
“Ya ampun.” Winona berdecak kesal melihat ban mobilnya yang kempes. Dengan sorot mata penuh keresahan, wanita muda itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia bermaksud hendak mencari seseorang, yang mungkin saja bersedia membantunya untuk mengganti ban. Cukup lama wanita cantik tersebut mondar-mandir di samping mobil, sampai terdengar suara berat menyapa dirinya. “Apa ada masalah, Bu?”
Winona menoleh ke arah suara. Dia.mendapati sosok jangkung yang tadi sempat menyapanya sewaktu di dalam café. Pria itu berdiri tak jauh dari dirinya, dengan raut wajah yang terlihat ramah. Winona memperkirakan tinggi pria tersebut hampir sama dengan Arsenio. “Ah, lagi-lagi dia,” gumam wanita muda itu lirih.
Entah kenapa, begitu sulit rasanya menghapus bayang-bayang pria yang sudah berkali-kali menyakiti hati dan perasaannya hingga tak berbentuk lagi. Winona bahkan kini sampai merasa tak ada niatan untuk mencari pengganti Arsenio, meski waktu telah sekian lama berlalu dari kejadian yang membuat dirinya merasa begitu dipermalukan, dan seperti kehilangan seluruh harga diri.
“Maaf. Apakah ada masalah?” Sosok pria tadi kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
“Eh, i-iya. Ban mobilku ….” Winona segera mengarahkan telunjuk lentiknya pada ban depan sebelah kiri yang kempes.
“Oh itu.” Pria tadi kemudian tersenyum manis kepada Winona. “Apakah Ibu punya dongkrak, kunci ring dan juga peralatan yang lain?” tanyanya.
“Iya ada. Semua peralatan semacam itu selalu siap di dalam bagasi mobilku. Tanpa harus diminta lagi, Winona buru-buru menekan remote mobil sehingga pintu garasinya terbuka. Dia lalu mengarahkan pria yang kini mengikuti dan berdiri di sampingnya untuk mengambil alat-alat yang telah disebutkan tadi.
“Tidak masalah bukan jika saya coba bantu, Bu,” tawar pria itu ramah.
“Jangan panggil ‘bu’, ah. Aku tidak suka,” protes Winona. “Aku belum menikah dan masih lajang,” imbuhnya.
“Oh, kalau begitu harus aku panggil apa?” Pria itu tersenyum semakin lebar.
“Wini saja,” jawab Winona setelah berpikir untuk beberapa saat.
“Baiklah, Bu Wini,” sahut pria itu mengangguk, kemudian mulai menggunakan dongkrak untuk meninggikan posisi mobil.
“Sudah kukatakan jangan memanggilku begitu,” sahut wanita muda itu dengan wajah cemberut.
“Oh iya, maaf. Aku lupa.” Pria tadi terkekeh sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Winona tersenyum kecut, sembari memperhatikan pria yang tengah berjongkok di depannya. Wajah si pria cukup tampan dengan kulit yang terlihat bersih. Postur tubuhnya tampak gagah dan menawan. “Siapa namamu?” tanya Winona tiba-tiba. Sesaat kemudian, dia tampak menyesali pertanyaannya barusan.
__ADS_1
Pria itu menoleh dan kembali tersenyum. “Dwiki,” jawabnya singkat.
“Kamu suka sekali tersenyum,” celetuk Winona lagi.
“Senyum itu sedekah, Nona Wini. Jadi, untuk orang tak seberapa kaya sepertiku ini, sedekahnya ya berupa senyum-senyum saja,” kelakar Dwiki yang membuat Winona harus mengulum bibir demi menahan tawa.
“Asal jangan senyum-senyum sendiri, bisa bahaya,” balas Winona.
“Betul juga.” Pria yang tak lain adalah Dwiki itu tergelak, lalu berdiri mendekat ke arah Winona yang tengah menyandarkan badannya di bodi mobil. “Ban cadangannya ada, ‘kan?” tanyanya kemudian.
“Ada.” Winona langsung menegakkan tubuh dan menunjukkan letaknya pada Dwiki.
“Oke.” Dengan mudah, Dwiki mengangkat ban berukuran besar dan memasangnya dalam waktu singkat. Apa yang dia lakukan tak terlihat sulit sama sekali. “Sudah selesai,” ujar Dwiki sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel.
“Cepat sekali.” Winona memeriksa hasil kerja Dwiki. “Terima kasih, ya," ucap Winona. Dia lalu membuka pintu depan mobil, kemudian mengambil tas branded miliknya. Wanita cantik tersebut lalu mengambil dompet dan mengeluarkan sejumlah uang dari sana. "Terimalah ini." Winona menyodorkan beberapa lembar uang pecahan berwarna biru.
Sementara Dwiki hanya terpaku. Pria itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali tersenyum. "Tidak usah, Non Wini. Aku membantu dengan ikhlas," tolaknya halus.
Dwiki mengangguk. "Tidak semua orang yang memberikan bantuan berharap sebuah balasan. Itu yang pernah mendiang ayahku katakan dulu," ujar Dwiki.
Winona pun terdiam. Dengan raut aneh, dia memasukkan kembali uangnya. Tanpa ragu, mantan tunangan Arsenio tersebut mengulurkan tangan pada pria yang sangat berjasa baginya di hari itu. "Kalau begitu ... terima kasih," ucapnya.
“Terima kasih kembali.” Dwiki membalas jabat tangan Winona yang terasa begitu halus. Tak pernah dia merasakan kulit selembut milik wanita di hadapannya itu. Namun, meskipun berat dia harus melepaskan genggaman dan segera berlalu dari sana, sebab misinya saat itu sudah selesai. Dwiki telah memasang alat pelacak di bawah mobil Winona. Tugasnya hari itu berjalan lancar. Kini tinggal melanjutkan penyelidikannya.
Dari kejauhan, orang kepercayaan Arsenio tersebut memperhatikan Winona yang telah menjalankan mobil dan bergerak melaju meninggalkan area parkir. Dwiki bergegas masuk ke dalam mobil milik tantenya, lalu mulai menyalakan rangkaian alat yang dia sambung dengan laptop. Alat itu dirinya gunakan untuk melacak ke arah mana kendaraan Winona menuju.
Dwiki tampak serius mengamati layar laptop yang menampilkan peta dengan satu titik berwarna merah. Titik itu terus bergerak.
Dwiki lalu tersenyum saat titik tersebut berhenti di satu alamat yang terletak di pusat kota. Dengan tergesa-gesa, Dwiki menginjak pedal gas dan melaju kencang menyusul Winona.
__ADS_1
Tak sampai setengah jam, mobil yang dikendarai Winona berhenti di deretan ruko mewah. Setelah turun dari kendaraan yang sudah terparkir, pemilik tubuh molek tadi melangkah gemulai memasuki salah satu bangunan bertuliskan ‘spa’.
Dari kejauhan, Dwiki memotret setiap gerak Winona menggunakan kamera tele saat hendak masuk ke dalam. Dua jam lamanya Dwiki menunggu, sampai Winona berjalan keluar dari tempat spa. Wajah cantik itu semakin terlihat bersinar. Tak lupa dia membidik diam-diam berbagai pose Winona yang tampak sangat menawan.
Dwiki meletakkan kameranya, ketika mobil wanita cantik itu kembali berjalan dengan kecepatan sedang. Dia kembali mengikuti mantan tunangan sang bos. Ternyata, Winona pulang ke rumah mewahnya. Tepat pukul delapan malam, wanita cantik dengan rambut indah bergelombang itu memasuki istananya dan tak keluar dari sana sampai dua jam kemudian.
Pada akhirnya, Dwiki memutuskan untuk kembali ke rumah yang ditempati oleh Arsenio untuk sementara. Sebelumnya, dia sudah memindah file-file foto ke dalam laptop, agar memudahkan bagi Dwiki untuk menunjukkan pada pria itu.
Beberapa saat kemudian, Dwiki telah tiba di depan rumahnya. Tampaklah Binar yang tengah sibuk dengan beberapa pekerjaan rumah. Tak berselang lama, wanita muda itu menyadari kehadiran anak buah kesayangan Arsenio tersebut. “Sudah pulang?” tanyanya basa-basi.
“Iya, Bu Bos. Hari ini cukup dengan sekali pengintaian. Besok bisa dilanjut lagi,” jawab Dwiki seraya memperhatikan wanita cantik di hadapannya.
“Kenapa Bu Bos malah melakukan bedah rumah? Seharusnya beristirahatlah dulu,” saran Dwiki.
“Dari tadi aku sudah lelah berisitirahat. Aku harus mencari kesibukan agar tidak bosan,” sahut Binar.
“Oh kalau begitu, apa bos Arsen ada di dalam?” tanya Dwiki lagi.
“Ada. Tadi kulihat dia selesai mandi,” sahut Binar ramah. Baru saja dia selesai berbicara, sang suami sudah berdiri di belakangnya.
“Bagaimana, Ki. Apakah ada hasil hari ini?” Arsenio berkacak pinggang sambil menatap Dwiki penuh arti.
“Belum, Bos. Namun, saya yakin jika semua akan berjalan lancar,” ujar Dwiki.
“Lihat ini.” Tak ingin menunggu lama, Dwiki langsung memamerkan hasil jepretannya. Foto Winona dalam berbagai pose terlihat sempurna memenuhi memori kameranya.
“Bagus, simpan saja sementara foto-foto sebagai penghias laptopmu.” Seusai berkata demikian, Arsenio terbahak lalu melirik ke arah sang istri yang masih asyik berbenah.
“Oke, Bos. Kalau begitu, saya akan mandi dulu.” Dwiki berpamitan pada dua sejoli tadi, lalu bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Binar dan juga Arsenio yang saling pandang.
__ADS_1
Pria blasteran Belanda itu sudah hampir mencium gemas pipi Binar, ketika dia merasakan ponselnya bergetar di saku celana. “Sebentar,” ujarnya. Arsenio cukup terkejut saat mendapati nama yang tertera di layar ponsel. Adalah nama bos besarnya di Berlin, Normand Heinze.