
Arsenio menghentikan laju mobilnya di halaman kediaman keluarga Rainier. Dia segera melepas sabuk pengaman dengan gerakan yang terlihat tenang dan penuh percaya diri. Tak tampak rasa takut sama sekali dari bahasa tubuh pria dua puluh tujuh tahun tersebut. Namun, ketika Arsenio akan keluar dari dalam mobil, pria itu segera mengurungkan niat. Dia menoleh kepada Binar yang masih duduk terpaku di tempatnya. "Kamu tidak akan ikut turun?" tanya Arsenio.
Seketika Binar tersadar dari renungannya. Gadis itu agak gelagapan. Namun, sesaat kemudian Binar pun akhirnya dapat menguasai diri. Dia menoleh seraya mengunggingkan sebuah senyuman lembut kepada Arsenio. "Aku harus menyerahkan hasil pekerjaanku kepada tante Anggraini," ucapnya. Meskipun agak ragu, tapi Binar berusaha untuk melawan semua perasaan takut dalam hati.
"Ada aku di dekatmu. Jadi, jangan merasa takut akan apapun. Arsenio tak akan pernah membiarkan terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku berjanji." Arsenio mengelus lembut pipi sang kekasih, kemudian menciumnya untuk beberapa saat. "Tenangkan dirimu. Apa perlu kucium lagi?" guraunya diselingi tawa renyah.
Binar tidak menjawab. Gadis itu menggeleng dengan kedua mata melotot sebagai tanda protes. Tanpa membuang waktu, dia melepas sabuk pengaman bersamaan dengan Arsenio yang keluar dan akan membukakan pintu untuknya.
Sepasang kekasih tersebut lalu berjalan bersama memasuki kediaman mewah milik keluarga Rainier. Arsenio menggenggam erat jemari Binar dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menjinjing tas kantor berbahan kulit yang berisi hasil pekerjaan gadis itu.
Saat tiba di ruang tamu, keduanya segera menghentikan langkah. Tampak Anggraini dan Lievin sudah menunggu di sana. Wajah mereka terlihat sangat tidak bersahabat, terlebih saat melihat Arsenio yang belum melepaskan genggaman tangannya dari Binar.
"Arsen?" Anggraini mengarahkan tatapan dengan tajam pada tangan dua sejoli yang masih bergandengan. Namun, Arsenio tak berniat untuk melepaskannya. Dia justru semakin mengeratkan genggaman tadi.
"Apa maksud semua ini?" tanya Lievin yang segera berdiri. "Papa sudah menonton acara siaran langsung yang disiarkan di akun pribadi Winona. Terus terang saja bahwa itu merupakan sesuatu yang sangat mengejutkan," ucap pria asal Belanda tersebut.
"Winona memang selalu bersikap secara berlebihan. Itulah kenapa aku tak pernah menyukainya. Hidup gadis itu terlalu kaku," sahut Arsenio dengan tenang.
"Kenapa dia sampai melontarkan kata-kata yang tak pantas tentang dirimu?" tanya Anggraini penuh selidik.
__ADS_1
Perhatian Arsenio kemudian beralih kepada wanita cantik nan anggun dengan tampilan elegan bak ibu-ibu pejabat. Rasa sayangnya terhadap sang mama, tak dapat dia sembunyikan begitu saja. Arsenio pun tersenyum kalem. "Wini marah padaku. Namun, sebelum kujelaskan semuanya kepada kalian berdua ... um ... ini hasil pekerjaan Nirmala yang Mama tugaskan untuknya." Arsenio menyodorkan tas kerja berwarna hitam tadi. Dia meletakkan benda itu di atas meja, karena Anggraini ataupun Lievin tak juga menerimanya.
"Nirmala?" Anggraini menatap tajam kepada Binar. Gadis itu mengangguk perlahan, kemudian tertunduk. Dia tak sanggup melawan sorot mata yang dilayangkan oleh ibunda Arsenio terhadap dirinya. "Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Anggraini lagi. Sebagai seorang ibu, dia dapat merasakan sesuatu dari sikap Arsenio terhadap Binar.
"Maafkan aku, Ma," ucap Arsenio kemudian. "Maaf, karena kami saling mencintai," tegasnya.
"Arsen!" sentak Lievin. Suaranya menggema di ruang tamu luas itu. Pria yang selama ini dikenal sebagai sosok yang hangat dan humoris, kini tampak sedang dilanda amarah besar terhadap putra sulungnya. "Hati-hati dengan ucapanmu!" Pria tinggi besar tadi kembali membentak Arsenio, membuat Binar merasa gentar. Gadis itu mencengkeram erat jemari pria di sebelahnya.
Binar sudah terbiasa menerima bentakan serta perlakuan kasar dari Widya. Namun, kali ini terasa sungguh berbeda olehnya. Entah dia akan sanggup atau tidak menghadapi amarah dari kedua orang tua Arsenio.
"Jangan pernah berbuat bodoh! Kamu tahu bahwa kelakuanmu ini akan membawa kita pada peperangan dengan Biantara Sasmita!" Keras dan juga sangat tegas ucapan yang dilontarkan oleh Lievin. Sedangkan Anggraini masih terdiam memperhatikan muda-mudi yang berdiri tak jauh darinya.
"Aku sudah menemui om Biantara kemarin. Kupastikan tak ada masalah yang berarti ...."
"Memangnya ada apa?" tanya Arsenio.
"Kau lihat putramu ini, Sayang?" Lievin menoleh kepada Anggraini. "Dari dulu hingga saat ini, selalu saja bertindak sesuka hati tanpa memikirkan apa akibat dari semua kelakuan konyolnya!" Lievin mendengus kesal. "Ketahuilah, Arsen! Kamu telah dipecat secara tidak hormat dari jabatan sebagai CEO di perusahaan Groenland Property!"
Arsenio tertegun untuk sejenak. Begitu juga dengan Binar yang segera mengangkat wajahnya. Dia menoleh kepada sang kekasih yang saat itu terdiam.
__ADS_1
"Rain." Binar berbisik lirih.
Sesaat kemudian, Arsenio menyunggingkan sebuah senyuman. "Aku tidak peduli lagi dengan jabatan itu," ujarnya dengan tenang. "Bisa terbebas dari Winona dan keluarganya, merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan bagiku."
"Apa maksudmu, Arsen?" Anggraini yang sejak tadi hanya menyimak, kini ikut bersuara. "Kamu dan Winona telah resmi bertunangan. Kami bahkan sudah merancang konsep pesta pernikahanmu nanti dan akan segera membicarakannya dengan Chand. Bagaimana bisa kamu memutuskan dengan cepat demi gadis yang baru kamu kenal beberapa waktu saja," protes Anggraini.
Arsenio terdiam sejenak sebelum menanggapi ucapan dari sang mama. Sesaat kemudian, pria dua puluh tujuh tahun tersebut kembali tersenyum kalem. "Sudah sejak lama aku mencoba melepaskan diri dari Winona. Mama dan papa pasti tak tahu atas semua sikap buruk yang telah kulakukan selama ini. Kebobrokan dalam hubungan yang selalu Winona tutup-tutupi demi ingin terus bersamaku. Padahal, aku tak mengharapkan hal demikian darinya. Aku tak membutuhkan perlindungan dari putri rekan bisnis papa itu. Tidak sama sekali," tutur Arsenio pelan tapi meyakinkan.
"Aku telah berkali-kali mengkhianatinya. Entah berapa wanita, dan salah satu dari sekian banyak pengkhianatan itu kulakukan bersama Indah serta Ghea." Akhirnya, meluncur sudah sesuatu yang selama ini menjadi rahasia dari kedua orang tua Arsenio. "Akulah penyebab dari perceraian antara Chand dengan Ghea." Arsenio kembali mengakui kegilaan yang selama ini dia lakukan.
Anggraini tak percaya mendengar pengakuan dari putra kesayangannya. Tubuh wanita paruh baya itu seakan tak bertulang lagi. Dia terduduk begitu saja di atas sofa dengan mata menerawang.
"Anak tidak tahu malu!" Lievin maju dan menghampiri Arsenio. Tanpa diduga, sebuah tamparan keras pun mendarat di pipi sebelah kiri pria tersebut. Namun, Arsenio bergeming. Dia menerima segala konsekuensi yang harus diterimanya. "Kamu benar-benar telah mempermalukan kami sebagai orang tuamu!" Lievin kembali mengangkat tangan, bermaksud untuk menampar Arsenio kedua kalinya. Akan tetapi, dengan segera Binar mencegah.
Gadis itu tiba-tiba memiliki keberanian untuk memberikan pembelaan bagi sang kekasih tercinta. "Walaupun Anda merupakan ayah dari Rain dan berhak melakukan apapun terhadapnya, tapi sebagai seseorang yang sangat mencintai putra Anda ... aku ... aku tak terima dia diperlalukan seperti ini." Binar menatap Lievin dengan lekat.
"Rain? Nama macam apa itu?" Tatap mata Lievin menyorot tajam kepada gadis muda di hadapannya. Kemarahan yang teramat besar, sepertinya akan ditujukan juga kepada Binar.
"Rain. Saya menyukai nama itu. Rain adalah nama yang saya berikan kepada putra Anda, ketika suatu malam dia merintih kesakitan dan meminta tolong. Rain merupakan identitas kedua dari Arsenio, sewaktu dirinya menderita hilang ingatan," terang Binar dengan suara bergetar.
__ADS_1
Anggraini yang tadi terduduk lesu, kini kembali berdiri. Dia menatap lekat gadis yang baru memberikan kejutan kepada mereka. Mata wanita paruh baya tersebut tampak berkaca-kaca. "Binar?" sebutnya dengan lirih dan bergetar.
"Iya, Tante. Saya Binar," jawab gadis yang kini berdiri di depan tubuh tegap Arsenio dengan berani.