
Binar mundur perlahan dengan sorot ketakutan. Sedangkan Chand terus memandang aneh ke arahnya. Satu hal yang baru disadari gadis itu, bahwa Chand tengah mabuk. "Kak Chand, tolong tenangkan dulu pikiranmu," ucap Binar. Dia harap, ucapan lembutnya dapat sedikit menenangkan pria itu.
"Aku tidak peduli lagi, Nirmala. Lagi pula, kamu sudah tahu tentang semuanya." Chand menyeringai sambil berjalan mendekat.
"A-aku tidak tahu apa-apa, Kak," kilah Binar. Kaki jenjangnya mundur perlahan, dengan satu tangan yang berusaha menggapai pegangan pintu.
"Kamu harus tahu, Mal. Suamimu itu brengsek! Dia tidak akan bisa menjagamu, apalagi membuatmu bahagia! Pegang kata-kataku, Mal. Jika suatu saat nanti dia menemukan yang jauh lebih baik, lebih cantik, lebih menggoda, maka dia pasti akan segera meninggalkanmu begitu saja," ucapan Chand saat itu terdengar seperti sebuah racauan.
"Aku percaya sepenuhnya terhadap Rain," ucap Binar dengan yakin. Setetes air mata terjatuh dan membasahi pipinya. Sedikit lagi, dia dapat membuka pintu dan melarikan diri.
Namun, apa yang Chand tunjukkan pada Binar saat itu, membuatnya terpaku. Pria rupawan yang tak dapat berpikir jernih tadi kembali mengarahkan layar ponselnya pada Binar. Ibu jarinya menggeser satu demi satu foto kebersamaan antara Arsenio dan Ghea beberapa waktu lalu, jauh sebelum bertemu dengan Binar. "Lihat ini. Lihat siapa yang ada di foto. Dia suamimu yang sedang main gila dengan istriku, Mal" racaunya lagi.
"Kak," desis Binar lirih. Pengaruh minuman keras mengganggu kesadaran Chand. Terbukti dari kata-kata dia yang menyebut Ghea sebagai istrinya. "Kakak pasti sangat mencintai kak Ghea, ya?" Binar memaksakan tersenyum.
"Batas antara cinta dan benci itu tipis sekali, Mal. Dulu aku senang sekali menyebut nama Ghea, tapi sekarang aku muak! Aku lebih suka menyebut namamu." Chand menatap sayu kepada Binar. Dia berjalan semakin dekat, sampai berdiri tepat di hadapan gadis itu. "Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Mal. Mungkin rasa cintaku ini bahkan lebih besar dari Arsenio," ujarnya dengan pilu.
"Maaf, kak, aku sudah menikah. Aku sangat menyayangi Rain." Binar beringsut menjauh sambil pelan-pelan membuka pintu. Selain karena ingin menghindari bau alkohol yang tajam dari mulut Chand, dia juga tak ingin berada terlalu dekat dengan pria yang bukan suaminya. Sekilas, kenangan mengerikan tentang Surya, kembali hadir dan mulai mengusik.
__ADS_1
"Apa kamu membenciku, Mal?" Chand tak ingin menyerah. Dia menutup pintu yang telah dibuka oleh Binar, lalu mengungkung gadis itu lagi. "Kamu pasti mengira kalau aku hanyalah seorang pembunuh," ujar pria itu seraya tersenyum getir. "Aku harus melakukannya, untuk mengobati rasa sakit hati, Mal. Suamimu sudah menghancurkan hidupku. Dia telah membuat mamaku menangis setiap hari. Kalau ternyata Arsenio tidak bisa mati di tanganku, setidaknya dia harus merasakan apa yang kurasakan." Selesai berkata demikian, sorot mata Chand seketika berubah. Mata sayunya seolah-olah hendak menerkam dan memangsa Binar.
"Biar Arsen tahu bagaimana rasanya ...." Satu tangan Chand bergerak mencengkeram lengan Binar. Dia menarik gadis itu untuk menyingkirkannya dari pintu, lalu segera membuka pintunya. Pria itu menyeret Binar agar keluar.
"Kak, lepaskan. Aku mau dibawa ke mana?" Binar berusaha memberontak. Sekuat tenaga dia mencoba melepaskan cengkeraman Chand dari lengannya. Akan tetapi, Chand tak peduli. Dia terus menyeret Binar dan hendak membawanya menuju lift.
Tak ingin tinggal diam, tangan kanan Binar berpegangan pada kusen pintu. Rasa nyeri mulai terasa, ketika Chand terus menarik dia hingga genggaman tangannya terlepas.
"Aku tidak mau!" pekik Binar ketika Chand berbalik dan merengkuh tubuh gadis itu. Dia sadar jika teriakan Binar dapat menarik perhatian tetangga apartemen, sehingga Chand mendekap erat tubuh ramping itu dan membawanya masuk kembali ke dalam apartemen.
"Rain, tolong!" pekik Binar lagi saat Chand mengempaskan tubuhnya ke atas sofa. Dengan gerakan cepat, Chand menindih Binar dan beringas hendak mencium bibirnya.
"Lepaskan!" Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Binar menjambak rambut Chand lalu mencakar dada pria itu sampai kancing kemejanya terlepas. "Rain, tolong!" ulang Binar dengan suara yang jauh lebih nyaring, bersamaan dengan pintu apartemen yang terbuka.
Arsenio baru datang setelah menyelesaikan semua urusannya. Dia terkejut setengah mati ketika mendengar teriakan minta tolong dari Binar. Dijatuhkannya map dan barang-barang yang dia pegang, lalu menghambur ke arah sofa. "Hei, brengsek! Apa yang kamu lakukan?"
Arsenio menarik tubuh Chand sampai-sampai pria itu setengah melayang dan terhempas ke lantai. Dia sempat memperhatikan kemeja putih sahabatnya itu yang terbuka, sehingga terlihat dada bidang Chand yang penuh dengan goresan. Tiap goresan itu mengeluarkan darah. Rambut sahabatnya pun terlihat acak-acakan.
__ADS_1
Setelah itu, Arsenio beralih pada Binar. Wanita muda yang baru dia nikahi beberapa hari yang lalu itu juga tampak jauh lebih kacau. Bagian depan dress sang istri telah sobek, menampakkan dada indah yang untungnya masih terlapisi bra. "Binar!" Arsenio buru-buru melepas kemeja dan menyelimuti bagian tubuh Binar yang terbuka.
Sementara Chand yang mulai dapat mengatasi rasa pusingnya, segera berdiri dan menghambur ke arah Arsenio. Dia memukul belakang kepala Arsenio hingga pria blasteran Belanda itu terhuyung, kemudian terjatuh di atas tubuh Binar.
"Kak, hentikan!" Binar spontan berdiri, lalu duduk membungkuk melindungi Arsenio. Dia memeluk tubuh suaminya erat-erat ketika Chand mengeluarkan satu pistol kecil dan bermaksud hendak menarik pelatuknya.
"Minggir, Mal!" desis Chand penuh penekanan.
Lidah Binar yang terasa kelu, membuatnya hanya bisa menggeleng pelan. "Dia suamiku, Kak." Entah berapa kali dalam hari itu, Binar mengucapkan kata-kata tersebut.
Arsenio yang sempat hilang kendali, segera dapat menguasai diri. Dia bangkit perlahan dan balas memeluk Binar, lalu mengarahkan wanita muda itu agar berlindung di belakang tubuhnya yang masih dalam posisi duduk. "Kamu boleh membunuhku, asal jangan di depan Binar. Ayo, kita cari tempat yang sepi. Aku janji tidak akan melawan," ujarnya pada Chand dengan nada yang terdengar begitu tenang.
Sementara Chand terdiam melihat reaksi dari sahabatnya tersebut. "Kamu tidak ingin melawanku, Sen? Kenapa? Apa kamu takut? Kamu takut dengan pistol ini? Iya?" cecarnya.
Arsenio tersenyum kalem dengan tatap mata yang tak lepas dari Chand. "Aku hanya takut kehilangan Binar. Lebih baik aku melihat diriku mati daripada melihat dia terluka. Urusanmu adalah denganku, Chand. Bukan dengan Binar. Jadi, tidak seharusnya kamu menyakiti dia," ujar Arsenio.
"Aku ingin kamu tahu bagaimana rasanya jika istrimu ditiduri oleh sahabat sendiri!" seru Chand penuh emosi.
__ADS_1
"Bunuh saja aku," sahut Arsenio masih dengan raut datar dan tenang. "Aku memang pantas mati atas semua perbuatanku padamu dulu, Chand. Tidak ada hukuman yang lebih sesuai dari itu," lanjutnya.
"Tidak, jangan! Kumohon!" Binar yang sedari tadi tergugu, segera merengkuh erat sang suami. "Kalau kamu mati, aku juga mati!" teriaknya. Gadis itu lalu mengalihkan pandangan pada Chand yang mulai menarik pelatuk pistolnya. "Jangan ambil Rain dariku. Aku hanya punya dia. Kalau kak Chand ingin melampiaskan kemarahan, maka bunuh saja kami berdua, Kak." Tangisan Binar terdengar begitu memilukan.