
Binar melangkah keluar dari gedung restoran dengan gontai. Pikirannya terasa begitu berat, akibat hamil yang di luar rencana. Dia juga dipecat dalam waktu yang bersamaan. Perasaannya pun semakin tak karuan.
Seharusnya Binar bahagia dengan kehamilan pertama kali ini. Namun, bayangan Arsenio yang mungkin akan kecewa mengetahui hal tersebut, membuat wanita muda itu kalut. Harus dia akui bahwa salah satu ketakutan terbesarnya adalah kehilangan sang suami.
Binar berhenti sejenak di halaman depan restoran yang kini tak akan lagi dia datangi, lalu menangkup paras cantiknya dengan kedua tangan. “Apa yang harus kulakukan?” isaknya pelan.
“Kau baik-baik saja ‘kan, Binar? Apakah ada yang bisa kubantu?” Suara berat seseorang yang tak lain adalah Lucas, membuat Binar buru-buru mengusap air matanya, kemudian berbalik.
“Lucas? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Binar heran. Mata indahnya mengikuti gerak Lucas yang setengah berlari mendekat. Tangan kanan pria itu tampak menjinjing sebuah goodie bag.
“Biar kuantar kau pulang,” ujar Lucas. Dia menyodorkan tas kain tadi kepada Binar.
"Apa ini?" tanya Binar.
"Itu titipan bekal makan siang dari suamimu," jawab Lucas yang seketika membuat Binar semakin merasa tak nyaman. Ingatannya tertuju kepada wajah kecewa Arsenio, saat mengetahui bahwa dia telah lalai dalam meminum pil penunda kehamilan. Binar pun hanya mematung sambil termenung.
"Kenapa lagi?" tanya Lucas heran. "Sudahlah, ayo kuantar kau pulang," ajaknya kemudian.
“Tidak usah. Terima kasih," tolak Binar. "Apartemen yang kutempati sangat dekat dari sini,” ucapnya lagi dengan sopan.
“Ayolah, Binar. Kata dokter, kau tidak boleh terlalu lelah,” ujar Lucas setengah memaksa.
“Aku hanya perlu berjalan kaki sebentar saja. Itu tidak akan membuatku merasa lelah sama sekali, Lucas. Jangan khawatir,” ucap Binar seraya tersenyum begitu manis. Dia lalu meraih tas yang tadi disodorkan oleh Lucas, kemudian membalikkan badan. Binar meninggalkan pria asli Perancis tadi yang masih berdiri menatap kepergiannya.
“Apa kau masih membutuhkan pekerjaan?” seru Lucas setelah Binar berjarak beberapa langkah darinya. Pria tampan bermata biru itu seakan tak mau menyerah dengan mudah.
Kali ini, Binar menghentikan langkah dan kembali berbalik ke arah Lucas. “Apa kau bisa mencarikan pekerjaan untukku?” Wanita muda itu malah balik bertanya.
“Aku punya kedai kopi yang terletak di pusat perkantoran kota. Mungkin letaknya tak jauh dari kantor suamimu saat kuamati rutenya tiap berjalan kaki dan ... hei, kenapa kau menangis?” Tanpa sadar, tangan Lucas terulur hendak mengusap air yang menetes di pipi Binar.
Namun, dengan segera istri Arsenio tersebut menghindar. Sejenak, suasana canggung menyelimuti mereka berdua. “Ma-maaf. Aku ....” Binar tergagap. “Aku harus pulang!”
Dia pun kembali berbalik meninggalkan Lucas dengan pikiran kacau dan perasaan yang berkecamuk.
“Tunggu, Binar! Setidaknya pertimbangkanlah penawaranku. Bekerja di kedai kopi tak seberat di restoran berstandar Michelin. Kau juga boleh bekerja paruh waktu di sana,” seru Lucas lagi.
__ADS_1
“Bolehkah aku beristirahat dan berpikir dulu?” sahut Binar ragu. “Rasanya aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Bagaimana caranya aku menjelaskan pada suamiku kalau aku dipecat?” Wanita muda itu menggeleng pelan sambil menggigit bibirnya.
“Bukankah itu adalah sesuatu yang mudah? Kau tinggal memberitahukan Arsenio bahwa kau tengah hamil,” sahut Lucas tak mengerti.
“Andai semudah itu. Kau tak memahaminya, Lucas.” Binar mengulum senyum, kemudian berpamitan pada kepala koki tampan tersebut.
“Kau bisa berkerja di kedai kopiku. Kapanpun kau siap, maka datang saja!” seru Lucas yang tak juga putus asa.
“Terima kasih.” Binar memamerkan senyum sebelum benar-benar berlalu dari sana. Dia berjalan gontai menuju apartemen Fabien.
Jika biasanya dia hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja untuk tiba di lokasi hunian mewah tersebut, maka kini Binar harus menghabiskan setengah jam berjalan kaki.
Sesampainya di dalam kamar, wanita muda itu segera mengempaskan diri ke atas ranjang, lalu berbaring meringkuk. Entah apa yang akan dia sampaikan kepada Arsenio tentang semua kejadian yang telah dilaluinya hari ini.
Sementara itu, Arsenio baru saja selesai dengan semua pekerjaan. Dia segera berpamitan pada rekan-rekan. Arsenio berjalan dengan setengah berlari menuju restoran.
Cukup lama dia menunggu di depan sana, bahkan hingga petang menjelang. Merasa khawatir, Arsenio pun menghubungi Binar.
Namun, hingga berkali-kali panggilan, sang istri tak jua menjawabnya. Semakin was-was, Arsenio berjalan mendekat dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam restoran. Dia menghampiri meja reservasi, lalu menanyakan perihal istrinya.
“Nona Binar sudah pulang sejak sore tadi, Tuan,” jawab si pegawai.
Perasaan Arsenio semakin tak menentu, ketika setibanya di apartemen Fabien, tempat itu bagaikan gua. Tak satu pun lampu yang dinyalakan, padahal hari sudah menjelang petang. Dengan gelisah, Arsenio menyalakan lampu-lampu sambil memanggil nama istrinya.
Dia lalu beranjak ke dalam kamar yang dirinya tempati bersama Binar. Arsenio dapat bernapas lega, ketika sang istri tengah tidur meringkuk di tepi ranjang.
“Sayang, apa kamu sakit? Kenapa kamu pulang lebih awal? Kamu juga tidak meneleponku sama sekali,” cecar Arsenio.
“Rain? Kamu sudah pulang?” Binar membuka matanya perlahan, kemudian tersenyum lebar saat mendapati wajah tampan Arsenio berada begitu dekat dengannya.
“Kamu pucat sekali, Sayang!” Arsenio terbelalak saat menyadari bahwa wajah istrinya terlihat kurang sehat.
“Rain, maafkan aku.” Bukannya menjawab, Binar malah merengkuh tubuh Arsenio, lalu memeluknya erat-erat.
“Minta maaf untuk apa?” Arsenio semakin bingung melihat sikap Binar.
__ADS_1
Sisi batin Binar berperang, antara menceritakan kehamilannya ataukah tidak. “Aku mengundurkan diri dari restoran.” Pada akhirnya, Binar berkata jujur.
“Mengundurkan diri? Kenapa? Apakah ada yang mengganggumu di sana?” Arsenio kembali melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.
Binar menggeleng lesu, lalu membetulkan posisi duduk sehingga menghadap pada sang suami. “Tadi ... aku merasa benar-benar lelah, jadi ... kupikir aku berhenti saja,” kilahnya.
Arsenio menautkan alisnya sambil mencerna penjelasan sang istri. “Kamu sakit?” tanya Arsenio lagi.
Binar mengangguk. “Aku tadi sempat pingsan dan dibawa ke dokter oleh teman-teman. Dokter mengatakan bahwa aku harus banyak beristirahat,” ujarnya dengan sejuta perasaan bersalah. Baru kali ini Binar berbohong.
“Kamu pingsan dan tidak memberitahuku? Aku suamimu, Binar! Aku yang berhak dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi padamu!” Nada bicara Arsenio meninggi dengan raut gusar.
“Aku tidak ingin membuatmu khawatir, Rain! Kamu begitu sibuk dan harus selalu fokus pada pekerjaan,” dalih Binar.
“Kamu yang menjadi prioritasku, Sayang. Tak peduli seberapa sibuknya aku, jika kamu sakit maka harus tetap mengatakannya padaku.” Arsenio meremas pelan lengan sang istri. “Lalu, apa kata dokter?”
“Aku hanya kelelahan. Dokter menyarankan agar aku istirahat total selama beberapa hari.” Binar menunduk sambil mengangkat kedua bahunya.
“Kalau begitu, turuti apa kata dokter. Tidak masalah jika kamu keluar. Nanti kubantu untuk mencari pekerjaan yang baru.” Arsenio bisa bernapas lega. Dia pun memeluk tubuh Binar erat-erat. “Seandainya kamu tidak bekerja pun tak masalah. Aku masih sanggup menghidupimu. Aku bahkan bisa memberimu jauh lebih banyak dari yang bisa kamu bayangkan,” bisik Arsenio tepat di telinga Binar.
“Terima kasih." Binar menelusupkan kepalanya di dada bidang Arsenio. Rasa takut, sedih, dan bimbang bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
“Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Ini sudah menjadi kewajibanku,” ujar Arsenio menenangkan. Dia juga tak hendak melepaskan pelukan. “Oh ya. Ada satu lagi kabar baik,” ucap pria berdarah Belanda tersebut.
“Apa itu?” Binar segera mendongak dan memperhatikan wajah tampan sang suami.
“Jadwal ke luar kota sudah mendapatkan persetujuan dari pihak atasan. Kita akan berangkat bersama-sama menuju Frankfurt,” sahut Arsenio seraya tertawa pelan. "Kamu bisa ikut."
“Ah syukurlah,” sahut Binar sambil terus melingkarkan tangan di tubuh sang suami. Dalam hati, dia memutuskan untuk menyembunyikan kehamilannya untuk sementara waktu.
.
.
.
__ADS_1
Hai, otor mau promosiin satu karya keren banget. Kisah romantis yang lain dari yang lain, alur keren dan pasti bikin terkedjoet. Silakan intip di lapak bestie otor yg satu ini