Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Chef de Cuisine


__ADS_3

Sepanjang jalan pulang, Binar tak banyak bicara. Dia lebih banyak mengamati paper bag berwarna putih yang berisikan tas kulit dengan merk ternama di kota itu. “Tasnya bagus sekali, Rain. Namun, sayang sekali jika uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membelikanku barang seperti ini. Aku masih percaya diri dengan tas yang biasa," ucap Binar menyesalkan apa yang Arsenio lakukan, meskipun dia merasa amat tersanjung karenanya.


“Sudahlah, Sayang. Tidak ada barang yang terlalu mahal untuk istri sendiri. Lagi pula, uang masih bisa dicari,” balas Arsenio seraya merengkuh pundak Binar. Dia berhenti sejenak, kemudian mengangkat dagu sang istri. Arsenio pun mengecup bibir ranum wanita muda itu untuk sesaat. Dia tak peduli meskipun mereka tengah berada di keramaian, karena orang-orang yang berlalu lalang di sana juga tidak ada yang peduli dengan apa yang mereka lakukan. Sesuatu yang masih membuat Binar merasa risih karena tak terbiasa.


"Jika di Indonesia, aku harus membawamu untuk sembunyi terlebih dulu," ujar Arsenio seraya tertawa pelan.


"Kamunya saja yang nakal," sahut Binar.


Mereka pun kembali melanjutkan langkah. Arsenio tak melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Binar. "Dengarkan aku, Sayang. Uang itu hanya sebuah mainan. Seberapa banyak pun kita kumpulkan, mereka tak akan bisa bertahan lama dalam genggaman. Kenapa banyak sekali orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkannya. Makin besar yang kita peroleh, semakin banyak hal yang kita inginkan," terang Arsenio.


"Bijak sekali," sahut Binar menanggapi.


"Sebenarnya itu bukan kata-kataku, melainkan petuah dari tuan Lievin Vander Rainier," balas Arsenio sambil tergelak. Namun, tak lama kemudian pria itu langsung terdiam. Hal itu terus berlangsung bahkan hingga mereka tiba di kawasan apartemen milik Fabien.


Sesampainya di apartemen, Arsenio terkejut melihat pintu ruangan yang berada dalam keadaan setengah terbuka. Pria itu ingat betul, bahwa Fabien mengatakan jika kode kunci otomatis hanya diberikan pada dirinya dan juga Binar. “Mundur dulu, sayang.” Arsenio menggeser tubuh sang istri, sehingga berdiri di belakang tubuh tegapnya. Dia berjalan dengan hati-hati dan agak mengendap-endap, ketika masuk ke dalam ruang apartemen sang adik.


Ternyata kejutan tak sampai di situ. seluruh ruangan di dalam apartemen yang tadi pagi masih terlihat berantakan, kini begitu rapi dan bersih. Seluruh perabot dan barang-barang tampak mengkilap serta tertata apik.


“Siapa yang ....” Belum selesai kalimat yang diucapkan Binar, tiba-tiba muncul seorang wanita paruh baya bertubuh agak tambun dari arah dapur.


“Guten tag (selamat siang). Anda pasti kakak dari Fabien. Perkenalkan, namaku Luisa. Fabien selalu memakai jasaku untuk membersihkan apartemennya,” tutur wanita itu bangga.


“Ah, Luisa. Kupikir ada pencuri. Adikku tidak mengatakan apa-apa tentang dirimu.” Arsenio terkekeh pelan.

__ADS_1


“Tidak, Tuan. Ini adalah apartemen paling aman. Anda tidak perlu khawatir,” ujar Luisa seraya meraih tas yang tergeletak di atas meja ruang tamu. “Berhubung pekerjaanku di sini sudah selesai, maka aku akan pamit dulu.” Wanita itu mengangguk sopan sebelum berlalu dari hadapan Arsenio dan juga Binar.


Namun, ketika Luisa berada di ambang pintu, dia tiba-tiba menoleh dan berbalik. “Anda bisa menghubungi Fabien untuk mengganti kode kunci otomatis,” ucapnya.


“Baiklah. Terima kasih Luisa,” balas Arsenio ramah. Sementara Binar hanya bisa mendengarkan percakapan dalam bahasa Jerman itu dengan raut kebingungan. Binar mulai gelisah. Dia tak mengerti sama sekali dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Terbayang olehnya tentang segala kemungkinan yang terjadi besok di tempat kerja.


“Sudah, jangan khawatir. Besok aku akan mengantar kamu berangkat kerja. Jangan pulang dulu sampai aku datang menjemput.” Arsenio seakan paham dengan keresahan yang ditunjukkan oleh sang istri. Dia kembali merengkuh pundak wanita muda itu seraya mengecup keningnya.


“Terima kasih, Rain.” Binar membalas dekapan suaminya lebih erat dan tak kalah mesra.


................


Keesokan paginya, sesuai janji Arsenio yang akan mengantarkan Binar ke restoran tempat dia magang selama satu bulan lamanya. Setibanya di sana, Binar kembali terlihat resah. Rasa tidak percaya diri mulai mengusik perasaan wanita muda itu.


“Doakan aku, ya,” pinta Binar lirih.


“Pasti!” Arsenio mengecup kening Binar dengan lembut. “Jangan lupa, kalau sudah selesai langsung hubungi aku," pesannya.


“Iya.” Binar membalas perlakuan manis sang suami dengan mencium pipinya. Dia juga melambaikan tangan pada Arsenio sebelum memasuki restoran. Awalnya, Binar merasa ragu untuk membuka pintu yang terbuat dari kaca tebal, dan dibingkai menggunakan kayu berkualitas tinggi. Kusen kayu itu seluruhnya dicat dengan menggunakan warna hitam yang elegan.


Tampaklah seorang wanita berpakaian rapi, datang menghampiri lalu membuka pintu lebar-lebar. Binar merasa khawatir jika wanita itu akan menyapa dirinya dalam bahasa Jerman, sehingga dia memutuskan untuk menyapa lebih dulu. “Selamat siang. Perkenalkan, namaku Binar. Tuan Normand Heinze yang menyarankanku untuk datang kemari,” ucapnya dalam bahasa inggris.


“Oh hai, Binar. Aku Marilyn, penanggung jawab sekaligus pengelola tempat ini. Tuan Normand sudah memberitahukan semuanya,” sahut wanita itu ramah. “Jadi, apakah kau bersedia mengikuti pelatihan dan magang sampai selesai?” lanjutnya.

__ADS_1


“Yes, Ma’am. I’m ready,” ucap Binar tanpa ragu.


“Bagus. Sekarang ikuti aku,” ajak Marilyn yang berjalan anggun di depan Binar. Mereka menuju bagian belakang restoran. Di sana terdapat satu ruangan luas dengan berbagai macam perabot.


Pada satu sisi ruangan, terdapat meja kursi untuk menulis. Di sana sudah terdapat beberapa orang. Sedangkan di sisi lain terdapat beberapa meja berbentuk bulat, lengkap dengan peralatan makan yang tertata rapi di atasnya. Ada pula lemari-lemari besar yang berisi barang pecah belah.


“Ini adalah tempat berkumpulnya seluruh pegawai untuk melaksanakan pelatihan, sesuai posisi mereka masing-masing,” terang Marilyn. “Nanti mereka akan dilatih di bilik yang berbeda,” lanjutnya, bersamaan dengan dua orang yang datang dengan tergesa-gesa.


“Nah, itu adalah chef de cuisine yang memimpin kerja para koki. Di sebelahnya adalah sous chef atau bisa dibilang sebagai wakil dari chef de cuisine,” tunjuk Marilyn pada dua orang pria yang baru datang tadi.


“Eh, dia ....” Binar terkejut tak percaya, ketika melihat salah satu pria yang mengingatkannya pada sosok tampan bermata biru yang dia temui dalam pesawat beberapa hari yang lalu.


Pria bermata biru yang bernama Lucas Wilder tersebut juga tampaknya masih mengingat Binar dengan jelas. Terbukti dengan dia yang mendatangi meja gadis itu dengan segera sambil melayangkan senyuman.


.


.


.


Hai, otor punya rekomendasi novel yg keren, nih. Mampir yaa ❤️


__ADS_1


__ADS_2