Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Senyuman Binar


__ADS_3

Sementara Chand sedang asyik di depan laptopnya, ketika Kalini datang menghampiri sambil membawa nampan penuh dengan camilan. Dia meletakkan wadah itu di atas meja kerja, tepat di sebelah laptop mahal milik sang putra. “Sedang apa kamu, Chand?” tanyanya.


“Sedang mengecek email dari kantor, Ma,” jawab pria tampan itu tanpa melepaskan tatapannya dari layar laptop.


“Kapan kamu kembali ke Jakarta?” tanya Kalini lagi.


“Secepatnya, Ma. Mungkin lusa. Kenapa? Mama mau ikut?” Chand menyunggingkan senyumnya untuk menggoda sang ibu.


“Ih, kamu. Sudah dibilang kalau Mama tidak betah tinggal di Jakarta. Jauh dari makam papamu. Nanti Mama susah kalau mau ziarah. Lagi pula ….” Kalini menunduk. Ingin rasanya dia mengungkapkan bahwa dirinya tidak ingin lagi bertemu dengan Ghea maupun Arsenio. Namun, kata-katanya serasa tercekat di tenggorokan.


“Lagi pula kenapa?” tanya Chand yang lama menunggu kalimat lanjutan dari ibunya sembari tetap serius mengamati layar.


“Ah, tidak. Tidak kenapa-kenapa,” sahut Kalini. Meskipun sedih, wanita paruh baya itu tetap memamerkan senyumnya pada Chand. “Bagaimana sidang putusan kemarin? Sudah lega ya kamu, sudah sah berpisah dari Ghea,” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Sangat lega, Ma. Aku bisa sepenuhnya bebas mengatur masa depanku,” sahut Chand dengan mata menerawang ketika menjawab demikian. “Oh, ya, Wini meminta tolong padaku untuk membantunya mengatur acara pesta pertunangan. Sepertinya mulai besok aku akan sangat sibuk, Ma. Lusa baru aku akan terbang ke Jakarta,” tuturnya kemudian.


“Oh, begitu. Lalu, Nirmala bagaimana?” celetuk Kalini tiba-tiba, membuat Chand mengernyitkan kening.


“Apanya yang bagaimana?” Chand tersenyum kemudian mengguman pelan.


“Dia masih belia, cantik pula. Mama suka gayanya yang sederhana. Istilah jawanya ‘ora neko-neko’. Apalagi waktu di wedding expo kemarin, Mama memperhatikan kamu yang tidak berkedip waktu Nirmala datang,” goda Kalini seraya mengulum senyumnya, ketika melihat wajah Chand yang mulai merona.


“Ya, aku tidak menyangka saja kalau gaun yang aku belikan kemarin sangat cocok untuknya,” balas Chand yang sedari tadi menghadap laptop. Saat itu, dia segera memutar kursi dan berpindah ke arah sang ibu yang duduk di sampingnya. “Kapan hari aku mengajak Nirmala untuk datang ke Expo. Dia sempat menolak karena tidak punya baju bagus. Jadi, aku mengajaknya berbelanja,” terang pria yang kini telah resmi menyandang status duda. Lagi-lagi, matanya menerawang, membayangkan betapa cantiknya Binar dalam balutan gaun yang dia hadiahkan.


“Kalau kamu ingin melanjutkan hidup dan menjatuhkan pilihan padanya, Mama setuju saja, Chand. Mama bisa melihat kejujuran di mata gadis itu,” sahut Kalini pelan.


“Tumben. Mama senang aku sudah sah bercerai dari Ghea? Biasanya Mama sedih terus karena tidak sanggup kehilangan menantu sebaik dia,” celoteh Chand keheranan.


“Baik apanya? Dia itu, ups .…” Kalini segera menutup mulutnya karena sadar dia hampir kelepasan bicara.


“Ma?” Chand mengangkat satu alisnya. “Apa ada yang Mama sembunyikan dariku?” tanyanya hati-hati.


“Tidak … tidak ada. Untuk apa Mama menyembunyikan sesuatu. Sudahlah. Dimakan dulu camilannya. Mama mau menengok rumah baru Prajna dulu,” elaknya seraya buru-buru keluar dari ruang kerja mendiang sang suami, yang kini kerap dipakai Chand untuk melakukan segala urusan pekerjaannya.


Sepeninggal Kalini, Chand termenung memikirkan sosok gadis muda yang akrab dengannya tanpa disengaja. Beberapa hari mengenal Nirmala, membuat hidup pria berusia tiga puluh tahun yang tadinya monoton, tiba-tiba terasa jauh lebih berwarna. “Nirmala,” gumam Chand. Seutas senyuman hadir di wajah tampan perpaduan India dan khas pria Jawa.

__ADS_1


Namun, lamunan indah Chand tentang Nirmala alias Binar, akhirnya harus terhenti ketika ponselnya berbunyi. Pada layar ponsel tadi tertera nama Arsenio. Chand pun terdiam beberapa saat, sebelum memutuskan untuk menerima panggilan itu. “Halo? Ada apa, Sen?” sapanya.


“Hai. Kamu akan datang ke Jakarta, kan?” tanya Arsenio tanpa basa-basi. Tipikal dirinya waktu sebelum amnesia. Sesaat, Chand sempat terpikirkan akan sesuatu. Namun, dia tepis dengan segera.


“Pasti,” jawab Chand. "Selain bertanggung jawab sebagai penyelenggara pesta pertunanganmu dengan Wini, aku juga harus mengadakan Wedding Expo di ibukota,” lanjutnya.


“Baguslah. Kutunggu kamu di sana. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. See you,” tutup Arsenio tanpa banyak basa-basi lagi.


Chand yang hendak membalas ucapan sahabatnya itu, hanya bisa membuka mulut tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun. Arsenio telah lebih dulu memutuskan panggilan tersebut. Dia lalu mengempaskan napasnya pelan. Sejenak, duda tampan itu kembali berpikir. Cara bicara Arsenio terasa begitu berbeda dari saat terakhir mereka berbincang, saat membahas foto gadis bernama Binar.


"Ah, sudahlah," gumam Chand. Beberapa saat kemudian, jemarinya sudah hendak menekan nomor kontak Nastiti, ketika muncul lagi satu panggilan masuk dari asistennya di Jakarta.


“Pak Chand,” sapa sang asisten dari seberang sana.


“Ya, ada apa, Na? Apa ada masalah?” tanya Chand was-was.


“Maaf, Pak. Memang ada sedikit masalah untuk acara Expo kita minggu depan,” tutur asistennya.


“Masalah apa?” tanya Chand lagi.


“Kenapa tidak mencari model di ibukota saja?” tanya Chand lagi keheranan.


“Di sini, kami hanya mendapatkan beberapa orang yang sesuai, Pak. Anda tahu bukan bahwa kita memiliki kriteria khusus untuk acara ini. Kami sudah melakukan casting dengan ketat, tapi nyatanya masih kurang tiga orang lagi. Mungkin lebih efisien jika kita mencari sama-sama,” jawabnya.


“Hm,” gumam Chand terdiam sejenak sambil mengusap dagu. "Baiklah. Akan kuusahakan. Jika tidak ada, maka kita pakai saja seadanya atau mungkin mengubah konsep acara. Namun, akan kuusahakan dulu," tutup Chand.


Pria itu kembali berpikir. Dia kembali berusaha menghubungi Nastiti. Tak membutuhkan waktu lama bagi gadis itu untuk menjawab panggilannya. “Halo, Nastiti. Apa aku bisa bicara dengan Nirmala?” tanyanya langsung.


Hening sejenak, Nastiti tak segera menjawab. “Halo. Eh iya, Pak. Tunggu sebentar,” jawabnya kemudian. Sebenarnya, saat itu Nastiti sedang gugup dan sedikit terkejut ketika pria tampan tersebut tiba-tiba menelepon dan mencari Binar. Nastiti pun sempat menanyakan pada Binar, apakah gadis itu mau menerima telepon dari Chand.


Binar yang tak merasa keberatan, segera mengangguk dan menerima ponsel Nastiti yang segera dia dekatkan ke telinga. “Halo, Kak Chand,” balasnya ragu.


Nastiti yang mendengar panggilan Binar untuk Chand langsung terbelalak tak percaya. Dia semakin penasaran ketika Binar hanya mengangguk sambil sesekali tersenyum dan tersipu. Sambil meneguk air dari dalam gelas, Nastiti terus memperhatikan sikap Binar yang terlihat tak seperti biasanya. “Kak Chand bisa saja. Aku cubit nih, pipinya,” celetuk gadis cantik itu, membuat air yang sudah berada di dalam mulut Nastiti menyembur keluar.


Binar segera mundur agar tak terkena semburan air sambil terkikik pelan. “Bukan, Kak. Nastiti cuma tersedak,” ucapnya sambil melirik putri bu Irma yang kini telah menjadi sahabat baiknya itu. Lagi-lagi, Binar mengangguk dan tertawa. Entah apa yang dia bicarakan dengan Chand, karena Nastiti tak dapat menangkap suaranya sedikit pun.

__ADS_1


Akan tetapi, wajah ceria Binar memudar ketika Chand mengatakan sesuatu padanya. Dia terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku pikir-pikir dulu ya, Kak. Baiklah. Besok kujawab,” ujarnya sebelum menutup teleponnya.


“Kenapa, Mbak? Pak Chand bilang apa saja?” cecar Nastiti seraya mendekatkan dirinya pada Binar.


“Um.” Binar menoleh sejenak pada Nastiti, lalu menunduk. “Awalnya kami cuma bercanda. Kak Chand mengatakan kalau aku cantik memakai gaun yang dibelikannya kemarin,” tuturnya.


“Memang. Mbak Binar cantik, kok,” timpal Nastiti antusias. “Terus apa lagi?” desaknya.


“Terus, Kak Chand menawariku untuk menjadi model pagelaran exponya di Jakarta,” jawab Binar lesu.


“Ya ampun, Mbak. Terima saja. Itu kesempatan emas. Mbak tidak usah pikirkan pekerjaan part time di tempat mbak Renata. Karena bekerja di sana sifatnya tidak mengikat,” papar Nastiti.


“Bukan itu yang kupikirkan, Ti,” sahut Binar.


“Lantas?” Nastiti menautkan alisnya.


“Aku belum siap ke Jakarta,” ucap Binar begitu lirih.


“Kenapa, Mbak? Bukannya cita-cita mbak dari awal adalah mencari kerja di Jakarta? Siapa tahu dengan dibantu oleh pak Chand, Mbak Binar bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai di sana,” bujuk Nastiti penuh semangat.


“Aku sudah tidak ingin pergi ke Jakarta, Ti. Di sana ada .…” Binar tampak ragu mengungkapkan isi hatinya pada Nastiti.


“Ada apa?” kejar gadis itu.


“Ada seseorang yang ingin kuhindari,” jawab Binar pada akhirnya.


.


.


.


Hai, hai, otor datang lagi membawa kabar gembira. Ada satu karya keren dari temen otor yang wajib disimak. Mampir, yaa 😍


__ADS_1


__ADS_2