Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Takdir Yang Berbicara


__ADS_3

Pesta kejutan itu harus terjeda karena kedatangan Lievin. Widya yang merasa tak enak, lebih memilih untuk membawa Wilhelmina keluar dari sana bersama Wisnu dan Praya. Kini, di ruangan itu hanya ada Lievin, Arsenio, dan Fabien, karena Binar juga ikut pergi bersama Widya serta kedua adiknya. Arsenio pun diam-diam menyimpan kembali sepasang cincin dari dalam kue tadi ke dalam saku celananya. Dia fokus mendengarkan penuturan sang ayah yang tampak begitu emosional.


“Anggrainiku. Dia sudah mendapatkan keadilannya,” ujar Lievin lirih seraya menunduk dalam-dalam. Sementara Fabien yang duduk di samping sang ayah, langsung merangkul erat pria paruh baya tersebut.


“Siapa pelakunya, Pa?” Arsenio yang awalnya berdiri, ikut duduk di sebelah Lievin.


“Baiduri Haziq. Seorang pengusaha asal Malaysia yang merupakan salah satu kolega Biantara,” jawab Lievin.


“Untuk apa dia melakukan semua ini?” Fabien menggeleng tak mengerti.


“Berdasarkan informasi yang kudapat, Baiduri Haziq ditangkap di kediamannya yang berada di Kuala Lumpur. Polisi kita sudah mengirimkan red notice pada kepolisian Diraja Malaysia dan interpol. Mereka harus mengerahkan banyak personal. Seperti yang kalian tahu, Baiduri bukanlah orang sembarangan,” tutur Lievin.


“Lalu apa alasannya?” tanya Arsenio.


“Semua bermula dari hubungan kerja sama antara Baiduri dan Biantara yang berakhir berantakan, karena Bian memilih untuk bekerja sama denganku dalam mendirikan Groenland Property. Pria Malaysia itu dendam pada kami. Dia berniat menghancurkan kami dari dalam dengan cara mencuri data-data penting dan meretas software perusahaan,” terang Lievin. “Dia pula yang menyusupkan Bayu dan Haris ke masing-masing perusahaan kami. Mereka pula yang menghasut Biantara agar mengacak-acak maskapai serta membobol dana nasabah perusahaan investasimu, Sen,” lanjut ayahanda Arsenio dan Fabien tersebut, “dan yang lebih kejinya lagi, Baiduri merencanakan untuk menghancurkan perusahaan Bian dari dalam. Hal itu akan dia lakukan setelah mereka menghancurkan milikmu. Untungnya, semua lebih dulu kamu cegah, walaupun ....” Lievin kembali menunduk, lalu menangis.


“Walaupun mama yang harus menjadi korbannya,” sambung Fabien. Dia tak mampu menahan air mata saat mengingat wajah cantik dan lembut milik Anggraini.


“Mama ....” Arsenio ikut bergumam lirih. “Beliau tidak sempat melihat putriku. Cucu perempuan seperti yang pernah dia inginkan.”


“Kau tahu, Sen? Saat kehamilan pertama mamamu, dia berharap bayi yang ada dalam kandungannya adalah perempuan. Anggraini sudah menyiapkan nama Wilhelmina. Ternyata yang ada di perutnya adalah bayi laki-laki. Akhirnya dia memakai nama Wilhelm untuk nama tengah,” ungkap Lievin menuturkan sedikit kenangan indah bersama mendiang istrinya.

__ADS_1


“Jadi, itukah alasannya kenapa mama menginginkan cucu pertama diberi nama Wilhelmina?” celetuk Fabien dengan raut berpikir.


“Ya. Baginya, nama Wilhelmina sangat istimewa,” sahut Lievin sambil berkali-kali menyeka air mata yang menetes di pipinya.


“Sejatinya mama tidak pernah pergi. Dia selalu ada di dekat kita. Di sini.” Arsenio menunjuk dada dan kepalanya. “Dia benar-benar seorang malaikat berwujud manusia yang Tuhan kirimkan untuk kita.” Namun, kalimat Arsenio tadi sontak membuat air mata Lievin dan Fabien semakin deras mengalir. “Sudahlah, jangan menangis lagi. Mama pasti tidak suka melihat kita para pria bersikap cengeng.” Arsenio berusaha bersikap tegar. Diusapnya lengan Lievin pelan untuk menenangkan sang ayah.


“Lihat ini, Pa.” Arsenio mengambil sepasang cincin yang tersembunyi di saku celana, lalu menunjukkannya pada Lievin. “Aku berencana mengadakan pesta resepsi dan mengukuhkan ikatan pernikahanku dengan Binar. Selama ini, kami belum mendaftarkannya di kantor catatan sipil. Pernikahan kami masih belum resmi secara hukum dan negara.”


“Astaga, Sen. Padahal aku dan mamamu dulu sudah berencana mengadakan resepsi untuk kalian. Namun, apa mau dikata. Takdir lebih dulu berbicara,” keluh Lievin dengan wajah murung. “Mamamu bahkan sudah merancang konsepnya.”


“Kalau begitu, mari kita wujudkan impiannya, Pa. Pesta pernikahan yang indah untuk kami,” cetus Arsenio. Mata coklat terangnya yang indah tampak berbinar.


“Lalu, bagaimana dengan pesta kejutan ini ?” sela Fabien. Dia sedikit kecewa, karena ruangan yang mati-matian dirinya dekorasi sedemikian rupa menjadi sia-sia.


Tak berselang lama, Widya dan kedua putranya masuk bersama Wilhelmina dalam gendongan Wisnu. Tak jauh di belakang, Binar melangkah pelan, karena matanya sengaja ditutupi oleh kedua telapak tangan Arsenio. “Aku mau dibawa ke mana ini, Rain?” tanya Binar. Rasa penasarannya terjawab, ketika Arsenio menyingkirkan tangan lalu menyuruh sang istri membuka mata.Binar keheranan ketika setiap orang di ruang tengah yang sudah dihias indah, memandang sambil tersenyum penuh arti padanya. “Kalian kenapa, sih?”


“Berbaliklah, Binar,” ucap Arsenio dengan suaranya yang berat dan khas.


Binar pun langsung melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Matanya terbelalak sempurna ketika Arsenio berlutut di depannya sambil menyodorkan cincin berlian yang tadi dia temukan di dalam kue. “Apa ini, Rain?” Binar terkikik geli, ketika sang suami menyematkan cincin berlian berbentuk kepala lumba-lumba.


“Cincin pernikahan kita, sudah kuganti menjadi berlian asli,” jawab Arsenio seraya tersenyum lebar.

__ADS_1


“Untuk apa? Cincin ukiran kayu juga bagus,” Binar kembali tertawa.


“Kalau cincin kayu, tidak bisa dijual lagi, Mbok,” sahut Praya yang segera mendapat jitakan beruntun dari Wisnu dan Widya. Sontak semua orang tertawa.


“Aku sudah berjanji untuk memanjakanmu dengan kemewahan dan permata. Kamu dilarang menolak, Binar, atau aku akan marah,” tegas Arsenio. “Sekarang sematkan cincin ini di jariku,” suruhnya sambil menyodorkan sebuah cincin lain berbentuk bagian ekor lumba-lumba,


“Baiklah,” Binar menerima cincin itu, lalu menyematkannya di jari manis Arsenio. Setelah itu, Arsenio bangkit dan berdiri tegak di hadapan Binar.


“Amatilah cincin ini, Sayang. Jika kita dekatkan mata cincin ini, maka akan membentuk seekor lumba-lumba utuh. Lumba-lumba ini tidak akan lengkap jika salah satu cincinnya hilang. Begitu pula kita,” tutur Arsenio. Dipandangnya paras Binar yang terlihat semakin cantik dan bersinar dari hari ke hari. Itu karena Arsenio tak pernah kurang menyirami istrinya dengan perhatian dan kasih sayang.


“Jangan pernah berpisah, sampai salah satu dari kita mati,” bisik Arsenio lirih sebelum mencium lembut bibir Binar.


Setelah hari itu, Arsenio disibukkan dengan urusan pernikahan. Mungkin sesuatu yang tak lazim untuk pernikahan di Indonesia. Namun, itu bukanlah masalah yang besar. Bagi Arsenio ataupun Binar, pengukuhan di depan umum hanya sebagai bentuk simbolis dari sebuah adat dan peraturan di masyarakat. Hal yang terpenting adalah mereka telah lama dipersatukan di hadapan Tuhan, yang menjadi saksi dari ikatan kasih di antara keduanya.


Pesta yang indah dan juga mewah. Bertabur bunga serta salam hangat dari para tamu undangan. Dekorasi luar biasa dengan gemerlap kristal bagaikan di negeri es. Semuanya menjadi pelengkap kebahagiaan.


Perjalanan panjang nan berliku antara Arsenio dan Binar. Sebuah kerja keras dalam menerima segala kekurangan dan juga hal-hal yang tak layak dari pasangan. Pernikahan merupakan sebuah puncak dari segala tujuan hidup. Indah, tapi tak selalu nyaman. Kebesaran hati dan saling pengertianlah yang membuatnya akan benar-benar terasa menjadi sebuah surga.


Senyuman lebar menghiasi wajah-wajah yang hadir di sana. Dwiki dan Winona yang tengah mengandung turut hadir. Begitu juga dengan Ajisaka serta Anika yang sudah mengukuhkan jalinan cinta mereka dalam ikatan pernikahan sederhana, tapi tetap sakral. Sedangkan Fabien, masih betah melajang. Entah kapan musisi muda tersebut akan mencari tambatan hati.


Sementara Lievin dan Biantara, akan selalu menjadi sahabat hingga kapanpun. Semua hal buruk yang membuat mereka menjauh, kini telah sirna sepenuhnya. Seiring dengan itu, kesehatan Yohana pun berangsur membaik.

__ADS_1


Di antara sekian banyak wajah familiar dalam ballroom mewah tadi, tampaklah seraut paras tampan berambut pirang. Tampilannya mencerminkan seorang eksekutif muda sejati. Carlen Meier, sengaja datang dari Jerman sebagai perwakilan sang paman, Normand Heinze. Dirinya ingin menjadi saksi kebahagiaan Arsenio dengan Binar. Namun, satu hal yang menjadi perhatian pria tampan tersebut. Seorang balita cantik bernama Wihelmina.


TAMAT


__ADS_2