Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Kegalauan Di Sore Hari


__ADS_3

Dalam dua hari terakhir, tak banyak yang dilakukan Binar selama sendirian di apartemen Fabien. Selepas Arsenio berangkat bekerja, Binar mulai membersihkan setiap sudut ruangan, menyikat kamar mandi dan bereksperimen di dapur. Itupun hanya berlangsung tak lebih dari dua jam, karena Binar sekarang menjadi mudah lelah. Anehnya, dia tak mengalami morning sickness seperti kebanyakan wanita yang tengah hamil muda.


Seperti hari itu, Binar tak merasakan mengidam sama sekali. Dia justru begitu bahagia karena nanti sore Arsenio berjanji akan membawanya pergi ke Frankfurt untuk urusan pekerjaan sekaligus segala sesuatu yang berkaitan dengan permodelan bersama Agatha.


“Agatha.” Binar menyebut nama mantan kekasih Arsenio tersebut dengan malas. Terbayang dalam ingatannya sosok wanita cantik dan elegan, yang dalam beberapa hari terakhir ini kerap bertemu dengan suaminya. Walaupun dia tahu jika semua itu tak lepas dari masalah pekerjaan, tetapi Binar tetap merasa takut dan juga cemburu. Apalagi jika dia teringat dengan istilah yang sangat ngetrend di Indonesia, yaitu CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali.


Rasa cinta yang teramat besar untuk Arsenio, membuat Binar menaruh rasa curiga dan cemburu yang berlebih. Diam-diam, wanita muda itu meraih ponsel lalu menggulirkan layarnya pelan. Iseng Binar mencari nama Agatha di mesin pencarian. Sayang, dia tak mengetahui nama lengkap wanita itu, sehingga Binar tak dapat menemukan apapun.


Binar pun beralih dengan berselancar di sosial media. Tanpa sengaja, dia menemukan profil akun sahabat barunya, yaitu Shelby serta beberapa orang teman lain yang sama-sama mengikuti pelatihan dan program magang di restoran.


Merasa keasyikan, Binar  juga iseng mengetik nama Lucas Wilder di mesin pencarian. Dia lalu tersenyum lebar, ketika membaca latar belakang Lucas. Dia baru tahu bahwa pria itu ternyata merupakan seorang koki terkenal yang berasal dari Perancis. Namun, dia tak menemukan satu pun informasi tentang kedai kopi milik Lucas.


“Ya ampun." Binar menggumam pelan. Hampir saja dia lupa untuk mengemas barang dan pakaian yang akan dirinya bawa ke Frankfurt nanti. Segera saja diletakkannya ponsel dengan begitu saja di atas kasur. Sementara wanita muda itu sibuk menata beberapa lembar pakaian. Sesuai dengan yang Arsenio katakan, mereka di sana tidak akan lama. Karena itulah, Binar tak membawa baju terlalu banyak.


Selagi dia asyik dengan tas jinjing, tampaklah layar ponselnya yang menyala. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Binar pun menghentikan sejenak pekerjaannya, kemudian meraih ponsel tadi. Ragu, dirinya hendak menjawab panggilan tersebut. Binar akhirnya memilih untuk mengabaikan panggilan tadi.


Sekali lagi layar ponsel itu kembali menyala dan menampilkan nomor yang sama. Kali ini Binar terpaksa menjawabnya. "Hello," sapa wanita muda tersebut dengan pelan. "Siapa ini?" tanya Binar dalam bahasa Inggris.


"Hai, Binar. Ini aku, Lucas." Suara berat pria bermata biru itu terdengar begitu jelas. Binar yakin jika Lucas berbicara sambil tersenyum pula, karena itu sudah menjadi ciri khas koki tampan tersebut.


"Lucas? Dari mana kau tahu nomor ponselku?" tanya Binar. Namun, sesaat kemudian dia seakan hendak meralat pertanyaannya. "Ah ya, kau pasti tahu. Lupakan pertanyaanku tadi."


Lucas tertawa renyah. Tak lama kemudian, pria itu terdengar mendehem pelan. "Bagaimana kondisimu saat ini?" tanyanya. "Berapa lama kita tidak bertemu? Rasanya lama sekali," ujar pria itu lagi.


"Astaga, kau ini." Binar tertawa pelan menanggapi pertanyaan koki tampan tadi.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Keadaanku baik-baik saja. Lagi pula, nanti sore aku akan ikut Arsen ke Frankfurt."


"Apa? Ke Frankfurt?" ulang Lucas. "Apa itu tidak berbahaya untuk kandunganmu?" Dia terdengar begitu khawatir. "Maafkan aku, Binar. Bukan maksud untuk ikut campur, tapi kau sedang hamil muda. Menurutku tidak baik melakukan perjalanan jauh seperti itu, kecuali jika kau sudah berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan," tegur Lucas yang terdengar sangat perhatian.


"Tidak ada waktu lagi. Kami akan berangkat sore ini, dan sekarang aku sedang berkemas," sahut Binar.


"Lalu, bagaimana tanggapan suamimu?" tanya Lucas lagi yang merasakan ada kejanggalan dalam diri wanita muda itu.


Mendengar pertanyaan demikian, Binar pun tak segera menjawab. Dia berpikir untuk sesaat.


"Suamiku ... dia ... dia belum mengetahui bahwa aku sedang hamil," jawab Binar pada akhirnya. Wanita muda tersebut mengempaskan napas penuh sesal, membuat Lucas akhirnya menduga-duga.


Pria itu berpikir bahwa ada masalah rumah tangga yang tak terlihat di depan umum, antara Binar dan juga Arsenio. Tak sedikit pasangan yang berpura-pura bahagia dan akur di hadapan orang lain, padahal menyembunyikan keretakan di balik kemesraan yang mereka pertontonkan.


"Apa kau baik-baik saja, Binar? Maksduku ... kau dan suamimu ...." Lucas kembali bertanya setelah terdiam beberapa saat. Dia lalu mengempaskan napas panjang setelah bertanya demikian. "Maafkan aku sekali lagi. Aku tahu bahwa itu merupakan urusan rumah tangga kalian, tapi ... entah mengapa aku hanya merasa khawatir," kilahnya.


"Um ... begini, Binar." Lucas sepertinya hendak mencoba untuk meluruskan sesuatu. "Kebetulan, aku memiliki seorang adik perempuan dengan usia sama sepertimu. Dia berada jauh di Perancis. Kami sangat dekat dan juga akrab layaknya sahabat," tutur Lucas.


"Lalu?" tanya Binar.


"Ya, entahlah. Saat dekat dan melihatmu, aku merasa seperti sedang bersama adikku sendiri," ujar Lucas.


"Siapa nama adikmu?" tanya Binar kemudian.


"Bernadette. Dia berambut panjang sepertimu dan memiliki mata biru sepertiku ... ya tentu saja. Dia adikku ...." Lucas tertawa pelan karena ucapannya sendiri.

__ADS_1


"Bernadette? Nama yang sangat indah. Dia pasti gadis muda yang cantik dan juga kuat serta pemberani," ujar Binar. Dia kembali mengabaikan pekerjaannya dan malah asyik berbincang di telepon bersama Lucas. Hingga akhirnya Binar menyadari bahwa waktu terus berjalan. “Astaga. Maafkan aku, Lucas. Bukannya aku tak sopan. Namun, aku harus berkemas. Suamiku akan kembali sebentar lagi,” ucap Binar penuh sesal.


“Oh, tentu. Tidak masalah, Binar. Kuharap kau bisa menjaga diri dan kandunganmu baik-baik,” balas Lucas yang terdengar begitu tulus. Sesaat, pikiran Binar melayang pada resep penguat kandungan dari dokter yang belum dia tebus hingga saat itu.


“Terima kasih atas perhatianmu, Lucas,” tutup Binar. Dia lalu terdiam sejenak di tepi ranjang, kemudian meraih tas barunya. Binar lalu merogoh secarik kertas yang merupaka  sebuah resep dari dokter. Resep obat itu selalu dia simpan di salah satu saku dalam tas.


Selama beberapa saat, Binar mengamati kertas dengan tulisan yang tak dapat dia baca, sampai-sampai tak sadar jika Arsenio sudah berdiri di depan pintu kamar.


“Sedang apa, Sayang?” tanya pria itu yang membuat Binar seketika terkejut. Wanita muda itu pun tergagap.


“Ra-Rain,” Binar segera berdiri sambil memandang sang suami. Sedangkan jantungnya berdebar dengan kencang saat Arsenio berjalan mendekat. Spontan, Binar mere•mas kertas tadi, lalu menggenggamnya dengan erat. “Aku belum selesai berkemas. Tadi aku ….” Sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa gugup itu di hadapan sang suami.


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku bisa membantumu,” sela Arsen dengan segera sambil tersenyum lembut. “Jadi mana saja yang akan kamu bawa?” tanyanya.


Perasaan Binar pun menjadi jauh lebih tenang atas kebaikan dan kehangatan sikap sang suami. Sambil tersenyum dia menginstruksikan barang-barang yang harus dibawa ke luar kota, sedangkan Arsenio patuh mengikuti petunjuk dari sang istri hingga proses mengemas pun akhirnya selesai.


Namun, ketika Binar membantu memasukkan peralatan make up ke dalam koper, kertas dalam genggamannya tadi terjatuh tepat di atas tumpukan baju. “Kertas apa itu, Sayang?” tanya Arsenio seraya memungut gulungan kertas kusut yang sudah berbentuk seperti bola. Pelan dan hati-hati, pria tampan berambut coklat itu membuka serta mengusapnya agar tak terlalu kusut.


Arsenio memerhatikan kertas tadi untuk beberapa saat. “Resep apa ini?” tanyanya seraya menoleh dan menatap Binar, yang seketika membuat wanita muda itu membeku.


.


.


.

__ADS_1


tarik napas dulu sambil mampir di karya keren yg satu ini yaa



__ADS_2