Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Dua Pesaing Tampan


__ADS_3

"Apa ini, Kak?" tanya Binar. Otaknya mencoba mencerna semua sikap yang ditunjukkan oleh Chand. Binar tak pernah mengira bahwa segala kebaikan serta perhatian duda tampan itu akan berakhir pada sebuah pernyataan cinta.


"Seperti yang kamu dengar tadi. Aku ingin kamu memakai cincin ini sebagai tanda ikatan tak resmi di antara kita," jawab Chand tenang.


"Tidak, maksudku ... maksudku adalah ...." Binar tampak kebingungan untuk mengungkapkan setiap untaian kata yang ada dalam pikiran, tapi sulit untuk dia sampaikan. Gadis itu terlalu takut jika dirinya akan menyinggung perasaan pria yang selama ini telah banyak berjasa.


"Aku tahu, Mal. Aku sangat memahami jika kamu mungkin terkejut. Ini memang terlalu cepat dan terburu-buru, tapi aku tak ingin kehilangan kesempatan," ujar Chand memberikan penjelasannya. Sikap dan tutur kata pria itu sangat jauh berbeda dengan Arsenio yang terasa jauh lebih santai.


"Kakak baru bercerai, apa ini tidak ...."


"Semua orang mengira bahwa kamu adalah pacarku. Apa bedanya?" balas Chand menyela ucapan Binar.


"Tidak begitu, Kak. Aku hanya ...." Binar menundukkan wajah, tak berani melawan tatapan pria tampan yang sejak tadi menghujaninya dengan sorot penuh harap. Gadis itu merasa tak tega untuk menolak, tapi dia juga tak bisa jika harus mengatakan 'iya'.


"Kamu masih mengharapkan Arsenio?" tanya Chand dengan nada dan raut tak suka.


"Harus berapa kali kujelaskan padamu tentang siapa dia. Apa kamu belum mengerti juga bagaimana kehidupan yang dijalani pria itu?" Chand mengempaskan napas pelan. "Ayolah, Nirmala. Kamu masih muda. Jangan rusak masa depanmu dengan menenggelamkan diri dalam kebrengsekan Arsenio. Dia itu seorang bajingan!" tegas Chand mencoba memengaruhi pemikiran Binar.


"Aku tahu, Kak. Aku juga bisa memahami kenapa Kakak bisa berkata seperti itu. Namun, tidak mudah untuk ...." Binar kembali merasa sulit untuk memberikan penjelasannya.


“Berpaling darinya?” sela Chand. Dia mencoba meneruskan kalimat Binar. “Luar biasa,” pria itu tertawa getir kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


“Maaf kalau aku sudah mengecewakan Kak Chand,” sahut Binar lirih. “Seandainya bisa, aku juga ingin melupakan Rain ... um maksudku Arsenio. Namun, ternyata sulit sekali menghilangkan perasaan ini,” gadis cantik itu kembali menyembunyikan wajahnya.


“Aku tahu, Mal. Jangan diteruskan,” balas Chand lesu. “Tidak ada yang bisa memaksakan perasaan. Kalaupun bisa, aku tidak akan tega,” lanjutnya sambil tertawa pelan.


Perbincangan itu pun terjeda ketika seorang pelayan datang dan membawakan pesanan mereka. “Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Lupakan saja ucapanku tadi, ya. Makan saja dulu, kamu pasti lapar." Chand berusaha menyembunyikan kegetirannya dengan senyuman hangat.


Makan malam kali itu dilalui dengan susasan yang begitu canggung. Hanya sesekali saja Chand bertanya pada Binar tentang cita rasa masakan yang baru saja mereka santap. Selebihnya, mereka lebih banyak diam.

__ADS_1


Dalam hati, Binar sungguh menyesal karena menolak cinta tulus Chand. Namun, akan jauh lebih kejam lagi jika dia memberikan harapan palsu pada pria yang sudah begitu baik padanya. Sedangkan Chand sendiri tidak akan tega memaksakan keinginannya pada Binar. Dia paham betul jika segala sesuatu yang dipaksakan, tak akn pernah bisa berakhir baik.


“Sudah selesai, Mal? Apa kamu mau nambah?” tanya Chand saat melihat Binar selesai dengan makanannya. Gadis itu mengelap mulut menggunakan tisu.


“Aku kenyang sekali, Kak. Terima kasih banyak, ya,” jawab Binar malu-malu.


“Kamu ingin ke mana sekarang? Biar aku mengantarmu,” tawar Chand sambil menyentuh punggung tangan Binar. Sementara gadis itu terlalu canggung untuk menolak, sehingga dia membiarkan saja perlakuan duda tampan tersebut.


“Pulang saja, Kak. Aku takut kemalaman. Tadi tante Anggraini bilang ….”


“Iya, iya. Aku juga dengar,” potong Chand. “Ya sudah. Kalau begitu kita pulang saja." Pria rupawan itu mengakhiri makan malamnya dengan senyuman dan tatapan sendu. Chand kemudian mengangkat tangan dan melambai pada seorang pelayan sambil meminta tagihan untuk dia bayar.


Pelayan itu mengangguk dan kembali ke meja kasir, lalu kembali membawa sebuah buku kecil berisi jumlah tagihan. Chand menyelipkan kartu kreditnya di buku itu dan menunggu beberapa saat sampai pelayan tadi datang dan menyerahkan nota padanya.


Binar sempat melirik nota itu dan ternganga melihat jumlah yang harus dibayar oleh Chand. Namun, gadis itu segera bersikap biasa saja ketika Chand mengulurkan tangan. “Ayo,” ajaknya.


Binar menerima uluran tangan Chand dan bergandengan hingga keluar dari bangunan restoran. “Kita jalan berputar, yuk,” ajak Chand. Tanpa menunggu jawaban gadis muda itu, Chand mengajaknya menyusuri pesisir pantai berbatu dan berdiri di sana untuk sejenak.


Binar hanya menyunggingkan senyum manis, lalu menggeleng. “Di sini juga tidak kalah bagus, Kak,” sahutnya menanggapi.


Chand mengangguk, kemudian terdiam. Ditatapnya lautan lepas yang tampak hitam pekat, lalu menoleh pada gadis cantik yang berdiri di sebelahnya. Binar seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, gadis itu seakan ragu. “Apa? Bicara saja,” ucap duda tampan itu.


“A-apa aku masih bisa menghubungi Kakak?” tanya Binar pada akhirnya.


“Aku masih di sini, Mal. Jangan takut aku menjauh darimu hanya karena kamu baru saja menolak cintaku. Aku akan tetap berada di dekatmu. Kamu bisa mencariku kapan saja saat butuh,” jawab Chand begitu lembut, membuat Binar bernapas lega, “tapi aku juga tidak akan menyerah,” seringai Chand kemudian.


“Astaga.” Binar tertawa pelan. Tangan kanannya bergerak dan mencubit pinggang Chand pelan. Dia merasa kagum karena Chand begitu dewasa dalam bersikap dan juga berpikir. Andai saja dia lebih dulu bertemu dengan pria itu, maka bisa saja dirinya akan jatuh cinta pada sosok tampan tersebut.


“Ayo pulang,” ajak Chand seraya menggenggam tangan Binar demikian erat dan seolah enggan dia lepaskan. Chand melakukan itu bahkan hingga mereka tiba di dekat mobilnya yang terparkir. Pria blasteran India itu tak juga melepaskan genggamannya.

__ADS_1


Hati-hati, dia menarik tangan Binar dan mengecupnya lembut. Setelah itu, Chand membantu Binar masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan gadis itu ke kediaman Rainier.


Mobil Chand memasuki halaman bersamaan dengan mobil Arsenio. Mereka parkir berjajar dan keluar dari dalam kendaraan secara bersamaan pula. Bedanya, Chand tak sendirian seperti Arsenio, melainkan bersama Binar.


Hati Arsenio seakan mendidih melihat hal itu. “Pantas saja aku tidak bisa menghubungi kamu dari tadi, Binar. Ternyata kamu tengah berkencan dengannya,” ujar Arsenio sinis dengan tatapan lekat yang mengarah pada Chand.


Binar membuka mulutnya, tapi tak mengeluarkan suara. Dia seolah bingung menanggapi sikap Arsenio. Pada akhirnya, Binar lebih memilih untuk diam dan menunduk.


“Aku baru saja selesai mengajaknya makan malam,” ujar Chand santai. “Kamu masuk duluan saja, Mal. Ada yang ingin kubicarakan dengan Arsen,” sambungnya.


Sebelum menjawab, Binar melirik ke arah Arsenio terlebih dulu. Saat dilihatnya mimik muka pria blasteran Belanda itu yang mulai melunak, Binar pun mengangguk. “Aku ke dalam dulu,” pamitnya pelan.


“Jangan tidur dulu. Setelah ini aku ke kamarmu,” sahut Arsenio sambil mengedipkan sebelah mata, membuat Binar terbelalak seolah memrotes apa yang baru saja Arsenio ucapkan. Namun, lagi-lagi dia tak sanggup berkata-kata dan memutuskan untuk berlalu dari sana.


“Jangan macam-macam kamu, Sen! Apa kamu tidak memikirkan kondisi Nirmala? Bagaimana kalau orang tuamu memergoki! Tolong jangan membuat om dan tante curiga. Apalagi sejak Nirmala pindah kemari, kau jadi sering menginap di rumah ini daripada di apartemenmu,” tegur Chand keberatan.


“Aku tahu apa yang aku lakukan,” sanggah Arsenio membela diri.


“Kamu membahayakan dia!” Nada bicara Chand meninggi. “Kalau sampai terjadi apa-apa pada Nirmala apalagi dia sampai tersakiti, aku tak akan berpikir dua kali untuk membawa Nirmala pergi dari sini dan menjauh darimu.” Telunjuk pria itu lurus mengarah ke wajah Arsenio.


“Oh, ya? Coba saja kalau berani.” Arsenio membusungkan dada dan setengah mendongak, seakan menantang Chand.


.


.


.


Wuih, panas, nih. Ademkan dulu dengan karya keren yg satu ini 😍

__ADS_1



__ADS_2