Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Binar Yang Nakal


__ADS_3

Penunjuk waktu pada ponsel sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, sosok suami tercinta masih belum terlihat. Entah sudah berapa kali Binar mondar-mandir di depan gedung apartemen.


Setelah bosan duduk di bangku panjang, gadis itu berdiri dan berjalan ke arah jalan raya. Tak berselang lama, dia kembali duduk di bangku tadi. Hal itu terus berlangsung sampai Binar merasa lelah. Rasa gelisah pun kian terlihat dari paras cantiknya.


Puluhan panggilan dia lakukan ke nomor telepon sang suami. Namun, tak satu pun yang terjawab. “Kamu ke mana, Rain?” gumamnya lirih. Saat itu, Binar tiba-tiba merasa begitu sedih. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan.


“Ya ampun.” Binar menggeleng pelan sambil menertawakan diri sendiri. Tak biasanya dia mengalami perasaan yang terlalu sensitif seperti saat itu.


Pada saat perasaan galau semakin mendera, ponselnya terdengar berdering. Dengan segera, Binar menjawab panggilan yang dia kira berasal dari sang suami. Namun, ternyata Binar keliru. Shelby lah yang telah menghubunginya. Dengan lesu, Binar menjawab panggilan itu. “Yes, Shelby?” sapa wanita muda tersebut.


“Apakah kau masih di bawah? Apa suamimu belum menjemput?” tanya sahabat baru Binar yang sepertinya ikut merasa cemas.


“Mungkin dia masih dalam perjalanan,” sahut Binar berusaha menghibur diri sendiri.


“Kau boleh menginap di sini jika kau mau. Dengan senang hati aku akan berbagi ranjang,” kelakar gadis itu.


“Terima kasih atas tawarannya, Shelby. Aku yakin suamiku akan datang sebentar lagi,” tolak Binar halus.


“Baiklah. Namun, jika sampai malam dia tidak datang, maka aku menyarankan agar kau menginap di tempatku saja,” ujar Shelby.


“Kau perhatian sekali. Aku sungguh terharu.” Air mata Binar menetes lagi selesai berkata demikian. Dia semakin bingung dengan apa yang dirinya rasakan saat itu. Begitu mudah Binar menangis atau tersentuh akan sesuatu.


Setelah mengakhiri panggilannya dengan Shelby, Binar mencoba menelepon Arsenio sekali lagi. Namun, sang suami tak menjawabnya, karena saat itu dia menyimpan ponsel dalam saku celana yang diletakkan di ruang ganti khusus.


Beruntungnya, sesi pemotretan terakhir sudah selesai. Arsenio segera berganti pakaian dan mengecek telepon genggamnya. Ada puluhan panggilan yang semuanya berasal dari Binar. “Astaga, sayangku,” gumam Arsenio penuh sesal.


Dengan terburu-buru dia keluar dari ruang ganti, lalu menuruni tangga menuju lantai satu. Ternyata, Agatha juga masih berada di sana sambil berbincang dengan pria gemulai yang tadi sudah mengambil foto-fotonya.


“Arsen, apa kau akan langsung pulang?” tanya Agatha berbasa-basi.


“Jelas! Binar sudah menungguku selama berjam-jam. Ya, Tuhan, semoga istriku tidak apa-apa.” Ekspresi Arsenio terlihat begitu khawatir dan tak karuan.


“Biar aku yang mengantarmu,” ujar Agatha.


“Sudahlah, Agie. Tidak perlu sampai berbuat seperti itu. Aku bisa memesan taksi,” tolak Arsenio.

__ADS_1


“Kau masih harus menunggu beberapa menit sampai taksi datang. Sedangkan aku bisa mengantarkanmu sekarang juga dengan kecepatan tinggi,” bujuk Agatha.


Setelah berpikir beberapa saat, Arsenio pun akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tolong antarkan aku ke alamat ini.” Dia menunjukkan alamat yang sudah dikirimkan Binar melalui pesan.


“Oh, baiklah. Tidak terlalu jauh dari sini.” Agatha mengangguk, lalu berpamitan pada fotografer gemulai tadi. Wanita itu segera mengajak Arsenio masuk ke dalam kendaraan mewahnya.


Sesuai perkataannya, Agatha berkendara dengan kecepatan tinggi. Tak sampai setengah jam, mereka sudah tiba di alamat yang dituju.


Arsenio semakin panik saat mobil Agatha berhenti di tepi jalan yang mengarah lurus ke gedung apartemen. Dari tempatnya duduk, dia dapat melihat Binar yang tengah duduk membungkuk sambil mendekap tubuhnya sendiri.


“Binar.” Arsenio membuka pintu mobil Agatha dan bergegas turun menghampiri sang istri. Sebelumnya dia sempat menoleh dan mengucapkan terima kasih kepada Agatha.


“Apakah aku boleh sekalian berkenalan dengan istrimu?”


Namun, seruan wanita cantik itu sama sekali tak Arsenio hiraukan. Dia terlalu fokus pada Binar yang terlihat begitu menyedihkan.


“Sayang!” seru Arsenio beberapa langkah di depan Binar, membuat wanita muda nan cantik itu mendongak, menampakkan pipinya yang sudah basah oleh air mata.


“Rain. Kukira kamu lupa menjemput,” Binar bangkit dari duduk dan segera menghambur ke dalam pelukan Arsenio.


“Mana mungkin aku lupa. Maafkan aku, Sayang. Agatha memaksaku untuk mengikuti sesi pemotretan. Aku tadi sudah mengirimkan pesan padamu. Namun, aku tak mengira akan berlangsung sampai lama,” jelas Arsenio penuh sesal.


Arsenio ikut menoleh, lalu mendengus pelan. “Kenapa dia masih di situ?” gumamnya.


“Oh, jadi kamu diantar oleh dia?” Pipi yang masih belum begitu kering dari air mata itu kembali basah.


“Binar, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku hanya mencari cara tercepat untuk sampai kemari,” jawab Arsenio dengan sorot memohon.


“Terserah kamu.” Binar menunduk, lalu berjalan gontai meninggalkan Arsenio yang kebingungan.


“Binar, kamu mau ke mana?” tanya Arsenio seraya mengikuti langkah sang istri.


“Tentu saja pulang! Mau ke mana lagi?” jawab Binar ketus.


“Memangnya kamu tahu jalannya?” tanya Arsenio lagi.

__ADS_1


“Aku bisa mengecek lewat GPS.” Binar terus melangkah hingga dirinya melewati kendaraan Agatha yang masih terparkir di tepi jalan.


“Memangnya kamu bisa membaca tulisan dalam bahasa Jerman?” Arsenio tak putus asa. Dia terus saja membuntuti istrinya.


“Aku bisa mengantar kalian pulang,” tawar Agatha dalam bahasa Inggris sambil keluar dari kendaraan. Mendengar hal itu, Binar dan Arsenio menoleh pada wanita cantik tadi secara bersamaan. Mereka bahkan menunjukkan ekspresi wajah yang sama persis, yaitu melotot.


“Lebih baik aku berjalan kaki,” sahut Binar dalam bahasa Indonesia yang tentu saja tak dimengerti oleh Agatha.


“Pulanglah, Agie! Aku bisa mengatasinya dari sini!” tegas Arsenio dengan tatapan tajam yang seakan tak menghendaki penolakan.


“Baiklah.” Agatha mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Dia berbalik masuk ke balik kemudi. “Kau betul-betul luar biasa, Arsen. Aku sudah mempermalukan dan merendahkan diriku sendiri sampai harus rela menjadi sopir,” gerutunya pelan sebelum menyalakan mobil dan melaju kencang meninggalkan pasangan suami istri yang masih berkejaran di atas trotoar.


“Binar, tunggu! Bukan ke sana jalannya. Ayolah, Sayang,” bujuk Arsenio. Dia dengan mudah dapat menyusul sang istri yang kini berhenti mendadak.


Arsenio meraih tubuh ramping itu, lalu membalikkannya. “Jangan mendiamkanku, Binar. Aku tidak kuat,” pintanya.


“Kamu memang jahat!” Binar memukul-mukulkan tangannya ke dada bidang Arsenio.


“Maafkan aku, Sayang,” sesal pria berdarah Belanda itu. “Aku tadi benar-benar lupa waktu. Aku sungguh-sungguh minta maaf.” Walaupun Binar berusaha menolak, tapi Arsenio tetap memeluk erat-erat tubuh indah sang istri.


“Kita pulang, ya. Terlalu dingin di luar,” ajaknya lembut. Setelah Binar menganggukkan kepala, barulah Arsenio mengurai pelukan kemudian menggandeng istrinya mesra.


“Sambil ingat-ingat jalannya, ya,” ucap Arsenio penuh kesabaran. Dia menunjukkan arah jalan dari apartemen Shelby, hingga tiba di apartemen mewah Fabien hampir satu jam kemudian.


“Tidak sulit, ‘kan? Kamu hanya perlu berjalan lurus sampai bertemu dua perempatan, lalu berbelok ke kiri. Jika terlalu susah, kamu bisa memesan taksi. Itu cara yang paling aman,” saran Arsenio.


“Jadi, besok kamu berniat untuk tidak menjemputku pulang?” tukas Binar sembari menekan kode kunci pintu otomatis. Dia lebih dulu melangkah masuk ke dalam apartemen sambil melemparkan tas barunya.


“Bukan begitu, Sayang. Aku memintamu mengingat hanya untuk berjaga-jaga.” Arsenio menyusul sang istri, lalu mendekapnya dari belakang.


Binar yang masih merajuk, hilang konsentrasi akibat menghirup wangi parfum bercampur keringat dari tubuh sang suami. Wanita muda itu menelan ludah, kemudian berbalik menghadap Arsenio. Ditangkupnya paras rupawan itu dan diamatinya lekat-lekat. “Suami tampanku,” ucapnya lirih, sembari mengecup lembut bibir Arsenio.


“Jangan begitu, Sayang. Kamu membuatku ingin ... ingin ....” Kata-kata Arsenio seakan tercekat di tenggorokan ketika jemari lentik Binar bergerak nakal dan mengusap bagian paling sensitif dari tubuhnya. Binar bahkan menarikturunkan resleting celana Arsenio sambil tersenyum nakal.


“Apa tidak salah?” gumamnya dengan raut tak percaya. Kejadian ini sungguh merupakan momen bersejarah yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidup. Terlebih saat Binar mendorongnya pelan menuju sofa ruang tamu, lalu memaksa Arsenio untuk berbaring telentang di sana. Tak hanya itu, Binar langsung naik ke atas tubuh Arsenio sambil melepas kancing kemejanya satu per satu.

__ADS_1


“Sayang, kamu baik-baik saja, ‘kan? Kamu tidak sedang kesurupan, ‘kan?” tanya Arsenio yang keheranan.


“Sst, jangan berisik. Aku sedang ingin di atas,” jawab Binar. Dia menempelkan telunjuk lentiknya pada permukaan bibir sebelum melucuti pakaiannya sendiri tanpa sisa.


__ADS_2