
Dwiki memarkirkan mobil milik Biantara di dekat tangga menuju teras rumah. Di sana, dia melihat Winona sudah berdiri dengan anggun sambil memandang ke arahnya dan Biantara yang baru keluar dari kendaraan mewah tersebut. Wajah berseri mantan tunangan Arsenio tersebut terlihat jelas, ketika Dwiki berjalan menghampiri dirinya.
“Kamu tidak ke kantor, Win?” tanya Biantara heran.
“Aku menemani mama selagi Papa pergi. Lagi pula, Papa membawa sopir pribadiku,” sahut Winona seraya melirik sang kekasih. Dwiki tampak mengacak-acak rambut yang sudah terlihat kusut. Winona jelas tak menyukai hal itu. “Ya sudah, Pa. Aku berangkat dulu,” pamitnya seraya mencium pipi sang ayah. “Mama sudah minum obat. Saat ini dia sedang beristirahat dengan ditemani Bi Reni,” ucap Winona lagi, menyebutkan nama dari beberapa asisten rumah tangga di kediaman Biantara Sasmita.
“Baiklah. Papa akan melihat keadaan mamamu. Kebetulan, semua urusan tentang Haris sudah selesai. Polisi telah mengurus segalanya. Papa harap semua ini cepat beres, supaya Anggraini dapat beristirahat dengan tenang.” Biantara menoleh sesaat kepada Dwiki, yang segera mengangguk sambil menyunggingkan senyuman hangat pada calon ayah mertua. Itu juga jika hubungannya dengan Winona mendapat restu dari Yohana, yang belum mengetahui tentang jalinan cinta putri semata wayangnya tersebut. Tanpa banyak bicara, Biantara segera masuk. Dia meninggalkan Winona yang berdiri di teras, sedangkan Dwiki di bawah sambil bersandar pada body mobil.
Winona menuruni undakan anak tangga dengan hati-hati. Dia lalu berdiri di hadapan Dwiki. “Kamu harus ikut denganku,” ucapnya dengan ekspresi yang seakan tak menerima penolakan.
“Kata siapa aku bersedia jadi sopir pribadimu lagi, Non?” Dwiki menaikkan sebelah alisnya.
“Anggap saja begitu,” sahut Winona.
“Bayarannya apa?” tanya Dwiki yang terdengar bernada lain di telinga Winona.
“Ayo ikut!” Dengan gemas, Winona menarik tangan Dwiki. Dia membawa pria itu ke dekat di mana mobilnya terparkir. Namun, Winona ternyata menempatkan Dwiki di kursi sebelah pengemudi. Sementara dirinya bersiap di belakang setir.
Dwiki yang merasa heran bercampur penasaran, memilih untuk tak banyak bicara. Dia memperhatikan setiap gerak tubuh sang kekasih, yang terlihat begitu indah di matanya. Terkadang, Dwiki merasa heran karena Arsenio bisa mengabaikan wanita seperti Winona. Namun, itulah cinta. Tak ada yang bisa menebak ke mana hati akan berlabuh.
“Pasang sabuk pengamanmu,” tegur Winona, ketika melihat Dwiki hanya diam terpaku memandang ke arahnya.
Dwiki yang terlalu asyik menikmati keindahan raga sang kekasih, segera tersadar. Sambil tersenyum, dia memasang sabuk pengaman. Namun, pandangan sepupu Ajisaka tersebut kembali lagi pada sopir cantik di sebelahnya.
__ADS_1
“Bagaimana tadi?” tanya Winona yang telah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Apanya yang bagaimana?” Dwiki balik bertanya.
“Perjalanan dengan papaku?” Winona melirik sejenak kepada sang kekasih sambil tersenyum manis.
Sedangkan Dwiki hanya menggaruk keningnya. Dia kembali mengacak-acak rambut yang terlihat kusut. Apa yang dilakukannya, kembali membuat Winona menunjukkan raut tak suka. Wanita itu pun melajukan kendaraan dengan kecepatan jauh lebih kencang dari sebelumnya. Arah yang Winona ambil pun bukanlah menuju ke kantor milik Biantara Sasmita.
“Loh, kita mau ke mana?” tanya Dwiki. Tatapan penuh kekaguman tadi, seketika berubah menjadi sorot penasaran.
“Nanti juga kamu akan tahu,” sahut Winona dengan enteng. Dia melirik sejenak kepada pria dengan celana cargo pendek di sebelahnya, lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan.
Tak berselang lama, mobil mewah Winona berbelok ke sebuah mall ternama ibukota. Dia memilih parkir di basement. Setelah menempatkan kendaraan dengan begitu apik, Winona mengajak Dwiki keluar. Pria itu pun menuruti saja semua yang dikatakan sang nona, kekasih hatinya. Dia bahkan tak menolak sama sekali, ketika wanita cantik bertubuh sintal tadi menggenggam tangannya. Winona menuntun Dwiki berjalan masuk, melewati beberapa pertokoan yang ramai pengunjung.
“Untuk apa kita kemari?” tanya Dwiki setengah berbisik.
“Kamu pikir untuk apa?” Winona balik bertanya.
“Ah tidak. Aku belum ….” Dwiki tak melanjutkan kata-katanya, ketika melihat sorot protes dari sang kekasih. “Baiklah” ucapnya kemudian. “Kamu ratunya,” bisik pria itu membuat Winona tersenyum kecil.
“Kak,” sapa salah seorang karyawan di sana. Sepertinya, dia sudah mengenal Winona. “Lama sekali tak berkunjung kemari,” ujarnya dengan logat Medan yang sangat kental.
“Iya. Aku sibuk,” balas Winona. “Tolong rapikan rambut pacarku, ya,” pintanya kemudian.
__ADS_1
Pemuda dengan rentang usia sekitar dua puluh sampai dua puluh tiga tahun tadi, segera mengalihkan perhatian kepada Dwiki. Dia tampak menautkan alisnya. “Baiklah. Ayo, Mas. Silakan.” Tangan kanannya terarah ke kursi khusus yang kosong.
Dwiki mengangguk. Sebelum beranjak, dia sempat menoleh kepada Winona. Pria itu pun menuruti keinginan sang kekasih, untuk membuat penampilannya terlihat jauh lebih rapi.
Sambil menunggu Dwiki yang tengah dicukur rambutnya, Winona asyik bermain ponsel. Dia sempat berkirim pesan dengan Binar, yang saat itu masih berada di spa bersama Anika. Winona mengomentari postingan sekretaris sang ayah yang ketahuan bolos kerja karena menemani Binar di spa.
Beberapa saat kemudian, Dwiki telah selesai. Rambut pria itu kini terlihat jauh lebih rapi dan tertata. Tentu saja, dia juga tampak jauh lebih tampan dari sebelumnya. Setelah selesai dengan acara cukur rambut, Winona mengajak Dwiki untuk berkeliling sebentar. Entah apa yang dicari wanita itu, karena pada akhirnya dia hanya mendapat satu cup es krim. Barulah putri Biantara Sasmita tersebut mengajak Dwiki untuk kembali ke tempat parkir.
“Kamu tampan sekali,” sanjung Winona sebelum memasang sabuk pengaman. Dia mendekat kepada Dwiki, yang segera menyambutnya dengan sebuah ciuman mesra. Mereka melakukan itu untuk beberapa saat.
“Apa kamu sering ke sana?” tanya Dwiki setelah Winona memasang sabuk pengaman dan bersiap dengan kemudi. Dia memberikan satu suapan es krim kepada Winona yang mulai melajukan kendaraan.
“Aku biasa ke sana dengan Arsen,” jawab Winona. Raut wajahnya tiba-tiba terlihat lain. Winona bahkan sempat melirik Dwiki secara diam-diam. Pria itu masih tampak tenang sambil menikmati sisa es krim di dalam cup. “Kamu tidak marah ‘kan, Ki?” tanya Winona resah.
“Kenapa aku harus marah?” Dwiki menoleh sambil menyunggingkan senyuman khasnya. Dia kembali memberikan satu suapan kepada Winona. Kebetulan, saat itu lampu merah sedang menyala. “Tak ada yang harus dipermasalahkan lagi. kita berdua memiliki masa lalu masing-masing,” ujar Dwiki membuat Winona dapat tersenyum lega.
Sesaat kemudian, mobil kembali melaju bersamaan dengan suara dering ponsel milik Dwiki. Nama si mbok muncul di layar sebagai pemanggil. Dwiki sempat mengernyitkan kening, karena tak biasanya wanita itu menghubungi dia. Dengan raut penasaran, Dwiki pun menjawab panggilan telepon tersebut. “Iya, mbok. Ada apa?” tanya Dwiki.
“Mas Dwiki ada di mana sekarang?” tanya si mbok dengan nada bicara yang terdengar cemas.
“Saya sedang di jalan. Memangnya kenapa, mbok?” tanya Dwiki lagi.
“Tadi si mbok lihat Pak Arsenio datang ke rumah sebelah. Mbok dengar ada keributan, bahkan ada suara tembakan. Aduh, mas. Mbok jadi takut,” terang si mbok menuturkan.
__ADS_1
“Apa?” Dwiki terkejut bukan main. Dia bahkan mematikan sambungan telepon begitu saja. Dwiki kemudian meminta Winona mengarahkan kendaraan ke perumahan tempat tinggal Bayu.