Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Tiba Saatnya


__ADS_3

Selang beberapa minggu setelah perbincangan di meja makan tersebut, Dwiki dan Winona yang telah mengantongi restu dari Biantara dan Yohana, akhirnya memutuskan untuk tak menunda-nunda lagi acara pernikahan mereka. Pernikahan itu sendiri dilakukan dengan adat muslim, setelah sebelumnya Winona memutuskan untuk beralih keyakinan mengikuti ajaran yang dianut sang suami. Walaupun selama ini Dwiki juga bukan merupakan orang yang religius, tapi untuk acara sakral seperti ini tetap saja dia harus menanggalkan segala kenakalannya.


Biantara ataupun Yohana tak keberatan dengan keputusan yang telah diambil Winona. Bagi mereka, anak gadisnya sudah dewasa dan dapat menentukan jalan hidup sendiri, selama masih dalam koridor yang positif. Terlebih, Biantara serta Yohana juga melihat kesungguhan Dwiki dalam menjalin kasih bersama putri semata wayang mereka.


Kehidupan finansial Dwiki pun mulai membaik. Semenjak bekerja di cabang perusahaan milik Normand sebagai kepala divisi marketing, Dwiki yang merupakan lulusan sarjana ekonomi telah menata diri dengan jauh lebih teratur. Dia harus memikirkan segala sesuatunya secara serius, apalagi yang akan menjadi calon istrinya bukanlah orang sembarangan. Satu hal yang perlu diacungi jempol dari sikap Dwiki ialah dia tak ingin mengambil kesempatan, meskipun calon mertuanya merupakan salah satu taipan di Indonesia. Dwiki lebih memilih berusaha sendiri. Bagaimanapun juga, harga diri sebagai seorang pria sejati tetap dia pertahankan.


Acara ijab kabul dilangsungkan di gedung tempat resepsi dilaksanakan. Pesta pernikahan yang sempat menjadi mimpi buruk bagi seorang Winona, pada akhirnya dapat mengubah pemikiran wanita cantik tersebut. Dalam balutan kebaya modern rancangan desainer ternama, Winona terlihat sangat anggun dan memesona. Begitu juga dengan Dwiki yang mengenakan beskap senada dengan mempelai wanita. Dia begitu tampan, meski tampak kurang nyaman. Dwiki tak biasa mengenakan pakaian seperti itu. Celana cargo pendek dan t-shirt round neck akan selalu menjadi favoritnya.


“Selamat ya, Win. Ini yang terbaik untukmu,” ucap Arsenio. Dia menyalami Winona sambil menyunggingkan senyuman tulus.


“Terima kasih, Sen,” balas Winona membalas senyuman Arsenio. Perhatian Winona kemudian tertuju kepada Binar dengan perut yang semakin membesar. “Kapan perkiraan lahirannya?” tanya wanita yang kini telah sah menjadi istri Dwiki secara agama dan juga negara.


“Sekitar satu bulan lagi, Kak. Seharusnya, aku sudah lebih banyak istirahat di rumah. Namun, tentu saja aku tak akan melewatkan momen bahagia Kak Wini dan Dwiki,” sahut Binar dengan senyumannya.


“Rencananya, kami juga akan segera menyusul,” timpal Dwiki bernada candaan. Ucapan pria itu segera berbalas cubitan dari Winona.


“Iya Ki. Aku yakin kamu pasti bisa. Tetap semangat dan pantang menyerah. Itulah kunci utamanya,” balas Arsenio seraya menepuk lengan orang kepercayaannya tersebut. Dwiki membalasnya dengan tawa renyah. Sementara Winona tersipu malu atas candaan Arsenio.


Rasa sayang Arsenio terhadap Dwiki dan Ajisaka, memang teramat istimewa. Bagi Arsenio, kedua pria itu bukan hanya sekadar anak buah kepercayaan yang telah sangat berjasa. Mereka sudah seperti keluarga. Arsenio bahkan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Dwiki dan Ajisaka, dibanding bersama Fabien, adik kandungnya sendiri yang memang tinggal jauh di Jerman. Fabien sendiri telah kembali ke negara itu, semenjak kasus pembunuhan terhadap Anggraini berhasil diungkap. Bagaimanapun juga, dia mempunyai pekerjaan yang terlalu lama dirinya tinggalkan.


Di sudut lain ballroom megah yang menjadi tempat berlangsungnya pesta pernikahan Dwiki dan Winona, tampaklah dua sejoli yang tengah asyik berbincang akrab. Ada canda tawa dan kontak fisik yang terlihat sangat manis di antara mereka.


Ajisaka dan Anika. Pasangan dengan inisial nama sama, yang telah merajut tali asmara semenjak beberapa waktu lalu. Jalinan itu semakin erat. Ajisaka pun tampaknya serius dengan hubungan yang dia jalani bersama sekretaris Biantara Sasmita tersebut. Bukan tidak mungkin bahwa dia akan segera menyusul sang sepupu menuju ke pelaminan, berhubung orang tua Anika pun telah memberikan lampu hijau padanya. Terlebih, saat ini Ajisaka telah mendapat pekerjaan tetap sebagai kepala divisi IT di perusahaan yang sama dengan Dwiki.


Sementara hubungan Binar dan Arsenio pun kian mesra. Tak lama lagi, bayi yang ada di dalam perut Binar akan segera lahir ke dunia. Sesuai dengan hasil USG, jenis kelamin bayi itu ternyata perempuan. Sesuai dengan harapan Anggraini dulu, Arsenio dan Binar telah menyiapkan nama yang diinginkan mendiang sang ibu. Wilhelmina Annelies Rainier. Nama yang terdengar begitu cantik, dengan harapan bahwa bayi yang dilahirkan Binar nantinya akan seindah makna dari perpaduan nama tersebut.

__ADS_1


Binar pun menjadi semakin manja. Tak jarang, Arsenio harus memijit punggung, betis, dan lain-lain. Kondisi perut yang sudah semakin besar, membuat tubuh Binar tidak senyaman biasanya. Terlebih sebentar lagi dia akan segera melahirkan.


“Aku takut, Rain,” ucap Binar cemas. Dia berbaring dalam posisi menyamping membelakangi Arsenio. Sementara pria itu mengusap-usap punggung serta pinggang bagian belakang Binar dengan perlahan dan hati-hati.


“Apa yang kamu takutkan, Sayang?” tanya Arsenio penasaran. Sesekali, dia mengecup lembut lengan sang istri.


“Kata orang, melahirkan itu pertaruhannya adalah nyawa,” jawab Binar resah.


“Astaga.” Arsenio berdecak pelan. “Dunia kedokteran saat ini sudah sangat canggih. Mereka jauh lebih paham akan tindakan yang harus segera diambil seandainya terjadi sesuatu. Buktinya, zaman sekarang sudah jarang terdengar berita kematian ibu yang melahirkan,” tutur Arsenio menenangkan sang istri. “Seandainya tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, tak masalah jika harus mengambil jalan operasi. Aku akan menyerahkan segalanya kepada yang lebih mengerti. Asalkan kamu dan calon bayi kita bisa selamat.”


“Jika aku sampai harus melahirkan dengan jalan operasi, lalu bagaimana dengan kondisi perutku nantinya?” Perlahan, Binar membalikkan badan sehingga jadi menghadap kepada Arsenio.


Arsenio pun ikut berbaring dengan posisi menyamping dan menghadap kepada Binar. Ditatapnya paras cantik sang istri yang terlihat semakin dewasa. Kehamilan itu, membuat bobot tubuh Binar meningkat. Pipi wanita muda tersebut menjadi lebih bulat, karena Binar makan dengan lahap dalam porsi dua kali lipat. “Apa yang kamu takutkan?” Arsenio menaikkan sebelah alisnya.


“Di perutku pasti akan ada bekas luka operasi,” ujar Binar polos.


“Apa kamu tidak merasa terganggu jika melihat ada luka sayatan di perutku?” Binar balik bertanya masih dengan rautnya yang polos.


“Kenapa aku harus merasa terganggu?” Arsenio mengernyitkan kening. “Aku akan tetap mencintaimu, meskipun kamu korengan. Namun, sebisa mungkin jangan sampai, karena itu jorok ….” Arsenio tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Binar segera mencubit serta memukuli lengan pria itu. Arsenio malah tertawa geli, atas sikap protes sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan.


….


Tanpa terasa, hari pun cepat berganti. Sesuai dengan perhitungan yang telah ditentukan oleh dokter kandungan langganan Binar, wanita itu akan melahirkan pada bulan ini. Segala persiapan pun telah dilakukan. Arsenio bertindak sebagai suami siaga. Dia selalu sigap dengan segala hal yang terjadi dan dirasakan oleh Binar. Tak ada yang terlewat oleh Arsenio. Hal sekecil apapun pasti akan menjadi perhatiannya.


Binar juga semakin bersemangat dalam menunggu hari kelahiran sang putri. Pasalnya, ibu tiri dan dua adiknya telah berada di ibukota untuk menemani dirinya. Mereka sengaja terbang jauh-jauh dari Bali, ingin memberikan dukungan mental bagi wanita yang akan segera menjadi seorang ibu.

__ADS_1


Seperti sore itu, ketika Binar baru saja kembali dari berjalan-jalan sore bersama Wisnu dan Praya. Tiba-tiba, ada cairan bening merembes dari sela-sela pahanya. Widya yang saat itu tengah duduk santai di teras rumah, segera berlari menghampiri.


Widya sudah berpengalaman dua kali melahirkan. Tentunya dia paham jelas apa arti dari cairan yang makin lama semakin banyak. “Di mana suamimu, Binar? Dia harus cepat-cepat mengantarmu ke rumah sakit!” seru wanita itu panik.


“Rain masih di kantor, Bu. Bagaimana ini?” Wajah cantik Binar mulai memucat, seiring dengan rasa nyeri yang hadir di perut bagian bawah.


“Kalau begitu, suruh siapa pun untuk mengantarkanmu!” suruh Widya. “Wisnu, Praya, jaga kakakmu! Aku akan menyiapkan barang-barang yang harus dibawa ke rumah sakit!” Tanpa menunggu jawaban dari kedua putranya, Widya langsung berlari masuk menuju kamar Binar. Bertepatan dengan itu, Lievin muncul. Dia hendak menuju teras.


“Ada apa, Bu Widya?” tanya Lievin keheranan.


Widya harus berhenti sejenak. Dia menoleh kepada ayah mertua Binar tersebut. “Binar mengalami pecah ketuban, Pak. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit,” jawab Widya sambil berlalu.


“Astaga!” Lievin panik. Dia bermaksud untuk memanggil Mono, sang sopir pribadi yang masih setia mengabdi pada Keluarga Rainier. Namun, langkahnya membeku ketika dia melihat Binar meringis kesakitan. Sang menantu bahkan masih berdiri di undakan tangga menuju teras. Beruntung ada Wisnu dan Praya yang sigap memegangi kakaknya agar tidak terjatuh.


“Mono! Cepat bawa kemari mobilnya!” Lievin berteriak dengan nyaring.


Mono yang saat itu baru selesai membersihkan mobil, segera berbalik kembali ke dalam garasi. Dia membawa mobil yang sudah mengilap tadi ke dekat Binar.


“Apa kami boleh ikut, Mister?” tanya Wisnu penuh harap, ketika Lievin membantu Binar masuk ke kendaraan.


“Kalian di rumah saja, ya. Besok saja kuajak kalau keponakan kalian sudah lahir,” sahut Lievin penuh kesabaran. Mau tak mau, Wisnu dan Praya harus menurut. Dua bocah itu mengangguk pelan.


“Jalan, Mono!” titah Lievin. “Cepat!” Ayahanda Asenio tersebut tampak begitu panik.


“Tunggu!” seru Widya, ketika Lievin baru saja menutup pintu mobil. “Ini perlengkapan untuk Binar!” ucapnya sambil mengangkat satu tas jinjing besar yang sedari awal sudah disiapkan oleh Arsenio.

__ADS_1


“Mari, Bu. Ikut saya,” ajak Lievin. Dia membuka pintu, kemudian mengarahkan Widya agar duduk di samping sopir.


Tanpa banyak bicara, Widya menurut. Dia lalu menoleh pada Wisnu dan Praya sambil melambaikan tangan. “Baik-baik di sini, ya. Nanti kutelepon,” pesannya sebelum duduk di kursi depan sambil memangku tas besar berisi peralatan bayi dan perlengkapan yang Binar butuhkan selama di rumah sakit nanti.


__ADS_2