah."

__ADS_1


__ADS_2