Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Kekasih Baru Sang Duda


__ADS_3

Arsenio menjalankan sesi gladi bersih dengan baik dan lancar malam itu. Begitu pula dengan Winona yang datang terlambat. Wanita itu selalu tampil cantik, anggun dan menawan. Semua pasang mata langsung tertuju kepadanya, ketika dia tiba di sana.


Namun, lain halnya dengan Arsenio yang lebih memilih berkutat dengan ponsel tiap kali ada kesempatan.


“Baiklah, semua sudah siap, ya. Kuharap kalian tetap mengingat langkah-langkahnya sejak dari awal prosesi hingga selesai,” pesan Chand dengan pandangan tertuju kepada Arsenio dan Winona secara bergantian. Kedua sejoli itu berdiri dalam jarak yang berjauhan.


“Bagaimana dengan orang tua kami?” tanya Winona ketika Chand hendak berlalu dari sana.


“Itu mudah, Win. Para orang tua hanya perlu mengikuti susunan acara. Mereka akan dilengkapi earpiece untuk besok,” jawab Chand tenang.


“Chand,” panggil Winona lagi. Buru-buru dia menghampiri Chand yang tengah menoleh kepadanya. “Maaf kalau Ghea masih berada di daftar undangan. Itu semua karena … mama papaku ….”


“Sudah. Tidak apa-apa,” potong Chand. “Kami sudah resmi berpisah. Seharusnya tidak ada masalah jika suatu saat nanti kami bertemu lagi dengan tanpa sengaja. Perceraian bukan berarti kami harus menjadi musuh," ucapnya menenangkan.


“Apa kamu sudah punya gantinya, Chand?” tanya Winona seraya tersenyum menggoda.


“Tidak. Um ... maksudku belum. Doakan saja,” sahut Chand seraya mengulum senyumnya dengan raut tersipu. Sekilas, bayangan Binar hadir di dalam benak duda tiga puluh tahun tersebut.


“Kalau kamu memang sudah punya pasangan, tidak usah disembunyikan. Ajak saja dia kemari. Kuundang dia ke pesta besok,” tegas Winona.


“Ya ampun.” Chand tertawa sembari menggaruk kepalanya. “Akan kusampaikan padanya. Mudah-mudahan dia bersedia, sebab dia sedikit pemalu, Win,” kilahnya.


“Kutunggu kedatangan kalian berdua besok,” pesan Winona sembari menepuk lengan Chand pelan sebelum berlalu dari hadapan pria itu.


Sedangkan Chand hanya menanggapinya dengan gelengan pelan. Dia lalu melangkah keluar dari ballroom dan menuju sudut taman. Sementara dari kejauhan, Arsenio mengamati sahabatnya yang tengah duduk setengah membungkuk sambil bermain ponsel. Teringat jelas dalam kepalanya, terakhir kali dia bertemu dengan Chand adalah ketika sahabatnya itu tengah memergoki dirinya keluar dari hotel bersama Ghea. Pertemuan itu berakhir dengan adegan baku hantam di tempat parkir.


Arsenio mengempaskan napas pelan. Dia sungguh sadar jika perbuatannya sungguh tak pantas. Namun, saat itu ego dan gengsi jauh lebih tinggi dibanding apapun. Sedikit banyak, kejadian yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu cukup menjadi pengingat baginya agar bisa menjadi jauh lebih baik. Tanpa sadar, Arsenio melangkah menuju taman untuk menghampiri Chand.


Sedikit lagi jarak mereka, ketika terdengar suara merdu seorang wanita memanggil namanya, “Sen, ayo pulang.” Arsenio menoleh dan mendapati Winona setengah berlari ke arahnya. “Mama ingin mengobrol denganmu di rumahnya. Sekarang,” ajak Winona.


“Katakan pada tante Yohana kalau sekarang aku masih sibuk. Besok pagi-pagi saja aku datang,” tolak Arsenio dengan sikapnya yang acuh tak acuh. Dia membalikkan badan begitu saja meninggalkan Winona yang hanya berdiri terpaku dengan raut kecewa. Arsenio tetap pada tujuan utamanya untuk menghampiri Chand.


“Bagaimana kamu ini, Sen! Besok ‘kan sudah acara puncak. Justru mamaku ingin berbincang tentang acara besok,” desak Winona tak putus asa.

__ADS_1


“Astaga.” Arsenio mendengus kesal. Dia kembali menghadapkan dirinya pada sang kekasih. “Oke, baiklah. Aku akan ke sana. Kamu pulang saja dulu. Nanti kususul,” ucapnya kemudian meninggalkan Winona begitu saja untuk menghampiri Chand.


Sayup-sayup, Arsenio menangkap suara berat Chand yang tengah mengobrol dengan seseorang di telepon. Dia berdiri sejenak beberapa langkah di belakang sang sahabat. Arsenio tidak ingin mengganggu Chand, setidaknya sampai pria itu mengakhiri perbincangannya.


“Aku ingin kamu menemaniku besok, Mal.”


“Harus! Kamu harus datang! Akan kujemput jam tujuh tepat. Aku tidak mau mendengar penolakan," tegas Chand.


“Jangan pikirkan masalah gaun. Bukankah aku sudah membelikanmu beberapa? Pilih saja salah satunya," ucap pria itu lagi.


“Baiklah. Selamat malam, Nirmala. Selamat beristirahat. Jangan tidur terlalu larut, nanti cepat keriput,” tutup Chand diiringi tawa pelan. Dia pun memutus sambungan teleponnya dan terpekur untuk sejenak.


“Ternyata kamu sama saja denganku, Chand. Baru bercerai, sudah dapat gantinya,” gumam Arsenio pelan. Dia lalu menepuk pundak Chand. "Siapa? Pacar baru?"


Sedikit terkejut, Chand menoleh sebelum menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Arsenio. “Jangan salah paham. Kami hanya berteman akrab,” sanggahnya.


“Tidak ada istilah teman dekat antara laki-laki dan perempuan, Chand. Harusnya kamu lebih tahu akan hal itu,” balas Arsenio dengan gayanya yang santai. Tanpa canggung, dia menyandarkan punggung di bangku taman, sambil mengeluarkan sebungkus rokok. “Mau?” tawarnya.


Chand mengangguk, lalu mengambil sebatang setelah Arsenio. Setelah itu, pria blasteran Belanda tersebut merogoh korek api otomatis di saku celana dan menyalakannya. Dia juga memberikan benda tadi kepada Chand. Kedua pria rupawan tersebut, kini menikmati asap putih yang mereka keluarkan pelan-pelan dari hidung dan mulut masing-masing. “Malam yang indah. Cerah sekali,” ucap Arsenio seraya mendongak. Mata coklat terang milik pria itu menerawang menembus hamparan langit gelap. Tiba-tiba dia teringat saat-saat bersama Binar, menghabiskan petang bersama di dekat air terjun.


“Apanya?” Chand balik bertanya.


“Bersama dengan seseorang yang sama bertahun-tahun lamanya,” jawab Arsenio lirih.


Tak disangka, Chand malah terbahak. “Jangan tanya aku, Sen. Rumah tanggaku saja berantakan,” sahut Chand, membuat Arsenio tercenung untuk beberapa saat.


“Tanyakan saja pada kedua orang tuamu. Mereka sepertinya masih tergila-gila satu sama lain di usia yang sudah tidak muda lagi,” lanjut Chand kemudian.


“Aku malas bertanya pada mama, sejak dia tidak merestui perasaanku terhadap Binar,” ujar Arsenio pelan sambil mencondongkan badan ke depan, dengan kedua siku yang bertumpu pada lutut. Dia juga menopang kepalanya.


“Kamu masih saja berharap pada gadis yang tidak jelas rimbanya itu, Sen?” tanya Chand keheranan.


“Sejujurnya, iya. Aku masih berharap dia muncul dan dan memberiku keyakinan bahwa kisah cinta seperti dalam dunia dongeng itu memang ada. Cinta pada pandangan pertama.” Arsenio tertawa pelan, lalu menggeleng. “Aku tidak bisa membayangkan jika harus hidup bersama seorang wanita yang tidak aku cinta,” keluhnya.

__ADS_1


“Ikatan pernikahan itu tidak sama dengan hubungan pacaran, Sen. Itu yang harus kamu tahu. Dalam pernikahan, rasa cinta itu akan timbul perlahan seiring berjalannya waktu, dengan catatan, kamu bersama orang yang tepat,” tutur Chand.


"Saat kamu sudah menikahi seorang wanita, maka yang akan kamu rasakan bukan lagi perasaan cinta yang hanya sebatas di permukaan. Ada jalinan yang lebih dari itu. Seberapa cantik pasanganmu, tak akan menjadi sesuatu yang berarti lagi. Kamu akan lebih sering melihatnya dalam penampilan terburuk dia, dengan segala sikap dan sifatnya yang menyebalkan. Saat itulah perasaan istimewa tadi muncul, cinta yang sebenarnya. Keadaan di mana kamu bisa menerima setiap kekurangan dari pasanganmu, karena kalau berbicara tentang kelebihan ... itu sudah pasti yang dicari dari setiap pasangan," tutur Chand. Hidup tanpa seorang ayah sejak kecil, membuatnya bisa berpikir jauh lebih dewasa dan juga penuh tanggung jawab.


“Bagaimana caranya kamu tahu bahwa dia adalah orang yang tepat atau bukan?” tanya Arsenio lagi.


“Bagiku tidak ada kata tepat. Untuk hal pertama yang kulakukan adalah aku harus meyakinkan diri, bahwa diriku memang layak untuk dia miliki. Tanyakan pada hatimu tentang hal itu, karena hanya kamu yang bisa menjawabnya. Semenjak rumah tanggaku hancur, aku sudah tidak bisa memikirkan hal-hal seperti itu. Ghea yang dulu kukira adalah orang yang tepat, ternyata .…” Chand memalingkan muka dan tak melanjutkan kalimatnya.


Arsenio kembali berpikir keras. Pria di sampingnya itu sudah dia sakiti sedemikian parah. Namun, Chand masih tetap bersikap seolah tak ada apapun di antara mereka berdua. “Sebaik inikah dirimu, Chand?” celetuk Arsenio tiba-tiba.


“Apa?” Chand mengernyit keheranan.


“Apa sikapmu memang selalu sebaik dan sehangat ini?” tanyanya lagi menatap lekat pria itu.


“Aku tidak bisa menilai diriku sendiri. Rasanya terlalu berlebihan. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap waktu yang kujalani. Salah satunya adalah berdamai dengan masa lalu, meskipun Ghea menjadi pengecualian. Entah mengapa aku masih belum bisa bersikap ramah padanya. Itu yang kusesali,” jawab Chand menanggapi pertanyaan Arsenio.


“Jangan memaksakan dirimu.” Arsenio menepuk pundak Chand pelan, kemudian berdiri. “Saranku, buatlah Ghea cemburu dengan membawa pasangan ke acara pertunanganku besok,” imbuhnya.


“Memang itu yang akan kulakukan,” Chand tersenyum lebar, "tapi, aku sendiri tidak yakin apakah Ghea akan cemburu padaku jika dia sana ada ...." Chand menoleh kepada Arsenio yang berdiri. "Sudahlah," ucapnya lagi.


Arsenio kembali terdiam sejenak. Dia tahu jika Ghea memang jauh lebih tertarik padanya. “Oh ya. Dengan siapa kamu akan datang ke pestaku? Apakah gadis bernama Nirmala yang kamu telepon barusan?” tanya Arsenio mencoba menyingkirkan rasa tak enak dalam hatinya.


“Ya, kamu benar. Besok akan kukenalkan Nirmala padamu,” jawab Chand dengan sumringah.


“I can’t wait,” sahut Arsenio sembari tergelak.


“Aku pergi dulu. Calon mertuaku sudah menunggu untuk berbincang,” pamitnya, kemudian berjalan gagah menjauh dari Chand yang masih tetap termenung di tempatnya. Sementara Arsenio pun berjalan menuju mobil dengan pikiran tak karuan.


.


.


.

__ADS_1


Hai, hai, otor datang lagi, membawakan rekomendasi karya yang bagus untukmu. Mampir, yuk ❤️



__ADS_2