Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Balada Cincin Lumba-lumba


__ADS_3

Arsenio membantu Wisnu dan Praya berganti pakaian, lalu membonceng kedua bocah itu menggunakan motor bebeknya. Dia lalu berhenti di depan villa milik Rudolf.


“Kenapa mampir kemari, Mister? Katanya mau jalan-jalan?” tanya Wisnu tak mengerti.


“Iya. Tiba-tiba aku ingin mengajak Rudolf juga,” dalih Arsenio asal. “Ayo, bukakan gerbangnya,” suruh pria itu dengan tenang.


“Oke!” Kedua bocah tadi segera melompat turun dan membuka gerbang villa lebar-lebar. Wisnu dan Praya tak merasa canggung sama sekali, sebab hampir setiap hari mereka bermain di villa milik pria asal Jerman tersebut.


Kebetulan, saat itu si pemilik villa tengah memberi arahan kepada seorang tukang kebun untuk menyiangi rumput di halaman.


“Om!” Wisnu dan Praya berlomba untuk tiba di depan Rudolf lebih dulu.


“Hei. Kalian sudah pulang sekolah? Bagaimana pelajaran hari ini?” sambut pria asli Jerman itu sambil tertawa.


"Seperti biasa, Om. Membosankan," jawab Praya lugu, yang segera ditegur oleh sang kakak. Tanpa canggung, Wisnu menjitak kening adiknya sehingga membuat Praya hendak protes.


"Jangan bicara macam-macam di depan om Rudolf," bisik Wisnu. "Praya hanya bercanda, Om. Kami selalu bersemangat untuk pergi sekolah dan belajar. Bukankah Om yang selalu bilang, kalau kami jadi orang yang pintar, maka kami akan bisa melihat dunia dengan jauh lebih mudah," tutur anak sulung Widya tersebut.


"Oh itu sangat tepat, Wisnu. Otak yang pintar tak akan pernah merugikan pemiliknya," timpal Rudolf.


"Iya, Om. Suatu saat nanti, saya akan pergi keliling dunia. Negara pertama yang ingin saya kunjungi adalah Jepang," ujar Wisnu bangga.


"Dia mau jadi hokage di sana, Om," celetuk Praya yang kembali berbalas sebuah jitakan dari Wisnu.


“Eh, sudah-sudah. Kamu jangan begitu kepada adik sendiri. Kasihan Praya, nanti pintarnya hilang," canda Rudolf seraya terkekeh geli. "Tumben siang-siang kalian ke sini,” ujarnya.


“Ich brauche Ihre Hilfe, Herr (aku membutuhkan bantuanmu, Tuan),” ucap Arsenio seraya berjalan mendekat. Dia baru saja memarkirkan motor dan mendengarkan sejenak obrolan Rudolf dengan kedua calon adik iparnya.


“Sudah kubilang, jangan panggil aku tuan. Sekarang katakan, bantuan apa yang kau inginkan?” tanya Rudolf. Sekilas dia melirik paper bag besar yang diletakkan Arsenio di bawah dashboard motor.


“Aku ingin meminta Anda untuk menjadi saksi pernikahanku bersama Binar,” jawab Arsenio dengan mantap, membuat Wisnu dan Praya seketika terbelakak tak percaya. Dua bocah itu lalu saling berbisik, sambil sesekali menoleh kepada Arsenio dengan sorot terpana.

__ADS_1


Rudolf sempat tertegun untuk beberapa saat. “Kukira kalian sudah menikah. Bukankah kemarin kamu memperkenalkan diri sebagai kakak ipar Wisnu?” tanyanya keheranan.


“Tidak, itu … um … belum. Kami saling berikrar satu sama lain, tapi belum berikrar di hadapan Tuhan,” terang Arsenio malu-malu.


“Ach, ich verstehe (oh, jadi begitu),” Rudolf manggut-manggut seraya tersenyum simpul. Dia lalu berpikir sejenak, sebelum menyetujui permintaan Arsenio. “Baiklah, aku bersedia. Di mana acaranya diadakan?”


“Nah, itulah. Aku juga ingin meminjam mobilmu untuk mengantarkan kami ke sana,” jawab Arsenio.


“Hm.” Rudolf mengangguk-angguk, lalu menepuk pundak Arsenio pelan. “Oke. Aku akan berganti pakaian dulu sebentar," ucapnya.


“Aku sudah menyiapkan pakaian untuk Anda.” Arsenio meraih paperbag lalu mengambil satu atasan berwarna putih yang masih terbungkus rapi dan menyerahkannya kepada Rudolf.


“Astaga.” Rudolf menggelengkan kepalanya seolah tak percaya, lalu tertawa lagi. “Apakah kamu benar-benar yakin untuk menikahi Binar? Kau tahu bukan, pernikahan itu bukanlah permainan.”


“Aku mencintai Binar lebih dari apapun yang diriku miliki di dunia ini,” jawab Arsenio tegas serta penuh penekanan.


“Luar biasa.” Rudolf tampak kagum atas jawaban Arsenio. Tanpa berkata lagi, dia masuk ke dalam rumah, lalu keluar beberapa saat kemudian. Pria itu juga telah memakai kemeja baru dari Arsenio. Rudolf sempat berpesan pada tukang kebunnya sebelum berjalan ke garasi. “Parkirkan sekalian motormu, Arsenio,” suruhnya.


Mereka semua masuk ke dalam mobil, sesaat setelah Rudolf menyalakan mesin. “Akan kutunjukkan jalannya pada Anda.” Arsenio masuk sambil menenteng paper bag dan duduk di kursi depan, setelah membantu Wisnu dan Praya untuk duduk dengan nyaman.


Mobil antik itu melaju dengan kecepatan pelan menuju wilayah Denpasar Selatan, lalu berhenti di pelataran gereja. Arsenio turun lebih dulu untuk memanggil Hans. Tak berapa lama, Hans ikut keluar menuju halaman. “Kekasihmu sedang didandani oleh istriku. Sebentar lagi dia akan siap. Awalnya dia curiga, tapi aku beralasan menyewanya sebagai model untuk kepentingan pemotretan,” tutur Hans sembari tertawa lepas.


“Baguslah. Tolong serahkan ini padanya, Om. Suruh dia untuk berganti baju.” Arsenio mengambil kemeja putih dan blazer baru dari dalam paper bag, lalu menyerahkan paper bagnya kepada Hans.


“Tentu. Kamu juga berganti baju lah,” suruh Hans sebelum membalikkan badan dan berjalan ke bagian belakang gereja.


Arsenio mengangguk, kemudian beralih pada Wisnu dan Praya serta Rudolf. “Kalian bisa menunggu sambil duduk di dalam sana,” tunjuknya sambil mengarahkan ketiga orang itu masuk. Setelah memastikan bahwa mereka duduk dengan nyaman, Arsenio melangkah ke bagian samping gereja, lalu melepas T-shirtnya. Buru-buru Arsenio memakai kemeja dan blazer. Tak dipedulikan dirinya yang hanya memakai bawahan celana jeans dan sepatu sneakers. Dirasa telah rapi, Arsenio melipat kausnya dan berjalan ke arah Wisnu serta Praya yang tengah mengobrol seru bersama Rudolf. Dia menitipkan kausnya pada Praya, lalu merogoh sesuatu dari saku celana.


“Aku ingin kalian berdua yang membawakan cincin pernikahan kami,” pinta Arsenio seraya menyerahkan dua buah cincin kayu bermata lumba-lumba, kepada Wisnu dan Praya. Dia lalu mengarahkan kedua adik Binar itu untuk berdiri di sisi kanan kiri altar.


Beberapa saat kemudian, Hans datang menghampiri Arsenio dengan tergopoh-gopoh. “Binar sudah siap, tapi siapa yang akan menuntunnya ke altar?” tanyanya.

__ADS_1


Sontak Arsenio menoleh ke arah Rudolf dengan tatapan memohon. Pria murah senyum itu langsung paham dan berdiri. “Katakan di mana tempatnya? Biar kuhampiri dia."


“Anda berjalanlah memutari gereja hingga ke halaman belakang. Binar sekarang sedang berdiri di sana bersama istriku,” terang Hans.


“Baik.” Rudolf mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Arsenio yang gugup. Telapak tangan pria rupawan itu memucat. Keringat dingin keluar dan mulai membasahi keningnya. Jantung pria itu pun berdebar kencang.


“Apa kamu sudah siap, Nak?” tanya Hans sembari menenangkan pria yang tengah dilanda rasa gugup luar biasa itu.


“Iya,” jawab Arsenio singkat seraya memamerkan senyuman. Akan tetapi, senyum itu seketika memudar saat mata coklat terangnya menatap dua sosok yang berdiri di depan pintu gereja. Pandangannya terkunci pada gadis cantik yang berdiri di samping Rudolf dan mulai berjalan pelan ke arahnya.


Hanya dengan polesan make up sederhana, sudah membuat penampilan gadis itu menjadi luar biasa. Rambut panjangnya disanggul rapi ke belakang, dengan hiasan bunga-bunga kecil untuk mempercantik riasan. Binar melangkah ragu dengan ekspresi kebingungan, berusaha mencerna akan apa yang sedang dihadapinya saat itu.


Namun, dengan melihat Arsenio yang sudah tampil rapi di samping seorang pendeta, cukup membuat dirinya paham sepenuhnya. Ditambah dengan kehadiran Wisnu dan Praya yang memakai kemeja berwarna sama.


Rasa haru mulai memenuhi dada gadis itu. Butiran bening sudah menggenang di pelupuk matanya. Namun, dia tak ingin merusak riasan hasil karya Hilda, wanita baik hati yang baru saja dirinya kenal.


Sementara itu, langkah kaki terus memangkas jarak antara dirinya dengan Arsenio, sampai Binar berdiri di hadapan sang kekasih yang tengah memandang padanya dengan sorot terpana.


Arsenio memang terpikat dengan sosok Binar yang semakin memesona. Gadis itu hanya memakai long dress polos lengan pendek tanpa hiasan apapun. Namun, meskipun dress panjang itu terlihat sangat sederhana, tapi tak mengurangi nilai kesakralan dari momen yang tak pernah terbayang dalam hidup Arsenio sebelumnya.


“Apakah kalian sudah siap?” tanya Hans lembut.


Arsenio dan Binar pun segera menoleh ke arah sang pendeta, lalu mengangguk bersamaan.


“Baiklah. Kita mulai saja.” Hans melaksanakan tugasnya dalam sesi pemberkatan pernikahan antara kedua pasangan di hadapannya. Dilanjutkan dengan pengucapan janji pernikahan kedua mempelai. Semuanya berjalan lancar, sampai pada sesi pemasangan cincin kawin.


Hans harus menahan tawanya ketika Wisnu dan Praya masing-masing menyerahkan cincin lumba-lumba pada Arsenio dan Binar. Gadis cantik itu juga sangat terkejut. Tak disangka, benda cinderamata itu akan menjadi cincin pernikahannya.


“Jika aku sukses nanti, aku akan mengganti cincin ini dengan berlian dua puluh empat karat,” bisik Arsenio sambil tersenyum kalem. "Aku akan memberikan hakmu sebagai istri dari seorang Arsenio. Kebahagiaan yang sesungguhnya dan tak akan pernah kamu temukan di manapun, selain di sampingku," ucap Arsenio, sebelum dia dipersilakan untuk mencium mempelai wanitanya.


Angan keduanya kembali melayang pada awal pertemuan, kemudian berpindah ketika mereka berada di dekat air terjun dan berciuman untuk pertama kali. Ada banyak momen indah yang telah mereka lalui bersama, antara Bali dan kota Jakarta. Setelah ini, entah kehidupan seperti apa yang akan mereka jalani. Janji Arsenio untuk bisa membahagiakan Binar, memberinya 'gaji' yang besar dan lebih dari penghasilan sebagai karyawan di toko suvenir, harus dia buktikan.

__ADS_1


__ADS_2