Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Di Antara Kebun Kopi


__ADS_3

Bus antar propinsi yang ditumpangi Arsenio dan Binar telah keluar dari kawasan pelabuhan Gilimanuk. Arsenio patut bersyukur karena penderitaan yang dia alami telah berakhir, walaupun wajahnya masih tampak pucat. “Minum lagi, ya,” ucap Binar seraya menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diteguk oleh pria blasteran Belanda itu.


“Terima kasih, Sayang," Tanpa permisi dan sungkan, Arsenio langsung mengecup bibir Binar. Tak peduli jika di dalam bus penuh oleh penumpang.


“Rain. Ini Indonesia, bukan Belanda.” Binar merengut sebagai bentuk protes.


“Mualku hilang sepenuhnya kalau aku menciummu,” celetuk Arsenio yang segera disambut dengan cubitan pelan di pinggang. Sedangkan pria itu hanya tertawa, lalu merengkuh Binar dan memeluknya hangat.


“Berapa lama lagi kita duduk di bus ini, Binar? Punggungku mulai pegal-pegal,” Arsenio mulai mengeluh lagi.


“Tadi kamu bilang kalau sudah terbiasa waktu naik pesawat,” sahut Binar seraya menahan tawa.


“Iya, tapi di sini gerakku terbatas. Jarak antar kursinya terlalu dekat. Aku dulu masih bisa berjalan-jalan ke sana kemari di dalam pesawat. Aku juga ….” Arsenio menghentikan kalimatnya. Tak mungkin jika dia menceritakan pada sang kekasih, bahwa saat itu dirinya sempat mengencani salah satu pramugari pesawat sebagai penghilang rasa suntuk.


“Apa?” desak Binar. Dia menunggu kata berikutnya keluar dari mulut Arsenio.


“Tidak ada,” sahut Arsenio meringis lucu, lalu merebahkan kepalanya di bahu Binar. “Bangunkan aku saat tiba di Denpasar nanti, ya,” pesannya.


“Iya,” balas Binar. Dia terus menahan tawanya. Satu lagi sisi lain yang Binar ketahui dari sosok Arsenio. Pria itu bisa berubah menjadi sedikit manja, seperti saat ini. Gemas, gadis itu mengacak-acak rambut Arsenio yang mulai terlelap, lalu ikut meletakkan kepalanya di kepala sang kekasih. Setelah itu, Binar meraih tangan Arsenio, di mana terdapat cincin platinum hitam pada jari telunjuknya.


Tak berselang lama, Binar terbangun ketika dirinya menangkap tulisan penunjuk jalan saat bis berhenti di lampu merah. “Rain, kita sudah sampai di Denpasar.” Gadis itu menepuk pipi Arsenio pelan. Sedangkan kekasihnya masih saja terlelap seperti bayi. Wajah tampannya pun terlihat begitu polos saat tertidur.


“Rain,” panggil Binar seraya menjepit lubang hidung Arsenio menggunakan kedua jarinya. Merasa tak bisa bernapas dengan lancar, Arsenio terbangun dan menegakkan badan.


“Di mana ini?” tanyanya sambil mengumpulkan kesadaran.


“Sebentar lagi kita memasuki terminal,” sahut Binar.

__ADS_1


“Oh, baiklah.” Arsenio mulai bersiap-siap. Dia mengambil ransel besar, kemudian meletakkannya di pangkuan. “Bagaimana perasaanmu, Sayang? Apa kamu senang?” tanyanya lagi.


“Senang dan sedih,” jawab Binar sembari menunduk.


“Kenapa bisa begitu?” Arsenio mengernyitkan keningnya.


“Senang karena akan bertemu Wisnu dan Praya. Sedih karena teringat akan … um ….” Binar terlihat ragu-ragu.


“Apa? Katakan saja,” desak Arsenio.


“Salah satu alasanku pergi dari Bali selain untuk mencari keberadaanmu adalah, Surya .…” Memori Binar memutar momen menakutkan itu dalam kepalanya.


“Surya?” ulang Arsenio.


“Waktu itu Surya berusaha menodaiku,” tutur Binar lirih, lalu memalingkan muka ke arah jendela.


Rahang Arsenio seketika mengetat dengan tangan yang terkepal erat. “Berani sekali dia,” desisnya menahan emosi.


“Begitu rupanya. Wanita itu benar-benar ....” Arsenio memijit pelipisnya, tak habis pikir jika ada seseorang seperti ibu tiri Binar tersebut.


“Sudahlah, semua sudah berlalu. Yang penting adalah Wisnu dan Praya.” Binar menyentuh dan mengusap lembut pipi Arsenio. Dia mengakhiri percakapan itu dengan ciuman di pipi. Saat itu, bus sudah memasuki terminal dan berhenti di tempat penurunan penumpang.


“Ayo.” Arsenio berdiri lebih dulu, lalu memakai ranselnya. Dia lalu menuntun tangan Binar untuk membawanya turun.


“Sekarang kita akan mencari alamat Wisnu dan Praya di mana?” tanya Binar sesaat setelah dirinya keluar dari bus dan melangkah ke peron.


“Aku sudah memasukkan alamatnya di aplikasi peta. Lihat ini.” Arsenio menunjukkan layar ponselnya pada Binar.

__ADS_1


Binar terbelalak membaca alamat yang tertulis di sana. “Jadi, adik-adikku ada di sini? Mereka pindah ke Denpasar?” serunya.


“Iya, tapi sepertinya lokasi desa yang mereka tinggali agak jauh dari sini,” ucap Arsenio.


“Kita menyewa motor saja. Akan lebih mudah jika kita mencari alamat dengan memakai motor,” cetus pria rupawan itu. Wajahnya memerah menahan panasnya suhu udara siang itu.


“Apa kamu betah dengan panasnya, Rain?” Binar agak ragu mendengarkan ide dari kekasihnya.


“Tenang saja, Sayang. Aku bukan es krim yang gampang meleleh,” canda Arsenio.


Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menyewa motor, tak jauh dari area terminal. Cukup sulit bagi mereka untuk mencari alamat, meskipun dibantu dengan aplikasi di ponsel. Setelah dua jam berkeliling, barulah mereka tiba di sebuah rumah yang berjarak cukup jauh dari rumah-rumah lainnya.


Bangunan kecil itu berdiri sendiri dan berbatasan langsung dengan sungai kecil juga kebun kopi. “Apa benar itu rumahnya?” Binar ragu-ragu turun dari motor bebek yang disewa oleh Arsenio.


“Kita coba saja.” Arsenio ikut turun dari motor, lalu menuntun kendaraan roda duanya hingga berhenti di depan teras sederhana.


Binar mengetuk pintu rumah itu pelan. Tak ada jawaban, gadis itu mengetuk kembali dengan lebih kencang. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Wajah seorang wanita paruh baya muncul di sana. Wajah yang begitu Binar benci karena kembali mengingatkannya pada pengamalan paling buruk dalam kisah yang terlewati.


“Kamu!” Wanita yang tak lain adalah Widya itu sama terkejutnya dengan Binar. “Mau apa kamu ke sini?” sentaknya setengah ketakutan. Apalagi dilihatnya tubuh jangkung Arsenio menjulang di belakang anak tirinya tersebut.


“Aku cuma mau bertemu adik-adikku,” sahut Binar tak kalah ketus. “Di mana mereka?”


“Mereka tidak ada di sini!” Buru-buru Widya berusaha menutup pintu. Akan tetapi, Arsenio lebih dulu menahan pintu tersebut. Binar juga ikut membantu mendorong pintu sampai dia berhasil merangsek masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Arsenio. Tentu saja tenaga Widya kalah jauh oleh Binar yang dibantu kekasihnya.


“Wisnu! Praya! Mbok datang!” Binar berseru nyaring sembari berjalan menjelajahi rumah sederhana itu. Dia membuka satu demi satu tirai yang berada di bagian dalam rumah Widya.


“Sudah kubilang mereka tidak ada di sini!” Widya bermaksud untuk menghentikan gerak Binar. Namun, dengan segera Arsenio menghalanginya. Pria itu berdiri tegak di hadapan Widya. Emosinya kembali memuncak kala mengingat cerita Binar tentang ibu tirinya. Seandainya Widya adalah laki-laki, pasti Arsenio sudah menghajarnya habis-habisan saat itu juga.

__ADS_1


Sementara itu, Binar sudah sampai di bagian belakang rumah, yaitu dapur. Betul kata Widya, adik-adiknya tak terlihat di manapun. Akan tetapi, dirinya tak ingin menyerah. Dibukanya pintu dapur lebar-lebar. Tampaklah hamparan kebun kopi, tak jauh dari halaman belakang rumah Widya tersebut.


Binar sudah berniat membalikkan badan tatkala tak menemukan apa-apa di kebun kosong itu, ketika dia melihat dua sosok anak dari kejauhan yang keluar dari arah kebun. Mata Binar membulat dan tersenyum lebar, saat dia dapat memastikan bahwa kedua sosok itu adalah adik-adiknya.


__ADS_2