
"Rain," sapa Binar yang terbangun dari tidurnya. Dia segera merapikan rambut dengan mata yang berusaha untuk dibuka sempurna. "Kupikir kamu belum pulang," ucap Binar lagi. "Apa itu?" tanyanya pada map yang baru saja Arsenio letakkan di atas meja.
"Bukan hal penting," jawab pria berdarah Belanda tersebut. Dia sangat lelah dan sedang tak ingin menjelaskan apapun kepada Binar yang baru bangun tidur.
"Apa kamu mau makan siang sekarang? Biar kusiapkan." Binar bermaksud untuk turun dari tempat tidur, sebelum gerakannya terhenti oleh Arsenio yang saat itu sudah melepas kemeja.
"Apa menurutmu Indonesia sangat panas?" tanya Arsenio penuh isyarat. Dia bergerak naik ke atas tempat tidur, lalu kembali merebahkan tubuh Binar. "Aku sangat merindukanmu hari ini," ucapnya pelan dan dalam.
"Kita baru melakukannya semalam," ujar Binar tersipu malu.
"Apa salahnya jika kita lakukan lagi?" Arsenio menyeringai, dengan tangan yang mulai bergerak bebas menjamah setiap bagian tubuh Binar. Bagai seekor kecoak dalam posisi telentang, Binar tak bisa melakukan apapun selain pasrah.
Setelah melakoni adegan panas di siang bolong, Arsenio pun tertidur pulas. Sementara Binar segera berpakaian, lalu beranjak ke kamar mandi. Rasa penasarannya begitu besar, untuk melihat isi dari map yang tadi Arsenio letakkan di atas meja. Diam-diam, Binar membuka lalu membaca berkas-berkas di dalamnya.
Wanita muda itu tampak mengernyitkan kening, karena sama sekali tak memahami dengan segala hal yang tercantum di sana, berikut istilah-istilah dalam dunia bisnis. Semuanya terasa begitu asing. Dia pun memutuskan untuk kembali menutup map tadi, lalu beranjak ke dekat pintu. Namun, suara dering pesan di telepon genggam sang suami membuat wanita yang kini sudah berusia dua puluh dua tahun tersebut segera mengurungkan niatnya.
Rasa cemburu yang belum dapat dia singkirkan terhadap sang suami, membuat Binar tak jarang sering memeriksa ponsel secara diam-diam. Saat itu, dia melihat tiga pesan masuk dari Dwiki. Pada pesan terakhir, Binar membaca sesuatu yang membuatnya mengernyitkan kening.
Saya sudah bekerja pada Winona.
Entah apa isi dari pesan pertama dan kedua, karena Binar tak berani membukanya. Namun, pada akhirnya dia harus pergi ke dapur dengan membawa rasa penasaran yang sangat besar.
__ADS_1
Sementara Dwiki sudah memulai hari pertamanya bekerja sebagai sopir pribadi Winona. Dia juga mendapat fasilitas kamar di kediaman keluarga Biantara Sasmita. Hal itu tentu saja semakin memudahkan pergerakan dari Dwiki.
Beruntung sang tante sudah datang dari luar negeri, sehingga untuk sementara dirinya tidak perlu memusingkan masalah penginapan lagi.
"Selamat pagi, Nona," sapa Dwiki. Dia setengah membungkuk setelah membukakan pintu mobil untuk Winona.
Sementara putri dari Biantara tersebut langsung membalas dengan sebuah senyuman. Dia memandangi Dwiki dari ujung kepala hingga kaki. "Syukurlah. Kamu tidak memakai sandal jepit legendaris lagi," ujar wanita muda tersebut seraya masuk. Dia duduk dengan anggun, setelah sang sopir yang tampan menutup pintu.
"Aku tidak mungkin memadukan sandal jepit dengan kemeja seperti ini, Non," ujar Dwiki yang telah duduk di belakang kemudi. Dia menoleh sejenak sambil tersenyum hangat kepada Winona.
"Kuharap kamu nyaman bekerja denganku, Ki," ucap Winona.
Dwiki mengangguk. Dia menatap pada Winona melalui spion dalam. Hal sama seperti yang dilakukan oleh mantan tunangan Arsenio tersebut. Namun, tak lama kemudian Winona segera mengalihkan pandangan ke luar jendela, ketika mobil mewahnya telah melaju keluar dari halaman rumah.
Winona yang saat itu tengah melamun sambil memandang keluar, seketika tersadar. Dia lalu menyebutkan sebuah alamat yang Dwiki ketahui sebagai tempat di mana perusahaan investasi milik Arsenio berada. Pria itu pun memicingkan mata, terlebih ketika mereka telah tiba di tempat tujuan.
"Tunggulah sebentar. Aku tidak akan lama," pesan Winona setelah Dwiki membukakan pintu untuknya.
"Lama juga pasti akan kutunggu. Aku tidak mungkin meninggalkan nona cantik di sini," sahut Dwiki seraya mengedipkan sebelah mata.
"Tidak sopan. Aku bisa memotong gajimu karena bersikap genit seperti tadi," ujar Winona berlagak tidak suka. Namun, tak lama kemudian wanita muda itu tertawa renyah saat melihat raut wajah Dwiki yang tampak memelas. "Astaga. Kamu ini." Tak ingin terlalu lama bercanda dengan pria yang kini telah menjadi sopir pribadinya, Winona pun segera berlalu dari hadapan Dwiki.
__ADS_1
Sementara Dwiki terus memperhatikan langkah gemulai Winona, yang akan memasuki gedung perkantoran megah bernama Gouden Ster Investments. Tempat itu memang merupakan perusahaan investasi milik Arsenio.
Sebelum benar-benar masuk, Winona tampak bertegur sapa dengan seorang pria yang berusia tak jauh berbeda dengan Arsenio. Raut wajah putri dari Biantara Sasmita terlihat amat serius, saat mendengarkan pria tadi yang tengah berbicara padanya. Namun, tak lama kemudian Winona tampak menyunggingkan sebuah senyuman sinis penuh kepuasan. Senyuman yang sangat berbeda dengan yang Dwiki lihat, ketika wanita muda itu sedang bersamanya.
Dwiki pun tak ingin melewatkan hal itu. Dia mengambil beberapa foto Winona bersama pria tadi, sebelum mereka sama-sama masuk ke dalam gedung. Sesaat kemudian, Dwiki segera menghubungi Arsenio.
"Ya, Ki." Terdengar suara Arsenio dari seberang sana.
"Apa anda sedang sibuk, bos?" tanya Dwiki berbasa-basi.
"Tidak juga. Aku hanya sedang memeriksa berkas-berkas tentang perusahaan investasiku yang kemarin dikirimkan padaku," sahut Arsenio tanpa menghentikan aktivitasnya. Sementara Binar menyuguhkan secangkir kopi di atas meja. Tatapan wanita muda tersebut menyiratkan sesuatu, membuat Arsenio segera memperlihatkan layar ponselnya. Setelah melihat nama Dwiki, Binar pun tersenyum. Dia lalu duduk di sebelah sang suami yang kembali melanjutkan perbincangan dengan sang ajudan.
"Saat ini saya sedang berada di depan gedung perusahaan investasi milik anda, bos. Saya melihat Winona berbicara serius dengan seorang pria, sebelum keduanya sama-sama masuk. Nanti saya kirimkan foto-foto mereka kepada anda, karena saya sama sekali tidak mengenali pria itu," ujar Dwiki menerangkan.
"Baiklah. Kamu kirimkan saja fotonya kemari. Siapa tahu aku dapat mengenalinya," sahut Arsenio sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
Tak berselang lama, Dwiki mengirimkan beberapa buah foto kepada Arsenio. Dia pun segera memeriksanya dengan detail. Namun, dirinya juga tak dapat mengenali pria itu.
"Siapa dia?" tanya Binar yang ikut melihat foto tersebut.
"Entahlah. Akan kukirimkan ini pada Bayu. Siapa tahu dia mengenal pria ini," ucap Arsenio. Dia lalu mencari nomor kontak Bayu dan mengirimkan salah satu dari beberapa foto yang Dwiki kirimkan. Dia bertanya tentang identitas pria asing tadi.
__ADS_1
Cukup lama Arsenio menunggu hingga Bayu membalas pesan yang dia kirimkan tadi. Namun, meski begitu Arsenio tak merasa kecewa, karena Bayu mengenali pria yang dimaksud.
Dialah yang bernama Haris, pak. Demikian bunyi pesan yang baru saja dikirimkan oleh Bayu.