
Rasa ingin tahu semakin memenuhi pikiran wanita cantik itu. Winona pun nekat mengambil ponsel milik Arsenio. Dia bahkan bermaksud hendak menjawab panggilan telepon tersebut. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, Arsenio sudah lebih dulu keluar dari walk in closet dan berjalan menghampiri tunangannya yang tengah berdiri terpaku di dekat ranjang. “Sedang apa kamu?” tanya Arsenio heran.
Winona terperanjat kaget. Dia segera membalikkan badan. Secara spontan dia menyerahkan ponsel tadi kepada Arsenio. “Telepon dari Dwiki,” ucapnya pelan. “Siapa Dwiki?” tanya wanita itu kemudian.
Arsenio sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Winona. Dia malah keluar dari kamar dan berjalan tergesa-gesa menuju teras depan. Di sana, seorang sopir keluarga sudah menyiapkan kendaraan yang akan dia gunakan untuk berangkat ke kantor.
Fabien juga sudah menunggu sambil memainkan ponselnya di kursi teras.
“Lama sekali. Apa yang kalian lakukan di dalam sana? Bermesraan dulu, ya?” goda pria muda itu sambil tertawa lebar. Lagi-lagi Arsenio tak menghiraukannya. Dia segera masuk ke dalam mobil, lalu duduk di sebelah kursi sopir.
Berbeda dengan Winona yang tampak tersenyum getir. Dia lalu menanggapi ucapan calon adik iparnya tersebut.
“Jangankan bermesraan, kudekati saja dia langsung menolak,” keluh Winona seraya mengempaskan tubuhnya di kursi belakang, bersebelahan dengan Fabien. Sementara yang menjadi topik pembicaraan mereka yaitu Arsenio, malah asyik mengoperasikan ponsel tanpa memedulikan sekelilingnya.
“Menolak?” ulang Fabien dengan heran. Pemuda itu lalu terdiam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sejauh yang dia tahu, Arsenio tak pernah menolak gadis manapun yang datang padanya, terlebih jika dia cantik dan sesuai kriteria. Contoh nyatanya adalah seperti Winona yang berada jauh di atas rata-rata. Merasa tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang menggunung di benaknya, Fabien melirik ke arah Winona yang sepertinya juga tengah memikirkan sesuatu.
Fabien memutuskan untuk mencondongkan tubuhnya sembari mencolek lengan tunangan Arsenio tersebut. “Siapa perempuan yang dikejar kakakku sekarang?” bisiknya.
Winona setengah terkejut mendengar pertanyaan Fabien. Dia menoleh sambil menautkan alis, kemudian menggeleng pelan. “Sebelum mengalami kecelakaan, Arsenio dekat dengan banyak perempuan. Salah satunya adalah Ghea dan juga Indah.” Winona balas berbisik. Suaranya begitu pelan karena takut Arsenio akan dapat mendengarnya.
“Lalu, bagaimana setelah kecelakaan?” tanya Fabien lagi.
Winona tampak berpikir untuk beberapa saat. Dia lalu menggeleng. “Beberapa waktu yang lalu, aku sempat memergoki Arsenio mengusir Indah. Dia bahkan mencengkeram lengan dan mendorongnya. Sebelum itu, aku tak pernah melihat Arsenio menolak seorang wanita cantik dan seksi,” jawab Winona, masih dengan berbisik. Suaranya bahkan menjadi jauh lebih pelan dari sebelumnya.
“Hm.” Fabien tersenyum samar. Saat itu, sedikit banyak dia dapat menyimpulkan tentang apa yang tengah terjadi pada kakaknya.
“Jangan lupa turunkan aku dulu ya, pak Mono,” pesan Winona pada sang sopir. Ucapan wanita itu seketika membuyarkan lamunan Fabien.
Kurang dari setengah jam, Winona tiba lebih dulu di tempat tujuannya. Wanita itu keluar dengan tergesa-gesa, lalu memutari kendaraan. Dia berhenti tepat di jendela, pada sisi di mana Arsenio berada. Pria rupawan itu pun menurunkan kaca dengan malas-malasan sesaat setelah Winona mengetuknya. “Ada apa lagi, Win?” tanyanya biasa saja. Tak ada sikap manis seperti yang selalu dia tunjukkan kepada Binar.
“Jangan lupa, nanti kamu harus hadir pada acara makan malam bersama di rumah papa. Kita akan mematangkan rencana resepsi pernikahan tiga bulan lagi,” pesan Winona. Wanita itu seakan tak peduli dengan sekian banyak penolakan yang diberikan oleh Arsenio. Dalam bayangan Winona, pria itu akan segera bisa ditaklukkan saat dia berhasil mengikatnya dalam janji suci pernikahan.
__ADS_1
“Akan kuusahakan. Jika ternyata nanti aku berhalangan hadir, biar Fabien saja yang mewakiliku,” sahut Arsenio asal seraya kembali menaikkan kaca jendela.
“Hei!” protes Fabien dengan segera. Akan tetapi, suaranya segera hilang tertelan oleh deru mesin kendaraan Arsenio yang bergerak menjauh, meninggalkan Winona yang masih tetap berdiri mematung hingga mobil sang tunangan tak terlihat dari pandangan.
Sementara itu, Fabien yang mulai dapat menyimpulkan sesuatu segera memajukan badannya ke arah kursi Arsenio. “Sekarang aku baru percaya jika gadis polos itu bukan piala,” celetuknya begitu saja.
“Apa maksudmu?” tanya Arsenio tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponsel. Saat itu dirinya tengah menerima foto-foto berupa bukti penyelidikan Dwiki.
“Kamu berubah, Broer! Semua itu gara-gara Binar.” Fabien tersenyum lebar sambil menepuk-pundak Arsenio cukup keras. Bersamaan dengan itu, mobil mewah yang dikemudikan oleh sopir berhenti tepat di depan gedung kantor Arsenio. Tanpa menunggu lama, pria rupawan itu segera turun dan setengah berlari melintasi lobi yang berukuran sangat luas.
“Hei, Arsen! Tunggu aku!” Fabien cukup kerepotan mengejar langkah cepat sang kakak. Hampir saja dia ketinggalan lift. Beruntung Fabien mengganjal pintu lift yang hampir tertutup tadi dengan tangannya. “Apa-apaan kau, Sen!” omelnya.
“Dwiki sudah menunggu di ruanganku,” sahut Arsenio santai.
“Siapa lagi itu?” tanya Fabien setengah menggerutu.
“Nanti juga kau akan tahu,” jawab Arsenio santai. Dia memilih untuk tak berbicara lagi, sampai lift yang mengantarkannya tiba di lantai ruangan yang dia tuju.
Arsenio bergegas keluar dan berjalan ke arah pintu pertama yang berada tak jauh dari lift.
Fabien sendiri tampak ragu-ragu ketika mendapati sosok pria yang belum pernah dia temui sebelumnya.
“Bagaimana, Ki? Apa kita harus ke bank sekarang untuk meminta bukti rekaman?” tanya Arsenio tanpa basa-basi.
“Tidak perlu, Bos. Saya sudah meminta teman seorang teman untuk mengurus semuanya.” Dwiki berdiri bersamaan dengan Fabien yang baru saja duduk di dekatnya. Dia lalu meletakkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas dan foto ke atas meja Arsenio.
“Itu adalah bukti rekaman CCTV, pada rentang waktu yang sama dengan masuknya dana ke rekening Burhan. Sedangkan ini adalah bukti cetak transaksi pada rekening Burhan selama sebulan terakhir,” jelas Dwiki.
“Burhan? Siapa Burhan?” tanya Fabien seraya mengangkat tangannya.
“Bagaimana kamu bisa mendapatkan semua bukti-bukti ini dalam semalam?” Arsenio berdecak kagum. Seutas senyuman yang terlihat begitu menawan, tersungging dari bibirnya.
__ADS_1
“Anggap saja jaringanku banyak, Bos. Sekarang coba Anda lihat siapa pria yang berada di dalam foto ini.” Dwiki mengarahkan telunjuknya pada potret seorang pria berambut klimis yang hendak meninggalkan meja teller.
“Hanya orang itu yang berada di meja teller pada jam yang sesuai dengan waktu transaksi di rekening Burhan,” jelas Dwiki lagi.
Merasa penasaran, Fabien juga ikut berdiri dan memperhatikan foto-foto tadi.
“Jadi, apakah memang benar, yang menimpa kakakku bukanlah kecelakaan?” tanyanya kemudian.
“Itu sudah pasti. Apalagi menurut kakak Anda, sebelum dirinya dikeroyok Burhan lebih dulu menyuntikkan sesuatu di paha bos Arsenio. Aku kira itu adalah sejenis obat bius,” jawab Dwiki yakin.
“Oh, jadi begitu rahasianya sehingga kakakku kalah dan tidak bisa melawan para penjahat itu,” gumam Fabien.
“Ada satu hal yang lebih mencengangkan lagi, Bos,” ucap Dwiki berapi-api.
“Oh, ya? Apa itu?” Arsenio menopang dagunya dan menatap Dwiki dengan serius.
“Apa Anda tidak mengenali pria di dalam foto ini?” Dwiki malah balik bertanya.
“Tidak. Rasanya aku belum pernah melihat orang itu. Memangnya siapa dia?” Arsenio mengernyitkan kening.
“Aku sering melihatnya mengantar jemput Indah pulang pergi dari kantor nona Winona,” jawab Dwiki lugas.
“Apa?” seru Arsenio dan Fabien secara bersamaan.
“Ya seperti yang kukatakan dulu, Bos. Begitu Anda dikabarkan menghilang, aku langsung bergerak mencari tahu apa yang terjadi. Yang pertama kali kuselidiki adalah Indah, karena dia dengan jelas mengirimkan video dirinya bersama Burhan yang babak belur pada tuan dan nyonya Rainier. Sedangkan sejak awal aku sudah mencurigai sopir yang membawa Anda saat musibah itu terjadi,” pungkas Dwiki tersenyum puas.
.
.
.
__ADS_1
Sambil menunggu Dwiki beraksi, kepoin karya keren yang satu ini dulu, yuk