
“Apa kamu tahu apa yang sedang direncanakan oleh om Bian?” Arsenio kembali melontarkan pertanyaan pada Anika.
“Um, aku tidak tahu apapun, Sen. Aku hanyalah sekretaris biasa,” sahut Anika menggeleng pelan sembari berpikir, “yang aku tahu hanyalah seputar masalah kantor,” imbuhnya.
“Baiklah, kalau begitu.” Arsenio mengempaskan napas panjang, lalu menoleh pada Binar yang ternyata masih serius mendengarkan. Dia lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Anika. “Apa aku bisa minta nomor teleponmu?” tanyanya.
Sontak Binar melotot tajam pada sang suami. Sementara tangan kanannya erat mencengkeram gelas smoothies. Namun, Arsenio buru-buru mengambil gelas itu sebelum remuk dan isinya meluber ke mana-mana.
“Aku membutuhkan nomormu untuk mencari tahu berita terbaru seputar om Bian,” jelasnya.
“Oh, tentu! Dengan senang hati!” sahut Anika ceria, lalu menyebutkan sederetan angka yang segera disimpan oleh Arsenio.
“Asal kamu tahu, aku yang memegang ponsel suamiku. Jadi pesan apapun yang masuk, aku yang membalasnya,” dengus Binar dengan muka ditekuk.
“Istriku memang pencemburu berat, tapi aku suka.” Arsenio menanggapi sikap berlebihan sang istri dengan ciuman di pipi. Dia bahkan mencubit gemas pipi Binar sambil tergelak.
Sedangkan Anika yang memperhatikan semua itu, terus menunjukkan sorot mata terpana untuk beberapa saat lamanya sampai terdengar ponsel berdering. Wanita itu buru-buru membuka dompet kemudian merogoh telepon genggam. “Aku harus pulang, karena ibuku sudah menunggu,” ujarnya setelah menutup telepon. “Main-mainlah ke rumah, Sen. Letak rumahku terpaut dua blok dari sini,” ujar Anika, “atau biar aku saja yang mampir kemari setelah pulang kerja,” cetusnya.
“Rain!” Belum sempat Arsenio menjawab, Binar sudah mendaratkan cubitannya di pinggang sang suami.
“Astaga. Sudahlah, An. Kalau ada perlu, cukup katakan saja lewat pesan singkat,” ujar Arsenio sambil meringis.
“Itu juga bisa.” Anika tersenyum lebar, lalu berpamitan.
Sepulangnya wanita tersebut, Binar buru-buru menutup pagar dan pintu rumah. Dia juga menguncinya sebelum bergegas memasuki kamar dengan wajah cemberut.
“Jangan salah paham, Sayang. Aku meminta nomor teleponnya hanya untuk mencari informasi,” bujuk Arsenio yang setia mengikuti langkah Binar melintasi ruang tamu.
“Rumahnya dekat dari sini. Itu artinya dia akan sering mampir kemari,” gerutu Binar. “Awalnya membicarakan masalah kantor, lama-lama bisa merembet ke mana-mana. Katakan padaku, apakah dulu kalian ...." Binar menatap tajam sang suami yang tengah mengunyah cakwe setelah mencocolnya pada saus.
"Tidak ada yang istimewa. Dia hanya selingan ...." Arsenio seketika tersedak karena ucapannya sendiri. Lagi-lagi, dirinya keceplosan.
"Dasar!" dengus Binar.
“Ayolah, Sayang,” Arsenio mengacak-acak rambutnya dengan satu tangan. Namun, Binar tak menjawab. Dia malah berlalu ke dalam kamar, kemudian membaringkan diri di atas kasur sambil membelakangi sang suami yang mengikuti dan berdiri di sisi ranjang.
“Memangnya sedekat apa kalian berdua dulu?” tanya Binar tanpa mengubah posisinya.
__ADS_1
“Sudah kujawab tak ada yang serius. Dia sekretaris om Bian. Aku sering bertemu dengannya saat meeting bersama,” jawab Arsenio setelah menghabiskan gigitan cakwe terakhirnya.
“Lalu?” Binar berbalik sembari memicingkan matanya.
“Ya hanya kencan biasa beberapa kali,” ungkap Arsenio dengan enteng.
“Apa? Beberapa kali?” Binar mendengus kesal, kemudian kembali pada posisinya semula.
“Apa salahnya, Sayang? Itu semua sudah berlalu.” Tiba-tiba saja Arsenio merasa begitu lelah. Dia ikut berbaring di sebelah sang istri dengan posisi telentang sambil menatap ke langit-langit ruangan. Dia menekuk dua tangannya ke belakang kepala dan menggunakannya sebagai penyangga.
“Rumah Anika dekat dari sini, Rain. Itu artinya dia akan sering mendatangimu dengan mudah,” ujar Binar seakan memancing.
“Jadi bagaimana, Sayang? Apakah kamu akan melarang dia untuk datang kemari?” Arsenio yang awalnya menatap langit-langit, kini menoleh pada Binar.
“Kalau bisa, aku ingin menjauhkan kamu dari semua perempuan yang berasal dari masa lalumu,” sahut Binar.
“Apa kita pindah saja dari sini?” cetus Arsenio lirih.
“Pindah ke mana?” Binar langsung membalikkan badan jadi menghadap kepada suaminya.
“Ke rumahmu?” Mata indah Binar terbelalak sempurna. Sekelebat kenangan yang pernah dia lalui di sana, hadir dan memenuhi benaknya.
“Mama dan papa sudah merestui kita. Kurasa tak masalah jika kita tinggal di sana,” ucap Arsenio sembari membelai lembut pipi Binar.
“Ya, tapi ….” Binar seakan ragu untuk menyetujui tawaran itu.
“Apa yang kamu takutkan?” Arsenio tak tahan untuk tidak menyentuh bibir kemerahan sang istri.
“Aku takut tersesat. Rumahmu besar sekali,” jawab Binar polos.
“Astaga.” Arsenio terbahak kemudian mengecup seluruh permukaan wajah cantik Binar. “Nanti aku yang menuntunmu supaya tidak tersesat," ujarnya.
“Bolehlah kalau begitu,” sahut Binar setelah berpikir sedikit lama. “Kapan kita pindah?”
“Lebih cepat lebih baik. Jujur saja, aku senang kembali ke rumah itu, sebab di sana menyimpan banyak kenangan tentang kita,” jawab Arsenio sambil merengkuh tubuh Binar, lalu meletakkan kepala wanita muda tersebut di dadanya. Setelah itu, dia mendekap sang istri erat-erat.
“Aku masih ingat waktu kamu pertama kali datang bersama Chand untuk sarapan bersama. Kamu terlihat sangat cantik dan segar memakai gaun berwarna biru.” Mata coklat terang Arsenio menerawang menembus langit-langit ruangan.
__ADS_1
“Kamu juga sangat tampan, Rain. Rasa-rasanya aku belum pernah melihat seseorang setampan kamu.” Binar tersenyum simpul. Pipinya bersemu merah saat membayangkan awal pertemuan dengan suaminya dulu.
“Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu dan dapat memiliki dirimu, Sayang,” ujar Arsenio dengan suara yang pelan dan dalam. “Sekarang tidurlah.” Erat tangannya melingkar di tubuh ramping Binar.
...****************...
Keesokan harinya, Arsenio dan Binar berkemas lalu berpamitan pada Dwiki yang tengah sibuk mengurus penginapan. Saking sibuknya, sampai-sampai hari itu terpaksa Dwiki menonaktifkan alat pelacak yang tertempel di mobil Winona.
Dari penginapan, pasangan suami istri itu langsung menuju kediaman Rainier yang menjadi tempat tinggal kedua orang tua Arsenio di Jakarta. Tak ada yang berubah dari rumah mewah itu. Setiap sudutnya masih tetap sama. Demikian pula para pelayan dan penjaga rumah yang bekerja di sana. Semua tetap pada formasi awalnya.
Mereka cukup terkejut waktu Arsenio datang. Namun, tak lama kemudian semuanya menyambut hangat sang majikan tampan bersama Binar.
Arsenio langsung mengajak sang istri untuk memasuki kamarnya. Sebuah ruangan luas yang didominasi oleh warna putih dan hitam serta berbagai macam perabot yang bergaya minimalis serta elegan.
“Baru pertama kali ini aku masuk ke sini, Rain.” Binar menghirup udara dalam-dalam sambil merentangkan tangan. Padahal sudah setahun lebih kamar itu tak ditempati. Namun, aroma Arsenio masih tetap melekat di ruangan tersebut. “Siapa saja yang pernah masuk ke mari?” tanyanya.
“Tolong jangan mulai lagi, Sayang.” Arsenio memijit pelipis saat menyadari kalimat pancingan dari Binar.
“Winona? Indah?” cecar wanita muda itu.
“Hanya Winona,” jawab Arsenio malas-malasan.
“Hm, masuk akal karena Winona mantan tunanganmu,” celetuk Binar. “Aku akan berkeliling, Rain.” Istri dari Arsenio tersebut keluar dari ruangan sambil merentangkan tangan.
“Aku akan tetap di sini untuk mengurus sesuatu!” seru Arsenio pada Binar yang sudah menghilang dari pandangan. Dia lalu mendekat ke meja yang biasa digunakan untuk mengerjakan tugas kantor. Di sana terdepat sebuah laptop pribadi yang tak sempat dia bawa saat terusir dari rumahnya dulu.
Arsenio menyalakan laptop. Dia serius membuka ikon email di layar monitor. Ratusan surat elektronik masuk ke alamat emailnya yang lama yang langsung terafiliasi dengan kantor Rainier Airlines. Beberapa di antara email masuk tersebut, berasal dari alamat email yang terlihat asing.
Arsenio kemudian mengarahkan kursor ke pesan masuk yang berada di posisi teratas.
“Bayu?” gumam Arsenio pelan. Teringat olehnya cerita Anggraini yang mengatakan bahwa Bayu adalah asisten Lievin yang baru.
Penasaran, Arsenio membuka pesan tersebut. Dia pun semakin mengernyit saat membaca isinya.
Data perusahaan sudah diretas. Ada yang berusaha menyabotase software maskapai dan mengacaukan semuanya. Kapan Anda kembali ke Indonesia?
Demikian isi dari email tersebut.
__ADS_1