
"Seperti yang Papa katakan tadi, aku akan keluar dari sini tanpa membawa apapun. Kecuali untuk mobil Range Rover itu. Aku mendapatkannya dari hasil menjual rancangan sketsa gedung pencakar langit tahan gempa pada pengusaha Jepang dua tahun yang lalu," tutur Arsenio masih dengan sikap kalem. Dia tak boleh menunjukan keresahan dalam dirinya.
"Sen, cukup! Hentikan kegilaan ini!" pekik Anggraini. "Kembalilah bersama kami, kita mulai semuanya dari awal," bujuk wanita paruh baya itu setengah putus asa. Bagaimanapun juga, hatinya sebagai seorang ibu tak akan tega melihat putra yang dia lahirkan serta rawat dengan penuh kasih sayang, harus berada dalam kehidupan yang tak selayaknya.
Betapa resahnya hati Anggraini dulu saat mendengar kabar menghilangnya Arsenio. Saat putranya telah kembali, tentu dia tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
"Sekali lagi aku bertanya padamu, Ma. Apakah kebahagiaanku penting untuk kalian berdua? Pernahkah kalian berpikir sedikit saja tentang kebahagiaanku? Sampai kapan mama dan papa akan memaksakan kehendak seperti ini?" sorot mata Arsenio berubah sendu.
"Aku mencintai Binar. Itu kenyataan yang tak bisa dipungkiri lagi. Tidak ada yang bisa kalian lakukan untuk menghapus rasa cintaku terhadapnya. Apalagi hanya dengan iming-iming harta," sambung Arsenio. Dia memandang ke arah Lievin dan Anggraini secara bergantian.
"Baik, jika memang itu sudah menjadi keputusanmu. Mulai detik ini, anggap saja aku tidak pernah memiliki anak bernama Arsenio Wilhelm Rainier. Namamu akan kuhilangkan dari silsilah pohon keluarga. Kau juga tidak akan menerima pembagian warisan dariku," tegas Lievin dengan mimik wajah yang penuh emosional.
Sedangkan Anggraini memilih untuk tidak berkomentar lagi. Dia memalingkan muka agar siapa pun tak bisa melihat air matanya. Tak pernah diduga bahwa sikap Arsenio akan sekeras itu menentang kedua orang tuanya.
"Aku menerima semuanya, Pa. Terima kasih karena telah membesarkanku hingga menjadi seperti sekarang. Maaf untuk segala keegoisan dan sikapku yang mengecewakan kalian. Aku akan tetap menyayangi mama dan papa meskipun namaku sudah terhapus dari buku keluarga, dan walau jarak kita tak lagi dekat," tutur Arsenio lirih.
"Ah." Anggraini langsung berlalu meninggalkan ruang tamu. Terdengar isakan pelan wanita itu saat melangkah ke bagian dalam rumah.
"Kau akan menyesal, Arsen!" geram Lievin seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Selama bersama Binar, aku tak akan menyesal." Arsenio menoleh kepada Binar yang lebih banyak menunduk. Pipi gadis itu sudah basah oleh air mata.
"Tot ziens (selamat tinggal), Papa. Semoga kau selalu berbahagia." Arsenio membungkuk penuh hormat, kemudian membalikkan badan sambil terus menggenggam tangan Binar. Mereka lalu berjalan menuju halaman tempat Arsenio memarkir mobilnya.
"Kembali ke sini sekarang juga, Arsen! Jangan jadi anak durhaka! Mono, hentikan dia!" Lievin seakan kehilangan akal sehatnya. Dia berteriak-teriak seperti orang gila. Sementara asisten rumah tangga dan sopir pribadi yang sempat dipanggil namanya itu sama sekali tak berani mendekat.
Hanya dua orang satpam yang biasa berjaga di samping gerbang, ragu-ragu menghampiri Arsenio. "Tidak usah ikut campur. Saat ini aku masih mempunyai kekuatan untuk menendang kalian jika berani macam-macam padaku," ancam Arsenio. Kedua orang itu langsung mundur teratur dan kembali ke posnya masing-masing.
Arsenio lalu membukakan pintu mobil dan membantu Binar duduk. Setelah itu, dia memutari kendaraan dan duduk di belakang kemudi. Dari kaca spion tengah, Arsenio menangkap sosok sang ayah yang tajam memandang ke arahnya sambil berkacak pinggang.
Arsenio pun melajukan kendaraan sesaat setelah gerbang tinggi menjulang yang menjadi simbol kemewahan kediaman Rainier bergerak terbuka.
Ketika memutar kemudi meninggalkan kawasan perumahan elite tersebut, Arsenio sempat melirik pada Binar. Gadis itu masih menangis sesenggukan sambil menutupi wajah cantiknya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Sudahlah, Sayang. Mau sampai kapan kamu menangis seperti ini?" tanya Arsenio lembut.
Akan tetapi, tangisan Binar malah semakin menjadi. Dia terus menumpahkan perasaannya sampai tubuh ramping itu gemetar.
"Binar, please, stop. Kamu membuatku khawatir," pinta Arsenio.
Lagi-lagi, Binar tak mengindahkan kalimat Arsenio. Dia terus saja menangis, sehingga membuat Arsenio tak bisa konsentrasi menyetir. Dia pun menepikan kendaraan dan memusatkan seluruh perhatian pada gadis yang telah membuatnya tergila-gila.
"Kamu tahu tidak apa rencanaku setelah ini?" tanya Arsenio berharap dapat membujuk gadis itu. "Binar, jawab aku," gemas, Arsenio menarik kedua tangan Binar yang sedari tadi menangkup wajahnya.
"Tolong berhentilah menangis, Sayang. Aku sudah diusir dari rumah. Saat ini, yang paling kubutuhkan adalah senyumanmu untuk menghiburku," bujuk Arsenio lagi.
Binar yang terisak, menoleh pada Arsenio dengan sorot sendu. "Aku yang membuatmu diusir," ucapnya lirih. "Aku yang merusak hubungan kalian," imbuhnya.
"Tidak! Kamu salah! Yang membuatku diusir adalah aku yang tidak mau tunduk sama sekali dengan perintah papa," tegas Arsenio. "Aku tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi, dengan atau tanpa adanya dirimu, aku pasti akan pergi dari rumah itu," lanjutnya.
"Binar, ayolah. Berhentilah menangis." Arsenio mengusap pipi Binar, lalu mendekatkan wajah. Diciuminya bibir merah itu dengan penuh perasaan. "Kalau kamu mau tersenyum, aku akan memberimu hadiah," ujarnya sesaat setelah melepaskan bibir sang kekasih.
"Apa?" tanya Binar dengan polosnya.
"Rain, aku sedang tidak ingin bercanda," tolak Binar sambil membuang muka ke arah jendela.
"Oke, oke." Arsenio tertawa renyah, lalu menyalakan mesin mobilnya kembali. Dia melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, kemudian berhenti di depan sebuah kedai es krim. Tanpa banyak bicara, Arsenio langsung turun dari mobil dan meninggalkan Binar yang tengah kebingungan.
Tak lama kemudian, dia kembali sambil memegang dua buah es krim berukuran besar berbentuk kerucut. Sedikit kesusahan dia membuka pintu mobilnya, kemudian duduk kembali di belakang kemudi.
"Biasanya aku tidak membiarkan seorang pun mengotori mobil. Terlebih membawa dan memakan makanan di dalam sini," celoteh Arsenio seraya menyodorkan satu buah es krim berwarna merah pada kekasihnya.
"Namun, hari ini spesial untuk Binar. Kamu boleh mengotori mobil ini semaumu, bahkan kalau kita ...." Arsenio menghentikan kata-katanya, kemudian memandang Binar dengan tatapan menggoda.
"Stop, Rain!" Binar yang kesal, mengarahkan pucuk es krim red velvetnya ke ujung hidung Arsenio. Setitik es krim menempel di hidung mancung pria tampan itu, yang akhirnya membuat Binar terbahak.
"Kubilang kotori mobilku, bukan wajahku," gerutu Arsenio dengan mimik dibuat-buat, kemudian ikut tertawa bersama Binar.
__ADS_1
"Astaga, Rain. Padahal baru saja kamu diusir oleh keluargamu, tapi kenapa masih bisa bersikap ceria seperti ini?" ujar Binar sambil menggeleng pelan.
"Itu karena aku menghadapi hari ini bersamamu, Sayang." Arsenio membelai pipi Binar sebelum kembali memakan es krimnya. "Selain itu, aku yakin jika suatu saat orang tuaku akan menerima hubungan kita. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti. Kita hanya cukup bersabar sampai waktu itu tiba," sambung Arsenio optimis.
Mata Binar kembali berkaca-kaca. Rasa kasihan, cinta, dan kasih sayang yang besar untuk Arsenio begitu terasa di dalam hatinya. Kesedihan Arsenio, tentu menjadi kesedihan Binar juga. "Apa yang bisa kubantu untuk meringankan bebanmu, Rain?" tanya gadis itu.
"Ehm." Arsenio memasang raut berpikir, kemudian menatap Binar lekat-lekat. "Bagaimana kalau ...." pria itu membiarkan kalimatnya menggantung.
"Apa?" Binar mulai penasaran.
"Habiskan dulu es krimmu, baru kuberitahu," jawabnya sembari tersenyum lebar.
"Astaga," keluh Binar.
"Kita adakan lomba, siapa yang paling cepat memakan es krim ini. Yang kalah, akan mendapatkan hukuman," tutur Arsenio.
"Lalu, yang menang?" Binar mengernyitkan keningnya.
"Yang menang bisa meminta apapun dari yang kalah," Arsenio menaikturunkan alisnya.
"Baiklah." Binar antusias menjilat dan menggigit es krimnya banyak-banyak. Namun, tetap saja dirinya kalah dengan Arsenio yang langsung melahap semuanya.
"Ya, ampun, kamu curang!" protes Binar.
Sementara Arsenio tak peduli. Dia malah tertawa puas dan ikut menjilati es krim Binar. "Peraturan tetap berlaku," ujarnya kalem.
"Ya, sudah, terserah kamu. Kamu ingin meminta apa dariku," sahut Binar malas-malasan.
"Aku ingin ....." Arsenio menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatap nakal kepada Binar.
"Jangan aneh-aneh, ya! Kita sedang berada di pinggir jalan," tolak gadis cantik itu sembari merengut.
Arsenio kembali tergelak. "Ayolah, Sayang. Aku ingin membuat kenangan terakhir dengan mobil ini," rayunya.
__ADS_1
"Kenangan terakhir? Memangnya kamu mau ke mana?" cecar Binar was-was.
Arsenio terkekeh, lalu terdiam untuk beberapa saat. "Aku akan menjual mobilku untuk biaya hidup kita sementara. Setelah ini aku tidak mempunyai pemasukan. Semua usahaku diminta oleh papa. Aku juga dipecat dari perusahaan. Seperti yang papa bilang tadi, aku keluar dari rumah dengan tidak membawa apapun," sahutnya pilu.