Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Semua Karena Binar


__ADS_3

Selesai berkemas dan membawa pakaian secukupnya. Arsenio bersama Binar mengendarai Range Rovernya menuju sebuah gedung bertingkat di kawasan perkantoran pusat kota Jakarta.


“Kita akan ke mana, Rain?” tanya Binar sesaat setelah mobil yang Arsenio kendarai, terparkir di basement gedung tersebut.


“Kita ke kantor sebentar,” sahut Arsenio seraya tersenyum lembut. Satu hal yang tak pernah terlewat untuk dia lakukan, ialah mengecup bibir Binar. Itu merupakan satu hal yang paling disukainya saat ini. “Aku akan membuat surat kuasa dan melimpahkan semuanya pada sekretaris merangkap asisten, untuk mengurus pemindahan kepemilikan kepada papaku,” jelasnya.


“Aku tidak menyangka ....” Binar tak melanjutkan kata-katanya.


“Apa?” tanya Arsenio sambil sibuk melepas sabuk pengaman Binar dan juga sabuk pengamannya.


“Aku tidak menyangka kalau papamu benar-benar melakukan semua ancaman yang dia katakan. Awalnya ... kukira semua hanya gertakan,” jawab Binar ragu.


Arsenio terkekeh pelan sembari mengulurkan tangan dan membelai lembut pipi kekasihnya. “Papaku tidak pernah main-main dengan semua yang dia ucapkan, Sayang,” sahutnya dengan nada bicara yang terdengar sangat tenang.


“Kalau begitu ... kenapa kamu merasa yakin bahwa suatu saat mereka akan menerima hubungan kita?” Mata bulat Binar kembali berkaca-kaca. Keraguan kembali menerpa hatinya.


“Manusia bisa berubah kapan saja sesuai situasi dan kondisi, Binar. Contohnya aku sendiri. Begitu pula dengan kedua orang tuaku. Aku sangat meyakini hal itu.” Arsenio maju dan menyentuh pucuk hidung Binar menggunakan ujung telunjuknya.


“Bagaimana kalau mereka tetap tidak berubah pikiran juga?” tanya Binar lagi. Usia yang masih sangat belia, membuat gadis itu terkadang begitu labil. Selama ini, Binar hanya dipaksa untuk menjadi matang sebelum waktunya.


“Maka, aku akan mencari cara untuk meluluhkan hati mereka. Mungkin dengan memberikan cucu-cucu yang lucu misalnya,” jawab Arsenio lagi seraya tergelak.


“Ah! Selalu saja ujungnya ke sana,” protes Binar. Wajah cemberutnya terlihat sangat menggemaskan. Kalau saja Arsenio tidak ingat bahwa dirinya harus terburu-buru, tentu dia akan ‘mengerjai’ Binar saat itu juga.


“Ayo.” Arsenio yang masih memasang wajah ceria, segera turun dari kendaraan dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Setelah itu, mereka bergegas memasuki lift menuju ke lantai tempat kantor pria itu berada.


Di ruang kerjanya, sudah menunggu seseorang sekretaris dan beberapa orang staff. Begitu Arsenio datang. Salah seorang wanita maju sambil menyodorkan beberapa map berisi kertas-kertas tebal. Arsenio sendiri langsung memberikan pengarahan pada mereka yang tampak begitu loyal. Terbukti saat pria tampan itu berbicara, mereka memperhatikannya dengan sangat khidmat. Akan tetapi, raut wajah semua orang yang berada di dalam ruangan itu terlihat murung.


“Aku hanya mengamanatkan satu hal, Linda. Tolong nanti sampaikan pada papaku. Akan ada tambahan kuota beasiswa sebanyak dua orang dengan jenjang pendidikan SD dan SMP. Aku memberikan mereka beasiswa hingga lulus kuliah. Nanti berkas-berkasnya menyusul, karena masih ada di Bali,” tutur Arsenio.


“Bali, Pak?” ulang sang sekretaris.

__ADS_1


“Iya. Sebentar lagi aku akan berangkat ke Bali untuk mengambilnya,” jawab Arsenio santai.


Mendengar hal tersebut, Binar yang awalnya hanya duduk dan memperhatikan dari sofa, segera berdiri menghampiri Arsenio. “Siapa yang kamu maksud, Rain?” tanya Binar, sekadar untuk memastikan.


“Siapa lagi kalau bukan Wisnu dan Praya,” jawab Arsenio seraya tersenyum lebar. “Yayasan beasiswa Rainier bekerja sama dengan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia, dari semua tingkat,” jelasnya bangga.


“Rain,” desah Binar lirih. Jika saja di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua, pasti gadis itu akan menghujaninya dengan ciuman.


“Nanti saja berterima kasihnya. Masih banyak orang di sini,” kelakar Arsenio melalui bisikan tepat di telinga Binar.


Gadis cantik itu menanggapinya dengan tepukan pelan di lengan. Wajahnya pun terlihat bersemu merah. Hanya dengan candaan ringan begitu saja sudah membuat angan Binar melayang.


Tak lama kemudian, segala urusan pemindahan kepemilikan perusahaan investasi miliknya telah selesai. Kini, Arsenio dapat bernapas lega. Dia menuntun tangan Binar turun ke basement. Tujuan selanjutnya adalah sebuah dealer mobil mewah milik seorang kenalan. Sesampainya di sana, Arsenio membawa serta surat-surat kendaraan lengkap beserta kartu asuransi yang masih aktif dan berjalan.


Seorang pria berperawakan tinggi besar, datang dan menyambut kedatangan Arsenio. “Tumben, Bapak Arsenio yang terhormat berkenan hadir di tempat ini,” canda pria itu.


“Seperti biasa, aku akan menemuimu jika ada keperluan mendesak,” sahut Arsenio dengan entengnya.


“Kenalkan, dia Binar. Calon istriku. Kami akan merencanakan pernikahan dalam waktu dekat,” sahut Arsenio.


Pria di hadapannya tadi seketika terdiam sambil terbelalak. “Yang benar saja?” seru pria itu tak percaya. “Tuan Arsenio sangat membenci komitmen tentang percintaan. Dengan Wini saja itu merupakan settingan. Ya ‘kan? Yah, walaupun pada akhirnya Wini benar-benar jatuh cinta. Siapa sih yang tidak jatuh cinta dengan pria sekeren dia,” celotehnya panjang lebar diiringi tawa renyah.


“Siapa bilang aku membenci komitmen. Buktinya aku akan menikah dengan dia. Iya ‘kan, Sayang?” Arsenio merengkuh pinggang Binar dan menariknya agar mendekat. Akan tetapi, wajah Binar terlanjur murung. Dia bahkan memalingkan muka saat Arsenio memanggilnya. “Ah, gawat. Kamu sudah membuat calon istriku merajuk. Ayo, minta maaflah, Yan,” sungut pria rupawan itu.


Pria tinggi besar yang berdiri di hadapan Arsenio itu malah terbahak. “Bagaimana kalau aku memperkenalkan diri dulu. Baru aku minta maaf,” ujarnya. “Hai, namaku Rian. Aku termasuk salah satu teman yang ada di saat Arsenio sedang butuh saja,” kelakar pria bernama Rian tersebut. Dia juga mengulurkan tangannya pada Binar sambil memasang wajah yang teramat ramah.


“Saya Binar." Gadis itu akhirnya membalas jabat tangan Rian setelah beberapa detik lamanya, tangan pria itu sempat menggantung.


“Hm, nama yang cantik. Sama seperti orangnya,” sanjung Rian seraya tersenyum simpul.


“Stop, tidak perlu banyak memuji. Aku sedang terburu-buru,” sela Arsenio.

__ADS_1


Lagi-lagi, Rian tergelak, menunjukkan bahwa pria itu adalah seorang yang ramah dan humoris. “Oke, baiklah. Kita kembali ke bisnis. Ada perlu apa kamu kemari?” Rian mencoba untuk serius. Namun, sesekali ekor matanya melirik pada Binar. Seorang gadis yang diakui oleh Arsenio sebagai calon istrinya.


“Aku ingin menjual Range Roverku padamu, karena aku sangat membutuhkan uang,” jawab Arsenio tanpa basa-basi.


“Wow, jadi semua gosip itu benar rupanya,” celetuk Rian dengan sorot terpana.


“Memangnya gosip apa yang kamu dengar?” Arsenio memicingkan mata.


“Kamu berkhianat pada Wini, lalu om Biantara marah. Papamu juga marah. Sekarang kamu didepak dari perusahaan dan juga diusir dari rumah,” terang Rian.


“Kurang lebih begitu.” Arsenio membenarkan. “Jadi, sekarang aku minta harga terbaik untuk mobilku ini. Kamu tahu sendiri kalau aku sangat menjaga benda-benda kesayanganku. Semuanya masih mulus, interior dalam, apalagi bodi luarnya. Tak ada goresan maupun cela sama sekali,” tutur Arsenio tanpa jeda.


“Hm.” Rian mengangguk-angguk sambil mengusap dagu.


“Asuransi aktif dan seluruh surat-surat lengkap,” imbuh Arsenio lagi.


“Baiklah. Biar kuperiksa,” ucap Rian menengadahkan tangan. Sementara Arsenio segera paham. Dia segera meletakkan kunci mobilnya di telapak tangan pria itu.


Rian memeriksa dengan saksama tiap inchi bagian dalam mobil, beserta bodi luar. Cukup lama pria itu mengamati secara teliti. Dia juga mencoba menyalakan mobil untuk beberapa saat. Dirasa puas, pria itu turun dari kendaraan dan membuka kap mobil. Dia kembali mengamati tiap bagian mesin dan memeriksanya. “Oke, kondisi prima dan fisiknya sempurna,” ujar Rian pada akhirnya.


“Jadi, kapan aku menerima uangnya?” tanya Arsenio tak sabar.


“Tipikal Arsenio yang selalu kusuka. Tak suka basa-basi, bicara apa adanya dan selalu tepat sasaran.” Rian menoleh pada Binar sambil tersenyum penuh arti. “Aku hanya sanggup memberi harga tujuh ratus lima puluh juta saja. Akan kutransfer lima ratus juta lebih dulu. Sisanya akan kubayar jika mobil ini sudah laku,” ujar Rian.


“Oke, deal!” Arsenio mengulurkan tangannya pada Rian. Akan tetapi, pria itu malah terbengong-bengong. “Kenapa lagi?” gerutu Arsenio.


“Kamu tidak ingin menawar?” Rian balik bertanya dengan nada ragu.


“Tidak,” jawab Arsenio enteng. “Berapapun kamu memasang harga, akan kuterima.”


Rian menggelengkan kepalanya seakan tak percaya. “Berapa lama kita tak bertemu, sehingga kamu bisa berubah sedrastis ini,” gumamnya.

__ADS_1


“Ini semua karena Binar,” Arsenio kembali merengkuh kekasihnya yang masih tampak merajuk. Dia menarik tubuh ramping itu dengan sedikit memaksa, kemudian mengecup lembut keningnya.


__ADS_2