Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Orang Ketiga


__ADS_3

Pagi yang cerah dan terasa hangat. Seperti biasa, Arsenio selalu memulai harinya dengan melakukan olah raga hingga dia berkeringat. Karena itu pulalah, pria tampan dua puluh tujuh tahun tersebut juga memiliki bentuk badan yang atletis dan sangat ideal.


Lain halnya dengan Binar. Gadis cantik itu sudah mandi dan terlihat segar. Semenjak berada di Jakarta, Binar tak lagi menguncir rambut panjangnya, sehingga mahkota hitam yang menjadi simbol kecantikan gadis tersebut selalu tergerai dengan leluasa. Binar pun tampak jauh lebih dewasa dalam penampilan barunya itu. Semua itu karena pelatihan saat menjadi model dadakan beberapa waktu yang lalu. Binar mulai menyadari betapa pentingnya menjaga penampilan bagi seorang wanita.


Sesuai rencana, hari itu dia akan menemani Anggraini untuk mengunjungi sebuah yayasan yang bernama Rainier Foundation. Adalah sebuah badan amal yang bergerak dalam bidang pendidikan, di mana mereka mengadakan pelatihan keterampilan di luar jam sekolah. Selain itu, ada beasiswa yang akan diberikan untuk beberapa peserta pelatihan yang menunjukkan prestasi secara signifikan. Ini adalah pengalaman baru bagi Binar. Dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.


Dalam balutan midi dress katun berwarna abu-abu sebatas lutut, gadis itu melangkah anggun keluar kamar yang dia tempati. Binar berjalan hati-hati, meskipun saat itu dia hanya menggunakan kitten heels dengan tinggi lima senti. Namun, dirinya seakan tak ingin derap langkah sepatunya tersebut sampai didengar orang lain.


Apa yang Binar khawatirkan memang terjadi. Saat dirinya tengah berjalan tenang melewati sebuah koridor, dirinya harus berpapasan dengan Arsenio yang baru selesai berolah raga. Pria tampan itu berdiri dengan hanya mengenakan celana training, tanpa memakai atasan apapun. Selain itu, Arsenio juga tampak berkeringat dengan rambut yang terlihat basah.


"Kamu ...." Binar tak tahu harus berkata apa. Dia bergerak mundur, saat Arsenio mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.


"Cantik sekali. Mau ke mana?" tanya Arsenio dengan senyuman nakal penuh rayuan.


"Aku akan menemani tante Anggraini ke ...." Binar tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba Arsenio mendekatkan wajah ke leher lalu mengendusnya. Refleks, gadis itu pun memundurkan kepala untuk memberi jarak di antara mereka.


"Siapa yang memilihkan parfum ini untukmu?" tanya pria tampan yang dalam keadaan bertelanjang dada tersebut.


"Aku ... anu itu ... kak Chand. Dia yang memilihkan parfume ini untukku. Memangnya kenapa?" tanya Binar heran bercampur gugup. Dia takut jika tiba-tiba ada orang yang memergoki mereka berdua.


"Oh, Chand. Pantas saja. Seleranya tidak bagus," cibir Arsenio kembali menegakkan tubuh. "Aku tidak suka dengan aroma parfume yang kamu pakai sekarang. Sebaiknya kamu berikan itu pada salah satu asisten rumah tangga di sini, atau kamu buang saja sekalian," ucap Arsenio dengan seenaknya.


"Tidak bisa!" tolak Binar tegas. "Aku menemani kak Chand saat membeli parfume itu dan harganya sangat mahal. Setara dengan gajiku selama dua bulan," ucap gadis tadi lagi seraya memalingkan wajahnya ke samping.


"Itu bukan hal yang penting, Sayang. Aku bisa membelikanmu yang lebih dari itu," balas Arsenio sombong.


"Sayangnya aku akan langsung menolak," sahut Binar seraya bergerak maju. Dia berusaha menerobos tubuh Arsenio yang saat itu menghalangi jalannya.


"Kamu boleh menolak, tapi aku adalah rajanya memaksa." Arsenio tertawa renyah. Namun, tawa itu seketika sirna ketika dia mendengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka berdua. Dengan secepat kilat, Arsenio meraih pergelangan tangan Binar dan menariknya masuk ke sebuah ruangan kecil yang menempel di dinding. Di dalam sana, merupakan tempat menyimpan berbagai macam alat kebersihan rumah tangga. "Astaga," keluh pria itu pelan. Selain sempit dan juga gelap, suasana di dalam ruangan tadi juga sangat tidak nyaman.


"Kenapa kita harus masuk kemari?" tanya Binar heran sekaligus was-was. Dia sama sekali tak habis pikir dengan tingkah pria di hadapannya itu.

__ADS_1


"Karena aku tahu jika itu adalah suara langkah mamaku," jawab Arsenio. "Aku belum siap jika mereka mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya," jelas pria itu dengan sangat pelan. Sementara jantung Binar berdetak dengan jauh lebih kencang, saat harus kembali berhadap-hadapan dengan Arsenio dalam jarak sedekat itu. Belum sirna dari ingatan Binar adegan ciumannya beberapa waktu yang lalu saat berada di apartemen, kini dirinya kembali merasakan getaran yang mengguncang akal sehatnya tersebut.


"Aku ingin kamu tetap menjadi Nirmala saat di depan keluargaku," ucap Arsenio lagi masih dengan intonasi yang sama seperti tadi.


"Kenapa kamu takut mengakui siapa diriku?" tanya Binar dengan raut agak kecewa.


"Bukannya aku takut. Aku hanya belum sempat menyusun rencana yang benar-benar matang. Kamu harus tahu, perencanaan yang baik akan berbuah kesuksesan besar ... meskipun tak selalu." Arsenio terdiam sejenak, lalu tertawa pelan. Namun, dia segera menghentikan tawanya, saat mendengar suara Anggraini di sekitar sana.


"Yanti! Yanti!" seru sang nyonya rumah saat memanggil nama salah satu pelayan di sana.


"Iya, Nyonya," sahut seorang gadis muda seusia Binar. Dia tergopoh-gopoh menghadap kepada wanita itu. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Apa kamu melihat Nirmala?" tanya Anggraini, membuat Binar yang sedang berada di dalam ruangan tempat alat-alat kebersihan bersama Arsenio menjadi terlihat gusar. Dia ingin segera keluar dari sana. Namun, Arsenio mencegahnya. Dia mengisyaratkan agar Binar tetap berada di dalam sana.


"Saya belum melihatnya, Nyonya. Apa perlu saya periksa ke kamar yang dia tempati?" tawar Yanti sopan.


"Tidak usah," cegah Anggraini. "Ya sudah sana lanjutkan pekerjaan kamu." Anggraini kemudian berdiri di sana untuk beberapa saat. Dia mengeluarkan ponsel. Ibunda Arsenio tersebut bermaksud untuk menghubungi Binar secara langsung. Namun, sapaan halus Winona telah berhasil membuat wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya.


"Tante, bukankah hari ini Tante akan pergi?" tanya Winona heran saat melihat Anggraini yang belum berangkat.


"Memangnya Tante harus sudah ada di sana jam berapa?" tanya Winona lagi.


"Menurut rencana, acaranya dimulai pukul sepuluh. Sekarang baru pukul delapan, tapi ada sesuatu yang harus Tante bahas terlebih dulu dengan Nirmala," jelas Anggraini.


"Kalau begitu, aku ingin bicara sebentar dengan Tante. Bisa, kan?" Winona tampak sangat berharap. "Ini tentang rencana pernikahanku dengan Arsenio," ucap wanita cantik itu lagi.


"Oh baiklah. Kita bicara di ruang keluarga saja," ajak Anggarini setuju. Dia lalu menyentuh lengan calon menantunya dengan lembut, sebelum berjalan meninggalkan tempat tadi, menuju ke ruang keluarga.


Beberapa saat kemudian, ketika suasana sudah dirasa sepi, Arsenio pun membuka pintu ruangan kecil yang menjadi tempatnya dan Binar bersembunyi. Rasanya begitu lega saat mereka bisa kembali ke ruangan yang jauh lebih luas. Mereka tertawa pelan sambil mengatur napas. "Luar biasa. Ini sangat menyenangkan," ucap Arsenio dengan enteng.


"Aku tidak menyukainya. Di Bali hidupku sudah banyak masalah. Aku harap di sini akan jauh lebih baik." Binar merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Namun, makin lama raut wajah gadis itu terlihat semakin muram.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Arsenio.


"Tidak apa-apa," jawab Binar. Dia bermaksud untuk pergi dari sana.


"Hey, mau ke mana?" Langkah Binar terhenti karena Arsenio mencekal pergelangan tangannya.


"Lepaskan. Jangan sampai ada yang melihat," tolak Binar. Dia mencoba melepaskan genggaman tangan pria itu.


"Kita belum selesai bicara," ucap Arsenio.


"Ibu dan tunanganmu ada di rumah ini. Jangan mencari masalah," tolak Binar lagi dengan cukup tegas.


"Kamu tahu jika aku senang mencari masalah," sahut Arsenio tenang. Dia bergerak semakin mendekat ke hadapan Binar. "Aku harap kamu betah di sini. Aku tahu jika kediaman Rainier bukanlah tempat teraman untukmu, tapi hanya di dekatkulah kamu akan mendapatkan sebuah perlindungan yang tak akan kamu peroleh dari siapa pun," ucap Arsenio dengan begitu dalam.


Binar tak segera menjawab. Gadis itu menatap pria tampan di hadapannya untuk sejenak. Namun, lagi-lagi dia merasa tak mampu. Binar pun mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Kenapa?" tanya Arsenio yang dapat merasakan ketidaknyamanan gadis itu.


"Kamu benar-benar keliru," ucap Binar. "Kenapa harus menawarkan sebuah perlindungan istimewa padaku, sedangkan tak lama lagi kamu akan menikah." Binar tertunduk.


Arsenio tak segera menjawab. Dia dapat memahami keresahan gadis di hadapannya. Namun, sebisa mungkin dirinya menunjukkan sikap yang selalu tenang di hadapan Binar. "Jangan khawatir. Ini tak akan berlangsung lama. Aku janji padamu, kedua orang tuaku akan segera mengetahui siapakah Nirmala yang sebenarnya. Untuk saat ini, dekatkanlah dirimu dengan mamaku. Perlihatkan bahwa kamu memiliki kualitas yang sempurna untuk menjadi pendamping seorang Arsenio Wilhelm Rainier."


"Kenapa kamu begitu egois?"


"Itulah diriku, Sayang. Aku memang egois, apalagi untuk sesuatu yang kuinginkan. Namun, karakter seperti itulah yang membuatku dapat berdiri tegak." Arsenio semakin mendekatkan dirinya kepada Binar. "Aku menginginkanmu. Itu akan membuatku menjadi terlihat semakin egois di mata siapa pun, bahkan mungkin di matamu. Namun, lihat saja nanti. Aku yakin bahwa semua ini pasti akan berakhir seperti yang kuinginkan," tegas Arsenio.


"Kamu tidak ingin memikirkan perasaan orang lain? Winona? Dia sangat mencintaimu," ucap Binar lagi yang kini tampak ragu.


Arsenio kembali terdiam seraya menatap Binar dengan lekat. "Lalu Chand? Kulihat dia juga menyukaimu," balasnya. "Seandainya dia menyatakan keseriusannya padamu, apakah kamu akan menerimanya?"


"Ah tidak. Sudah kukatakan aku dan kak Chand ... rasanya terlalu jauh jika harus membahas masalah perasaan antara aku dan dia," bantah Binar, "semua itu tak bisa dipaksakan," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Seperti itulah. Perasaanku pun tidak bisa dipaksakan," ucap Arsenio. "Untuk saat ini bertahanlah. Aku tak ingin hanya memberikan harapan indah padamu, tapi juga sebuah tindakan nyata ...."


"Dengan menjadi orang ketiga?" sela Binar seakan hendak protes. Raut wajahnya terlihat amat serius. Lain halnya dengan Arsenio. Pria itu tertawa. Tawa yang segera terhenti, ketika Fabien masuk ke sana.


__ADS_2